Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 90 Kekhawatiran


__ADS_3

Dilla baru saja kembali dari rumah sakit, saat berpapasan dengan Bella yang baru saja keluar dari kamar David.


“Bella, sedang apa kau di kamar David?” tanya Dilla cemas, apalagi melihat wajah Bella yang terlihat kesal.


“David membuatmu kesal lagi?” terka Dilla saat Bella tidak menjawab.


“Memang sejak kapan sih si brengsek itu tidak membuatku kesal,” sahutnya.


“Memang sekarang apalagi yang dilakukan David kepadamu? Dan kenapa kau bisa sampai berada di dalam kamar David? Jangan bilang kalau kau dan David sudah ..,” Dilla tak meneruskan ucapannya, ia hanya memperhatikan penampilan Bella yang sedikit berantakan.


“Dilla, stop! Berhentilah berpikir yang tidak-tidak! Mana mungkin aku dan David sampai melakukan itu?”


“Ya.. aku hanya khawatir saja,” ucap Dila.


“Tapi kekhawatiranmu itu terlalu berlebihan, Sahabatku Sayang. Oh ya, katakan padaku dengan jujur. Sebenarnya barang apa yang hilang? Karena aku tahu pasti dompetmu itu tidak hilang atau pun ketinggalan kan? ” tanya Bella.


Dilla belum menjawab, namun wajahnya sudah berubah murung.


“Kalungku hilang, Bella,” ucapnya.


“Apa? Kalung pemberian almarhumah ibumu hilang?” tanya Bella kaget.


“Iya, Bella” jawab Dilla sedih.


“Memang terakhir kali kau memakai kalung itu di mana Dilla?” tanya Bella membantu Dilla mengingat.


“Seingatku, pagi tadi aku masih memakainya,” jawab Dilla lesu.


Bella berpikir sejenak.


“Pagi tadi kau berangkat ke rumah sakit naik mobil siapa?”


“Aku numpang mobil Lim dan David,”


“Kalau begitu kenapa kau tidak bertanya pada mereka saja. Mungkin mereka melihatnya,” usul Bella.


“Aku sebenarnya berpikir seperti itu tapi aku takut menanyakan itu pada mereka. Apalagi sama David. Lihat mukanya aja udah angker,” sahut Dilla.


“Cih, kau ini pengecut sekali! Ya sudah, nanti kita tanya saja sama mereka saat makan malam nanti. Sekarang kau cepat mandi dan istirahatlah dulu!” perintah Bella.


“Siap Nyonya Bos,” jawab Dilla yang langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Ah, iya. Sekarang sudah saatnya, aku mulai rencana B. Aku yakin rencanaku kali ini tidak akan gagal lagi pasti berhasil,” gumam Bella bersemangat.


****


Bella keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju dapur.


Di dapur sudah ada Chef Juna yang sengaja didatangkan David untuk membuatkan makan malam untuk mereka berempat. Berhubung pembantu Lim, Bi Lastri hingga saat ini belum pulang.


“Halo, Chef,”


“Hemm,” hanya itulah jawaban yang keluar dari mulut Chef Juna. Ia masih saja sibuk untuk mengolah bahan makanan yang ada untuk makan malam nanti.


“Kesempatan, Chef itu sama sekali tidak memperhatikan. Berati sekarang saatnya Arabella untuk bertindak,” gumam Bella dengan seringai liciknya.


***


“David, kapan kau akan kembali ke rumah ini?” suara dari balik telepon mengingatkan David kalau dirinya masih memiliki rumah untuk tempat ia pulang.


“Nanti Tante setelah aku menemui Neneknya Bella,”

__ADS_1


“Menemui Neneknya Bella? Untuk apa? Memang ada hubungannya ya, antara kau pulang dengan Neneknya Bella?”


“Ada, Tante. Jadi begini, aku bermaksud untuk mengajak Bella dan temannya untuk tinggal sementara di rumah kita,”


“Apa? Kau gila David! Kau kan tahu seperti apa Nenekmu itu? Apa kau ingin membunuh Tante sekarang juga?” sahut Diana kesal.


“Ayolah, Tante Sayang. Tante kan paling tahu, kalau aku paling menyayangi Tante. Tidak mungkin aku mencelakai Tante. Dengar katakan saja pada Nenek, jika itu adalah syarat jika ingin membuatku kembali ke rumah itu. Dan kalau Nenek tidak menyetujuinya, aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Bahkan, mungkin akan lebih baik jika aku segera menikahi Bella dan tinggal bersamanya,”


“David, kau benar-benar sudah gila? Bukannya kau sendiri yang bilang pada Tante bahwa hubunganmu dan gadis itu hanya pura-pura saja,”


“Iya, awalnya memang aku hanya berpura-pura saja. Tapi, sekarang aku ingin hubungan ini menjadi nyata,”


“Oh, David, apa yang telah gadis itu lakukan kepadamu? Tahukah kau bahwa ini nantinya hanya akan menyakiti kalian berdua saja,” ucap Diana penuh kekecewaan.


“Maaf, Tante, tapi akan aku pastikan bahwa dalam hubungan ini tidak akan ada yang tersakiti. Walaupun untuk saat ini dia belum menerimaku,” sahut David.


“Maksudmu kau bertepuk sebelah tangan?” tanya Diana.


“Tidak juga, hanya saja dia belum tahu perasaanku yang sebenarnya,” jawab David.


“Kalau begitu baguslah, sebaiknya kau tidak memberi tahu dia dulu perasaanmu yang sebenarnya sebelum keluarga ini dapat menerima dia. Jangan kau ulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh Pamanmu karena itu hanya akan menyakiti semuanya,"


“Tante, kenapa kau masih bertahan dan tidak meninggalkan Paman?"


“Karena Tante masih berharap suatu hari nanti, Pamanmu bisa berubah dan kalau sampai hal itu tidak terjadi, maka Tante akan meninggalkannya setelah kau menemukan kebahagiaanmu, David,”


“Aku harap Paman bisa segera berubah. Jangan sampai dia menyesal karena harus kehilangan dua wanita yang begitu tulus mencintainya. Tante, aku akan selalu mendukung apa pun keputusan Tante, meski nanti mungkin Tante bukan lagi bagian dari keluarga Erlangga, tapi Tante tetaplah ibuku,”


“Ya sudah, kenapa kamu jadi melow seperti ini? Sekarang kamu istirahatlah dulu, jangan lupa makan malam!”


“Baik, Tante, terima kasih selalu mengingatkanku. Aku sungguh merindukanmu,”


“Malam, Tante,”


Keduanya kini sudah menutup telepon secara bersamaan. Ada rasa sedih, marah, dan kecewa, setiap kali David memikirkan Tante Diana.


David sudah mendengar dan mengetahui tanpa sengaja semua yang terjadi antara Tante Diana dan sang Paman. Laki-laki yang sebenarnya sangat dikagumi David. Perasaan kecewa inilah yang dulu pernah mendorong David untuk meninggalkan rumah dan tinggal sementara di Negara R, tempat tinggal keluarga William.


***


Bella tersenyum puas saat berhasil menuangkan ramuan spesial pada makanan penutup yang akan disajikan Chef Juna untuk mereka saat makan malam nanti. Dia benar-benar tidak sabar melihat reaksi dari ramuan itu pada David.


Rasakan ini pria mesum. Meski hanya ini satu-satunya pembalasan yang bisa aku lakukan, tapi aku pasti akan merasa sangat puas dengan hasilnya. (ucap Bella dalam hati sambil menampilkan senyum jahatnya)


Kini semua orang tengah berkumpul di ruang makan. Menikmati sajian makan malam khusus yang dibuat oleh salah satu koki ternama yang dipanggil David langsung dari negaranya.


“Tuan David, apakah kau sudah menemui Neni?” tanya Dilla membuka percakapan.


"Untuk apa dia harus menemui Neni?” tanya Bella sambil menyuap makanannya.


“Karena aku memintanya untuk membujuk Neni agar kita bisa kembali pulang,” jawab Dilla.


“Tidak salah? Neni itu tidak akan bisa dibujuk oleh siapa pun. Dan kalau dia mampu melakukannya, maka aku Bella berjanji akan mengabulkan satu permintaannya apa pun itu,” sahut Bella.


“Sungguh, kau akan mengabulkan satu permintaanku gadis tengik?” timpal David.


“Tentu, tapi berhentilah memanggilku gadis tengik, Pria Idiot!” seru Bella yang membuat Lim tersedak mendengarnya.


Ya ampun, gadis ini benar-benar berani. Mengatai Bos, pria idiot (batin Lim).


“Hei, siapa yang idiot? Bukankah orang idiot itu justru yang diam-diam berani menyelinap ke kamar seorang pria saat pria itu sedang mandi, kemudian bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Lalu diam-diam mengintip dan menyaksikan tubuh polos pria itu hingga air liurnya menetes ke mana-mana,” goda David yang membuat Bella menjerit.

__ADS_1


“David!!” melempar buah apel ke arah David, namun bisa ditangkap dengan sempurna oleh David.


“Omong kosong apa yang kau bicarakan? Siapa yang air liurnya sampai menetes?” sahut Bella tidak terima dengan perkataan David. David hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, lalu memakan dengan lahap buah apel yang sebelumnya dilempar ke arahnya.


“Bella, apa kau melakukan itu?” tanya Dilla menatap tajam ke arah Bella.


“Aku..” Bella belum selesai menjawab namun sudah disela oleh David.


“Aku apa? Mau menyangkal?” sela David.


“Iya, aku memang melakukan itu, tapi aku tidak sampai melihat tubuh polosnya dan air liurku juga tidak menetes,”


Apa? Jadi, gadis itu benar-benar melakukannya? Berani sekali dia (ucap Lim dalam hati).


“Tapi kuharap kau tidak akan pernah melakukannya lagi Bella. Ingatlah, kau ini perempuan dan David itu laki-laki. Dan kau tahu jika Neni sampai mendengarnya, habislah kau. Bisa-bisa sapu-sapu Neni akan melayang ke arahmu,”


“Hus! Dilla jangan sampai kau mengatakannya pada Neni. Kalau sampai kau mengatakannya, awas kau lihat saja nanti,” ancam Bella.


“Aku mendengarnya. Kebetulan juga aku berencana ke tempat Nenimu hari ini dan kurasa itu bisa jadi topik pembicaraanku yang menarik dengan Nenimu,” sahut David.


“Kau ini! Terserahlah!” ujar Bella geram dan langsung memonyongkan bibirnya. Membuat David tertawa melihatnya.


Sajian menu utama, telah disantap kini tiba saatnya, Chef Juna menghidangkan menu penutup yakni salad buah dengan saus strawberri dan puding mangga saus vanila.


Saatnya memberimu pelajaran, tunanganku sayang (batin Bella).


Setiap menu sudah dibuat terpisah oleh Chef Juna sehingga setiap orang tidak akan keliru dalam memilih menu makanan yang akan disantapnya. Bella sendiri tidak terlalu suka dengan salad buah sehingga dia lebih memilih menu puding mangga saus vanila.


“Kenapa kau tidak memberikan salad buah ini kepada mereka, Juna?” keluh David.


“Maaf, Tuan. Katanya Nona Bella tidak suka salad buah jadi minta dihidangkan menu yang lain,” jawab Juna.


“Oh, begitu. Dasar gadis pemilih!”


David yang tanpa curiga langsung menyantap salad buah yang dihidangkan kepadanya.


Satu.. dua.. tiga.. (Bella berhitung dalam hati)


“Whoaaaa!!” David berteriak lantang saat merasakan pedas yang teramat sangat begitu salad buah yang dimakannya masuk ke dalam tenggorokan.


“Apa ini Jun??!!” teriaknya lantang sambil mengambil air putih dan meminumnya berkali-kali.


Mulut David benar-benar terasa panas, bahkan baru sebentar saja mulutnya sudah mulai jontor sejontor-jontornnya.


“Rasakan itu,” gumam Bella terkikik melihat tingkah David.


Dasar gadis tengik ! Ini pasti ulah dia! Awas saja nanti! Kau akan menerima pembalasanku (batin David kesal karena rasa pedas yang dirasakannya tak kunjung menghilang, maklum Bella menambahkan bubuk pedas level 10 ke dalam campuran salad yang akan dimakan David)


***


Bersambung


Bagaimana David membalas perbuatan Bella?


Lalu apa saja kah yang akan dibicarakan David saat bertemu dengan Neni?


Akankah Neni menyetujui permintaan David?


Penasaran? Nantikan kisah mereka di episode selanjutnya.


Jangan lupa like, vote, dan komennya untuk karya ini, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2