Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 112 Sirkuit Labora


__ADS_3

Sekretaris Lim terpaksa meninggalkan mobilnya, saat dirinya terjebak macet di perjalanan saat akan menuju Kediaman Erlangga. Karena dirinya sudah terlanjur berjanji pada David bahwa ia akan tiba pukul 03.30 sore ini dan akan ikut berpartisipasi dalam pertandingan antara David dan Lim di Sirkuit Labora sore ini.


David sengaja memberikan motor baru untuk Lim sebagai bonus. Namun dengan syarat, Lim bisa ikut berpartisipasi dalam pertandingan sore ini. Tentu saja, Lim tidak menolak karena ia sudah lama tidak pernah ikut bertanding di arena sirkuit balap. Demi memastikan agar Lim tidak menarik kata-katanya, maka motor itu masih disimpannya di kediaman Erlangga.


“Leo, aku percaya kan mobilku padamu ya?” sahut Lim saat dirinya menyerahkan kunci mobil pada Leo, anak buah Lim yang saat itu sedang berada dalam mobil yang bersebelahan dengan mobil Lim. Leo saat itu sedang menumpang mobil temannya.


“Siap, Bos!” jawab Leo.


“Sekarang aku tinggal pikirkan cara agar aku bisa segera sampai di rumah David,” gumam Lim sambil memperhatikan satu per satu motor yang berlalu lalang dan berhasil menyelinap di tengah kemacetan.


Pandangan Lim tertuju pada salah satu motor Harley Davidson yang dikendarai seorang perempuan dengan rambut gimbalnya. Motor itu hendak menyelinap kerumunan kendaraan roda empat yang terjebak dalam kemacetan.


“Maaf, Nona, bisa saya ikut menumpang motor Anda?” tanya Lim yang membuat si pengendara motor mengalihkan pandangannya menatap Lim.


“Kau,” sahut keduanya hampir bersamaan.


Kenapa bisa ada makhluk jadi-jadian di sini? (batin Lim)


“Kau mau apa?” tanya wanita berkaca mata tebal itu menatap Lim.


“Maaf Nona, bisa kah saya menumpang motor Anda sebentar? Saya ingin ke rumah Bos saya,” sahut Lim lagi.


“Kalau begitu naiklah!” seru wanita itu yang membuat mata Lim langsung terbelalak tak percaya. Ia tidak menyangka wanita itu dengan mudahnya menerima permintaannya. Namun, kesempatan itu tidak mungkin disia-siakannya begitu saja.


Lim segera naik ke bagian belakang motor wanita itu.


“Siap ya? Pegangan yang kuat !” ucap wanita itu dengan nada tinggi sebelum melajukan kendaraan roda duanya.


Lim dibuat tak percaya, saat wanita itu mengendarai motor Harley Davidson dengan kecepatan sangat tinggi yang membuat Lim memeluknya dengan sangat erat karena takut terjatuh.


Gila, sepertinya wanita ini benar-benar tidak waras. Bagaimana bisa dia mengendarai motor besar seperti ini dengan sangat cepat? (batin Lim)


“Tuan, sampai kapan kau akan memelukku seperti ini terus?” Tempat yang kau tuju sekarang sudah sampai,” ucap wanita itu yang membuat Lim tersadar jika ia telah memeluk wanita itu dengan sangat erat.


Lim pun melepaskan pelukannya dan segera turun dari motor yang ditumpanginya.

__ADS_1


“Maaf, saya tak sengaja dan terima kasih,” ucap Lim sebelum berlalu meninggalkan wanita itu.


“Hey, seperti itu saja kah kau berterima kasih!” teriak wanita itu yang membuat langkah Lim terhenti. Kemudian berbalik dan menghampiri wanita itu lagi.


Kemudian ia mengeluarkan sebuah dompet dari saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan. Lalu menyerahkan uang itu pada wanita yang kini tengah menatapnya.


“Ambillah,” ucap Lim saat menyodorkan beberapa lembar ratus ribuan kepada wanita.


“Bukan ini yang aku mau Tuan, aku ingin sesuatu yang lain,” ucap wanita itu kembali.


“Apa itu?” tanya Lim.


“Kalau begitu mendekatlah, biar aku bisikkan apa yang aku inginkan kepadamu,” ucap wanita itu membuat Lim menghela nafasnya pelan.


“Hah.., merepotkan sekali,” keluhnya.


Lim mendekatkan telinganya ke dekat mulut wanita itu untuk mendengar apa yang ingin dikatakannya. Saat telinga Lim sudah berada di dekat mulutnya, si wanita tiba-tiba tersenyum jahil.


Cup


“Terima kasih Halim Anggara Wijaya, aku pergi dulu, Daaaah,” sahut wanita itu sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu melajukan motor yang dibawanya dengan cukup cepat.


Lim masih berdiri terpaku, kejadian itu cukup mengejutkannya.


“Sial, berani sekali wanita itu!” itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Lim saat dia baru menyadari bahwa seseorang baru saja mencium pipinya.


“Tapi bagaimana dia tahu nama lengkapku?” gumam Lim yang merasa heran karena wanita itu mengetahui nama lengkapnya, padahal ia merasa tak pernah memberitahukan wanita itu tentang identitasnya.


Dengan diliputi tanda tanya besar, Lim memasuki Kediaman Erlangga.


“Sayang, aku ikut ya..? Aku juga kan ingin ikut bertanding,” pinta Bella yang sedari tadi membuntuti David yang kini tengah bersiap dengan jaket hitam yang melekat di badannya. Membuat penampilan pria itu terkesan lebih macho daripada biasanya.


“Bukannya Neni melarangmu, Sayang? Lagi pula luka yang ada di lenganmu apakah sudah benar-benar membaik?” tanya David .


“Sudah Sayang, lihatlah!” jawab Bella seraya membuka sebagian kancing kemejanya.

__ADS_1


Lalu Bella menurunkan kemeja itu sedikit, hingga tampaklah bagian lengannya yang memperlihatkan bekas luka miliknya. Namun, bukan bekas luka itu yang menarik perhatian David, melainkan dada putih Bella yang mulus dan terbuka, serta tali pengikat bra yang ikut tampak bersamanya.


Astaga, gadis tengik ini... sadar tidak sih dengan apa yang dilakukannya? Membuatku semakin ingin segera memakannya saja (batin David sambil menelan salivanya)


“Sayang, apa yang kau lihat? Kenapa diam saja?” tanya Bella sedikit kesal saat melihat pandangan David bukannya tertuju pada bekas lukanya, melainkan pada yang lain dan itu. sebabnya Bella segera memakai kembali kemejanya dengan benar. David langsung memeluknya dari belakang dan berbisik lembut ke telinga gadis itu.


“Sayang, kapan kau siap melakukan itu denganku?” tanya David yang membuat pipi Bella langsung merona karenanya. Ia paham dengan apa yang dimaksud dan diinginkan oleh David. Selama ini David memang belum meminta haknya sebagai suami.


“Sayang, kalau kau tak segera melepaskan pelukanmu ini aku tak segan-segan menginjak kakimu,” ancam Bella pada David yang semakin erat memeluknya, membuat detak jantung Bella semakin tak terkendali. Apalagi saat dengan nakalnya, David mulai meremas sepasang gundukan yang ada di dadanya.


“Aww,” Bella benar-benar menginjak kaki David.


“Kau ini,” teriak David kesal.


“Maaf, aku kan sudah bilang lepaskan, jangan memelukku terus,” ucap Bella kembali mengingatkan. Membuat David hanya bisa menghela nafasnya, sepertinya ia harus menggunakan kekuatan yang besar untuk menaklukan singa betina ini.


“Sayang, boleh ya? Ini kan bukan di arena balap liar, tapi di Sirkuit Labora, Neni pasti tidak akan mempermasalahkannya,” rengek Bella.


Bella memang terus menerus memohon pada David saat mendengar jika sore ini David dan Az akan bertanding di Sirkuit Labora. Sirkuit yang selama ini menjadi tempat impiannya sebagai seorang pembalap.


“Baiklah, tapi berikan aku hadiah yang sepadan jika aku memenangkan pertandingan ini,” ucapnya dengan senyum di bibirnya.


“Tentu, aku akan memberikannya,” jawab Bella mantap.


Sementara itu di balik dinding yang ada di sudut ruangan itu, tampak Clarissa yang sedari tadi mengintip dan ikut mendengarkan percakapan Bella dan David.


“Oh, jadi kalian ingin bertanding di Sirkuit Labora milik Kakek. Bagus kalau begitu ini akan mempermudah rencanaku. Bella, lihatlah apa yang nanti akan menyambutmu di sana,” ucap Clarissa sambil memasang senyum jahatnya.


***


Bersambung


Siapakah yang akan menang dalam pertandingan di Sirkuit Labora? CEO sombong atau Dokter dingin?


Sebelum lanjut baca ceritanya, jangan lupa berikan like, vote, komentarnya sebelum membaca episode lanjutannya serta tetap jadikan favorit ya.. terima kasih...💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2