Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Ekstra Part Az dan Dara Bagian 3


__ADS_3

Semua orang yang berada di sana benar-benar terkejut dengan tindakan yang telah dilakukan oleh Silvia. Suasana di kediaman Moris itu pun kini berubah menjadi tegang.


Dor


“Tidak!!!”


Suara letupan senjata milik Dara menggema bersama dengan teriakannya yang lantang.


“Dara!!” teriak Bernardo saat melihat putri bungsunya terbaring bersimbah darah di pelukan Az saat berusaha melindungi dokter muda itu dari tembakan sang kakak yang mengalami gangguan kejiwaan.


“Dara, tidak! Adikku! Apa? Apa? Apa yang aku lakukan?” teriak Silvia lalu membuang pistol dari tangannya.


“Cepatlah, kita harus segera membawanya ke rumah sakit sebelum ia kehilangan banyak darah,” teriak Az yang langsung menggendong Dara.


“Tuan, apa yang terjadi?” teriak Sam yang langsung berlari saat mendengar suara letupan senjata dari rumah majikannya.


Bernardo hanya terdiam. Sebagai seorang ayah, dia benar-benar terluka. Ia benar-benar tak menyangka bahwa keadaan putri tertuanya benar-benar separah itu bahkan setelah bertahun-tahun lamanya. Ia merasa bahwa kali ini sikap keras kepalanya untuk tak mengurung putrinya di rumah sakit jiwa dan lebih memilih berobat jalan dengan bantuan seorang psikiater benar-benar salah. Harusnya ia mendengarkan kata-kata sahabatnya yang juga dokter kejiwaan yang merawat putrinya selama ini.


“Sam, bawa Silvia ke atas dan kurung dia,” perintah Bernardo.


“Baik, Tuan,” jawab Sam yang sepertinya sudah mulai bisa membaca situasinya.


“Ti-tidak, aku tidak ingin dikurung. Aku ingin melihat keadaan Dara. Aku ingin bertemu dengan putri kandungku,” teriak Silvia sambil meronta saat Sam membawa paksa dirinya ke kamar.


Bernado berjalan lemas, mengikuti Az yang menggendong tubuh putri bungsunya. Melihat darah yang belum berhenti mengalir dari tubuh putrinya membuat harapannnya kini benar-benar telah sirna. Harapan untuk melihat putri sulungnya bisa sembuh seperti sedia kala benar-benar telah pupus. Sekarang ia merasa benar-benar telah kehilangan putri sulungnya itu dan kini ia berharap Dara bisa baik-baik saja.


Srekk


Az, merobek kemeja di bagian lengannya dan mengikatnya ke bagian pundak Dara yang terkena peluru untuk menghentikan pendarahannya.


“Az, to-tolong. Ma-maafkan Ka-kakku. Jangan laporkan dia,”


“Diamlah. Jangan bicara terus jika kau ingin selamat,” sahut Az.


Ia lalu membuka pintu mobil dan merebahkan tubuh Dara di kursi depan mobil. Kemudian, memutar dan duduk di samping Dara.


“Ayah, aku ingin ikut,” teriak Lusia yang sebenarnya masih ketakutan dengan apa yang telah dilakukan ibu kandungnya itu.


“Masuklah,” ucap Az.


“Paman, kau juga. Masuklah,” ucapnya pada Bernardo yang sedari tadi mengikuti mereka.


Bernardo dan Lusia duduk di bagian belakang mobil. Mereka bersama-sama merapal doa agar Dara bisa selamat.


“Ya Tuhan, semoga Tante Dara bisa baik-baik saja,” ucapnya.


***


Dara berhasil mendapat penanganan dengan cepat dari dokter dan kini tengah terbaring di brangkar rumah sakit. Az menjaga gadis yang belakangan ini sering menggangu hidupnya. Biar bagaimana pun ia tidak tega membiarkan gadis yang telah menyelamatkan hidupnya terbaring di rumah sakit itu sendirian.


Az tampak kelelahan dan terbaring di samping brangkar tempat Dara dirawat. Gadis manis yang sebelumnya sempat tak sadarkan diri kini mulai membuka matanya secara perlahan. Ia terkejut saat mendapati Az tertidur di sampingnya.


“A-Az,” gumamnya.

__ADS_1


Ditatap wajah Az dengan lekat. Az masih tertidur dan tak menyadari jika Dara sudah siuman.


“Laki-laki yang tampan,” ucap Dara pelan sambil mengulas senyum di bibirnya.


“A-aw,” pekiknya saat mencoba bangkit dan berdiri karena sesuatu di dalam tubuhnya, mendesak ingin segera dikeluarkan.


Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dara mencoba untuk naik kembali ke atas brangkarnya. Namun, keberadaan Az di samping brangkar itu membuatnya sedikit kesulitan.


“A-Az,” ia mencoba membangunkan Az, namun laki-laki itu sepertinya terlalu lelah sehingga sulit dibangunkan.


Lalu Dara pun menyentuh lembut pucuk kepala Az. Entah kenapa ia merasakan ada getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia teringat bagaimana laki-laki itu dengan sigap menggendongnya. Bahkan, merobek lengan kemeja yang entah bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan nyawanya.


“Terima kasih,” bisik Dara sambil separuh membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Az.


Cup


Sebuah sentuhan bibir mendarat di pipi kiri Az yang tiba-tiba saja terbangun, hingga tanpa sengaja bibir Dara mengenai pipi kirinya dan itu membuat wajah Dara merona saat menyadari kesalahannya..


“Apa yang kau lakukan?” tanya Az suara menggelegar saat merasakan sentuhan lembut bibir Dara di pipi kirinya.


“Ma-maaf, aku tidak sengaja. Tadi aku hanya ingin berbisik untuk membangunkanmu, ta-tapi kau tiba-tiba terbangun. Jadi, tanpa sengaja.. bi-birku menyentuhnya,” ucap Dara sedikit gelagapan karena ia masih belum bisa menguasai dirinya akibat debaran kencang yang ia rasakan di bagian jantungnya.


Ya Tuhan, kau ini kenapa Dara? Kendalikan dirimu (batin Dara).


“Jangan lakukan itu lagi! Kau tidak perlu berbisik untuk membangunkanku,” ucap Az dengan nada sinis.


“Ba-baikah. Aku tak akan melakukan itu lagi,” jawab Dara dengan perasaan jengkel.


Dasar bodoh! Bisa-bisanya tadi kau sempat terkesan pada pria menyebalkan ini (batin Dara).


“Hey, apa yang kau lakukan?” tanya Az separuh berteriak saat melihat perban yang menutupi luka Dara memerah.


“Gadis bodoh! Apa yang kau lakukan sebenarnya? Kenapa bisa berdarah lagi?” tanya Az tidak suka saat melihat luka Dara kembali berdarah.


Az, mengambil perban yang ditinggalkan perawat dan hendak membalut luka Dara lagi.


“Apa yang kau lakukan?” teriak Dara saat Az mulai membuka kancing bajunya.


“Tentu saja membalut kembali lukamu dengan perban ini, Bodoh!”


“Ka-kau tidak perlu melakukannya. Kau panggilkan saja perawat,” tolak Dara sambil menghempaskan tangan Az yang sudah membuka separuh kancing bajunya.


“Cih, sebenarnya apa yang kau pikirkan gadis dungu? Kau pikir aku tertarik dengan tubuhmu yang tak menarik itu,”


“Kau!!” teriak Dara menahan geram.


“Aku bilang panggil perawat ya, panggil perawat!” kali ini Dara berteriak lebih lantang.


“Baiklah,” Az mengalah, lalu ia pun memencet tombol yang ada di samping brangkar agar perawat bisa segera datang.


“Dasar gadis keras kepala,” gumam Az.


Tak lama perawat yang dipanggil pun datang ke kamar Dara untuk mengganti perbannya. Az membalikkan badannya saat seorang perawat membersihkan dan menutup kembali luka Dara.

__ADS_1


“Nona, apa yang kau lakukan? Kenapa bisa sampai seperti ini?” tanya perawat itu.


“Tadi aku hanya ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusan perutku, Suster,”


“Oh, kalau begitu lain kali kau seharusnya lebih berhati-hati lagi dan jangan terlalu banyak bergerak. Karena bisa-bisa lukamu terbuka kembali dan berdarah seperti ini,” nasihat perawat itu.


“Ba-baik, Sus, terima kasih. Ke depannya aku akan lebih berhati-hati,” jawab Dara.


“Baiklah, sudah selesai sekarang aku kembali. Jika terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk memanggilku,”


“Baiklah, Sus. Sekali lagi terima kasih,” ucap Dara kembali.


“Sama-sama, semua itu sudah tugas saya Nona,” jawab perawat itu dengan senyum ramahnya sebelum meninggalkan Dara dan Az berdua di kamarnya.


“Kalau begitu aku juga keluar. Aku akan memberi tahu Ayahmu kalau kau sudah siuman,” ucap Az.


“Az,”


“Hemmm,”


“Terima kasih, terima kasih karena kau telah menolongku,” ucap Dara sebelum Az benar-benar keluar.


“Tidak perlu, bagaimana pun kau terluka seperti ini juga karena ingin menyelamatkanku. Walaupun itu juga karena kebodohanmu sendiri,”


“Apa maksudmu?”


“Kau masih belum mengerti apa maksudku? Dasar gadis bodoh,”


“Hey, cukup! Berhentilah mengataiku gadis bodoh,”


“Kenapa? Kau kan memang gadis bodoh. Pertama, kau tidak hati-hati menyimpan pistolmu. Kedua, kenapa kau harus melindungiku? Kau pikir aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, hah?”


“Kau ini ya? Dasar laki-laki sombong. Seharusnya aku tidak perlu melindungimu karena menurutku cuma kau satu-satunya orang yang setelah dilindungi masih berkata sombong seperti itu,” ucap Dara jengkel sambil menunjuk-nunjuk wajah Az.


“Sudah?” tanya Az.


“Apa maksudmu sudah?”


“Kalau gitu terima kasih atas pujiannya aku pamit dulu,” ucap Az yang langsung keluar meninggalkan Dara yang semakin bertambah kesal dengan sikap Az.


“Aaargh,” teriak Dara yang terdengar sampai keluar membuat Az diam-diam tersenyum melihat tingkahnya.


Aneh juga, kenapa aku begitu senang membuatnya kesal? (batin Az sebelum menjauh dari kamar Dara).


***


Bersambung


Bagaimana ya, kelanjutan kisah mereka? Apakah mereka akan terus membenci dan saling bermusuhan selama-lamanya? Atau menjadi pasangan seperti David dan Bella?


Temukan jawabannya dengan terus mengikuti cerita ini..


Jangan lupa like dan votenya juga ya... dan tetap jadikan karya ini sebagai karya favorit yang tersimpan di rak bukumu.

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2