
Raut wajahnya saat ini menandakan kalau David sedang tidak bisa diusik. Karenanya Lim tak berani berkata apa pun pada David.
Aku harap Nona Bella baik-baik saja (ucap Lim dalam hati)
Setelah sampai di rumah sakit, ia segera ke ruangan Dokter Damar. Ia yakin neneknya pasti membawa Bella pada Dokter Damar yang merupakan dokter pribadi keluarga mereka.
“Di mana?” begitu masuk ke ruangan Dokter Damar.
“Aduh anak muda, sifatmu ini tidak pernah berubah ya?” ucap Dokter Damar yang terkejut saat David menerebos masuk ke ruanganya begitu saja.
“Maaf, Paman. Aku sedang tidak ingin banyak basa basi. Sekarang katakan, di mana ruangannya Bella?” sahut David sinis.
“Kalau seperti ini kau seperti bukan anak Dania saja, tapi anaknya Haris,”
“Paman, cepat katakan!” tanya David lagi dengan tidak sabar karena Dokter Damar terus mengatakan hal yang menurutnya sama sekali tidak penting.
“Bella, baik-baik saja. Dia sekarang sedang dirawat oleh temannya Dilla di Cluster Mawar,” jawab Dokter Damar.
“Baiklah, kalau begitu terima kasih, Paman. Aku ke sana dulu,” pamit David.
“David, tunggu! Aku belum selesai menjelaskan,” sahut Damar.
“Apalagi?” tanya David gemas.
“Tangan kanan Bella terluka karena goresan pisau yang cukup dalam sehingga baru saja selesai kami jahit. Oleh karena itu, sewalah seorang perawat untuk merawatnya sebab dia tidak boleh membiarkan tangannya itu terlalu banyak bergerak agar jahitan tidak mudah lepas,”
“Apa?? Tangan kanannya terluka?”
“Iya, selain itu telapak kakinya juga seperti terbakar. Kelihatannya gadis itu sempat berjalan kaki di tempat yang panas tanpa alas kaki,” jelas Dokter Damar.
“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya David kesal.
“Entahlah, untuk masalah ini kau bisa tanyakan sendiri pada nenekmu atau Steven. Karena mereka lah yang membawa Bella kemari. Tapi, kalau kau enggan bertanya pada mereka, maka kau bisa bertanya langsung pada Bella,” usul Damar.
“Tunggu, tadi Paman mengatakan Steven? Maksud Paman, Steven ada di Negara S?”
“Ya, begitulah,” jawab Dokter Damar.
Playboy itu datang kemari. Ah.. aku harus lebih waspada. Dia itu kan tidak bisa melihat gadis cantik. Apalagi dia sudah bertemu dengan Bella, jangan sampai dia mengganggunya (batin David).
“Bos, apa kita masih tetap akan di sini?” ucap Lim membuyarkan lamunan David.
“Astaga, kalau begitu sekarang kita ke ruangan Bella!” sahut David saat tersadar dirinya tengah melamun.
“Nanti, jangan lupa mampir ke laboratorium untuk mengambil hasil tesnya Lim!” seru David mengingatkan.
“Baik, Bos,” jawab Lim
***
Di ruang rawat Bella
“Bella, akhirnya kau bangun juga!” seru Dilla senang saat melihat Bella sudah membuka matanya.
“Eh, rupanya kau Dil. Aku ada di mana sekarang?” tanya Bella.
“Kau di rumah sakit, Nenek David yang membawamu kemari,” jawab Dilla.
“Lalu Nenek Tua itu di mana?”
“Sesudah membawamu ke sini, dia langsung pulang,”
“Cih, sungguh manusia tidak punya perasaan. Aku hampir mati menolongnya, dia malah langsung pergi begitu saja,” umpat Bella.
“Oh, jadi kau telah menolongnya. Pantas saja,”
“Pantas apa?”
“Kau tahu Bella, waktu kau tidak sadarkan diri, aku melihat dia membelai dan mengelus wajahmu. Selain itu, dia sempat menahan tangisnya untukmu,” jelas Dilla.
“Sungguh? Apa kau tidak salah lihat?” tanya Bella tak percaya.
“Tidak, Bella. Itu benar, bahkan aku sempat merasa iri karena melihatmu diperlakukan seperti itu,”
__ADS_1
“Kalau begitu itu bagus kan? Artinya nenekmu itu hatinya masih berfungsi, tidak mati,”
“Semoga saja,” jawab Dilla.
Bruaakkk
David tampak lepas kendali saat membuka pintu ruang rawat Bella saking paniknya.
“Oh, astaga David! Kau membuat orang kaget saja,” gerutu Bella, namun David tak menghiraukannya. Ia langsung berjalan menghampiri Bella dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya “Bella,” mendekap erat.
“Aww, sakit David! Kau tidak lihat perban di tanganku!” rengek Bella saat pelukan David mengenai bekas lukanya.
“Maaf, sayang.. aku tidak sengaja.. Tapi, kau baik-baik saja kan?” tanya David sambil memegang wajah Bella dan menatapnya dengan lembut.
“Aku baik-baik saja, tapi...,"
“Tapi apa?” tanya David cemas.
Kryuuuuuk
“Itu udah dijawab,” sahut Bella menunjuk perutnya yang berbunyi.
“Dasar kau ini!” ucap David tersenyum sambil mengelus rambut Bella.
Dilla tampak heran melihat keakraban dua insan yang ada di depannya.
Heran, biasanya kalau ketemu udah kayak kucing sama anjing. Sekarang malah akur banget (batin Dilla).
“Jangan heran! Sekarang anjingnya sudah dijinakkan, tidak akan menggigit lagi,” ucap Lim lirih seolah-olah bisa membaca apa yang dipikirkan Dilla.
“Sini, aku suapi!” sahut David mengambil makanan yang sudah tersedia di meja yang ada di samping ranjang Bella.
“Tuan, biarkan aku saja yang menyuapi Bella,” sahut Dilla mencoba mengambil makanan yang dipegang David.
“Tidak perlu, biarkan kali ini aku saja yang menyuapinya,” tolak David.
“Sudah Dilla, biarkan saja kalau dia ingin menyuapiku. Lagipula dia itu kan su...,” ucapan Bella terhenti saat ia merasa mulai ada yang salah dengan kata-katanya.
“Su... apa?” tanya Dilla bingung.
“Oh, kirain kau akan bilang, kalau Tuan David itu suamimu. Seperti kebiasaanmu yang suka ngaku-ngaku, ha ha,” sahut Dilla tertawa sambil menutup mulutnya.
Ia masih teringat kejadian beberapa pekan lalu, di mana dengan konyolnya Bella mengaku sebagai tunangan David, di depan David sendiri.
Cih, tertawa saja terus. Kau tidak tahu saja kalau laki-laki ini memang sudah jadi suamiku Dilla (batin Bella).
“Maaf Bella, aku tidak bermaksud menertawakanmu,” ucap Dilla menghentikan tawanya saat melihat bibir Bella yang sudah mengerucut karena sebal.
“Kalau begitu aku ke kamar Lusia dulu, aku takut saat ini dia juga lapar,” pamit Dilla.
“Ya sudah, sana pergi! Jangan biarkan calon keponakanmu itu kelaparan,” usir Bella.
Dilla pun menurutinya, ia keluar dari ruang rawat Bella.
“Bos, saya juga permisi dulu. Mau cari makan. Apa Bos mau saya belikan makanan juga?” tanya Lim yang memang kebetulan saat ini belum sempat makan siang karena David langsung memerintahkannya untuk segera ke rumah sakit.
“Tidak perlu, aku akan makan berdua dengan istriku,”
“Dih, siapa yang mau makan denganmu? Kau tidak lihat makanan ini sedikit sekali, masa kau ingin meminta makanan orang sakit,” cibir Bella.
“Cih, kau ini pelit sekali. Baiklah, Lim belikan juga makanan untuku!” seru David.
Setelah mendengar perintah David, Lim bergegas keluar dari ruangan Bella.
Akhirnya.. Aku bisa melarikan diri dari mereka. Kalau tidak aku hanya akan menjadi penonton drama romantis yang membuat jiwa jombloku semakin menjerit (batin Lim).
Setelah kepergian Lim, David tersenyum menatap Bella.
“Kenapa kau senyum-senyum?” tanya Bella.
“Aku hanya senang karena kau mau mengakuiku sebagai suamimu,”
“Cih, siapa? Kapan aku melakukannya?” tanya Bella mencoba mengelak.
__ADS_1
“Jangan bohong! Aku tahu kau ingin mengatakan itu pada Dilla kan?” goda David.
“Siapa? Kau sendiri kan dengar, tadi aku ingin mengatakan apa?” Bella masih saja menolak mengakuinya.
“Sudahlah! Sekarang makanlah ini! Bukan kah tadi kau bilang kalau kau lapar!” tanya David menyodorkan makanan pada Bella.
Bella pun menerima suapan dari David. Ada rasa bahagia saat melihat David selalu ada di sisinya, memberikan perhatian yang membuatnya kembali teringat akan kasih sayang yang pernah diberikan almarhum ayahnya kepadanya sewaktu kecil dulu.
Bella sangat menikmati makanannya, meski makanan di rumah sakit sebenarnya tak terlalu enak. Namun, karena David menyuapinya dengan penuh kasih sayang, membuat makanan yang terasa hambar menjadi nikmat di lidahnya.
“Sepertinya makanan rumah sakit ini sangat lezat?” tanya David saat melihat istrinya makan dengan lahap.
“Iya, makanan ini memang sangat lezat. Kau mau mencicipinya?” tawar Bella.
“Memang boleh aku mencicipinya?” tanya David.
“Tentu saja boleh,”
“Benar, kau tidak akan menyesal?” tanyanya lagi dengan sudut bibir yang mulai terangkat.
“Tidak, cicipi saja!” seru Bella dan setelah Bella mengatakan itu, dengan cepat bibir David langsung menyentuh bibir Bella, menyesapnya dengan lembut.
“David,” wajah Bella bersemu merah, sesaat ia sempat terbuai dengan sentuhan David.
“Kau bilang ingin mencicipi makanannya. Kenapa kau malah menciumku?” kata Bella sebal.
“Iya, aku memang ingin mencicipinya, tapi dari mulutmu. Sama saja kan,” ucap David tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Cih, dasar mesum!”
“Tapi suka kan? Iya kan, iya kan?” goda David menaik turunkan alisnya, membuat Bella merasa gemas, lalu hendak mencubit perut David dengan tangan kirinya. Namun, dengan sigap David meraih tangannya itu.
“Kau tidak bisa melakukan itu pada suamimu, Sayang,” ucap David, lalu mengecup tangan Bella lembut dan itu lagi-lagi membuat wajah Bella merona dan jantungnya semakin berdebar tak menentu.
***
Sementara itu di Kediaman Erlangga.
“Mun, apa menurutmu aku benar-benar orang tua yang egois?” tanya Nenek David yang kini tengah duduk di sofa kamarnya.
“Maaf, saya tidak berani memberikan penilaian semacam itu, Nyonya,” jawab Bibi Mun bernada tegas.
“Katakan saja kalau itu benar,” ucap Nenek David selanjutnya, namun kali ini Bibi Mun diam, tak menjawab apa-apa yang menandakan kalau itu memang benar adanya.
“Aku hanya ingin yang terbaik untuk keluargaku, memberikan Han atau pun David pasangan yang terbaik untuk mereka, serta ingin memenuhi satu-satunya harapan dari almarhum suamiku untuk mempersatukan keluarga Erlangga dan juga keluarga William,” ucap Nenek David.
“Kenapa Nyonya tiba-tiba berkata seperti itu? Apakah karena kejadian yang barusan tadi?” tanya Bibi Mun.
“Iya, kau benar. Aku melihat ketulusan di mata gadis itu. Aku melihat wajah Dania kembali hadir di keluarga kami. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi nenek tua seperti diriku,” ucap Kanaya.
Clarissa yang kebetulan hendak menemui Nenek David saat mendengar kabar tentang perampokan yang terjadi pada wanita tua itu mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan dua wanita tua itu.
Apa? Jadi benar, gadis gembel itu yang telah menolong Nenek. Dan sepertinya Nenek mulai bersimpati kepadanya. Gawat, ini tak boleh dibiarkan. Aku harus segera menjalankan rencanaku karena hanya dengan begitu aku bisa segera menyingkirkan gadis itu dari keluarga ini dan memiliki David seutuhnya (batin Clarissa)
Khawatir ada yang tahu, kalau dia menguping.
Clarissa pun cepat-cepat pergi dari tempat itu.
“Lalu apa itu artinya Nyonya akan memberikan restu kepada Tuan Muda?” tanya Bibi Mun.
“Entahlah, untuk saat ini aku masih ragu dengan hal itu. Tapi, mungkin saja aku bisa memberikan mereka restu, andai Han memiliki seorang putri yang bisa aku nikahkan dengan Steven,” ucap Nenek David.
Apakah aku harus memberi tahu Nyonya hal yang sebenarnya? Kalau Arini tengah mengandung sebelum dirinya berpisah dengan Tuan Han dan menurut kabar terakhir yang aku dengar, Arini melahirkan seorang anak perempuan (ucap Bibi Mun dalam hati).
***
Bersambung
Akankah kebenaran tentang jati diri Dilla yang sebenarnya akan segera terungkap?
Lalu apakah David bisa lolos dari siasat licik yang akan dilakukan Clarissa? Dan bagaimana Bella mengatasinya?
Penasaran? Nantikan kelanjutan ceritanya ya..
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan kalian dengan like, vote, dan komennya serta tetap jadikan karya ini favorit kalian..
Terima kasih 🙏🙏