
“Segera perintahkan kepada semua staf untuk menyelesaikan semua laporan yang aku minta hari ini 30 MENIT LAGI,” ucap David yang kini tengah berada di kantornya.
“Baik, Bos. Tapi jika saya boleh tahu mengapa Anda sepertinya terburu-buru sekali hari ini. Memangnya ada apa Bos?”
“Karena kita akan kembali lagi ke rumah sakit itu sekitar 30 menit lagi,”
“Apa? Bukannya 30 menit yang lalu kita baru saja kembali, Bos,”
“Aku tidak tenang meninggalkan gadis itu sendiri di sana. Apalagi Clarissa sekarang juga ada di rumah sakit itu. Entah, untuk apa dia bisa sampai ke sana,”
“Mungkin dia sedang mencari obat cinta, Bos. Karena selama ini Bos selalu menjauhinya,”
“Dia itu tidak memerlukan obat cinta. Yang dia perlukan justru obat sakit jiwa,” ucapnya tersenyum sinis.
“Waduh, kau kejam sekali, Bos. Mengatai adik sahabat sendiri seperti itu,”
“Ayolah, Lim kita sudah sama-sama tahu bagaimana sepak terjangnya Clarissa! Hanya keluarganya dan keluargaku sendiri saja yang bodoh,”
“Lalu kenapa Bos tidak segera membongkar kebusukan gadis itu?”
“Tentu saja karena Steven yang bodoh itu. Kalau bukan karena persahabatan kami, aku sudah lama ingin membongkar sifat asli gadis itu,”
“Aku yakin Oma dan Opanya juga tidak akan menyangka kalau cucu kesayangan mereka bisa bermain licik seperti itu. Andai saja dulu aku mengetahuinya lebih awal, mungkin saja Almira tidak akan menjadi korban kelicikannya,” sahut David penuh penyesalan.
“Baiklah, Bos. Kalau begitu aku akan segera menyampaikan perintah Bos pada semua staf karyawan kita,” kata Lim sebelum berbalik dan keluar dari ruang David.
“Tunggu!” seru David sebelum Lim meninggalkan ruangannya.
“Ada apa lagi, Bos? Apa masih ada yang bisa saya bantu?
“Apa kau membawa kalung milik temannya Bella yang tadi terjatuh?”
“Oh, itu ada di dalam saku jas saya, Bos,” jawab Lim sambil merogoh saku jas miliknya.
“Boleh, aku lihat dulu!” pinta David.
“Silakan,” menyerahkan kalung itu.
“Ada lagi, Bos?” tanya Lim lagi.
“Tidak ada. Kau boleh pergi sekarang,” ucap David.
Selepas kepergian Lim, David mulai memperhatikan lebih detail setiap bagian yang ada dalam kalung itu terutama liontin yang ada pada kalung tersebut. Liontin itu begitu amat sangat menarik perhatiannya.
“Benar, aku tidak salah lihat. Ini liontin yang sama dengan yang digunakan oleh wanita yang ada dalam foto Paman. Tapi kenapa Dilla bisa memiliki liontin yang sama dengan wanita itu? Bukan kah wanita yang ada dalam foto itu adalah istri pertama Paman Han,”
“Apalagi liontin ini terbuat dari batu zamrud merah muda yang sangat langka. Bagaimana bisa gadis biasa seperti dia memiliki liontin berharga seperti ini?”
David terus berpikir dan mulai menerka identitas Dilla yang sesungguhnya.
“Aku yakin dia ada hubungannya dengan wanita itu? Tapi apa hubungan mereka? Tidak mungkin kan dia datang untuk membalas sakit hati wanita itu pada keluarga kami?”
“Ah, pusing sekali aku memikirkan ini. Lebih baik aku meminta Lim untuk menyelidikinya,”
Merasa tak bisa menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya. David segera menekan tombol yang ada pada telepon yang terpasang di meja kerjanya.
__ADS_1
“Lim, kembali ke ruanganku!”
“Baik, Bos.”
***
Tak lama berselang, Lim sudah ada di kantor David. Kini ia tengah duduk berhadapan dengan David.
“Lim, aku minta kau selidiki temannya Bella itu. Aku ingin tahu bagaimana latar belakang keluarganya? Dan mengapa dia bisa sampai tinggal di keluarga Bella? Lalu bagaimana bisa dia memiliki kalung dan liontin ini?” menyerahkan kembali kalung itu kepada Lim.
“Apa Anda mencurigai Dilla, Bos?”
“Siapa pun yang tinggal dan dekat dengan tunanganku harus aku curigai. Itu semua demi keselamatan dirinya tentunya?”
“Tapi menurutku ini sangat berlebihan Bos, mengingat Nona Bella hanyalah tunangan pura-pura Anda,” jawab Lim sedikit emosi.
“Lim, kau ini kenapa? Kau sepertinya tidak terima aku mencurigai gadis itu. Apa kau memiliki perasaan khusus kepadanya?” tanya David yang merasa sedikit aneh dengan tingkah sekretarisnya kali ini karena biasanya Lim selalu cepat menerima perintahnya.
“Bu-bukan begitu Bos, hanya saja saya melihat Dilla begitu menyayangi Bella. Begitu pula sebaliknya,”
“Tapi tidak ada salahnya kan kalau kita menyelidiki latar belakangnya. Apalagi kau pasti tahu bahwa batu yang ada pada liontin Dilla bukan batu biasa. Itu adalah zamrud merah muda. Zamrud yang sangat langka dan memiliki harga yang fantastis di pasaran. Jadi, mana mungkin gadis dengan latar belakang biasa bisa memilikinya?”
Kali ini Lim membenarkan ucapan David.
“Baiklah Bos, aku akan segera menyelidikan nya,” jawab Lim.
“Oh ya, karena kau tadi sempat membahas masalah tunangan pura-pura. Aku jadi ingin minta pendapatmu. Bagaimana kalau isi surat perjanjian yang kemarin itu direvisi ulang?”
“Maksud Bos?”
“Iya, aku sangat tidak suka dengan adanya pasal yang tadi Bella sebutkan itu benar-benar membuatku kesal,” protes David.
“Iya, kau benar. Tapi sekarang aku sudah berubah pikiran. Aku ingin segala hal yang berurusan dengan Bella harus sepengetahuan dan seizin dariku agar dia tidak bisa bersikap semena-mena seperti tadi,” protes David yang membuat Lim menghela nafas panjang.
“Kalau begitu apa Anda ingin benar-benar mendengar saranku, Bos?” mendekat wajahnya ke wajah David.
“Tentu. Apa itu?” tanya David memasang wajah serius.
“Anda tinggal merobek dan membuang saja surat itu. Lalu gantikan dengan sertifikat pernikahan. Mudah kan?”
“Sertifikat pernikahan?! Apa kau sudah tidak waras Lim? Memang kau pikir yang akan aku nikahi itu anak sapi? Bisa semudah itu,” ucap David tak senang mendengar usulan dari Lim.
“Hadeuh, Bos. Memang Bos tidak pernah baca cerita-cerita novel tentang pernikahan kontrak? Kenapa Bos tidak melakukan hal yang sama seperti itu saja?”
“Lim otakmu itu sudah kecanduan baca novel. Sudah lupakan saja ide gilamu itu! Aku tak akan melakukannya,” tolak David.
“Ya sudah, terserah Bos saja. Lalu untuk hari ini apa Bos jadi mengunjungi neneknya Bella dan mengajak Bella untuk tinggal di kediaman Erlangga?”
“Sepertinya untuk urusan itu kita tunda sampai besok saja karena aku belum memberi tahukan Paman atau Tante tentang hal ini,” jawab David.
“Jadi untuk malam ini kalian akan tinggal di mana?”
“Tentu saja di rumahmu. Memang di mana lagi? Jangan bilang kalau kau keberatan dengan hal ini,” ucap David dengan tatapan penuh ancaman.
“Tentu, tentu saja tidak,” ucap Lim dengan suara yang berbeda dengan yang ada dikatakannya di dalam hati.
__ADS_1
Tentu, Bos. Tentu saja tidak. Tidak salah lagi (ucap Lim dalam hati)
Kini Lim hanya bisa tersenyum kecut, pasrah dengan apa yang Bosnya lakukan.
***
Tiga puluh menit telah berlalu, semua karyawan yang diminta untuk memberikan laporannya sudah mengirimkan laporan tersebut pada David melalui Lim. David dengan segera memeriksa isi laporan tersebut . Ada yang diminta direvisi kembali, ada juga yang langsung ditanda tanganinya.
Setelah semua selesai, David bergegas menaiki mobilnya. Selama di perjalanan, ia tiba-tiba teringat akan percakapan Bella dengan Ar di telepon.
“Lim, aku ingat ditelepon tadi temannya mengatakan bahwa Dilla sekarang sedang berada bersamanya menjenguk keponakannya yang sedang sakit. Tapi, seingatku Paman Damar belum pernah menikahkan putranya bukan?”
“Lalu siapa keponakan yang laki-laki itu katakan? Jangan dia itu hanya modus saja agar bisa bertemu Bella,” sangka David.
Bos, Bos, kenapa akhir-akhir ini Anda begitu khawatir sekali kehilangan dia (batin Lim).
“Lim, kau tidak dengar apa yang aku katakan?” tanya David kesal karena Lim sama sekali tidak merespon ucapannya.
“Tentu, Bos. Saya mendengarnya dengan jelas, sangat jelas,”
“Benar kah? Lalu kenapa kau diam saja sejak tadi?”
“Aku hanya sedang berpikir Bos, apa mungkin keponakan yang dimaksud oleh temannya Nona Bella itu adalah putri dari si Bakpau Gosong,”
“Bakpau Gosong? Tunggu! Maksudmu putra pertama Paman Damar itu? Anak laki-laki yang gendut, pendek, item, dekil, hidup lagi,” sahut David.
“Bos, Anda benar-benar kejam mengatai teman sendiri,”
“Tapi memang seperti itu kan, ha ha,” ucap David yang merasa geli saat mengingat kembali tampilan putra pertama dokter keluarganya itu.
“Iya, iya, saya tahu Anda itu dari kecil sudah sangat tampan, tapi jangan mengatai orang seperti juga,”
“Sudahlah, kembali ke topik awal. Kalau memang si Bakpau Gosong itu yang dimaksud kenapa Paman Damar tidak pernah memberi kabar bahwa putranya itu telah menikah?”
“Entahlah, mengenai masalah itu Anda bisa tanyakan saja langsung pada Steven karena dia kan yang selama ini tinggal bertetangga dengan Paman Damar di Negara R. Mereka hanya sempat berpisah saat kuliah saja. Selain itu, aku juga dengar mereka cukup dekat,”
“Aku rasa itu tidak perlu hanya buang-buang waktu saja. Untuk apa aku mengurusi pria gendut, pendek, item, dan dekil itu,” ejek David.
“Maaf, Bos, Anda tidak boleh seperti itu. Setiap orang kan bisa berubah, bisa saja anak laki-laki yang Anda nilai gedut, item, pendek, dan dekil itu sekarang sudah bermetamorfosa menjadi seorang pangeran tampan yang menjadi rebutan. Apalagi yang saya dengar putra pertama Paman Damar itu sekarang sudah menjadi dokter bedah saraf yang hebat di Negara S ini,” ucap Lim.
“Benarkah? Kalau begitu dia benar-benar hebat. Aku jadi ingin mengunjunginya,” sahut David yang mulai merasa penasaran ingin melihat rupa dari teman kecilnya itu.
Saat sudah hampir sampai di rumah sakit, tiba-tiba ponsel David menerima sebuah notif pesan dari nomor wanita yang sangat tak disukainya itu.
“Clarissa lagi, Clarissa lagi, ada apa ini?” gumam David.
Ia merasa malas dengan apa pun yang dikirim Clarissa untuknya. Oleh karena itu, ia merasa tak perlu membuka pesan apa pun yang dikirim Clarissa kepadanya. Karena itu lah, setelah memeriksa adanya pesan masuk yang dikirim Clarissa, David memilih tak membuka pesan tersebut dan mengabaikannya. Lalu menyimpan kembali ponsel tersebut ke dalam saku jasnya.
***
Bersambung
Kira-kira siapa ya Bakpau Gosong itu?
Ada yang sudah bisa menerkanya? Cung, coba siapa?
__ADS_1
Catatan author:
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberikan like, vote, dan komen terbaiknya pada karya ini dan tetap jadikan karya ini sebagai favorit kalian. Terima kasih. 💐💐💐