Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 40 Cantik


__ADS_3

Di ruang tengah tampak Nenek David, Paman Handika, dan Tante Diana, serta pelayan kepercayaan Nenek David, Bibi Mun. Mereka bertiga tampak sedang mengobrol dengan serius, sementara Bibi Mun seperti biasanya hanya menjadi pendengar yang baik saja.


“Bagaimana Han? Apa kau sudah menyelidiki latar belakang gadis yang telah diakui David sebagai tunangannya itu?” tanya Nenek David.


“Dari informasi yang saya dapatkan tunangannya David itu hanyalah seorang gadis biasa. Namanya Arabella Anandita. Biasa dipanggil Bella. Usianya sekitar 25 tahun, ia seorang gadis yatim piatu dan hanya tinggal dengan seorang nenek,” jawab Handika.


“Gadis yatim piatu?” tanya Diana yang justru sekarang mulai merasa simpati setelah tahu bahwa Bella, tunangan David adalah seorang gadis yatim piatu sama seperti dirinya. Hanya bedanya jika Bella tinggal seorang diri dengan neneknya, sedangkan Diana tinggal bersama pamannya, kakek Lim sekaligus tangan kanan dari Tomi Erlangga.


“Iya, Bella seorang gadis yatim piatu dan menurut informasi yang saya dapatkan orang tua gadis itu meninggal karena kecelakaan. Setelah itu ia tinggal bersama dengan sang Nenek dan untuk menghidupi keluarganya Nenek tersebut mendirikan sebuah kedai bakso,” lanjut Handika.


“Apa?? Kedai bakso? Jadi, David, cucu dari pengusaha ternama bertunangan dengan seorang cucu pemilik kedai bakso. Apa-apaan ini?! Tak bisa dibayangkan apa kata dunia nantinya??” ujar Nenek David.


“Bukan hanya itu, dari informasi tersebut juga didapatkan fakta bahwa kedai bakso itu dibangun dari uang hasil pinjaman mereka kepada seorang rentenir,” jelas Handika.


“Apa? Rentenir? Jadi, gadis yang mengaku sebagai tunangan David itu berhubungan dengan seorang rentenir? Memalukan sekali!” sahut Nenek David.


“Benar, Ma. Itu sangat memalukan dan aku harap gadis itu tidak mendekati David hanya karena melihat kekayaan yang dimiliki David,” sahut Handika.


“Han, Mama, tolong jangan berprasangka seperti itu dulu! Bisa saja mereka melakukan itu karena terpaksa. Mungkin saja saat itu mereka benar-benar kesulitan mencari pinjaman sehingga dengan terpaksa mereka harus meminjam uang kepada rentenir,” jelas Diana.


“Diana, kenapa kau tiba-tiba berpihak kepada mereka?” tanya Nenek David.


“Aku bukan berpihak kepada mereka Ma, tapi biar bagaimana pun kita belum benar-benar mengenali gadis itu maupun keluarganya? Jadi, sangat tidak adil jika kita sudah memberikan penilaian negatif kepada mereka,” jawab Diana.


“Apa yang dikatakan Diana benar juga, Ma. Kita tidak bisa menilai gadis itu maupun keluarganya hanya karena informasi yang kita dapatkan begitu saja. Ada baiknya kita tunggu sampai David membawa gadis itu kemari,” sahut Handika.


“Lalu kapan David akan membawa gadis itu kemari? Bukan kah aku sudah menyuruhnya agar hari ini dia bisa membawa gadis itu kemari?” tanya Nenek David.


“Kemarin malam David sudah berjanji kepadaku akan membawa gadis itu kemari hari ini dan tadi pagi-pagi sekali dia sudah dijemput oleh Lim. Lalu, saat aku bertanya kepada Lim, dia bilang dia akan pergi bersama David untuk menemui tunangan David hari ini. Selain itu, dia juga bilang bahwa David akan mengajak calon menantu kita ke rumah ini,” jawab Diana.


“Calon menantu! Jangan mimpi! Meskipun dia sudah bertunangan dengan David, tapi aku tidak akan membiarkan gadis yang tidak setara dengan kita itu menjadi menantu kita,” sahut Nenek David.


Mendengar ucapan ibunya, Handika hanya bisa menghela nafasnya panjang karena ia tahu bahwa sampai saat ini watak ibunya masih sama. Ibunya masih seperti dulu, egois dan keras kepala, serta sangat mementingkan bibit, bobot, dan bebet dari seseorang yang akan menjadi menantu di keluarga ini.

__ADS_1


Tentu saja, jika pembicaraan seperti ini berlanjut, Handika hanya akan selalu merasa kesal. Oleh karena itu, ia memilih mengganti topik pembicaraan di antara mereka bertiga.


Tak berselang lama David dan Lim sudah muncul di hadapan mereka, diikuti dua orang gadis yang mereka yakini salah satunya adalah gadis yang mengaku tunangan David.


Bella dan Dilla muncul hampir bersamaan, namun karena wajah Bella tertutup oleh tubuh David dan Lim yang berada persis di depannya, pandangan keempat orang tua yang ada di ruang tengah itu justru mengarah kepada Dilla yang sekarang berdiri di samping Bella dan tidak tertutup oleh badan David dan Lim.


Cantik sekali gadis itu, wajahnya sedikit mirip dengan David. Mungkin bagi yang tidak tahu akan menyangka gadis itu adalah adiknya David. Barang kali ini yang dikatakan berjodoh sehingga wajah mereka hampir mirip (batin Diana).


Kenapa aku merasa sangat tidak asing dengan gadis yang berdiri di hadapanku ini? Siapa dia?Apakah dia tunangannya David (batin Handika).


Ternyata dugaanku kali ini memang benar, tampilannya kemarin di konferensi pers hanya untuk mengelabui orang-orang saja agar banyak yang tidak mengenalinya. Tapi, rupanya gadis ini sangat cantik. Ia benar-benar bisa nenjadi ancaman. Rasanya akan sulit bagiku memisahkan gadis ini dengan David ( batin Nenek David).


Kenapa aku merasa wajah gadis ini sangat tidak asing ya? Aku merasa pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya, tapi di mana? (batin Mun)


“Ehem,” Deheman David memecahkan lamunan empat orang dewasa yang kini berada di hadapannya.


“Maaf, jika aku sedikit terlambat karena tadi ada sedikit halangan di jalan. Dan sebagaimana yang pernah aku janjikan kemarin bahwa hari ini aku akan membawa tunanganku kemari,”


“Bella, sayang, kemarilah! Perkenalkan dirimu!” perintah David.


Ya ampun, kenapa aku benar-benar jadi gugup seperti ini? Ini kan hanya pura-pura (batin Bella).


“Ehem, Nona Bella, perkenalkan dirimu,” ucap Lim lirih.


“Iya, Tuan, sebentar cerewet sekali,” sahut Bella yang masih berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


“Ha-halo, Nenek, Tante, Paman, sa-saya..” Bella menggantung ucapannya. Berusaha menetralisir keadaan dengan mencoba menarik nafasnya pelan.


“Maaf, Nenek, Paman, Tante, Bella sepertinya sedikit gugup. Biarkan aku saja yang akan memperkenalkan kalian,” ujar David sambil menggenggam tangan Bella.


“Nenek, Paman, Tante, ini Bella tunanganku, dan Bella mereka ini adalah Nenek, Paman Handika, dan Tante Diana, keluargaku,” ucap David.


Apa-apaan bajingan ini? Pintar sekali mencuri kesempatan, menggenggam tangan orang sembarangan (batin Bella).

__ADS_1


“Halo, Nenek, Paman, Tante, saya Bella,” ucap Bella tersenyum ramah.


Ternyata gadis yang ini tunangan David. Dia juga sangat cantik. Keponakanku itu memang pintar memilih wanita (batin Diana).


Sepertinya David memang sengaja menyembunyikan kecantikan gadis ini dari media massa karena dia tidak ingin semua orang bisa melihat kecantikan gadisnya (batin Handika).


Dia dan gadis yang tadi sama saja. Keduanya sama-sama cantik. Sepertinya akan sulit bagiku memisahkan mereka. Coba lihat saja! Sekarang saja David begitu berani menggenggam tangannya dengan begitu kuat di hadapanku. Sungguh membuatku muak saja (batin Nenek David).


Wajah kedua gadis ini tampak tidak asing bagiku. Apakah aku mengenal mereka berdua sebelumnya? (batin Mun).


“Bella, kemarilah duduk di dekat Tante. Dan kau juga Lim, serta siapa gadis itu?” tanya Diana.


“Oh ya, Tante, dia sahabat Bella, namanya Dilla,” jawab Bella tersenyum memperkenalkan sahabatnya.


“Dilla, nama yang cantik secantik orangnya,” puji Diana.


“Bukan hanya orangnya saja yang cantik Tante, tapi kepribadiannya juga cantik,” ucap Bella menambahkan.


“Kamu terlalu pandai memuji temanmu, Bella,” sahut David yang tidak mengerti kenapa Bella bertingkah seperti sedang mempromosikan sahabatnya.


“Ah, David, kamu jangan cemburu seperti itu! Kamu akan tetap menjadi satu-satunya laki-laki kesayanganku,” ucap Bella, padahal dalam hatinya..


Hoekk, Bella, bisa-bisanya kamu bicara manis seperti itu pada laki-laki ini, tapi tak apa lah demi Dilla dan satu juta perhari, aku terpaksa berbohong seperti ini. Oh, Bella kamu benar-benar pandai berakting ya.. (batin Bella).


Perempuan itu pintar sekali berkata-kata membuatku tak bisa marah kepadanya (batin David).


Bella dan Dilla duduk di dekat Diana. Sementara David dan Lim, duduk di dekat Handika. Keenam orang itu, kini duduk menghadap ke arah Nenek David.


***


Bersambung


Akankah Nenek David marah kepada Bella dan mengusirnya? Ataukah ia akan menerima Bella dengan tangan yang lapang?

__ADS_1


Ingin tahu jawabannya? Ikuti kelanjutan episodenya dan tetap semangat untuk mendukung karya author dengan memberikan like, vote, dan menjadikan karya itu sebagai favoritmu... terima kasih... 💐💐💐


__ADS_2