
Pria kekar yang dipanggil Dul itu pun diminta David dan Lim untuk berdiri di hadapan mereka.
“Sekarang angkat kedua tanganmu,” pinta Lim.
Apa yang sebenarnya ingin dilakukan Bos dan Sekretaris Lim ya? (batin Mang Kadir).
Pria kekar yang awalnya nampak ragu bergegas menuruti permintaan keduanya saat melihat kode dari sang ayah.
“Sekarang, siap!” perintah David pada Lim.
Secara cepat mereka langsung menutup hidung mereka masing-masing.
“Aww,” jerit kesakitan berkali-kali terdengar dari pria kekar itu saat bulu ketiaknya dicabut oleh Lim dan David.
Ya Tuhan, dulu rambutku yang digunduli. Sekarang ketiak putraku yang ikut digunduli (batin Mang Kadir)
Oh, Tuhan, sampai kapan ini akan berakhir..? Mengapa aku harus mengikuti permintaan aneh ini? Kalista, bisakah kita secepatnya menikah ? (rengek Lim dalam hati sambil menuruti permintaan David mencabuti bulu ketiak preman pasar itu).
Bella, Sayang.. Tidak bisa kah permintaanmu seperti orang normal lainnya? Sekarang semua orang melihat ke arah kita dan kita sudah menjadi tontonan gratis. Bisa-bisa ada yang membocorkan hal ini pada Nenek. Dan aku tidak tahu lagi bagaimana reaksi Nenek saat mendengar berita ini (batin David).
Setelah David dan Lim memenuhi permintaan konyol Bella yakni menggunduli ketiak dari preman itu, mereka pun bergegas masuk ke mobil untuk kembali ke kediaman Erlangga.
Hah, aku akhirnya selesai juga (batin Lim)
***
Goyang domret ah, goyang domret... Kang Dadang paling ganteng saya suka akang.. suka sekali...
Suara nada dering khas milik ponsel Bella menggema di dalam mobil yang sedang dikemudikan Lim.
“Sayang, bisakah kau mengganti nada dering ponselmu itu? Aku tidak suka ada nama pria lain disebut dalam ponselmu,”
“Cih, kau ini. Hal seperti ini saja dipermasalahkan. Tenang saja, nanti aku ganti nada dering ini dengan suaraku sendiri menjadi... Kang David paling narsis, saya cinta Akang, cinta sekali,” sahut Bella dengan cengkok dangdutnya sebelum ia menjawab panggilan telepon tersebut. .
“Halo, Dil, ada apa?” sapanya saat tahu bahwa yang menelepon itu Dilla.
“Bella, kau sudah tahu kalau Steven dan Loli juga akan punya anak? Waktu mengunjungi Dara dan Az di Negara R aku sempat bertemu dengan mereka di sana, ” sahut Dilla.
“Oh ya? Dia belum memberitahuku. Hah, dasar Steven ini selalu seperti itu. Oma dan Opa juga kenapa ikut-ikutan berkomplot dengannya. Mereka juga tidak memberi tahuku tentang hal ini, "
__ADS_1
"Waktu menikah dengan si Loli juga mendadak dan baru memberitahuku setelah akad akan berlangsung benar-benar membuatku syok. Sekarang juga sama. Mungkin nanti setelah bayinya lahir dia baru akan memberi tahu kami, ”
"Tenanglah Bella, mungkin mereka hanya ingin membuat kejutan, "
"Iya, kejutan yang membuatku sangat syok dan kesal karena bisa-bisanya si Steven itu menikah dengan Dokter Loli yang menyebalkan itu,"
"Tapi sekarang sepertinya dia sudah banyak berubah. Kecelakaan yang pernah dialaminya benar-benar telah membuatnya berubah 180 derajat, "
“Ya, mudah-mudahan memang seperti itu. Oh, ya? Bagaimana masalah lamaranmu dengan Ar? Apa kau yakin Ar bisa menunggumu hingga kau meraih gelar doktermu,”
“Tentu, Bella. Aku sangat yakin tentang itu. Dia adalah pria yang setia,” sanjung Dilla.
“Aw, kau begitu memuji tunanganmu,”
“Tentu saja, aku kan tunangan yang baik. Oh ya, bagaimana kabar keponakan kecilku? Apalagi yang dimintanya kali ini pada Mommy dan Daddynya,”
“Cukup, Dilla! Berhentilah kepo dengan urusan orang lain,” sahut David yang langsung menyambar telepon dari sepupunnya itu dari tangan Bella. Kemudian, meloudspeakerkannya.
“Hey, David, kau ini masih saja tak berubah. Ngomong-ngomong apa kau sekarang sudah menemukan calon pengganti untuk sekretaris setiamu, Lim?”
“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu? Aku tahu sebenarnya diam-diam kau juga merindukan Lim ya! Dan kau sekarang mulai merasa was was saat mendengar Lim akan menikah dengan Kalista,” ejek David.
“Apa kau bilang Amanda genit itu yang akan menggantikan David?” tanya Bella kesal.
“Iya, Bella itu yang kudengar dari Ayah,”
“Hey, kau ini! Itu tidak benar. Itu hanya usulan Paman saja, aku tidak akan menggantikan Lim dengan Amanda,” tegas David yang langsung menutup telepon Dilla.
“Mentang-mentang sudah jadi putrinya Paman. Sekarang berani sekali dia bicara seperti itu padaku,” gumam David yang langsung diserang dengan tatapan tidak suka dari Lim dan Bella.
“Hey, kenapa kalian berdua ini?” tanya David melihat ke arah Lim dan Bella.
Bos, kau ini masih saja membahas masa lalu. Aku memang pernah suka pada Dilla. Tapi, kami berdua sekarang sudah punya pilihan masing-masing dan kami juga akan segera menikah (batin Lim kesal).
“David, katakan dengan benar apa yang dikatakan Dilla itu benar?” tanya Bella dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tadi kan sudah kukatakan, Sayang... itu tidak benar. Mana mungkin hal sebesar ini tidak kuceritakan kepadamu. Percayalah.. Seumur hidupku, aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai,” janji David sambil menangkupkan kedua lengannya di wajah cantik istrinya.
“Benarkah itu?” tanya Bella dengan nada melemah.
__ADS_1
“Tentu saja, Benar. Jika aku mengikari kata-kataku barusan, petir akan menyambarku,”
Jedder
Seketika terdengar suara petir menggelegar.
Ya Tuhan, kenapa langit ini tidak bisa diajak kompromi? (batin David).
“Lihatlah! Langit saja tak percaya dengan kata-katamu, kau pembohong!” teriak Bella kesal.
Lalu, ia pun memalingkan wajahnya dari David.
David yang kesal dengan situasi saat ini langsung membuang ponsel Bella ke sembarang tempat.
Maaf, Bos. Kau juga sudah merusak suasana hatiku. Jadi, kali ini kau rasakan saja sendiri kemarahan istri tercintamu itu (batin Lim yang masih kesal dengan pembicaraan David dan Dilla barusan).
Setelah pertengkaran itu suasana di dalam mobil menjadi hening. Kini yang terdengar hanya suara buliran air hujan yang mengguyur bumi dengan derasnya.
Buliran air hujan itu juga menerpa tiap-tiap bagian mobil yang membawa Lim, David, dan Bella bersamanya. Diiringi tiupan angin dingin yang selalu setia mendampingi hujan.
Pemandangan di luar sudah tak terlihat jelas lagi karena terpaan air hujan yang menyambar jendela-jendela mobil menciptakan kabut yang menghalangi pandangan. Hanya bagian depan yang samar-samar bisa terlihat jelas.
Bella mulai larut dalam mimpinya. Membawa kekesalan pada sang suami yang setia duduk di sampingnya. Sejak kehamilannya suasana hatinya memang lebih gampang berubah-ubah. Ia menjadi sangat posesif dan mudah cemburu pada David.
David lamat-lamat menatap Bella. Dikecupnya jari jemari mungil milik sang istri yang begitu dicintainya.
“Kebiasaanmu masih belum berubah, Sayang. Kau masih saja suka tertidur di mana pun,” ucapnya tersenyum sambil membenamkan kepala sang istri di bahunya.
David kembali teringat masa-masa itu. Saat Bella mulai hadir mengisi hari-harinya. Tertidur lelap di sandaran bahunya seperti sekarang ini.
Bella, asal kau tahu aku sangat bersyukur dengan kehadiranmu di sisiku dan lebih bersyukur lagi karena Tuhan telah menjadikanmu sebagai istriku. Semoga kita bisa seperti ini selamanya sampai maut memisahkan kita berdua (batin David).
***
Bersambung
Akankah David dan Bella hidup berbahagia selamanya?
Simak terus kelanjutan kisahnya ya... Dan jangan lupa untuk selalu memberikan like dan vote di setiap bab dalam cerita ini. Serta jadikan cerita ini sebagai favorit kalian agar tidak ketinggalan ceritanya.
__ADS_1
Terima kasih