
“Jadi kita akan bermain apa dulu, Bell?” tanya Dilla bersemangat.
“Bagaimana kalau kita bermain di rumah hantu?” ajak Bella.
“Rumah hantu???” sahut Dilla, David, dan Lim bersamaan.
“Iya, aku belum pernah ke sana,” ucap Bella berbohong.
“Nona yakin ingin bermain di sana?” tanya Sekretaris Lim.
“Iya,” jawab Bella mantap.
“Sayang, kamu tidak takutkan?” melirik ke arah David.
“Tentu, tentu saja tidak,” jawab David penuh keyakinan.
Justru ini bisa jadi kesempatanku agar bisa lebih dekat denganmu kan? Aku tidak sabar melihat bagaimana ekspresimu saat melihat hantu-hantu itu (ucap David dalam hati).
Tentu saja, tidak. Bagaimana mungkin Bos David akan takut dengan hantu-hantu bohongan itu? Di usia sepuluh tahun saja, Bos sudah bisa membuat para hantu itu berlari ketakutan menghadapinya (batin Lim mengingat masa kecil mereka).
“Kalau begitu, ayo!” ajak Bella tersenyum ceria.
Sementara Dilla hanya bisa menelan salivanya karena baru membayangkan bahwa dirinya akan memasuki rumah yang dihuni oleh para hantu itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
“Dilla, ayo!” panggil Bella lagi karena ia melihat Dilla yang jalan begitu lambat hingga membuat Dilla tertinggal oleh yang lain.
Dilla pun mempercepat langkahnya, kali ini ia mendekat ke arah Lim lalu memeluk erat tangannya.
“Lim, tolong! Berjanjilah padaku jangan pernah tinggalkan aku ya?” pinta Dilla.
Lim yang sebelumnya tidak pernah sedekat itu dengan wanita, merasakan debaran aneh saat Dilla berada begitu dekat dengannya.
“Ba-baiklah, tapi tolong bisakah kau tidak memelukku terlalu kuat seperti ini?” pinta Lim.
“O-oh, maaf. Tapi janji ya, jangan pernah jauh-jauh,” ucap Dilla memelas.
“Iya, baiklah,”
Tidak kusangka wanita ini begitu penakut. Lim, kau jangan sampai pingsan di dalam ya (batin Lim mengingatkan dirinya sendiri).
Karena berjalan begitu lambat, Lim dan Dilla pun tertinggal oleh David dan Bella yang terlihat sangat antusias. Mereka ingin segera sampai dan bermain di rumah hantu. Hal itu meyebabkan antrian mereka sangat jauh tertinggal.
“Eh, ke mana Dilla dan sekretarismu itu?” tanya Bella saat tak melihat Dilla dan Lim.
David menggerakkan matanya, melihat ke arah orang-orang di sekelilingnya yang juga sibuk mengantri.
“Tuh,” tunjukknya saat melihat Lim dan Dilla yang sedang bersama.
“Jauh sekali antrainnya,” keluh Bella.
“Biarkan saja! Lim akan menjaga temanmu,” ucap David.
Ia justru merasa senang dan bahagia, dua orang yang dianggapnya sebagai penggangu itu telah menjauh dari dirinya dan juga Bella.
Dengan begini kan aku dan Bella tinggal berduaan saja (batin David).
Tiba saat bagi David dan Bella memasuki rumah hantu tersebut.
Pertujukan menarik akan segera dimulai (batin Bella tersenyum).
Bella benar-benar tidak sabar melihat ekspresi David saat bertemu dengan para hantu itu.
Mereka berjalan ke arah sebuah lorong yang tampak begitu gelap dan sunyi. Tak ada cahaya sedikit pun. Kemudian, samar-samar mereka mendengar suara teriakan seorang wanita.
“Aaaaa, "
Suara tersebut menghilang, berganti dengan suara tangis histeris dari seorang wanita.
“Haaa, sayaang, aku sangat takut, hiks hiks hiks, kita keluar saja, yuk!”
“Tenang, tenang, ada aku di sini,” sahut suara pria.
“Aaaaaa,” teriakan terdengar kembali, kali ini bukan hanya suara wanitanya saja, tetapi prianya juga.
“Cih, ternyata sama saja sama-sama penakut,” cibir David saat mendengar suara teriakan itu.
“Ke mana para hantunya ya? Lagi pada cuti apa? Dari tadi enggak nongol-nongol,” gumam Bella kesal.
Bella merasa tak sabar karena sedari tadi hanya disuguhi pemandangan gelap saja. Hingga sepotong tangan berlumuran darah tampak mendekat ke arah mereka berdua.
__ADS_1
“Akhirnya datang juga,” tersenyum smirk.
“Aaaa, “ Bella pura-pura menjerit.
David menoleh ke arah Bella. Lalu, ia mengambil potongan tangan berlumuran darah yang kini memegang bahu Bella.
“Robot jelek,” David membuang potongan tangan itu begitu saja, membuat mata Bella terbelalak karenanya.
Apa-apaan ini? Ekspresi macam apa itu? Sama sekali tidak ada ketakutan di matanya (ucap Bella dalam hati)
David dan Bella terus berjalan menelusuri rumah hantu itu dan tiba-tiba ..
“Hi hi hi hi..” seorang wanita jadi-jadian berbaju putih dengan rambut panjang acak-acakan dan wajah menyeramkan bergelantungan sambil mengeluarkan tawanya yang mengerikan.
“Hi hi hi,”
“Da-david, apa itu?” lag-lagi Bella mencoba menunjukkan bakat akting terbaiknya di depan David. Ia berpura-pura gugup dan ketakutan lalu memeluk David dengan erat.
Aku tidak percaya kau tidak takut juga dengan yang satu ini (ucap Bella dalam hati)
“Tenanglah,” ucap David menenangkan.
“Ta-tapi i-itu ku-kunntilanak, David” suara Bella dibuat gemetar.
David lalu berjalan ke arah kutilanak yang menggelantung itu.
“Eh, apa yang dia lakukan?” gumam Bella yang tampak bingung melihat tingkah David.
“Kena kau,” David berhasil menangkap hantu kuntilanak tersebut.
Eh, apa yang orang ini lakukan? (ucap si kuntilanak dalam hati).
David berhasil menarik kutilanak dari tali yang membuatnya dapat terbang menggelantung dan menakuti orang-orang.
“Hah, sekarang talimu sudah putus karena itu kau tidak akan bisa terbang lagi,” ucap David tersenyum smirk.
“Tu-tuan, a-apa yang ingin Anda lakukan?” kuntilanak palsu terlihat panik.
“Kau suka sekali menakut-nakuti orang-orang bukan?” tersenyum, lalu mengeluarkan pisau lipat yang selalu dibawanya dari balik jas yang ia pakai.
“Eh, dia itu CEO atau mafia?” gumam Bella terkejut saat David mengeluarkan pisau lipatnya.
“Tertawalah!”
“A-ampun, Tuan, ampun... saya tidak akan berani tertawa lagi, hiks hiks hiks” kutilanak itu menangis lalu bersujud di depan David.
Laki-laki ini memang sadis (batin Bella).
“Kalau begitu cepat pergi dari sini!” teriak David yang langsung membuat si kuntilanak palsu itu berlari terbirit-birit.
“Lihatlah! Mereka semua yang ada di sini itu cuma hantu bohongan. Jadi, kau tidak perlu takut,” ucap David bangga.
Aku juga tahu itu BODOH (umpat Bella dalam hati).
“Ta-tapi bagaimana kalau salah satu yang ada di sini benar-benar hantu asli? Tempat ini kan sepi dan gelap. Bi-bisa saja kan hantu betulan ada di tempat ini,” ucap Bella menakut-nakuti David.
“Aku tidak percaya adanya hantu,” sahut David.
“Ih, sungguh tidak menyenangkan sekali hari ini. Sia-sia aku masuk ke sini,” gerutu Bella dengan suara yang sangat lirih.
Mereka melanjutkan perjalanannya hingga bertemu seorang anak kecil berkepala botak dengan riasan wajah yang sangat pucat. Anak kecil itu hanya memakai celana kolor. Sambil tersenyum, ia berjalan mendekati Bella dan David.
“Bagi uangnya..” menenggadahkan tangan ke arah Bella dan David.
“Tu-tuyul,” Bella berteriak.
“Kau ini,” David menghampiri anak kecil itu dan...
Pletak, satu jitakan mendarat di kepala botak bocah kecil itu.
“Aduh, sakit,” rengeknya.
Pletak
“Masih kecil sudah berani minta-minta! "
“Aku ini bukan peminta-minta. Aku ini tuyul,”
Pletak
__ADS_1
“Tuyul, kepalamu,”
Pletak
“Huwaaa, kenapa kau terus memukulku,” rengek bocah kecil itu.
“Karena kau sudah berani berbohong bocah kecil,” sahut David.
Pletak
“Mbo... Aku enggak mau kerja seperti ini lagi, Mbo... Huwaa, aku enggak mau jadi tuyul lagi,” rengek bocah itu saat kepala botaknya terus menerus dijitaki David.
“David, David, sudah dia cuma anak kecil,” ucap Bella menghentikan penindasan David.
“Sekarang kau percaya kan, kalau di sini tidak ada hantu?” sahut David.
“I-iya,”
Kalau pun benar-benar ada hantu, sepertinya mereka juga tidak akan berani menampakkan wujudnya di hadapanmu (batin Bella).
Setelah tuyul kecil itu pergi, tampak sesosok bayang-bayang yang sepertinya ingin mengejutkan mereka berdua.
“Heh, ada satu lagi,” David tersenyum smirk.
“Kau mau apa?” tanya Bella.
“Tunggulah di sini dan lihat pertunjukanku!” jawab David.
“Aih, laki-laki ini mau ngapain lagi sih. Belum puas dia membuat ulah di sini,” gumam Bella.
“AAARGH..” David berteriak sebelum laki-laki berwujud drakula itu meneriakinya.
Laki-laki drakula itu tampak bingung dengan kelakuan David.
David mulai mengubah suaranya dengan mode menakutkan.
“Gara-gara kalian! Penyakit jantungku kumat! Dan hidupku harus berakhir di tempat gelap seperti ini!” teriak David.
“Ka-kau si-siapa?” tanya drakula tersebut ketakutan.
“Aku orang yang akan membawamu ke neraka,” teriak David menatap tajam ke arah drakula tersebut.
Sosok drakula palsu itu kini tak bisa berkata-kata, lututnya gemetar dan kakinya tak dapat digerakkan.
“A-ampun,” Dia memohon ampun.
Wajah ketakutan tampak terlihat jelas, bahkan saking takutnya drakula itu sampai mengeluarkan cairan yang tersimpan di dalam kandung kemihnya.
“Aih, jorok sekali! Baru ditakut-takuti seperti itu sudah mengompol,” ucap David dengan suara aslinya.
Bella yang melihat itu tampak menahan tawa.
“Kau, kau berbohong?” tanya sang drakula.
“Kalau iya, kenapa? Siapa suruh kau ingin menakut-nakuti kami duluan,” sahut David.
“Dasar pengunjung kurang ajar!” umpat sang drakula.
“Sudahlah, minggir. Aku tak mau berdebat denganmu dan sekarang kami mau lewat,” menggeser badan sang drakula.
“Ya sudah, cepat pergi sana! Kalian hanya pengacau!” teriak sang drakula.
“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa lagi, " ucap David memberi lambaian pada Tuan Drakula palsu.
“Cih, kami tak sudi melihat kalian berdua datang kemari lagi,”
Mendengar ucapan drakula itu Bella dan David tertawa bersamaan.
“ Ha ha ha...”
*****
Bersambung
Gimana? Reaksi David keren kan? Kalau Lim gimana ya reaksinya saat bertemu hantu-hantu itu?
Penasaran? Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya...
Jangan lupa like, vote, dan komen terbaik untuk cerita ini ya.. 😊
__ADS_1
Terima kasih..🥰🥰🥰