Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 6 Sahabat Baru Bella


__ADS_3

Daun-daun berjatuhan seiring dengan semilir angin yang menyapa bumi. Seolah bersiap menyambut kedatangan hujan yang sebelumnya telah tampak dari keberadaan awan hitam yang menyelimuti langit.


Hujan deras mulai mengguyur dan membasahi isi bumi. Menghentikan langkah-langkah kaki yang berkeliaran ke sana ke mari. Kini langkah kaki itu berhamburan menuju tempat-tempat beratap agar bisa terhindar dari keganasan air hujan yang siap membasahi tubuh dan pakaian mereka.


Tampak pula di teras depan sebuah kedai bakso bernama "Goyang Lidah" seorang gadis manis nan jelita sedang mengamankan dirinya dari terpaan air hujan yang siap membasahi pakaian dan segala apa yang dibawanya.


“Nunggunya di dalam aja, Neng, ” ucap wanita tua yang tak lain adalah neneknya Bella.


Gadis manis yang belum diketahui namanya itu pun tersenyum sebelum akhirnya berkata, "Iya, makasih, Nek."


Gadis itu kemudian masuk ke dalam kedai bakso milik Nenek Bella. Dengan ragu, ia mendudukkan dirinya di kursi pengunjung yang ada di kedai yang sekarang tampak sepi dari pengunjung itu.


“Dari mana Neng ?” tanya Nenek Bella.


“Saya dari Kabupaten KR, Nek,” jawab gadis itu.


“Oh, KR, tiasa Sunda atuh nya (bisa bahasa sunda berarti, ya)” tanya Nenek Bella.


“Muhun, tapi sakedik, Nek (Iya, tapi sedikit, Nek)” jawab gadis itu.


“KR na palay mana, Neng (KR sebelah mananya, Neng) ?” tanya Nenek Bella kemudian.


“Desa Endah, Nek,” jawab gadis itu dengan memasang senyum manisnya.


Obrolan mereka berdua terhenti saat sebuah teriakan menggema dari lantai atas. Teriakan itu berasal dari Bella.


“Neni..!!!”


“Ya ampun, anak ini! Bella, tidak bisakah kau bicara lebih pelan sedikit? Apalagi sekarang sedang ada pengunjung seperti ini,” ucap Neni kesal.


“Ups, maaf, Neni! Aku kira tempat ini sepi,” jawab Bella.


Setelah mengucapkan itu, Bella langsung duduk di dekat gadis itu.


“Neni, bisakah Neni tolong buatkan aku semangkok bakso? Aku lapar sekali,” rengek Bella.


“Buat saja sendiri! Memang Neni ini pembantumu apa!" sahut Neni.


“Neni cantik, tolonglah! Aku tidak bisa membuat bakso selezat yang Neni buat. Entah kenapa takaran yang aku buat selalu saja salah. Setiap bakso yang aku buat pasti rasanya asin, " ucap Bella.


“Makanya belajar! Jangan berkeliaran melulu! Sekali-kali bantulah nenekmu ini di sini,” sahut Neni dengan nada ketus seperti biasanya.


“Iya, aku janji, Neni. Setelah ini aku akan belajar, " ucap Bella.


“Jangan janji-janji terus, tapi belajarlah menepati janji itu! Karena jika tidak, kau tidak akan pernah bisa membuat bakso. Lalu, nanti kalau nenekmu itu sudah meninggal, siapa yang akan mengelola kedai bakso ini? " tanya Neni sedih.


“Oh, Neni, jangan bicara sembarangan seperti itu! Aku tidak suka kalau Neni mengungkit-ungkit masalah kematian. Aku ingin Neni tetap hidup dan menemaniku selamanya,” ucap Bella.


“Tapi, Bella perkara usia tidak ada yang tau, dan Neni...”


“Hus! Sudah Neni, tolong jangan bahas masalah itu lagi! Aku tidak suka,” ucap Bella seraya menempelkan jari telunjuknya ke dekat bibirnya.


Kemudian, Bella pun memeluk neneknya erat.


“Neni, kau tahu, aku sayang sekali sama Neni. Tak bisa aku bayangkan kalau aku harus hidup tanpa Neni,” ucap Bella yang membuat mata Neni berkaca-kaca.


Begitu pula dengan gadis yang duduk di samping mereka yang sedari tadi ikut memperhatikan interaksi antara cucu dan neneknya tersebut. Pemandangan tersebut disadari pula oleh neneknya Bella.


“Kamu kenapa?” tanya Neni saat melihat gadis itu tampak bersedih.


“Melihat kedekatan nenek dan cucu nenek, aku jadi teringat dengan nenekku, Nek, " jawab gadis itu.

__ADS_1


“Memang nenek kamu sekarang di mana?” tanya Bella.


“Dia sudah pergi. Pergi untuk selamanya,” jawab gadis itu dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


“Sayang, sudahlah.. sabar. Setiap manusia suatu saat pasti akan menjemput kematiannya, kamu harus ikhlas menerima semuanya agar nenekmu bisa tenang di alam sana,” bujuk Nenek Bella sambil memeluk erat gadis itu.


“Iya, Nek, terima kasih,” sahut gadis itu.


“Oh ya, nama kamu siapa?” tanya Neni.


“Namaku Ardilla, panggil saja Dilla, Nek,” jawab gadis itu.


“Wah, namamu mirip sih denganku, Ardilla, dan aku Arabella,” ucap Bella menunjuk Dilla dan dirinya secara bergantian.


“Jadi, nama kamu itu Arabella?” tanya Dilla.


“Yup, namaku Arabella, biasa dipanggil Bella,” sahut Bella dengan memamerkan senyumnya yang lebar.


Arabella dan Ardilla pun saling menjabat tangan antar satu dengan yang lainnya.


"Dan kamu bisa memanggil nenek 'Neni' seperti Bella, " ucap Neni.


"Baik, Neni, " jawab Dilla tersenyum senang.


“Oh ya, Dilla, apa kamu mau bakso juga?” tanya Neni.


“Tidak, Nek, tidak usah repot-repot,” jawab Dilla.


“Tidak merepotkan kok sekalian Neni mau buatkan bakso buat Bella, " sahut Neni


“Udah, terima aja Dilla. Lagi pula memang kamu enggak laper apa?” bujuk Bella.


Krucuk


“He he.. Sepertinya perutmu memiliki jawaban yang berbeda,” ledek Bella.


“Emm, tapi aku enggak punya uang untuk bayar baksonya,” ucap Dilla tertunduk malu karena kebohongannya.


“Oh, ya ampun, jadi karena itu? Tenang aja hari ini gratis buat kamu,” ucap Bella.


“Iya, kan Neni?!” seru Bella.


“Iya, khusus hari ini gratis buat kamu, " sahut Neni yang langsung dengan sigap meracik bakso untuk Bella dan Dilla.


“Kamu habis cari kerja ya, Dil?” tanya Bella saat memperhatikan pakaian yang dikenakan Dilla. Pakaian putih hitam yang biasa dipakai orang untuk melamar pekerjaan.


“Iya, kok kamu bisa tahu?” tanya Dilla.


“Iya, dari pakaian yang kamu kenakan aku sudah bisa menebak itu,” jawab Bella.


“Memang kamu lulusan apa?” tanyanya lagi


“Aku cuma lulusan SMA, Bel,” jawab Dilla.


“Wah, kalau lulusan SMA agak susah cari kerja di sini,” ucap Bella.


“Iya, kamu benar,” sahut Dilla murung.


“Kamu di sini sama siapa Neng Dilla?” tanya Neni saat datang membawakan dua mangkuk bakso yang telah selesai dibuatnya.


“Aku di sini sekarang sendiri, Nek. Awalnya datang ke sini berdua sama Nenek. Aku bermaksud untuk mengantarnya berobat ke rumah sakit. Sekalian mencari keberadaan ayah. Namun, tidak lama setelah kedatangan kami kemari, Nenek meninggal,” jawab Dilla.

__ADS_1


“Ya ampun, kasihan sekali nasib kamu, Dil! Lalu, apakah sampai saat ini kamu masih belum berhasil menemukan keberadaan ayahmu? ” tanya Bella.


Dilla tidak langsung menjawab. Seolah ia masih ragu untuk menceritakan semuanya pada Bella dan Neneknya. Ia pun kemudian memperhatikan satu per satu wajah Bella dan neneknya.


“Sebenarnya sudah,” ucap Dilla lirih.


“Lalu kenapa kamu tidak tinggal bersamanya saja ?” tanya Bella.


“Benar, Neng, kenapa kamu tidak tinggal bersama ayahmu saja? Tinggal di kota besar seperti ini sendirian itu sangat berbahaya,” sahut Nenek Bella.


“Karena walaupun aku sudah tahu tempat tinggalnya, tapi aku masih belum menemuinya,” jawab Dilla sedih.


“Aneh sekali, kamu itu. Sudah mengetahui keberadaan ayahmu, tapi tidak langsung menemuinya. Memang apa yang kamu pikirkan?” tanya Bella sambil asyik mengunyah bakso buatan neneknya itu.


“Karena aku tidak berani, Bel. Aku takut,” jawab Dilla.


“Takut? Memangnya ayah kamu itu monster apa? Atau dia sudah punya keluarga baru ya?” tanya Bella mencoba menebak.


“Kurang lebih seperti itu, Bel,” jawab Dilla sedih.


“Tapi walau bagaimana pun kamu tetap harus menemuinya karena dia itu kan ayahmu. Dia tidak bisa mengingkari keberadaan kamu sekalipun dia sudah punya keluarga baru. Dan kalau dia sampai mengingkari keberadaan kamu dan tidak mau mengakui kamu sebagai anaknya. Kamu bilang saja sama aku! Biar nanti aku kasih ayahmu pelajaran,” sahut Bella berapi-api.


“Bella,” seru Neni seraya menajamkan matanya melihat Bella seolah tak suka dengan apa yang dikatakan cucunya itu kepada Dilla.


“Hehe... bercanda, Neni.. Maksud Bella cuma mau kasih pelajaran moral aja kok, bukan pukulan atau tendangan,” ucap Bella kemudian.


“Sejak kapan kamu bisa mengajari orang pelajaran moral? Moral kamu saja masih perlu diajari,” sahut Nenek Bella.


“Ah, Neni bisa aja kalau memberi pujian sama aku," sahut Bella.


“Cih, siapa yang memberi pujian sama kamu? Gadis dungu,” sahut Neni yang membuat Dilla tersenyum mendengarnya.


“Yabseperti itulah, Dil. Nenekku itu memang sering sekali memujiku seperti itu,” sahut Bella dengan perasaan bangga hingga membuat sang nenek memukul kepalanya dengan serbet yang ia pegang.


"Aw, "


“Hahaha, kalian itu lucu sekali ya..,” ucap Dilla.


“Bukan kamu aja yang bilang kayak gitu,” sahut Bella yang kembali menikmati baksonya dengan lahap.


“Tapi sepertinya sulit bagiku untuk menemuinya, Bel,” ucap Dilla melanjutkan pembicaraan sebelumnya.


“Sulit gimana Dil? Tinggal dateng aja ke rumahnya terus temui dia, gampang kan?” sahut Bella.


“Tapi menemui dia tidak segampang itu Bel,” jawab Dilla.


“Oh ya? Memang ayah kamu itu siapa sih sampai sesulit itu menemuinya? Handika Erlangga? Jelas bukan, kan?” tanya Bella.


“Kalau memang benar ayahku Handika Erlangga, bagaimana?” tanya Dilla balik.


“Kalau memang benar ayahmu Handika Erlangga, maka kenalkan! Aku adalah calon kakak ipar mu, tunangan sekaligus calon istri dari David Erlangga, ha ha ha,” sahut Bella sembari mengulurkan tangannya pada Dilla seolah dia sedang memperkenalkan dirinya sebagai tunangan sekaligus calon istri dari seorang David Erlangga.


“Oh,” sahut Dilla sedih.


Sepertinya mereka memang tidak akan ada yang percaya kalau aku adalah putri dari Handika Erlangga, putra dari pemilik perusahaan ternama di negeri ini, (batin Ardilla)


***


Bersambung


Jangan pernah lupa untuk memberikan dukungan pada karya ini dengan memberi like, vote, dan menjadikan karya ini favoritmu.. Terima kasih 😍😍

__ADS_1


__ADS_2