
“Ih, sebel, sebel, sebel! Kenapa aku bisa begitu bodoh sampai bisa mengaku sebagai tunangan bajingan itu? Pasti saat itu dia sangat bangga sekali akan dirinya, ih...," sahut Bella kesal.
“Sudahlah Bella, kau tidak perlu terlalu kesal seperti itu kepadanya. Lagi pula David tidak buruk juga. Biar bagaimana pun kita perlu mengakui kalau David itu pria yang sangat tampan. Kalau aku bukan sepupunya aku juga pasti sudah jatuh cinta kepadanya,” puji Dilla.
“Hoek, rasanya aku pengen muntah kau mengatakan seperti itu tentang dia,” ucap Bella.
“Hey, kau jangan bicara seperti itu! Jangan terlalu membencinya! Nanti, bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta lagi sama dia,” sahut Dilla.
“Aku jatuh cinta sama si mesum itu? MUSTAHIL,” ucap Bella.
“Terus apa rencanamu kali ini? Apa kau akan benar-benar melakukan apa yang diminta David?” tanya Dilla.
“Kenapa tidak? Kau pernah mendengar kalimat yang mengatakan lo jual gue beli. David kan sudah menantangku, maka aku terima tantangannya. Dan kita lihat siapa pemenangnya?” tantang Bella.
“Kau tidak takut kalau David punya rencana tersembunyi di balik ini semua?”
“Takut? Untuk apa takut? Mengenai adanya rencana tersembunyi, dari awal aku juga sudah merasa seperti itu, tapi kau kan tau kita tidak punya pilihan lain lagi? Dari pada aku harus memberikan uang ini begitu saja, iya lebih baik kuterima tantangan itu saja," ujar Bella sambil memegang amplop coklat yang semalam dimenangkannya.
“Lalu apa yang kau rencanakan dengan uang yang ada di amplop itu?”
“Aku akan memberikan semua uang ini pada Neni untuk dipakai melunasi hutang pada rentenir tengik itu. Sisanya terserah Neni saja mau diapakan,” ucap Bella.
“Kau sungguh cucu yang baik Bella,” puji Dilla.
“Tentu saja. Kalau begitu ayo kita temui Neni sekarang,” ajak Bella.
Bella dan Dilla pun menemui Neni yang sekarang sedang sibuk melayani para pelanggan.
“*Duaa*ar,”
“Ya ampun, gadis dungu! Kau ingin membuat nenekmu ini cepat mati ya?” maki Neni saat dirinya dikejutkan Bella.
“Maaf, Neni, he he he... Neni, aku punya sesuatu buat Neni,” ucap Bella menyerahkan amplop coklat kepada Neneknya.
__ADS_1
“Banyak sekali Bella, kau habis merampok rumah orang di mana?” tanya Neni.
“Huss, Neni! Sembarangan banget kalau bicara,” kilah Bella.
“Terus uang ini kau dapat dari mana?”
“Itu dari tunangan aku, Neni,” jawab Bella.
“Bella, Neni serius!” ucap Neni tegas.
“Aku juga serius,” ucap Bella.
“Cih, sejak kapan kau bertunangan?” sahut Neni.
“Aih, Neni, apa Neni lupa yang sering aku katakan. Aku ini tunangannya David Erlangga, cucu dari keluarga pemilik Erlangga Grup,” jawab Bella penuh penekanan.
“Aduh Bella, sudahlah berhenti membual! Jawab Neni! Uang ini kau dapatkan dari balapan liar itu kan? Kau masih ikutan balapan liar itu ya?” tanya Neni menatap Bella tajam.
Bella yang tidak bisa berbohong lagi hanya memegang kedua telinganya sambil tertawa cengngengesan.
“Ambil ini! Neni tidak mau memakainya,” seru Neni sambil melempar amplop coklat itu pada Bella.
“Neni..,” rengek Bella.
“Emm,"
“Aku mohon ambillah uang ini! Aku janji, ini terakhir kalinya aku ikut balapan liar,” pinta Bella memelas.
Neni menghela napasnya berat.
“Berapa kali kau berjanji kepadaku? Dan berapa kali juga kau ingkar,” ucap Neni.
“Tapi kali ini aku benar-benar serius, Neni! Neni kan tahu selama ini aku ikut balapan liar untuk membayar hutang kepada rentenir sialan itu! Dan karena sekarang sudah lunas, jadi aku tidak berniat untuk mengikuti balapan liar lagi,” ucap Bella serius.
__ADS_1
“Sungguh ini yang terakhir kali kau ikut balapan liar?” tanya Neni.
“Sungguh Neni! Kalau aku berbohong aku bersedia tidak makan bakso Neni selama satu minggu,”
“Cih, kesungguhan macam apa itu? Masa hanya senilai selama seminggu tak makan bakso! Tapi, baiklah kali ini Neni terima uangmu. Dan ingat kalau kau melanggarnya. Kau jangan panggil aku “Neni” mu lagi,” tegas Neni.
“Iya, Neni... Paling nanti panggilannya aku ubah jadi Nyonya besar,” gumam Bella yang langsung mendapat jeweran dari Neninya itu.
“Aaaw! Ampun Neni, ampun, aku hanya bercanda,” rintih Bella.
Mendengar rintihan Bella, Neni pun akhirnya melepaskan tangannya dari telinga Bella yang sudah memerah.
“Kalau begitu sekarang bantu Neni mencuci mangkuk-mangkuk ini!” seru Neni.
“Neni, maaf, hari ini aku dan Dilla mau keluar dulu sebentar,”
“Mau kemana lagi? Kau ini suka sekali keluar rumah,” ujar Neni.
“Kali ini aku ada urusan yang sangat sangat penting. Betulkan, Dil?” melirik Dilla.
“Benar Neni, kami mau keluar untuk mengurusi sesuatu yang saaaangat penting,” sahut Dilla.
“Baiklah, kalau Dilla berbicara seperti itu kali ini Neni percaya. Kalian berdua berhati-hatilah di jalan,” ucap Neni.
“Oke, Neni,” sahut Bella dan Dilla bersamaan.
Setelah berpamitan pada Neni, Bella dan Dilla pun pergi ke tempat yang sudah ditentukan oleh David.
***
Bersambung
Nantikan episode selanjutnya..
__ADS_1
Dukung author dengan memberi like, vote, dan jadikan favorit... terima kasih..😍😍😍