Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 57 Gak Ada Yang Gratis


__ADS_3

Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya, menyadarkan David bahwa kejadian tadi hanya sebuah ilusi.


“Ha, sial, kenapa aku bisa berpikiran sampai ke situ,” gumamnya.


“Hey, kau tidak dengar ponselmu itu dari tadi berbunyi,” ucap Bella.


Mendengar itu, David pun segera mengangkat ponselnya tanpa melihat nama si penelepon.


“Kau ada di mana?”


David terkejut mendengar nada suara yang tak asing baginya itu, ia pun melihat kembali layar ponselnya memastikan bahwa dugaannya itu tidak salah.


“Nenek? Ada apa? Sekarang aku sedang berada di kantor,”


“Nenek mau minta tolong, coba kamu jemput Clarissa di bandara ya?”


“Maaf, Nek, aku sedang sibuk. Suruh yang lain saja,”


“Eh, kamu kan punya Lim, sekretaris sekaligus asistenmu di sana. Kamu bisa kan meminta dia menangani sebentar urusan pekerjaanmu,” ucap Nenek David.


“Maaf, Lim juga hari ini sedang sangat sibuk, Nek. Jadi, Nenek suruh saja supir yang menjemput Clarissa ke sana,”


“Ah, kamu itu benar-benar tidak bisa diandalkan David. Ya sudah, Nenek akan meminta sopir saja,” ucap Nenek kesal dan langsung mematikan sambungan ponselnya.


“Untuk apa dia kemari? Benar-benar tidak tahu diri!!” umpat David.


Bella yang sudah selesai dengan makanannya kemudian menoleh ke arah David.


“Hey, boleh kah aku meminjam ponselmu?” tanyanya.


“Tidak, bo-leh,”


“Cih, pelit sekali! Padahal aku hanya ingin meminjamnya sebentar saja. Aku hanya ingin tahu kabar temanku Dilla,”


“Memang kau tidak punya ponsel?”


“Ada, tapi aku tidak punya kuota,”


“Dasar orang miskin,” cibir David.


“Iya, aku memang miskin! Dan kalau kau kaya cepat pinjamkan aku ponselmu!” todong Bella berjalan mendekati David dan menenggadahkan tangannya. David yang melihat, itu bangkit berdiri dan..


“Aw,” menyentil kening Bella.


“Pakai saja, wifi ruangan ini! Enak saja mau pakai ponselku,” ucapnya kemudian.


“Dari tadi, kek,” sahut Bella dengan wajah cemberutnya.


Bella pun menghubungkan ponselnya dengan jaringan wifi yang ada di sekitar ruangan David. Dipilihnya jaringan bertuliskan "ruanganceo".


“Sandinya apa?” tanyanya.


“GAK ADA YANG GRATIS, "


“Ck, kau ini? Tadi kau sendiri yang menawari aku wifi, sekarang malah bilang gak ada yang gratis,”


Ucap Bella sebal.


“Itu kata sandinya, SAYANGKU,” sahut David gemas dengan kebodohan tunangannya itu.


“Ooo itu kata sandinya, aneh sekali,” sahut Bella sedikit malu.

__ADS_1


Setelah memasukkan kata sandi sesuai dengan yang disebutkan David, ponsel milik Bella pun tersambung dengan wifi yang ada di ruangan tersebut.


“Ok,” Bella terlihat senang, ia langsung membuka aplikasi wa dan menelepon Dilla lewat wa tersebut.


“Halo, Bel,” sahut Dilla.


“Gimana? Diterima kerjanya?” tanya Bella semangat.


“Alhamdulillah, diterima Bel dan hari ini juga aku langsung mulai bekerja,”


“Wah, hebat! Selamat ya.. Nanti kalau gajian aku bisa dapat traktiran dong,”


“Ah, kamu ini, Bel! Baru saja masuk, sudah bicara gajian aja, tapi doakan ya.. semoga pekerjaanku di sini lancar karena aku sangat senang bisa bekerja di sini. Apalagi.., “ ucap Dilla menggantung.


“Apalagi apa?” tanya Bella penasaran.


“Kamu tahu Bel, ternyata Ar juga bekerja di sini,”


“Apa??” teriak Bella.


Teriakan itu cukup mengejutkan David yang saat itu sedang sibuk membaca beberapa laporan yang ada di mejanya.


“Gadis ini,” menoleh ke arah Bella.


“Si Ganteng Ar juga bekerja di situ,” ucap Bella bersemangat.


Ar? Bukan kah itu laki-laki yang dulu menghubungi ponsel Bella. Laki-laki yang bertemu dengan Bella di arena balap liar itu (ucap David dalam hati).


Fokus perhatian David kini teralihkan pada Bella yang sedang sibuk berbicara pada Dilla.


“Iya, Ar teman kamu yang ganteng dan hari ini dia terlihat sangat tampan,”


“Begitu kah? Terus dia bekerja sebagai apa di sana?” tanya Bella.


“Dokter? Serius? Jadi, Ar seorang dokter?” terkejut.


“Iya,”


“Ya Tuhan.. benar-benar paket komplit. Udah ganteng, baik, dokter pula, berarti dia sudah pasti pintar dan kaya. Benar-benar laki-laki idaman,” puji Bella.


“Iya, kau benar,” sahut Dilla.


Setelah mengetahui Ar seorang dokter, Bella terus menerus membicarakannya dan tak henti memujinya. Hal itu membuat telinga David terasa panas, darahnya seolah mendidih, tangannya mengepal menahan gejolak yang muncul dalam dirinya. Karena itulah, David memutus sambungan wifi yang ada di ruangannya.


“Eh, kenapa tiba-tiba putus?”


“Tidak ada sinyal,” gumam Bella saat melihat sinyal wifi di layar ponselnya melemah.


“Hey, kenapa sambungan wifinya bisa terputus?” tanya Bella menoleh ke arah David.


David diam saja, wajahnya terlihat dingin, ia mengabaikan pertanyaan Bella.


“Hey, kenapa kau diam saja? Bisu ya?”


David tak menjawab, ia hanya menatap Bella dengan tatapan tajam seolah ingin membunuhnya.


“Eh, kenapa dia? Menakutkan sekali, tidak seperti biasanya,” gumam Bella.


Ia tak berani bertanya lagi karena merasa ada aura yang sangat dingin muncul di sekitarnya.


Bella yang sempat berjalan mendekat ke arah David, kini kembali duduk dengan tenang di sofanya.

__ADS_1


Tak lama, Lim muncul dari balik pintu.


Ada apa ini? Kenapa auranya agak berbeda dari sebelumnya ya? (ucap Lim dalam hati).


Ia pun kemudian memperhatikan Bella yang duduk tenang di atas sofanya.


Tumben gadis ini tidak berkicau seperti biasanya (batin Lim).


Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada David. Tampak wajah David yang kini terlihat lebih dingin dari biasanya. Lim yang sudah lama bersahabat dengannya sangat memahami tampilan wajah David yang seperti ini.


Apa yang sebenarnya terjadi barusan? Kenapa si Bos terlihat begitu marah? (batin Lim).


Lim sangat mengenal karakter David, ia tahu saat ini David sedang dalam keadaan sangat marah dan sedang berusaha meredam emosinya.


“Bos, ini surat perjanjian yang sudah diperbaiki,” menyerahkan surat perjanjian yang baru.


“Berikan pada gadis itu,” melihat Bella dengan tatapan dingin.


Lim menyerahkan lembaran surat perjanjian itu beserta bolpoin kepada Bella. Bella yang menerima surat itu segera menandatangani surat perjanjian tersebut tanpa membacanya kembali. Ia merasa sudah tidak betah di tempat David dan ingin segera keluar dari ruangan itu.


“Ini,” memberikannya kembali kepada Lim.


Lim menyerahkan surat yang diberikan Bella tersebut kepada David untuk ditanda tangani. David menerimanya.


Sama seperti Bella, ia pun tak membaca kembali isi surat perjanjian tersebut.


Setelah ia menanda tangani surat tersebut, David menyerahkan kembali surat itu kepada Lim.


“Segera minta pengacara untuk mengurusnya,”


“Baik, Bos,” jawab Lim.


“Berarti semua sudah selesai kan?” tanya Bella.


“Iya, Nona Bella,”


“Kalau begitu aku pulang dulu,” bangkit dari sofa.


“Silahkan,” ucap Lim.


Bella hendak keluar dari ruangan David, namun entah mengapa kakinya terasa begitu berat untuk melangkah. Ia pun menoleh ke arah David yang saat itu masih terdiam dengan wajah tanpa ekspresi. Tanpa sadar langkah kakinya mendekati David.


“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maaf, jika kehadiranku di sini mengganggu pekerjaanmu barusan dan terima kasih atas camilan dan air jeruk hangatnya,” ucapnya.


Cup


Bella tiba-tiba saja mencium pipi kanan David, membuat wajah yang sebelumnya tanpa ekspresi itu kini berubah menjadi cerah.


“Ingat pasal 1 dalam perjanjian! Selalu tersenyum saat kita berjumpa dan anggap saja ciuman tadi adalah hadiah dariku karena kau telah membantuku dalam pertaruhan ku dengan Amanda,” ucap Bella sebelum berlalu meninggalkan ruangan David.


“Cih, siapa yang memintamu memberikan hadiah seperti itu,” cibir David.


Namun, meski begitu tetap saja semua yang melihat senyum di wajah David saat mengakhiri kalimatnya bisa menerka bahwa David memang mengharapkan itu bahkan mungkin sesuatu yang lebih dari itu.


Akhirnya gunung es ini sudah mencair kembali, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada nasib para karyawan di sini selanjutnya (batin Lim yang merasa lega karena ekspresi dan mood bosnya sudah kembali seperti semula).


***


Bersambung


Jangan lupa dukung karya author ini dengan memberikan like, vote, dan komen terbaikmu serta menjadikannya favorit.

__ADS_1


Sambil menunggu up, kalian bisa mampir ke karya author yang sudah tamat “Cintaku di Kampus Pelangi” yang berisi tentang persahabatan dan kisah cinta sejati.


Kisah tentang tiga pria populer kampusnya dengan tiga karakter yang berbeda. Kalian akan dibuat baper dengan ketulusan cinta Alan kepada Rena, serta dibuat gemas dengan sikap dingin sang dosen pada Felisha. Lalu, bagaimana dengan pria yang ketiga? Jawabannya dapat ditemukan setelah kalian membacanya.


__ADS_2