Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 120 Penantian Diana


__ADS_3

Kini Lolita sedang berada di ruangan Dokter Damar. Wajahnya tampak pucat saat menerima selembar kertas yang harus ditanda tanganinya.


“Apa ini Dokter? Sa-saya dipecat. Apa salah saya?” tanya Lolita tak terima dengan keputusan Damar.


“Kamu masih menanyakan apa salahmu. Pertama, kamu telah memberikan obat tanpa prosedur yang benar pada Clarissa. Kedua, kamu telah membantu Clarissa dalam penyalah gunaan obat secara tidak benar hingga membuat seseorang hampir celaka dan kamu tentu tahu efek samping dari obat itu. Ketiga kamu telah berbohong dengan memberikan pernyataan yang tidak benar tentang masalah kalung malam itu dan kamu tahu rumah sakit kami tidak membutuhkan orang yang tidak jujur seperti dirimu,” tegas Damar.


“Tapi Dokter, tolong beri saya kesempatan sekali lagi. Saya benar-benar telah menyesal melakukannya,” pinta Lolita dengan nada memohon.


“Tidak ada kesempatan lagi, kecuali..,” ucap Damar menggantung ucapannya.


“Kecuali apa, Dok? Katakanlah saya akan bersedia melakukannya,” tanya Lolita


“Kamu bersedia saya pindahkan ke Negara P untuk menjadi relawan di sana,” jawab Damar.


“Negara P? Bukan kah di sana sedang terjadi peperangan?”


“Iya, dengan begitu kamu tidak ada waktu lagi untuk ikut campur urusan pribadi orang lain. Apalagi berpikir untuk membuat masalah dengan orang lain. Bagaimana?”


“Baiklah, Dok. Saya bersedia,” ucap Lolita penuh keraguan.


“Kalau begitu bersiaplah! Siang ini juga kamu berangkat ke sana,” perintah Damar.


“Siang ini. Secepat itu?” tanya Lolita kaget.


“Iya, lebih cepat lebih baik atau kamu ingin menanda tangani surat ini saja,” jawab Damar.


“Oh, tidak-tidak, saya akan pergi siang ini juga,” sahut Lolita.


Sial, dokter tua bangka itu memberikan pilihan yang sulit bagiku. Ha.. ini semua gara-gara Clarissa (batin Lolita).


***


Plak!!


Sebuah tamparan keras, kembali melayang ke pipi Clarissa.


“Benar-benar memalukan! Kau melakukan kesalahan lagi dan lagi,” bentak Robert setelah mendengar cerita dari Steven.


“Maaf, Opa aku menyesal. Aku tidak akan melakukannya lagi,” ucap Clarissa sambil bersujud di hadapan Opanya. Memohon belas kasihan pada pria tua yang telah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal.


“Robert,” Anna memanggil suaminya dengan nada lirih.

__ADS_1


“Damar, mengirimkan seseorang kepada kita. Dia bilang jika laki-laki itu adalah ayah kandung Clarissa,” ucap Anna dengan mata yang berkaca-kaca.


“Ayah kandung? Ayah kandung apa Oma? Bukan kah ayahku adalah Tony William, putra Opa dan Oma yang sudah meninggal?” tanya Clarissa bingung.


“Maaf, Clarissa. Sebenarnya kamu bukan cucu kami. Cucu kami yang lahir dari perut Ambar saat itu telah meninggal. Kami menukarnya denganmu hanya karena kami tidak ingin melihat Ambar lebih terpukul mengetahui bayinya meninggal setelah dirinya kehilangan suaminya. Sementara ibumu sendiri telah meninggal setelah kamu lahir dan kami sama sekali tidak tahu tentang keluargamu,” jelas Robert.


“Bohong!! Itu bohong, itu pasti bohong! Opa pasti bohong kepadaku kan? Iya kan, Oma?” tanya Clarissa tidak terima. Ia mengguncangkan tubuh Anna yang sedari tadi hanya terdiam dan mulai menitikkan air matanya.


“Aku tidak berbohong padamu Clarissa. Kamu bisa menanyakan kebenarannya pada Dokter Damar karena almarhumah istrinyalah yang telah membantu proses persalinan ibumu dan juga menantu kami Ambar,” kata Robert.


“Sebenarnya setelah Ambar meninggal karena sakit yang dideritanya, kami ingin menceritakan kebenaran ini kepadamu. Tapi, kami tidak tega sampai Damar memberitahu kami bahwa ayah kandungmu selama ini mencarimu. Sekarang dia ada di depan, Nak. Temuilah dia! Istrinya adalah TKW yang bekerja di negara R yang tak lain adalah ibu kandungmu,” ucap Anna saat tangisnya sudah mulai mereda.


Setelah mendengar ucapan Oma Anna, Clarissa berjalan ke ruang depan. Ia mencari sosok laki-laki yang dimaksud oleh Opa Robert dan Oma Anna.


Betapa terkejutnya Clarissa, saat melihat laki-laki yang ditemuinya berpakaian lusuh dengan wajah tak terurus. Di lehernya, melingkar sebuah handuk kecil yang mungkin dipakainya untuk menyeka keringatnya. Dari bau badannya tercium aroma bakso yang sekilas saja bisa ditebak profesi laki-laki itu.


Ya Tuhan, ayah kandungku ini seorang penjual bakso? Yang benar saja (batin Clarissa).


Laki-laki itu mendekat ke arah Clarissa. Lalu tanpa aba-aba, ia memeluk Clarissa dengan erat dan...


Pluk


Clarissa pun jatuh pingsan dalam pelukan laki-laki itu. Entah karena rasa mual dari aroma bakso yang keluar dari badan laki-laki itu atau karena syok mengetahui bahwa ternyata seorang Clarissa Anna William yang begitu sombong dan angkuh hanyalah seorang anak penjual bakso.


***


Kanaya akhirnya mau menerima Bella sebagai cucu menantunya. Ia juga tak akan memaksa Dilla untuk menikah dengan Steven. Mungkin, keinginannya dan almarhum suaminya untuk berbesan dengan keluarga William memang sudah tak mungkin lagi menjadi kenyataan.


Kanaya sudah tak mau lagi menyakiti orang-orang yang disayanginya. Oleh karena itu, Diana merasa semua sudah selesai. Harapannya saat ini untuk melihat kebahagiaan putra angkatnya telah menjadi kenyataan. Tugasnya di rumah itu sudah berakhir.


“Diana,” Han tiba-tiba saja datang menahan tangan Diana. Matanya berkaca-kaca saat menatap wajah cantik Diana.


“Jangan pergi!” ucap Han lirih.


“Kau tidak perlu menahanku lagi, Han. Aku lelah dan aku menyerah,” ucap Diana.


“Tidak, kau tidak boleh menyerah,” sahut Han lalu memeluk Diana. Pelukan yang selama ini tak pernah Diana rasakan dan itu membuat air mata Diana jatuh tak tertahankan.


“Aku pernah begitu bodoh, melepas wanita yang begitu tulus mencintaiku hingga membuatnya menderita bahkan di akhir kematiannya. Dan aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Aku tak akan melepaskanmu. Kita mulai segalanya dari awal. Tetaplah menjadi istriku Diana,” pinta Han sambil menatap wajah cantik istrinya.


Diana yang mendengar ucapan Han benar-benar merasa bahagia. Penantiannya selama ini akhirnya berbuah manis. Suaminya kini telah membuka hatinya. Ia berharap keputusannya untuk tetap berada di samping Han adalah keputusan yang tepat.

__ADS_1


“Senang sekali melihat kalian berdua bisa seperti ini,” ucap Nenek Kanaya yang datang ke bersama Dilla. Mereka tersenyum melihat keharmonisan antara Han dengan Diana.


“Nenek, Paman, Tante gawat,” teriak Steven dari luar kamar.


Wajahnya tampak pucat setelah menerima telepon dari Lim. Membuat Kanaya, Han, Diana, dan juga Dilla datang menghampirinya.


“Ada apa Steven? Kenapa kau tiba-tiba berteriak seperti itu?” tanya Nenek Kanaya dengan suara tegasnya.


“Ini gawat, Nek. Aku baru saja mendengar kabar dari Lim kalau Bella masuk rumah sakit,”


“Apa?” teriak Nenek Kanaya, Han, Diana, dan Dilla secara bersamaan. Mereka tampak terkejut mendengar berita dari Steven.


“Apa yang terjadi? Bagaimana Bella bisa masuk rumah sakit? Di mana David?” tanya Diana cemas.


“Diana, tenanglah. Biarkan Steven menyelesaikan ucapannya,” sahut Han menenangkan istrinya.


“Maaf, Tante, Paman, aku juga tidak tahu persis ceritanya karena telepon Lim tiba-tiba terputus,” ucap Steven.


“Sudahlah, sebaiknya sekarang juga kita ke rumah sakit. Kita lihat bagaimana keadaan Bella sekarang. Mudah-mudahan dia baik-baik saja,” ucap Kanaya karena tidak ingin banyak menduga-duga.


Mereka pun kini bersiap ke rumah sakit. Namun, tiba-tiba ponsel Kanaya berbunyi.


“Ada apa, Anna?” tanya Kanaya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


“Aku ingin berbicara denganmu dan juga Steven. Apa cucuku sekarang ada di sana?” tanya Anna.


“Maaf, Anna. Dia memang ada bersamaku, tapi sekarang kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit karena kami baru saja mendengar kalau Bella masuk rumah sakit,"


“Bella? Tunangannya David? Eh, maksudku istrinya David? Ada apa dengannya? “ tanya Anna yang entah kenapa perasaannya juga ikut merasa cemas setelah mendengar kabar itu.


“Aku juga tidak tahu Anna. Itu sebabnya aku segera pergi ke rumah sakit. Mudah-mudahan dia baik-baik saja,” jawab Kanaya.


“Kalau begitu aku dan Robert juga akan ke sana,” sahut Anna.


“Baiklah, kita bertemu di sana saja,” ucap Kanaya sebelum mengakhiri teleponnya.


Kanaya, Dilla, Diana, Han, dan juga Steven segera berangkat menuju rumah sakit.


***


Bersambung

__ADS_1


Penasaran dengan apa yang terjadi pada Bella?


Like dulu cerita ini ya.. sebelum kita lanjut lagi ceritanya..


__ADS_2