
Sementara di aula tempat pesta itu berlangsung tampak Robert dan Anna yang datang menghampiri Han untuk memberi ucapan selamat.
“Selamat Han, tak disangka kini usiamu tengah menginjak 55 tahun,” ucap Robert menyalami Han.
“Terima kasih, Paman Robert. Terima kasih Paman dan Tante sudah hadir di acara ini. Mama sudah menunggu kalian sedari tadi,” ucap Han pada Robert dan Anna.
“Kalau begitu kami akan menemui Mamamu dulu,” sahut Anna yang masih menggandeng mesra lengan suaminya.
Saat Anna dan Robert menghampiri Kanaya, tampak Kanaya sedang bersama Diana, Bibi Mun, Bella, dan Dilla. Kedua gadis itu, Bella dan Dilla, baru saja diminta oleh Kanaya untuk memijat badannya yang terasa pegal-pegal.
Uh, si David ini ke mana sih ditinggal sebentar malah langsung menghilang (batin Bella).
“Kanaya, apa kabar?” sapa Anna.
“Ah, Anna, sahabatku. Akhirnya kalian datang juga. Aku pikir kalian sudah melupakanku hingga tak datang kemari,” ucap Kanaya seraya meminta Bella dan Dilla menghentikan pijatan mereka.
Akhirnya Dewa dan Dewi penolong datang juga. Jika tidak, aku bisa mati kelelahan karena memijat nenek terus menerus (batin Bella).
Setelah memberi pelukan pada Kanaya, Anna pun menyapa yang lainnya.
“Halo, Diana, apa kabarmu sayang?” sapa Anna pada Diana.
“Kabarku baik, Tante. Paman dan Tante sendiri apa kabar?” tanya balik Diana.
“Kabar kami juga baik Diana,” jawab Robert kemudian melirik ke arah Bella dan Dilla.
“Mereka ini ???” tanya Robert.
“Ah, iya, kenalkan Paman, Tante. Gadis ini Bella, dia tunangannya David dan gadis yang ada di sampingnya itu adalah sahabatnya Dilla,” ucap Diana memperkenalkan Bella dan Dilla pada Robert dan Anna.
“Kakek, bukankah kakek itu yang kemarin ada di Sirkuit Labora ya?” tanya Bella yang masih mengenali wajah Robert.
“Bella, apakah kamu sudah pernah berjumpa dengan Opa Robert? Opa Robert ini adalah kakeknya Steven dan Clarissa,” jelas Diana.
“Oh, kakeknya Steven toh. Pantas wajah kakek sangat tampan sama seperti Steven,” puji Bella dengan polosnya membuat Diana, Anna, dan Robert tersenyum melihat tingkahnya.
“Kalau cucuku Steven itu sangat tampan. Kenapa kau malah memilih bertunangan dengan David? Bukankah Steven itu lebih baik?” goda Anna, entah mengapa ia merasa akrab dengan Bella, meskipun baru pertama kali berjumpa dengan gadis itu.
“Steven itu memang sangat tampan Oma, tapi dia itu seorang playboy tengik,” ucap Bella polos yang membuat semua orang yang berada di tempat itu terkekeh mendengar ocehannya.
“Bella, jaga bicaramu! Jangan mengatai Steven seperti itu!” bentak Kanaya.
“Tidak apa-apa Kanaya, apa yang dikatakan Bella itu memang benar adanya. Cucuku ini memang playboy tengik, makanya sampai saat ini belum ada yang bersedia jadi istrinya. Kalau Bella tidak mau dengan cucuku, bagaimana dengan temannya? Apa kau mau jadi cucu menantuku?” tanya Anna melihat ke arah Dilla yang tampak terkejut mendengar pertanyaan Oma Anna.
“A-aku,” Belum selesai Dilla menjawab pertanyaan Oma Anna, tiba-tiba saja Lolita datang menghampiri mereka.
“Oma,” rengek Lolita. Lolita sejak kecil sudah bersahabat dengan Clarissa karenanya ia tampak akrab dengan Oma Anna.
“Ada apa Lolita?” tanya Anna.
“Kalung mutiara pemberian dari Oma hilang,” jawab Lolita.
“Hilang bagaimana Lolita?” tanya Anna bingung.
“Aku juga tidak tahu, Oma. Sebelum aku ke kamar mandi, aku masih memakai kalungnya. Dan tadi aku baru menyadari kalau kalung itu hilang. Kupikir mungkin kalung itu terjatuh di kamar mandi, jadi aku mencarinya ke kamar mandi. Tapi, aku masih tak menemukannya. Mungkinkah ada yang menemukannya, tapi tak mau mengembalikannya kepadaku Oma,” rengek Lolita.
“Maksud kamu apa Lolita? Kau ingin mengatakan bahwa para pekerjaku adalah orang-orang yang tidak jujur?” tanya Kanaya kesal.
“Bukan begitu, Nenek Kanaya. Aku hanya menceritakan apa yang terjadi kepadaku, bukan bermaksud untuk menuduh para pekerja di sini adalah orang-orang yang tidak jujur,” jawab Lolita.
“Cukup! Diana, panggil Han kemari!!”
“Baik, Mama,” jawab Diana yang langsung menghampiri Han.
“Cih, hanya sebuah kalung saja sudah membuat kehebohan sebesar ini,” cibir Bella.
__ADS_1
Setelah mendengar apa yang disampaikan Diana, Han datang menghampiri Lolita yang sekarang tengah berada di antara keluarga besarnya. Tampak juga Damar dan kedua putranya, serta Lim dan Steven yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
“Apa kau yakin kehilangan kalungmu di kamar mandi?” tanya Paman Han.
“Benar, Paman. Aku kehilangan kalungku di kamar mandi,” jawab Lolita.
“Kalau begitu panggilkan manajer hotel kemari! Dan minta dia untuk memanggil petugas kebersihan yang bertugas di kamar mandi!” seru Han memberi perintah pada asisten pribadinya.
“Baik, Tuan,” jawab Mario, asisten pribadi Han.
“Aku rasa ada yang janggal di sini,” ucap Lim tiba-tiba.
“Apa maksudmu, Lim?” tanya Steven.
“Bukankah Lolita itu teman baik adikmu Clarissa. Kenapa aku tak melihat Clarissa di sini?” jawab Lim yang membuat Steven teringat sesuatu.
“Astaga! David, di mana Lim?” tanya Steven saat menyadari David tidak ada di antara mereka.
“Kau benar. Bos juga tidak ada di sini,” jawab Lim.
“Kalau begitu cepat cari dia! Sebelum sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi!” seru Steven.
Steven dan Lim berlari meninggalkan area pesta untuk mencari keberadaan David. Wajah Steven tampak pucat memikirkan hal gila yang mungkin akan dilakukan adiknya.
“Ya Tuhan, kuharap kau tidak melakukan hal gila yang dapat mencemarkan nama keluarga kita Clarissa,” gumam Steven di tengah kepanikannya.
“Hotel ini sangat besar. Tidak mungkin bagi kita untuk mengetuk kamarnya satu persatu,” ucap Lim.
“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?” teriak Steven panik.
“Tenanglah Steven, sekarang kita cari petunjuk di ruang CCTV!” sahut Lim yang mengerti kepanikan Steven.
***
Di salah satu kamar hotel yang berada tepat di lantai 7 dengan nomor kamar 133, tampak Clarissa tengah bersiap dengan pakaian seksinya. Ia menunggu David keluar dari kamar mandi. Ia sudah tidak sabar untuk bercumbu dengan laki-laki yang selama ini menjadi obsesinya.
David sendiri kini sedang berada di dalam kamar mandi yang ada dalam ruangan itu. Ia mulai menyadari ada sesuatu yang tak beres dengannya. Ia merasakan gairah yang begitu besar untuk bercumbu dengan seorang wanita. Meski ia sudah menyiram tubuhnya dengan air dingin, bahkan berendam cukup lama. Namun, gairah itu masih belum sepenuhnya menghilang.
“Sepertinya minuman tadi telah dicampur dengan obat perangsang. Sial, siapa yang melakukan ini kepadaku,” ujar David dengan deru nafas yang memburu.
“Aku harus tetap sadar. Aku tak boleh kehilangan kendaliku,” gumam David.
Ia memakai kembali celana yang sempat ia bawa ke dalam kamar mandi. Kemudian, keluar dari kamar mandi itu. Saat ia membuka kamar mandi itu, tampak Clarissa dengan pakaian seksinya terbaring di atas tempat tidur.
Oh, ternyata ini ulah wanita gila itu. Jangan harap aku akan menyentuhmu! Sampai mati pun aku tak kan melakukannya (batin David).
“David, kau kenapa?” menghampiri David.
“Jangan dekati aku!” bentak David.
“David sayang, aku hanya ingin menolongmu. Aku tahu kau sedang kesakitan sekarang,” rengek Clarissa manja.
“Cih, kau yang melakukannya kan? Kau benar-benar membuatku jijik,” umpat David dengan pandangan menghina dan mendorong Clarissa hingga terjatuh.
Kemudian, dengan tergopoh David berjalan menuju pintu kamar hotel. Beruntung pintu kamar itu tidak dikunci oleh Clarissa.
“David, kau mau kemana?” teriak Clarissa saat melihat David keluar dari kamar itu.
“Sial, kenapa aku bisa sampai lupa mengunci pintunya sih? Aargh!!” teriak Clarissa kesal.
***
“Lim itu David,” sahut Steven saat melihat David yang baru saja keluar dari salah satu kamar yang ada di hotel itu.
“Di mana dia Pak?” tanya Lim pada salah satu petugas keamanan yang berjaga di ruang CCTV hotel tersebut.
__ADS_1
“Sepertinya ada di lantai 7,” jawab sang petugas.
Steven dan Lim segera berlari ke arah lift menuju lantai 7.
***
“Bella, tolong aku,” ucap David dengan nafas yang sudah tak beraturan. Badannya saat ini terasa lemas, ia pun jatuh tergeletak di lantai.
“David!!!” panggil Steven dan Lim bersamaan.
“Bella, akhirnya kau datang juga,” ucap David memeluk Steven dengan erat.
“David, kau gila! Aku ini Steven,” bentak Steven mendorong David.
“Sepertinya dia sudah mulai berhalusinasi,” sahut Lim.
“Bella, kemarilah bantu aku,” ujar David yang memonyongkan bibirnya dan terus berusaha mencium Steven. Namun, Steven dengan sekuat tenaga menjauhkan mulut David darinya.
“David, aku ini masih normal. Lim, cepat lakukan sesuatu! Kau jangan menonton saja!” teriak Steven yang sudah mulai panik dengan kelakuan sahabatnya itu.
Sebenarnya Lim ingin sekali tertawa melihat keadaan David dan Steven saat ini, namun ia sadar saat situasinya tidak tepat. Ia harus memikirkan cara agar Bosnya itu bisa dikendalikan.
“Steven, sekarang kau lepaskan bajumu!” ucap Lim memberi perintah.
“Apa? Kau gila? Kau ingin aku melakukan apa pada David? Yang benar saja, aku ini masih perjaka,” tolak Steven.
“Sekarang lakukan sajalah! Nanti kau akan tahu setelahnya. Atau kau memang benar-benar ingin dicium David,” sahut Lim.
“Baiklah. David, dengar ya.. kalau bukan ini karena kesalahan adikku, mana mungkin aku bersedia mengorbankan keperjakaanku ini untukmu,” ucap Steven yang mendapat pukulan di kepala oleh Lim.
Plak
“Kau ini bicara apa? Siapa yang meminta keperjakaanmu?” sahut Lim kesal dengan pikiran kotor sahabatnya itu.
“Lalu kau ingin aku melakukan apa, bodoh!” umpat Steven sambil membuka bajunya, memperlihatkan otot badannya yang sixpack.
“Sekarang tempelkan ketiakmu di hidung David!” seru Lim.
“Hah??” Steven tercengang saat mendengar perintah konyol dari sahabatnya itu.
“Kenapa kau bengong? Cepat lakukan sekarang!” seru Lim sekali lagi, membuat Steven mematuhi perintahnya. Ia pun menempelkan ketiaknya yang beraroma surga itu ke hidung David dan...
Pluk
David seketika itu juga jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
“Huh, akhirnya berhasil juga,” ucap Lim menghela nafasnya panjang.
“Hei, ada apa sebenarnya dengan ketiakku? Bukan kah ini sangat wangi?” ucap Steven sambil menciumi ketiaknya.
“Wangi kepalamu! Aku aja sampai mau muntah tiga hari tiga malam, kalau ingat bau ketiakmu itu,” sahut Lim yang teringat saat dirinya mendapatkan ketiak bau dari Steven.
“Lalu akan kau apakan si bodoh ini?” tanya Steven.
“Kita baringkan dia di kamar. Lalu kau teleponlah Az! Mungkin dia bisa membantu kita menyembuhkan David,” ujar Lim.
“Baiklah, akan kutelepon dia,” sahut Steven.
Tak jauh dari mereka tampak Clarissa sedang mengamati situasi yang terjadi.
“Sial, lagi-lagi Steven mengacaukan segalanya,” ucap Clarissa kesal. Lalu ia yang sudah berganti pakaian memilih kembali ke tempat pesta agar Oma dan Opanya tidak menaruh curiga kepadanya.
***
Bersambung
__ADS_1
Tetap berikan like, vote, dan komentar untuk karya ini sebagai bentuk dukungannya serta tekan love untuk jadikan karya ini favoritmu