
Dor... Dor... dor...
Suara letupan senjata api membahana di sepanjang jalan, tak jauh dari arena Sirkuit Labora berada.
“Kalista, hati-hati! Kita jangan sampai melukai para pengendara yang lewat,” teriak Dara sambil memegang pistolnya.
“Baiklah Dara, kau tenang saja! Karena semua ini akan segera berakhir,” ucap wanita berambut gimbal sambil mengarahkan pistolnya pada beberapa penjahat yang ada di hadapannya.
Dor... Dor... dor...
Para penjahat itu jatuh satu persatu dan senjata mereka tak bisa lagi digunakan.
“Tangkap mereka semua!” ujar Kalista pada anak buahnya yang langsung mendekat dan memborgol para penjahat yang berjatuhan setelah mendapat tembakan dari Kalista dan Dara.
“Sial, sepertinya Edwin melarikan diri! Aku harus segera menangkapnya,” umpat Dara saat tidak melihat keberadaan Edwin di sana.
Dor..
“Suara itu??” ucap Dara dan Kalista bersamaan. Mereka segera berlari mengikuti bunyi letupan senjata itu.
“Cepat turun!” teriak laki-laki berbadan besar menghadang Az yang kebetulan lewat di sana.
“Az,” teriak Dara saat melihat laki-laki itu tengah menodongkan pistol ke arah Az.
“Bukankah dia itu dokter yang telah menyelamatkan Dodo??” bisik Kalista yang dijawab anggukkan oleh Dara.
“Oh, jadi kalian berdua mengenalnya?” tanya laki-laki berbadan besar itu yang tak lain adalah Edwin. Penjahat yang selama ini sedang menjadi incaran Dara dan Kalista.
“Lepaskan dia Edwin Morgan! Kau telah terkepung!” seru Dara sambil menodongkan pistol ke arah Edwin.
Jadi laki-laki ini adalah Edwin Morgan. Dia lah orang yang bertanggung jawab atas kematian Bunda, Sang Iblis kegelapan (batin Az).
“Hey, kalian anak bau kencur! Kalian pikir aku takut dengan kalian. Kalau kalian sampai mendekat, akan kupecahkan kepala laki-laki ini!” ancam Edwin menodongkan pistolnya ke kepala Az.
“Sekarang letakkan pistol kalian!” gertak Edwin.
Dara dan Kalista saling pandang, mencoba berpikir apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka tidak mungkin membahayakan nyawa Az hanya untuk melawan penjahat tak bermoral seperti Edwin Morgan.
Saat keduanya hendak meletakkan senjata mereka ke bawah, Az dengan cepat melawan Edwin dan mengarahkan senjata yang sebelumnya ada di kepala Az ke atas langit.
Dor..
Letupan suara dari dari tiga peluru berbunyi secara bersamaan. Peluru pertama adalah milik Edwin Morgan yang mengarah ke langit. Peluru kedua berasal dari senjata Kalista yang mengarah ke bagian punggung Edwin. Dan peluru yang ketiga adalah peluru yang berasal dari senjata Dara yang melukai kepala Edwin dan membuatnya tumbang.
Anak buah Dara dan Kalista segera mengamankan Edwin dan membawanya ke rumah sakit.
“Hampir saja,” ucap Kalista lirih.
“Tindakanmu tadi itu terlalu berbahaya Az!" bentak Dara.
“Kalau aku tidak berbuat seperti tadi apa penjahat itu bisa kalian tangkap,” ucap Az meremehkan.
“Apa maksudmu bicara seperti itu? Kau meremehkan kemampuan kami?” ucap Dara kesal.
“Sudahlah, Dara. Jangan bertengkar! Biar bagaimana pun Edwin bisa kita tangkap berkat bantuannya,” ucap Kalista berusaha menengahi.
“Dan Anda Dokter, terima kasih telah membantu kami,” sahut Kalista tersenyum ramah.
“Kau mengenalku?” tanya Az bingung.
__ADS_1
Kalista tersenyum, lalu mengeluarkan kacamata tebal yang ia simpan di saku kemejanya.
“Kau ingat aku?” tanya Kalista memperlihatkan dirinya dengan kaca mata tebalnya.
“Ah, aku ingat. Kau adalah bibi dari anak laki-laki itu kan?” tebak Az.
“Benar, Dokter. Kau pasti heran dengan penampilanku yang sekarang. Aku sengaja berpenampilan seperti ini karena sedang menjalan misi yang ditugaskan oleh atasanku. Aku dan Dara adalah anggota pasukan khusus Badan Intelejen Negara R,” jelas Kalista.
“Oh, baiklah. Sekarang aku mengerti, aku permisi dulu,” ucap Az yang naik kembali ke atas motornya dan berlalu meninggalkan Dara dan Kalista.
“Hey, jadi laki-laki itu yang sering kau sebut es balok. Pantas saja kau selalu mencari informasi tentang laki-laki itu. Jangan-jangan kau suka padanya Dara!” goda Kalista yang tahu kalau Dara selama ini banyak mencari info tentang Az, sang pangeran kegelapan.
“Ih, apaan sih. Siapa juga yang suka sama es balok itu? Sudah ah, sebaiknya kita melapor ke atasan dulu sekarang,” sahut Dara.
“Kau melapor sendiri saja ya?? Aku mau menjemput calon mertuaku dulu,” ujar Kalista yang berlalu meninggalkan Dara.
“Cih, calon mertua. Dapetin hati anaknya aja belum sudah mengatakan calon mertua,” cibir Dara saat melihat kepergian temannya Kalista.
***
Setelah mengurus motor David yang rusak, Lim segera menuju bandara untuk menjemput kedua orang tuanya.
“Ayah, Bunda, kebiasaan sekali sih. Bukannya memberi kabar sebelumnya. Eh, ini malah sudah sampai baru memberi kabar,” gerutu Lim saat membaca pesan dari kedua orang tuanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Lim segera melajukan motornya ke arah bandara.
Sesampainya di bandara...
“Aduh, Lim. Kenapa kau bodoh sekali? Masa kau jemput kedua orang tuamu dengan motor. Mau ditaruh di mana mereka? Habislah kau, Bundamu yang cerewet itu pasti akan menceramahimu sepanjang hari,” ucap Lim saat menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya. Bukannya membawa mobil, ia malah membawa motor untuk menjemput kedua orang tuanya.
Pikiran Lim yang terus tertuju pada masalah itu membuatnya tak menyadari kalau sedari tadi seorang wanita tengah berjalan membuntutinya dari belakang. Dan tiba-tiba pandangan Lim menjadi gelap saat tangan wanita itu menutupi kedua matanya.
“Butuh bantuan sayang?” bisik wanita itu yang tak lain adalah Kalista.
“Apaan sih?” ucapnya sambil berbalik ingin melihat siapa wanita yang kurang ajar itu.
“Eh, kau,” sahutnya terkejut saat melihat Kalista dengan rambut gimbal dan kacamata tebalnya itu.
“Makhluk jadi-jadian kenapa kau bisa ada di sini? Dan tadi siapa lagi yang kau panggil sayang, hah,” tanya Lim kesal karena wanita yang ada di hadapannya ini terlalu sering mengganggunya.
Bukannya menjawab, Kalista malah melingkarkan tangannya ke leher Lim.
“Ma-mau apa kau?” Lim terkejut saat melihat Kalista sudah menempel di dekatnya.
“Bibirmu seksi sekali, tampan,” goda Kalista yang membuat Lim bergidik ngeri dan berusaha menjauh darinya.
“Hey, lepaskan tanganmu dan menjauhlah dariku!” seru Lim berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Kalista.
Akan tetapi, hal itu malah membuat Kalista semakin gemas dengan tingkahnya. Ia semakin tak ingin melepaskan Lim yang sedari tadi terus menerus berjalan mundur untuk menghindari dirinya.
Kini Lim sudah semakin terpojok. Tubuhnya membentur dinding dan tak bisa lagi bergerak mundur. Kalista memanfaatkan momen itu untuk mengunci Lim.
“Mau kemana lagi sayang? Kau sudah tak bisa menghindariku lagi?” goda Kalista yang sebenarnya sedari tadi berusaha menahan tawanya saat melihat wajah ketakutan Lim.
“Hey, kau makhluk jadi-jadian. Kau jangan macam-macam denganku ya? Kau tidak tahu siapa aku?”
“Tahu. Kau itu kekasihku, belahan jiwaku, cinta pertamaku, Halim Anggara Wijaya,” jawab Kalista yang membuat Lim semakin gugup dan mengeluarkan keringat dinginnya.
Ya Tuhan, wanita ini benar-benar sudah gila. Bagaimana caraku menghindari makhluk jadi-jadian ini ya? (batin Lim).
__ADS_1
“No-na, ba-bagaimana caranya agar kau mau melepaskanku? Ka-karena aku harus segera menjemput orang tuaku,” tanya Lim dengan suara terbata saking gugupnya.
“Baiklah. Aku akan melepaskanmu. Asalkan.... aku boleh mencium bibir seksimu,” ucap Kalista yang membuat Lim menelan salivanya.
Ya Tuhan, wanita ini ingin mengambil ciuman pertamaku. Astaga, Lim, dosa apa yang kau perbuat sehingga kau harus memberikan ciuman pertamamu ini pada makhluk jadi-jadian ini. (batin Lim).
“Bagaimana Tampan? Apakah kau bersedia memberikannya?” tanya Kalista.
“Baiklah,” jawab Lim dengan nada terpaksa.
Lim pun memejamkan matanya sambil terus menggerutu dalam hatinya.
Terpaksa, terpaksa, aku mengikhlaskan ciuman pertamaku ini. Jika ini satu-satunya cara agar makhluk jadi-jadian sepertimu bisa pergi dariku (batin Lim)
Kalista terus memandang Lim yang masih memejamkan matanya. Ia lalu membuka kacamata tebalnya dan wig rambut gimbal yang sebelumnya ia kenakan.
Suara tawa Kalista terdengar nyaring di telinga Lim.
“Ha ha ha,”
Membuat Lim membukanya matanya. Ekspresi kesal langsung terlihat di wajahnya, saat menyadari bahwa makhluk jadi-jadian yang selama ini mengganggunya tak lain adalah Kalista Ricardo, putri sahabat Bundanya. Wanita yang sedari kecil senang sekali mengganggunya.
“Kalista Ricardo... ternyata itu kau!” teriaknya geram.
“Hai, Lim apa kabar? Kau masih terlihat tampan seperti dulu,” sapa Kalista tanpa rasa bersalah.
Lim yang masih kesal mengabaikan ucapan Kalista, lalu berjalan menjauh darinya.
“Akhirnya Lim, kau datang juga. Dari mana saja kau ini? Bunda dan Ayahmu menunggumu sedari tadi di sini. Bunda khawatir terjadi apa-apa denganmu selama dalam perjalanan kemari,” ucap Rani, ibunya Lim.
“Maaf, Bunda. Tadi memang ada sedikit masalah,” jawab Lim.
“Halo, Tante Rani. Halo, Paman Angga,” sapa Kalista yang baru saja datang menghampiri ketiganya.
“Kalista kamu menjemput kami juga,” sahut Rani yang merasa senang saat melihat putri sahabatnya ikut menjemputnya.
“Iya, aku segera kemari saat mendengar Tante dan Paman akan segera tiba,” jawab Kalista.
“Ya sudah, kalau begitu kita pulang yuk!”ajak Bunda Rani menarik tangan Kalista dan suaminya.
Cih, Bunda ini sepertinya lebih sayang pada Kalista daripada aku (batin Lim)
“Lim, di mana mobilmu?” tanya Angga saat tak melihat mobil putranya.
“Emm, maaf Ayah. Tadi waktu Ayah dan Bunda mengabariku. Aku sedang bertanding dengan David di Sirkuit Labora. Jadi belum sempat pulang mengambil mobil. Ayah, Bunda naik taksi saja ya, biar aku pesankan,” tawar Lim.
“Aih, kamu ini benar-benar. Kalau harus naik taksi untuk apa juga kami sedari tadi menunggumu,” sahut Rani kesal.
“Begini aja Tante, kebetulan aku juga membawa motor. Bagaimana kalau Tante ikut denganku dan Paman ikut dengan Lim?” usul Kalista.
“Ti-dak,” tolak Angga dan Rani bersamaan.
“Begini saja, Ayah akan membawa motormu Lim, dan kau ikutlah dengan Kalista,” usul Angga.
“Baiklah, Paman Angga," ucap Kalista segera menyetujui usul Angga dan membuat Lim tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti keinginan kedua orang tuanya.
Bunda Rani duduk mesra di belakang motor yang dikemudikan oleh suaminya. Sementara Lim, harus menahan debaran jantungnya, saat Kalista mulai memeluk tubuhnya dengan sangat erat dari belakang.
***
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan memberi like, vote, komen, dan favoritng di episode ini ya...