Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 55 Nasi Goreng Cinta


__ADS_3

“Memangnya apa yang kau inginkan? Bukannya kau sudah memiliki semuanya?” tanya Bella.


Berjalan santai memasuki ruangan David dan langsung duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


“Kau benar untuk saat ini aku belum menginginkan apa pun. Jadi, aku akan menagih hadiahnya nanti,” ucap David yang tak mendapat tanggapan dari Bella.


“Lim, bisakah kau mengambilkan aku segelas air jeruk hangat? Kalau bisa sama camilannya ya sekalian,” rajuk Bella manja.


“Hey, kau pikir kau ini siapa? Nyonya di sini? Sembarangan menyuruh orang!” bentak David.


“Cih, apa kau lupa kalau aku ini TUNANGANMU? Masa meminta segelas air jeruk hangat saja tidak boleh,” protes Bella.


“Baiklah! Lim, segera lakukan perintahnya!”


“Baik, Bos,” sahut Lim kemudian berlalu meninggalkan ruangan David.


“Nih, coba kau baca dan pelajari ini!” ucap David saat meletakkan lembaran surat perjanjian di atas meja yang ada di hadapan Bella.


Bella menerima lembaran surat perjanjian dan mulai membacanya.


“Apa ini? Banyak sekali,” keluh Bella saat melihat banyaknya lembaran surat perjanjian yang harus dibacanya.


“Sudah, baca saja! Aku mau ke toilet dulu,” ucap David meninggalkan Bella sendirian. Kemudian, melangkah menuju toilet yang tersedia di dalam ruangannya.


“Ha, banyak sekali. Malas aku bacanya. Nanti, sajalah!” meletakkan kembali lembaran surat perjanjian tersebut.


“Mendingan sekarang aku sarapan dulu. Perutku sudah lapar, menanti untuk segera diisi,” Mengambil keresek putih yang dibawanya dan mengeluarkan sebungkus nasi goreng yang tadi diberikan oleh Neni.


“Untungnya Neni membungkuskan nasi goreng ini, walaupun sebenarnya aku diminta makan berdua dengan si sombong itu. Tapi, kurasa dia tidak akan mau. Jadi, aku habiskan sendiri saja,” tersenyum senang saat membuka nasi goreng petai yang dibawanya.


Sebelum memakan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya, Bella mengeluarkan terlebih dahulu permen karet yang sedari tadi dikunyahnya.


“Simpan di sini saja,” meletakkan sisa permen karetnya sembarangan di atas sofa.


Tak berapa lama, David keluar dari kamar mandinya.


“Gadis tengik! Kau ini ya, disuruh baca malah makan! Memang kau pikir kantorku itu warteg apa?!” bentak David saat melihat Bella yang asyik memakan nasi goreng di hadapannya. Dengan kedua kaki yang ia naikkan ke atas sofa. Namun, Bella sama sekali tak menghiraukannya, ia terus saja asyik menikmati sarapannya yang sudah terlewat.


David semakin kesal karena merasa diabaikan, namun ia juga tidak tega untuk memaksa Bella menghentikan aktivitasnya itu. Karena sangat terlihat sekali kalau gadis di hadapannya itu, saat ini benar-benar sedang kelaparan. Ia pun duduk di dekat Bella, menunggu Bella menyelesaikan sarapannya, sambil terus menatap Bella yang selalu terlihat cantik meski saat ini mulutnya sedang dipenuhi banyak makanan.


Bella sebenarnya menyadari, kalau David sedari tadi memperhatikannya. Ia pun mulai merasa sedikit risih dengan tatapan dari pria tampan yang entah sejak kapan kehadirannya membuat jantung Bella seolah ingin melompat dari tempatnya.


Ih, kenapa sih? Si sombong ini pakai ngeliatin kayak gitu. Apa dia mau nasi goreng ini juga? Ya Tuhan, seperti ini kah rasanya makan nasi goreng milik orang lain? (ucap Bella dalam hati saat menyadari jantungnya mulai berdetak tak karuan).


“Kau mau?” ucapnya menawarkan nasi goreng itu pada David.


“Sudah mau habis, baru ingat sama orang lain,” sahut David tersenyum sinis.


“Jadi, mau tidak?” tanya Bella lagi.


“Apa itu enak?” tanya David melihat ke arah nasi goreng yang disodorkan Bella.


“Tentu saja, buatan Neniku itu pasti selalu enak. Lagi pula sebenarnya ini nasi goreng untuk kita berdua,” ucap Bella jujur.

__ADS_1


“Lalu kenapa dari tadi kau makan hanya sendiri saja?” tanya David.


“Karena Neni inginnya kita makan berdua. Jadi, aku tidak yakin kau mau melakukannya?”


“Kenapa tidak?”


“Apa maksudmu? Jadi, kau bersedia berbagi memakan ini berdua denganku?” jawaban David membuat Bella terkejut dan tidak percaya.


“Sudah, cepat! Suapi aku!” perintah David.


Bella pun mulai menyuapkan nasi goreng yang ada di tangannya itu dengan tangannya sendiri ke mulut David. Entah kenapa saat ia memasukkan tangannya ke mulut David, detak jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Enak juga,” sebuah pujian keluar dari mulut David.


Tidak, kusangka Bos Sombong yang biasa makan di restoran-restoran mewah yang dimasak oleh para koki terkenal mau memakan nasi goreng yang sederhana ini. (batin Bella).


Tanpa mereka sadari, Sekretaris Lim sudah masuk kembali ke ruangan itu, membawa segelas air jeruk hangat, pesanan Bella. Namun, ia belum berani bersuara saat melihat pemandangan yang tak biasa baginya. Pemandangan yang cukup mengejutkan dirinya.


Ya Tuhan.. jiwa jombloku semakin meronta-ronta (batin Lim)


“Yang hijau itu apa?” tanya David saat Bella akan memasukkan petai ke dalam mulutnya.


“Ini namanya PE-TE,” jawab Bella.


“Pete? Apakah itu enak?” tanyanya lagi.


“Enak, sang...at enak. Coba saja,” jawab Bella tersenyum jail.


Mendengar jawaban Bella, David pun memakan petai tersebut bersama suapan terakhir nasi gorengnya.


"Beda gimana? " tanya Bella.


"Ya sepertinya mulutku mengeluarkan aroma-aroma bau seperti.. "


"Seperti ini? Hah," Bella menghembuskan nafas baunya di depan wajah David.


"Umm, dasar gadis tengik! Jorok sekali kau! " pekik David dengan sambil memencet hidungnya.


Melihat tingkah bos dan tunangannya, Lim tak bisa lagi menahan tawanya.


"Hahaha, "


Suara tawa yang keras itu membuat David menoleh ke arahnya.


“Hey, sejak kapan kau ada di sini?” tanya David dengan tatapan tajam.


“Sejak tadi Bos,” jawab Lim saat tawanya mulai berhenti. Lalu ia berjalan ke arah meja dan meletakkan segelas air jeruk hangat pesanan Bella tersebut di atas meja.


Bella yang melihat air jeruk pesanannya sudah datang, segera mengambil gelas tersebut dan meminumnya.


Gluk, gluk


“Hey, jangan dihabiskan! Aku juga mau?” merebut gelas yang ada di tangan Bella. Lalu meminumnya.

__ADS_1


“Kau ini! Itu kan minuman pesananku,” protes Bella.


“Jangan protes!” sahut David.


“Kau ini, kenapa tidak pesan lagi saja sih?” ucap Bella ketus.


“Merepotkan,” jawab David yang terus meminum air jeruk hangat milik Bella hingga tandas.


“Cih, tidak disangka bos sombong sepertimu ini ternyata jorok juga ya,” cibir Bella kesal.


“Jorok? Jorok dari mana?”


“Jorok dari mana? Kau ini sadar tidak sih barusan kau ini memakai gelas yang sebelumnya telah aku pakai, apa itu namanya tidak jorok?” ucap Bella kesal.


Benar juga.. gelas tadi kan memang gelas yang baru saja dipakai gadis itu? Berati di gelas itu ada bekas bibirnya dan itu artinya.. (batin David tersenyum).


“Hey, kau ini benar-benar bodoh ya? Bukannya menjawab, malah senyum-senyum gak jelas?” maki Bella.


David yang tersadar dengan ucapan makian dari Bella itu langsung menyentil kening Bella “Aw,” pekik Bella.


“Jangan sekali-kali memanggilku seperti itu lagi!” ancam David memandang Bella dengan tatapan tajam. Bella yang takut mulai memelankan nada bicaranya.


“Iya, maaf, aku tidak sengaja, galak sekali! Ya sudah, sekarang aku mau baca lagi surat perjanjian yang sudah kamu buat,” hendak mengambil lembaran surat perjanjian yang diserahkan David sebelumya yang ia letakkan di atas meja di depannya.


“Eits, cuci tanganmu dulu! Nanti suratnya kotor lagi!” perintah David.


“Iya, iya, cerewet sekali! Di mana kamar mandinya?” tanya Bella.


“Tuh, di sana,” tunjuk David ke arah kamar mandi yang berada di dalam ruangannya.


Bella pun segera menuju ke tempat yang ditunjuk David. Setelah mencuci tangan, Bella duduk kembali dan mengambil lembaran surat perjanjian antara dirinya dengan David.


David memperhatikan Bella yang sedang membuka dan membaca lembaran surat perjanjian itu dengan seksama. Seulas senyum tersungging di bibirnya.


“Baguslah, baca dengan benar ya! Aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu!” mengusap rambut Bella, lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya. Namun, sebelum David benar-benar bangkit, ia merasa sesuatu yang lengket menempel di celananya.


“O, ow,” gumam Bella yang sadar kalau permen karet bekasnya sekarang telah menempel dan mengotori celana David.


“Apa ini?” tanya David saat menyentuh sisa permen karet yang menempel di celananya.


“Sepertinya permen karet, Bos,” jawab Lim datar.


David dan Lim menoleh ke arah Bella secara bersamaan. Bella yang sadar dirinya akan mendapat amukan yang super dahsyat, menutupi wajahnya dengan lembaran surat kontrak yang baru saja akan dibacanya kembali.


“Bella!!!!” teriakan tersebut menggema di ruangan David. Oh, bukan, bukan hanya di ruangan David, tapi lebih tepatnya di ruangan yang ada di lantai 101 gedung tersebut.


***


Bersambung


Menakjubkan kan ya teriakannya David? Hehe...🤭🤭


Nantikan kelanjutan cerita ini di episode selanjutnya..🤩🤩

__ADS_1


Tetap dukung karya author dengan memberikan like, vote, dan komen postifnya. Terima kasih.. 😘😘


__ADS_2