Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 99 Jurus Tersembunyi


__ADS_3

Tiga jam telah berlalu 100 sembako yang diminta dikirimkan dan diantar David ke seratus rumah tiba dengan pesawat jet pribadi milik David. Iya benar, pesawat jet pribadi itu adalah milik David bukan milik keluarga Erlangga.


Jadi, meski sebelumnya keinginan David untuk menaiki jet pribadi terhalang oleh sang nenek karena jet yang ingin dinaiki David waktu itu adalah milik keluarga Erlangga. Kali ini tidak, karena pesawat jet yang satu ini adalah milik David pribadi yang bahkan nenek atau pamannya tak mengetahui itu karena selama ini pesawat itu disimpan di negara kelahiran ibunya yaitu Negara R.


Pesawat jet itu melintas menuju bandar udara yang yang letaknya tak jauh dari rumah pemukiman warga. Bandar udara tersebut merupakan salah satu proyek yang sedang dibangun EG Company di daerah itu. Bandar udara yang dikhususkan sebagai jalur lintas pesawat jet pribadi dan telah mendapat perizinan khusus dari pemerintah.


Suara bising dari baling-baling pesawat menarik perhatian para warga termasuk Bella yang saat itu tengah sibuk bermain pasir pantai dengan teman-teman lamanya.


Decak kagum tampak di mata para warga tersebut kala melihat pesawat itu mendarat.


“Hey, lihat pesawat siapa itu?” teriak suara seorang pria saat pertama kali melihat kemunculan pesawat yang melintas di tempat itu.


“Emak... aya kapal, Mak! (Ibu, ada pesawat, Bu!)” teriak suara bocah-bocah kecil yang berlari mendekat ke arah pesawat itu.


“Kapaaaal, menta duit (Pesawat, minta uang)!!!” Seperti itulah suara teriakan bocah-bocah di daerah itu setiap kali mereka melihat pesawat melintas di tempat tersebut.


“Kapaaaal, menta duit!!” teriakan itu terdengar berulang-ulang. Meski, David tidak memahami maksudnya, namun David terlihat senang saat melihat ekspresi bocah-bocah itu yang tampak begitu antusias saat melihat kedatangan pesawat jet miliknya.


“David, apakah itu pesawat milikmu?” tanya Bella yang langsung berlari menghampiri David padahal sebelumnya ia memilih menjauh dari David karena belakangan David semakin sering menggodanya.


“Benar sayang, itu pesawat pribadi milikku,” ucap David lembut yang diiringi dengan senyuman hangat dan itu langsung membuat wajah Bella merona, mendengar panggilan ‘sayang’ keluar dari mulut David.


Meskipun sebenarnya panggilan ‘sayang’ telah tertera dalam surat kontrak perjanjian yang mereka tanda tangani sebelumnya. Namun, selama ini mereka hampir melupakannya dan jarang sekali menggunakan panggilan tersebut dalam keseharian mereka selama ini.


Apalagi, saat ini David mengucapkannya dengan nada lembut dan senyuman mematikan miliknya. Entah karena kebetulan saat ini ia sedang berada di dekat neneknya Bella atau hal lain yang jelas saat ini degup jantung Bella semakin berdetak tak karuan.


Sial, ada apa lagi dengan jantungku. Kenapa setiap kali berada di dekatnya selalu seperti ini? Apa jangan-jangan ini yang orang sebut dengan...? Ah, tidak mungkin. Ini pasti salah. Ini pasti hanya penyakit jantung biasa. Tidak mungkin kan aku jatuh cinta sama laki-laki mesum ini (batin Bella sambil menggigit bibir bawahnya)


“Neni, kau masih ingat tidak? Dulu kita juga pernah melihat pesawat yang seperti itu,” ucap wanita yang berdiri di samping Neni.


“Benar Bu Lurah, saya masih ingat dulu juga pernah ada pesawat semacam ini melintas ke tempat kita. Waktu itu ngeri banget ya Bu Lurah, pesawatnya mengeluarkan asap gitu,”


“Betul itu Neni, saya pikir pesawat itu pasti jatuh dan meledak di suatu tempat,” sahut Bu Lurah.


Deg, percakapan Neni dan Bu Lurah menarik perhatian David.


Apa mungkin pesawat yang Neni maksud itu pesawat yang sama dengan yang pernah ditumpangi oleh kedua orang tuaku sebelum kecelakaan itu terjadi ? Bukankah ini jalur yang sama dengan jalur yang pernah dilalui mereka saat itu (ucap David dalam hati).

__ADS_1


***


“Bos, apakah sembakonya akan langsung dibagikan?” tanya Lim saat 100 sembako yang dimintanya dibawa oleh beberapa anak buahnya ke tempat itu sampai.


“Iya, langsung dibagikan saja. Kebetulan mereka semua sepertinya sedang berkumpul. Benar kan Neni?” tanya David meminta persetujuan Neni.


“Benar, Bu Lurah dan anak buahnya akan membantu kita membagikannya. Ayo, Bu Lurah!”


“Siap, Neni. Wah, senang ya.. Neni punya calon cucu mantu yang tajir melintir. Ganteng pula. Semoga cepat sampai ke pelaminan,” ucap Bu Lurah yang membuat sudut bibir David lagi-lagi terangkat.


Neni, Bu Lurah dan anak buahnya, beserta anak buah David yang datang bersama sembako- sembako itu membagikan 100 sembako yang mereka bawa kepada para warga yang kebetulan sedang berkumpul.


“Lalu mengenai uang sawerannya, Bos? Kita tidak punya uang receh, apakah kita akan membagikannya dalam bentuk ratus ribuan saja,”


“Mengenai itu serahkan saja pada Bella, biar dia yang mengurus dan membagikan uang sawerannya,” melirik ke arah Bella yang sedari tadi hanya diam dan memegangi dadanya.


“Eh, tidak, tidak... aku tidak mau membagikannya karena aku juga ingin ikut memungut uang sawerannya. Apalagi yang dibagikan lembaran ratusan semua. Pasti aku bisa dapat banyak, yeaayy,”


“Cih, kau ini. Sifat matremu masih juga belum hilang,” cibir David.


“Hey, Bella! Berani sekali kau menjulurkan lidahmu seperti itu,” teriak David sambil mengejar Bella.


Kedua insan itu kini tengah berlari berkejar-kejaran di tepi pantai sambil tertawa riang.


Momen yang terlihat langka itu diabadikan Lim dan disimpannya dalam galeri foto yang ada di ponselnya.


David, selama ini aku jarang sekali melihatmu sebahagia ini. Semoga Bella bisa menerimamu dan akan bersedia menemanimu hingga sepanjang sisa hidupmu dan semoga saja keluargamu tidak menjadi penghalang bagi kebahagiaan kalian (batin Lim yang kali ini tidak berbicara sebagai anak buah, melainkan sahabat David)


David dan Bella terus saja berkejar-kejaran di pinggir pantai hingga kaki Bella tergelincir dan terjatuh. David yang saat itu berusaha menahan Bella agar tidak terjatuh, malah ikut terjatuh bersamanya.


Posisi David kali ini berada di atas tubuh Bella dan itu membuat keduanya dapat merasakan debaran jantung masing-masing. David dan Bella saling memandang satu dengan yang lain, entah karena terpesona dengan wajah David yang kali ini terlihat lebih tampan dari biasanya, Bella tak langsung mendorongnya.


“Bella, mau kah kau menikah denganku?”


Kalimat bernada lirih itu meluncur begitu saja dari mulut David dan itu membuat Bella kaget dan langsung mendorong tubuh David dari atas tubuhnya.


“Ih, David berat! Kau mau membunuhku ya?” ucap Bella dan mengabaikan kalimat David sebelumnya. Bahkan, segera berjalan cepat menjauhinya.

__ADS_1


Tadi itu aku pasti salah dengar. Pasti, tidak mungkin kan CEO sombong itu melamarku. (batin Bella)


“Heh, gadis kecilku.. kau masih saja berpura-pura tak mendengarnya, tapi kali ini aku tak akan melepaskanmu lagi,” gumam David yang terus memandang punggung Bella.


***


Dibantu beberapa orang warga, Lim berhasil mempersiapkan uang saweran sebesar lima juta rupiah yang dipecahnya menjadi beberapa lembar uang seratus ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan, sepuluh ribuan hingga lima ribuan. Uang- uang itu mereka masukan ke dalam sedotan yang akhirnya dicampur ke dalam baskom bersama dengan beberapa permen dan beberapa macam kelopak bunga.


Kelopak bunga itu dipakai untuk menggantikan beras yang seharusnya ada dalam saweran. Menurut Lim menggunakan beras akan sangat disayangkan bila berjatuhan begitu saja. Oleh karena itu, Lim berinisiatif menggantinya dengan kelopak bunga. Tentu saja hal itu membuat acara saweran semakin lebih berkesan karena sebelumnya tak pernah ada yang melakukan hal seperti itu.


Bella terlihat antusias melibas lawan-lawannya saat acara saweran terjadi. Dorongan-dorongan dan saling menginjak adalah hal yang biasa saat ini.


“Hey, apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka mendorong Bella?” ucap David yang terlihat kesal saat melihat gadis kesayangannnya diperlakukan seperti itu.


“Tenanglah, Bos. Hal semacam itu sudah biasa terjadi dalam situasi semacam ini. Sekarang kau lihat sendiri bagaimana gadis kesayanganmu menghabisi lawan-lawannya,” sahut Lim yang sedari turut memperhatikan jalannya acara saweran itu.


Yang dikatakan Lim benar adanya, Bella lebih sadis dari pada lawan-lawannya. Ia tak segan-segan menjitak kepala laki-laki botak yang menghalanginya, menduduki uang saweran yang jatuh di bawahnya agar tak ada yang bisa meraihnya. Bahkan, yang lebih parah ia menginjak tangan laki-laki gendut yang sempat mendorong tubuhnya.


Terakhir Bella mengeluarkan jurus tersembunyinya dan itu membuat David, Lim, dan Neni menggelengkan kepala mereka.


“Jurus tersembunyi!!!” teriak Bella saat akan mengeluarkan jurusnya itu.


“Tut.. tut.. tut...,” suara keras yang khas diiringi aroma memabukkan yang dikeluarkan Bella membuat lawan-lawannya menyingkir sembari menutup hidung mereka dan itu membuat Bella berhasil merebut sisa uang saweran terakhir yang dilempar Neni.


“Ya ampun, Neni, cucumu ini cantik-cantik jorok!” keluh salah satu warga yang masih menutup hidungnya.


“Bos, hati-hati! Jangan sampai gadismu ini mengeluarkan jurus semacam ini di hadapan Nyonya Besar karena kalau sampai hal ini terjadi bersiaplah Nyonya pasti akan segera menggantungnya,” ucap Lim sambil menahan mual akibat aroma dahsyat yang dikeluarkan Bella.


Bos, aku heran. Kenapa kau bisa menyukai gadis jorok semacam ini ? (batin Lim).


****


Bersambung


David : "Sebelum lanjut ke episode selanjutnya jangan lupa kasih like dulu ya 😎"


Author : "Silakan lengkapi dengan vote dan komennya jika berkenan. Dan jangan lupa jadikan favorit agar tak ketinggalan 🤗🤗"

__ADS_1


__ADS_2