
Malam semakin larut, Dokter Damar, Bernardo, dan Paman Sam memaksa Dara dan Az untuk pulang ke apartemen yang letaknya tak jauh dari rumah Dara dan sebelumnya memang telah disiapkan untuk Az. Mereka ingin agar Az dan Dara menghabiskan malam pertama mereka berdua saja.
Adapun Ar diminta oleh Damar untuk mengajak Lusia ke rumah lama mereka yang ada di Negara R, mengingat kondisi ibu kandung Lusia yang belum benar-benar pulih. Sementara Damar dan Sam, menemani Bernardo di rumah sakit.
“Ayah, benar-benar gila. Kenapa dia memaksaku secepat itu untuk bersama dengan laki-laki dingin ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri? Aarrgh.. Aku belum siap. Walaupun aku suka padanya, tapi rasa sukaku kan masih bertepuk sebelah tangan,” gerutu Dara saat sudah berada di kamar apartemen Az.
“Kenapa laki-laki itu begitu santai? Bisa-bisanya dia mandi padahal hari sudah selarut ini. Apa aku tinggal tidur saja? Tapi, aku tidur di mana? Di apartemen ini hanya ada satu kamar dan satu tempat tidur. Masa aku harus berbagi tempat tidur dengannya atau aku tidur di lantai saja. TIDAK, aku kan perempuan, harusnya laki-laki itu dong yang tidur di lantai,”
“Aarrgh…, Kenapa kau hanya memakai handuk seperti itu?” teriak Dara sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
“Kau ini berisik sekali! Yang namanya baru selesai mandi, ya hanya pakai handuk,”
“Tapi kau menodai pandanganku,”
“Itu urusanmu, bukan urusanku,”
“Dasar brengsek, sepertinya aku harus memberinya sedikit pelajaran,” gumam Dara.
Diliputi perasaan geram Dara bangkit dan mencoba memberanikan diri untuk membuka matanya. Kemudian, melangkah mendekati Az yang kini sedang sibuk memilih pakaian yang akan dikenankannya.
Dengan menahan debaran jantung yang menggila, Dara semakin mendekat ke arah Az. Lalu mengambil celana yang akan dikenakannya.
“Sepertinya suamiku ini memang senang sekali ya.. memperlihatkan perutmu yang six packmu ini ke hadapanku,” ucapnya dengan nada manja sambil mengelus perut six pack milik Az.
“Hey, apa yang sedang kau lakukan? Istri gila,” ucapnya bergidik ngeri sambil berusaha menjauhkan tangan Dara dari perutnya.
“Apa yang kulakukan? Tentu saja ingin memanjakan suamiku,” jawab Dara sambil kembali berusaha mengelus perut Az.
“Hey, kau memang benar-benar sudah tidak waras,” Az kali ini sedikit mendorong Dara agar terhindar dari sentuhan sang istri dan bergegas masuk kembali ke kamar mandi sambil membawa pakaian gantinya.
“Ha ha ha, rasakan berani-beraninya macam-macam denganku,” gumam Dara saat merasa dirinya menang.
Sementara itu di dalam kamar mandi
“Sial, gara-gara wanita tidak waras itu aku harus mandi lagi dengan air dingin di tengah malam seperti ini,” gerutu Az.
Dara mulai melihat-lihat kado yang diberikan oleh teman-teman terdekatnya di acara pernikahan dirinya dan Az. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya saat melihat satu persatu isi kado tersebut serta membaca kartu ucapan yang ikut masuk bersama hadiah pemberian mereka.
Selamat menempuh hidup baru Sahabatku
Semoga kalian menjadi keluarga bahagia dan dipenuhi limpahan kasih sayang
Jagalah sepasang gelas cantik pemberian dariku ini, jangan sampai pecah ya!
Jaga juga pernikahan kalian dan doakan agar aku dan Lim bisa segera menyusul.
(Sahabatmu Kalista dan Calon suaminya tercinta Lim)
__ADS_1
Selamat menempuh hidup baru calon kakak ipar
Semoga bahagia selalu dan lekas diberi momongan
Mudah-mudahan selimut ini bisa menjadi penghangat pernikahan kalian.
Doakan agar aku dan pasanganku bisa segera menyusul
(Calon adik iparmu, Dilla)
Saat membaca kata ‘hangat’ yang ditulis Dilla sempat membuat wajah Dara merona. Entah mengapa sempat terbesit dalam pikirannya bayangan keromantisan antara dirinya dan Az. Namun, hal itu lekas dibuangnya jauh-jauh saat mengingat bahwa itu hanya angan semata.
“Hahhh.. menikah dengan beruang kutub seperti dia, mana bisa menjadi hangat yang ada malah kedinginan,” gumam Dara.
Dara teringat saat Dilla datang ke pernikahannya. Bisa dibilang kedatangannya amat sangat terlambat sehingga ia tak sempat berbicara banyak dengan gadis yang akan menjadi pasangan adik iparnya, Aria.
Namun, meski hanya sebentar, ia sempat melihat cara Ar memperlakukan pasangannya. Mulai dari memberikan jaketnya untuk menghangatkan tubuh Dilla dan secangkir teh hangat yang langsung diambil Ar untuk Dilla.
Sekilas ada rasa iri menyelimuti hatinya.
“Andai, Az memiliki sedikit saja sifat hangat dari Ar. Pasti aku akan sangat bahagia,” gumamnya sambil menenggadahkan wajahnya ke langit-langit.
Setelah itu pandangannya kini tertuju pada sebuah kado yang berukuran cukup besar yang dilapisi kertas kado berwarna gold.
“Kertas kado yang mewah. Bukankah itu kado yang katanya spesial yang diberikan David dan Bella untuk Az? Kira-kira apa isi kado dari bos ternama dan paling kaya di Negara S itu ya?” ucap Dara pada dirinya sendiri. Lalu, ia pun mengambil kado yang tergeletak begitu saja di atas meja kamarnya.
“Kira-kira beruang kutub itu akan marah gak ya? Kalau aku membukanya tanpa izin. Ah, lebih baik aku minta izin dulu, sebelum dia ngamuk,”
“Sedang apa sih dia, lama sekali di kamar mandi,”
Tok tok tok
“Az, apa kau masih lama?”
“Iya, memang kenapa? Apa kau sudah tidak tahan dan ingin ikut mandi bareng bersamaku?” goda Az.
“Cih, dasar mesum! Siapa yang sudi mandi bareng bersamamu?”
“Terus kenapa kau teriak-teriak di tengah malam seperti ini?”
“Aku hanya ingin meminta izin. Bolehkah aku membuka kado pemberian David?” tanya Dara ragu-ragu.
Az berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban.
“Bukalah,”
“Lagi pula aku juga tidak ingin membukanya karena pasti itu adalah sesuatu yang menyebalkan sama seperti orangnya,” gumamnya.
__ADS_1
Dara begitu senang dan bersemangat saat Az mengizinkannya membuka kado istimewa pemberian David dan Az.
“Aku jadi penasaran. Kira-kira kado apa ya, yang katany bisa membuat si beruang kutub itu pingsan,”
Dara mulai merobek bungkus kado yang membalut kado David dan Bella.
“Astaga, berapa banyak bungkus kado yang melapisinya?” gumamnya saat dibukanya kado itu terbungkus lagi dan lagi.
“Sepertinya masa lalu mereka berdua tak begitu baik,” gumamnya yang masih meneruskan upayanya untuk membuka kado dari David.
“Hah, aku tak kan menyerah,” saat lagi-lagi kado itu masih terbungkus.
“Akhirnya… sudah lapisan terakhir. Kita lihat kado apa yang kau berikan pada kami Bos David,”
“Hah, apa ini?” sebuah lingire transparan berwarna merah menyala ada dalam bungkusan kado itu.
“Dasar! Pria mesum pasti berteman dengan pria mesum. Lalu, ini…”
“Aargh..,” jeritnya kembali menggema bersama lemparan barang yang spontan mengenai wajah Az yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kau ini suka sekali teriak-teriak dan apa ini?” bentak Az sambil memperlihatkan sebuah benda segitiga berwarna merah menyala yang terlempar ke wajahnya.
“I-itu kado istimewa pemberian teman gilamu,” jawab Dara dengan wajah merona.
“Dan i-itu, serta itu juga,” kali ini Dara menunjuk dua benda lain yang berserakan di lantai karena ulahnya.
Azril yang melihat ke arah dua benda itu membelalakan matanya saat melihat sebuah lingerie berwarna merah transparan terpampang di depan matanya. Selain itu, sebuah benda kenyal yang tak dibungkus rapi pun turut berada di sekitarnya.
“Daviiid, kau benar-benar cari MATI,” ucapnya geram.
Halo, teman kecilku, selamat menempuh hidup baru
Semoga bahagia sebahagia diriku dan Bella
Sedikit pengakuan dosa dariku, kalau waktu kecil dulu saat praktik renang akulah yang menyembunyikan dalamanmu. Sekarang anggaplah aku mengembalikannya bersama bonusnya (ha ha)
(Teman nomor satu bersama pasangannya David dan Bella)
“Dasar kau ini David! ” Az meremas kartu ucapan dari David. Teman kecilnya yang satu itu memang menyebalkan, sangat sangat menyebalkan.
***
Bersambung
Jangan lupa berikan like, vote, dan dukungan kalian lainnya terhadap karya ini ya.. dan jangan lupa untuk jadikan karya ini ke dalam rak favorit kalian.
Untuk yang tak sabar dengan kisah Bella dan David, tunggu di ektra part selanjutnya.
__ADS_1
Selamat beraktivitas dan semoga sehat selalu