
“Bella, apa kamu benar-benar serius ingin mengantarku dulu?” tanya Dilla.
“Iya, serius. Apa kamu takut? Atau kamu masih trauma dengan kejadian tempo hari?”
“Terus terang, iya. Aku memang sedikit trauma dengan caramu membawa motor tempo hari, tapi itu hanya alasan kedua. Alasan yang pertama adalah karena kamu sudah ditunggu David sekarang di kantornya,”
“Biarkan saja dia menunggu, toh dia yang butuh bukan aku,” jawab Bella cuek.
“Baiklah, kalau begitu sekarang lekaslah mandi karena aku sudah ditunggu jam 9 di rumah sakit,”
“Perlu mandi gitu?”
“Ya ampun, Bella. Jangan katakan kamu berniat mempermalukan David lagi di kantornya,” ucap Dilla sesaat sebelum notif pesan muncul di layar ponsel milik Bella yang saat ini masih dipegang oleh Dilla.
Katakan pada teman kamu itu Dil, jangan berdandan yang aneh-aneh atau dia akan tahu sendiri akibatnya nanti. Begitu pesan dari Bos David. (Sekretaris Lim)
“Kamu lihat ini” memperlihatkan pesan tersebut kepada Bella.
“Dih, apa-apaan ini? Belum apa-apa sudah suka mengancam,” keluh Bella saat membaca pesan itu.
“Pantas saja sekretaris itu menyuruhku langsung ke sana. Tidak dapat diragukan lagi, pasti bunyi pasal-pasal yang dibuatnya dalam surat perjanjian itu akan sangat aneh,” ucap Bella sambil melangkahkan kakinya dengan berat menuju kamar mandi.
***
“Cepat sekali kamu mandinya?” tanya Dilla yang heran saat melihat Bella sudah keluar dari kamar mandi.
“Ngapain lama-lama. Toh, cuma sekedar kasih air, olesi sabun, selesai. Mau bertapa dulu? Takutnya pintu kamar mandiku nanti rusak karena ada yang menggedor-gedor pintu tersebut karena tidak sabar menunggu,”
“Yah janganlah! Nunggu kamu bertapa dulu bisa abis waktu se-jam-an,” sahut Dilla yang sudah rapi dengan pakaian serba putihnya.
“Kalau gitu cepatlah pakai pakaianmu! Sekarang aku ke bawah dulu. Mau bantuin Neni menyiapkan sarapan, sekaligus merapikan kedai bakso agar nanti Neni tidak terlalu repot,” ucap Dilla sebelum meninggalkan Bella sendirian.
"Oke, pergilah sana! Cerewet sekali! " sahut Bella.
***
Tak lama berselang Bella turun ke bawah dengan mengenakan celana jeans yang berlubang di bagian lutut dan kaos putih yang sederhana.
“Kamu serius pakai pakaian seperti itu?” tanya Dilla saat memperhatikan penampilan Bella.
“Memangnya kenapa? Ini memang gayaku. Tidak ada yang aneh kan?” ucap Bella santai.
“Memang tidak aneh sih.. tapi kamu yakin memakai pakaian seperti itu ke kantor David?”
“Ck, kamu ini cerewet sekali Dilla. Kamu tidak mungkin kan meminta aku memakai rok mini lengkap dengan kemeja dan jas seperti karyawannya sih David itu,” ucap Bella sebal.
__ADS_1
“Ya, ya, maaf. Terserah kamu mau pakai apa? Sekarang kita sarapan dulu,” ucap Dilla yang merasa tidak enak pada Bella karena sudah merasa begitu mengaturnya.
“Ya ampun... apakah matahari terbit di sebelah barat? Tumben sekali gadis dungu ini sudah bangun dan rapi,” sahut Neni yang sedari tadi sibuk di dapur dan baru menyadari kehadiran Bella yang saat ini sedang duduk di meja makan bersama Dilla.
“Tuh, kamu dengar sendiri, RA-PI,” bisik Bella.
Iya iyalah, jelas Neni bilang kamu rapi karena biasanya kamu tuh turun dengan piyama kusut dan rambut yang masih berantakan serta iler di mana-mana (ucap Dilla dalam hati).
“Tentu aku sudah bangun Neni, karena calon cucu menantumu sekarang sedang menunggu cucu kesayanganmu ini di kantornya,” jawab Bella.
“Oh ya, dia sedang menunggumu? Kalau begitu cepat pergilah! Dan bawalah nasi goreng ini untuknya,” ucap Neni yang langsung mengambil kertas nasi dan membungkus nasi goreng petai yang tersaji di depan Bella.
“Neni, untuk apa Neni membungkus itu? Itu kan nasi goreng jatahku,” protes Bella.
“Duh, Bella, kenapa sifat bodohmu itu tidak hilang sih? Kamu kan bisa makan berdua dengan dia. Bukan kah itu sangat romantis,” ucap Neni menaik turunkan alisnya.
Hal itu membuat Dilla langsung membekap mulutnya sendiri, menahan agar suara tawa tidak keluar dari mulutnya.
“Neni, ini !” Bella tak mampu berkata-kata lagi, dia tahu kalau Neninya itu punya sifat keras kepala yang sama dengan dirinya. Jadi, akan sangat percuma jika Bella tetap berdebat dengan Neni tercintanya tentang hal ini.
Dengan wajah cemberut, Bella bangkit dari duduknya.
“Ya sudah, Dil, kalau begitu sekarang kita langsung berangkat saja! Kamu sudah sarapan kan?” ajak Bella.
“Iya, sudah,” jawab Dilla.
“Neni, kami berangkat,” ucap Bella setelah motornya dirasa siap untuk dipakai.
“Iya, hati-hati! Salam untuk cucu menantuku,” sahut Neni.
“Cih, ngapain sih Neni pakai salam-salam," umpat Bella dalam hati.
"Males nyampein nya juga, " lanjutnya.
Setelah dipastikan Dilla siap, Bella pun segera melajukan motor yang sebelumnya telah dipanaskan terlebih dahulu. Kali ini, Dilla tampak lebih tenang mengendarai motor Bella karena sudah merasa terbiasa.
***
Sepuluh menit kemudian, motor yang dikendarai Bella sudah sampai di depan rumah sakit yang menjadi tujuan Dilla. Gedung putih megah bertuliskan “Rumah Sakit Internasional XXX”
“Wah, besar sekali. Bukan kah ini rumah sakit yang terkenal itu?” tanya Bella.
“Iya, kamu benar, Bel. Makanya aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini walaupun hanya sekedar menjadi tukang cuci dan bersih-bersih di sini,” sahut Dilla.
“Tukang cuci juga kalau di sini mah pasti besar gajinya,”
__ADS_1
“Mudah-mudahan,”
“Kalau begitu aku berangkat dulu, semoga sukses. Dan ingat, kalau kamu bertemu dokter tampan di sini sampaikan salamku untuk mereka ya..,” ucap Bella sebelum berlalu pergi.
“Dih, memang aku gak tahu malu kaya kamu apa?” gumam Dilla.
Dilla pun kemudian melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut. Ia melihat sekelilingi mencari sebuah ruangan yang tertulis dalam pesan yang dikirim oleh temannya.
“Maaf, Pak, ruang sanitasi di mana ya? Saya ingin berjumpa dengan Bu Wati?” tanya Dilla saat bertemu dengan sekuriti di gedung tersebut.
“Oh, ruang sanitasi ada di belakang, Mba. Anda dari sini lurus saja, lalu belok kanan. Setelah sampai di pertigaan Anda belok kiri. Nah, di ujung itulah ruang sanitasi berada,” jawab sekuriti tersebut.
“Terima kasih, Pak,”
“Sama-sama,”
Dilla mengikuti petunjuk yang disampaikan oleh sekuriti itu, ia berjalan lurus ke depan. Kemudian belok ke kanan, dan setelah sampai di pertigaan ia mengambil arah kiri. Dan..
Bruk
Sebuah tubuh kekar menabrak Dilla, membuat tubuhnya terjatuh ke lantai. Pria berbadan kekar itu berbalik memandang Dilla sebentar, lalu mengabaikannya. Aura dingin terpancar dari wajah pria itu. Bukannya minta maaf atau menolong Dilla, pria itu malah berjalan begitu saja. Suara decakan keluar dari mulutnya. Seolah Dilla, telah mengganggu perjalanannya.
“Duh, sombong sekali pria itu. Tapi, sepertinya dia dokter di rumah sakit ini,” terka Dilla saat memperhatikan penampilan pria kekar tersebut yang saat ini mengenakan jas putih yang biasa dikenakan para dokter.
“Ya Tuhan, mudah-mudahan aku tidak akan sering-sering berurusan dengannya di sini. Tapi, entah kenapa wajah dokter dingin itu nampak tidak asing bagiku ya. Apa aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya? Tapi di mana? Ah, sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja (pikir Dilla mencoba mengingat wajah pria yang telah menabraknya itu)
***
Bersambung
Kira-kira siapa ya, laki-laki dingin itu?
Mengapa Dilla merasa sudah pernah bertemu dengannya?
Akan kah Dilla dan laki-laki itu menjalin hubungan yang lebih dekat lagi?
Temukan jawabannya, di episode selanjutnya..
Jangan lupa berikan dukungan pada karya ini dengan memberikan like, vote, dan menjadikan karya ini favoritmu ya..
😍😍😍
Bantu juga promosikan karya ini kepada teman, tetangga, atau saudaramu.
Terima kasih dan salam hangat dan sehat selalu untuk semua.
__ADS_1
😘😘😘