
Clarissa segera mencari nomor David, ia tak ingin sedikit pun melewatkan kesempatan untuk segera mengirimkan foto yang baru diambilnya itu kepada David. Senyum merekah di bibirnya, saat ia menemukan nomor ponsel David. Namun, belum sempat ia menekan tombol kirim, tiba-tiba saja layar ponselnya berubah menjadi gelap.
“Aarrgh... Sial!” umpat Clasrissa. “Kenapa aku sampai lupa mengisi daya ponselku. Pakai mati segala lagi! Hari ini gembel itu benar-benar beruntung, tapi lihat saja begitu ponselku menyala kembali, aku tak akan lagi melewatkan kesempatan ini untuk segera mengirim foto itu pada David,” gerutu Clarissa kesal dan semakin kesal saat melihat beberapa pasang mata mengarahkan pandangan kepadanya.
“Hey, apa yang kalian lihat! Kalian pikir aku ini gila apa? Huh, bikin orang tambah senewen aja,” maki Clarissa sambil berjalan cepat meninggalkan mereka.
***
Sementara itu di ruang rawat Lusia, Bella baru saja selesai dengan eksperimen terbarunya yakni uji coba membalut luka Azril. Eksperimen yang sudah dilakukannya berkali-kali dengan beberapa kali kegagalan, kali ini membuahkan hasil yang lumayan baik.
“Selesai,” senyum merekah di bibir mungilnya saat melihat sebuah simpul berbentuk pita menjadi kunci yang menutup balutan luka Azril.
Apa ini? Aneh sekali? (ucap Azril dalam hati dan sebuah senyum simpul diberikannya atas hasil jerih payah Bella kali ini, tapi tentu saja itu tidak terlihat oleh Bella).
“Terima kasih,” ucapnya dengan memasang wajah datar.
“Tidak perlu, anggap saja itu balas budiku karena kau sudah mengalah waktu pertandingan tempo hari,” ucap Bella saat teringat cerita Dilla yang mengatakan bahwa pertandingan saat itu seharusnya bisa dimenangkan oleh Az, andai saja waktu itu Az tidak menolong korban kecelakaan.
“Jadi kau sudah tahu tentang semua itu?” tanya Az.
“Ya, tapi itu bukan berarti kau bisa mengambil uangmu lagi ya,” sahut Bella.
“Tenang saja, aku tahu gembel sepertimu tidak akan mampu mengembalikannya,”
“Ayah, jangan bicara seperti itu pada Tante Bella!” sela Lusia yang sedari tadi memperhatikan keduanya.
Ayah, ini bagaimana sih? Sudah diobati malah bicara kasar seperti itu sama Tante Bella (batin Lusia sebal).
“Tenanglah anak manis, aku tidak akan mendengarkan ucapan kaleng rombeng seperti itu! Aku kan Beladari,” sahut Bella tersenyum.
Namun, senyum itu perlahan menghilang saat Bella kembali merasakan sakit di bagian belakang pinggangnya akibat memar yang didapatkannya sewaktu terjatuh dari kamar mandi tadi. Dan kali ini rasa sakitnya melebihi sakit yang dirasakan sebelumnya. Mungkin karena tadi Lolita telah menekan bagian memarnya terlalu kuat.
“Aww,” pekik Bella dengan memasang wajah kesakitan.
“Tante Bella kenapa?” tanya Lusia panik.
“Pinggangku sakit,” ucap Bella meringgis menyentuh bagian belakang pinggangnya.
“Ayah, cepatlah tolong Tante Bella! Lihatlah apa yang terjadi pada pinggangnya,” pinta Lusia.
“Sini, biar kulihat!” ucap Az saat hendak membuka bagian kaos belakang Bella.
“Ti-tidak perlu,” cegah Bella memegang kuat bagian belakang kaosnya.
Aku takut pria ini akan sama saja dengan si mesum David (pikir Bella).
__ADS_1
“Kalau aku tidak melihatnya bagaimana aku bisa membantumu meredakan rasa sakitnya?” ucap Az.
Benar juga, lagi pula dia kan dokter. Pastinya dia tidak akan berbuat mesum seperti David brengsek itu (ucap Bella dalam hati).
“Baiklah,” Bella pun menyetujui ucapan Az dan mulai tengkurap di atas sofa panjang yang ada di ruang rawat Lusia.
Kali ini, entah kenapa justru Az yang mulai merasakan grogi. Padahal, sebagai seorang dokter seharusnya ini sudah menjadi hal biasa yang dilakukannya. Perlahan ia memegang ujung kaos Bella yang menutupi bagian belakang pinggang Bella yang terluka dengan tangan kirinya karena tangan kanannya baru saja dibalut oleh Bella.
Saat ujung kaos itu mulai terangkat sedikit, Az mulai berpikir untuk mengurungkan niatnya dan memanggil seorang dokter atau perawat yang lain saja. Namun, saat mendengar Bella yang meringgis kesakitan, Az menguatkan dirinya untuk tetap melanjutkan niatnya menolong Bella.
Az, apa yang kau pikirkan? Cepat tolong gadis itu! (pikir Az).
Azril memang hampir tidak pernah berhadapan dengan pasien wanita. Bahkan dari zaman kuliah dulu, dia selalu memilih simulasi praktik dengan teman prianya. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Wajahnya yang tampan, sifatnya yang dingin dan pendiam, dan jarang terlihat dekat dengan wanita membuatnya kerap menjadi sasaran empuk teman-temannya yang sering mengejek jika ia dipasangkan dengan rekan wanita.
Kulit putih Bella mulai terlihat, membuat Az menelan salivanya.
Ya Tuhan, aku harap ini pertama dan terakhir kalinya aku berhadapan dengan pasien wanita yang sudah sebesar ini (batin Az).
Luka memar di bagian belakang Bella mulai terlihat. Namun, lagi-lagi Az harus menggaruk bagian kepalanya tanda frustasi. Karena luka memar di bagian pinggang Bella itu cukup lebar, tapi bukan itu yang membuat Az frusiasi.
Yang membuat Az frustasi adalah luka memar Bella melebar ke bagian pinggang bawahnya sehingga untuk mengoleskan salep ke luka memar itu ia harus sedikit menyingkap bagian celana sedikit agak ke bawah agar bisa mengoleskan salep secara keseluruhan.
Sambil menetralisir perasaannya, ia mencoba tidak melihat bagian itu. Bahkan, sempat terpikir untuk mengoleskan salep tersebut sambil menutup kedua matanya saja. Ya, itu pikirnya, itulah cara yang Az rasa paling aman untuknya. Namun, sebelum sempat menutup mata, matanya justru terbelalak saat pandangannya tanpa sengaja tertuju pada bagian belakang leher Bella yang terdapat tanda hitam seperti tompel.
Bukankah itu tanda yang sama dengan milik gadis kecil itu? Berarti Bella memang gadis kecil yang selama ini aku cari. Ya Tuhan, kenapa aku tidak menyadari hal itu selama ini? (batin Az yang merasa senang karena telah menemukan gadis kecil yang selama ini dirindukannya).
Az membuka salep luka yang tersimpan di dalam kotak obat yang selalu disediakan ayahnya di kamar Lusia. Ia sedikit memaksa tangan kanannya yang telah dibalut untuk membuka salep itu, lalu mengambilnya sedikit. Az mulai menutup mata seperti tukang urut di rumah Bella, hanya saja ia tak memakai tongkat atau pun kaca mata hitam.
“Az, kalian sedang apa?” belum sempat Az mengoleskan salep itu pada Bella, tiba-tiba suara seseorang dari luar mengejutkannya.
Spontan Az langsung membuka mata dan melihat Dilla dan Ar yang baru saja pulang berbelanja dengan menenteng beberapa paper bag bertuliskan “Jaya Mart” (belanja cermat harga hemat).
“A-aku mau mengoleskan salep ini untuk Bella,” suara Az terdengar sedikit grogi.
Ar yang tahu karakter abangnya tersenyum.
“Hey, kalian sudah kembali!” sahut Bella riang seolah merupakan rasa sakitnya, Bella langsung saja berbalik dan bersemangat menyambut kehadiran Dilla dan Ar.
“Sini-sini berikan makanan dan minuman itu padaku!” bangkit dari sofa dan tanpa menunggu komando lagi, Bella langsung merebut paper bag yang ada di tangan Dilla dan Ar, kemudian mengambil beberapa makanan dan juga minuman.
“Kamu ini Bella, main rebut aja!” sahut Dilla sambil mengelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.
Bella langsung membuka isi paper bag itu, lalu memilih makanan dan minuman yang ia sukai.
“Ar, aku mau ini semua,” ucap Bella memperlihatkan beberapa makanan dan minuman yang diambilnya.
__ADS_1
“Jangan rakus Bella!” ucap Dilla memperingatkan.
“Sudah, diamlah! Masih banyak ini,” sahut Bella cuek dan hendak membuka makanan ringan yang telah diambilnya.
“Eh, bukannya katanya kau lagi sakit,” ledek Dilla.
“Ah, iya. Kalau begitu makannya nanti saja! Sekarang cepat kau bantu aku oleskan salepnya dulu. Aku tidak tahan dengan sakitnya,” memberikan salep itu pada Dilla. Lalu meletakkan kembali makanan dan minuman yang diambilnya dan mulai merebahkan dirinya di atas sofa, tengkurap seperti sebelumnya.
Azril dan Aria mengalihkan pandangan mereka dari kedua gadis itu ke ranjang Lusia. Mereka tersenyum saat melihat Lusia tertidur pulas.
“Sepertinya dia lelah,” ucap Ar yang tak mendapat tanggapan apa-apa dari Az.
“Az, kapan kau kembali?” tanya Ar menatap kakaknya Azril. Ia juga sempat melihat luka di tangan Az.
“Aku tahu kau marah dan kecewa kepadaku, tapi tak seharusnya kau melukai dirimu sendiri,” ucap Ar lagi. Namun, lagi-lagi ucapannya itu tak mendapatkan tanggapan apa pun. Azril masih saja bersikap dingin pada adiknya.
Interaksi kedua kakak beradik itu tak luput dari pandangan Bella dan Dilla.
“Kalian beneran bersaudara bukan sih? Baru kali ini aku melihat seorang saudara bersikap dingin seperti itu kepada saudaranya sendiri,” ucap Bella kesal saat melihat Azril memperlakukan Ar seperti itu.
Sebenarnya saat ini Bella masih belum percaya kalau orang yang selama ini menjadi musuh dan saingannya itu ternyata adalah kakak kandung dari sahabatnya yang hangat dan lembut seperti Ar. Sedangkan, Az selalu merasa tidak nyaman setiap kali mendengar kata saudara.
“Jadi kamu sudah tahu Bella?” tanya Ar tanpa memandang Bella yang masih dioleskan salep oleh Dilla.
“Tentu saja, dan itu membuatku terlihat sangat bodoh dihadapan Lusia tadi,” sahut Bella sebal karena Ar tidak pernah bercerita sama sekali tentang hal itu.
“Maaf,” ucap Ar lirih.
Sedangkan Azril hanya diam, ia tak bisa membantah apa pun dari perkataan Bella karena memang seperti itulah adanya. Azril dan Aria memang tidak pernah terlihat seperti dua orang bersaudara dan itu memang karena sekat yang dibuat oleh Az sendiri selama ini.
Entah mengapa, Az masih belum bisa memaafkan kejadian 20 tahun silam. Kejadian yang membuatnya kehilangan ibu kandung yang sangat ia cintai. Meskipun, Az sadar kejadian itu bukan sepenuhnya kesalahan Ar. Tetapi tetap saja, egonya lebih kuat daripada logikanya. Seperti kejadian saat operasi Lusia tadi, sebagai seorang dokter Az sadar betul kalau hal semacam itu bisa saja terjadi. Namun, tetap saja ia menyalahkan Ar atas semua itu dan enggan untuk meminta maaf kepadanya.
***
Bersambung
Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu dari Azril dan Aria?
Mengapa Azril bisa sampai menyalahkan Aria?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya.
Jangan lupa like, vote, dan komen terbaiknya serta menjadikan karya ini favorit kalian. Terima kasih..🥰🥰
Catatan author :
__ADS_1
Author minta maaf, jika jadwal update jadi kurang menentu karena belum lama ini author jatuh dari motor sehingga menyebabkan bagian betis sampai ke bawah kaki membengkak dan membiru dan kadang terasa sakit. Mohon doanya dari kalian semua dan author akan tetap berusaha agar bisa update setiap hari.