Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 53 Tantangan


__ADS_3

Sambil tak henti mengunyah permen karet di mulutnya, Bella memandang ke arah gedung yang menjulang tinggi bertuliskan “EG Company”. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa gedung yang kini tengah berada di hadapannya adalah gedung yang sama dengan yang dimaksud Sekretaris Lim. Gedung perusahaan pusat milik keluarga David yang berkembang pesat di kota B, di mana David Erlangga sebagai CEO di perusahaan tersebut.


“Apakah ini gedung yang dimaksud sekretaris itu? Besar juga ya? Lebih besar dari ABC Company” gumamnya.


Bella menepikan motornya sebentar sebelum ia benar-benar memasuki gedung tersebut.


“Sebaiknya aku telepon sekretaris itu dulu. Aku gak mau nanti malah diusir sama sekuriti atau resepsionis yang bekerja di perusahaannya seperti dalam komik-komik yang pernah kubaca,”


Bella mengeluarkan ponselnya.


“Aih, aku lupa mengisi pulsa,” gumamnya saat disadari pulsa atau kuota data di ponselnya sudah habis.


“Sudahlah, nekat saja. Diusir ya, tinggal diusir,” Setelah bergumam Bella kembali melajukan motornya yang sempat terhenti, memasuki gerbang besar tersebut.


Tet tet tet


Suara klakson memekakkan gendang telinga para sekuriti yang berjaga di gerbang utama gedung tersebut. Membuat salah satu sekuriti yang ada dalam pos penjagaan kaget hingga terbatuk karena tersedak saat meminum kopi hitamnya.


“Uhuk, uhuk, siapa sih berisik banget!” keluhnya.


“Kayaknya itu tunangan Bos David deh,” sahut rekannya.


“Tunangan Bos David, bar bar amat,”


“Yah, emang lu kagak denger apa yang disampein pas apel tadi?” tanya sekuriti bernama Parman pada rekannya yang bernama Beno.


“Emang apa, bro? Gue lupa,”


“Dasar pikun lu! Udah, ah, kita bukain gerbangnya dulu! Bisa pecah nih telinga kalau gak buru-buru dibukain,” membuka pintu gerbang. Lalu menghampiri Bella.


“Anda Nona Bella ya?” tanya Parman.


Bella membuka kaca helmnya.


“Iya,” jawabnya.


“Kalau begitu silakan Nona ke gedung utama! Bos David dan Sekretaris Lim telah menunggu Anda di kantornya,” sahut Parman sambil menunjuk salah satu gedung yang ada di bagian paling depan area perusahaan itu.


“Ok, makasih Pak, ” sahut Bella menutup kembali kaca helm dan melajukan motornya memasuki gedung tersebut.


“Lu beneran kagak salah, Man? Yang di motor itu beneran tunangannya Bos David?” tanya Beno ragu.


“Beneran, kagak bakal salah gue. Lihat nih plat nomor motornya, sama kan?” sahut Parman menunjukkan plat nomor motor yang diberikan kepala sekuriti saat apel tadi pagi.

__ADS_1


"Iya, benar juga," sahut Beno saat melihat nomor plat motor yang ditujukan Parman sama seperti nomor plat motor yang sekarang melaju di depannya.


Rupanya Sekretaris Lim memang sudah memperkirakan hal tersebut. Itulah sebabnya sebelum kedatangan Bella, Sekretaris Lim telah memberitahukan bagian keamanan dan resepsionis tentang perihal kedatangan Bella beserta ciri-ciri tentangnya.


Setelah memarkirkan motornya, Bella memasuki gedung yang tadi ditunjuk oleh sekuriti yang menjaga gerbang utama. Dengan tetap memakai jaket lusuhnya, dan membawa sebuah kantong keresek putih yang berisi nasi goreng petai buatan sang Neni, Bella berjalan dengan santai.


Sesekali sebuah gelembung permen karet, keluar dari mulutnya. Membuat semua orang yang berada dalam gedung tersebut tampak memperhatikannya.


“Siapa dia? Kumuh sekali,” ucap Alin, salah satu resepsionis yang berada di lantai bawah gedung tersebut.


“Apa dia tunangannya Bos David?" sahut resepsionis lainnya yang bernama Vina.


“Ah, tidak mungkin. Aku lihat sendiri kok bagaimana wajah tunangannya Bos David di acara siaran langsung waktu itu. Tunangannya itu sangat jelek,”


“Masa sih? Kamu yakin? Bagaimana kalau memang dia?" ucap Vina sedikit ragu dengan apa yang disampaikan oleh temannya.


“Ya sudah, kalau begitu kita tanyakan saja dulu. Dari pada kita salah, bisa-bisa pekerjaan kita yang kena imbasnya,” sahut Alin.


“Maaf, Mba. Anda ingin bertemu dengan siapa?” ucap Vina ramah.


“Saya mau ketemu Bos kalian, David,” jawaban singkat Bella sontak membuat Alin dan Vina terpaku dan membuat keduanya saling memandang satu dengan yang lain.


“Oh, Anda Nona Bella ya?" dijawab dengan anggukkan kepala oleh Bella.


“Oke, baiklah, terima kasih,” memberikan jempol, lalu melangkahkan kakinya mengikuti arah yang ditunjukkan Alin.


Setelah kepergian Bella, Alin dan Vina menghela nafas lega.


“Ha, untunglah kita tidak mengusir dia. Kalau tidak bisa celaka kita, terkena murka gunung es,” ucap Vina.


“Benar, Vin, aku tidak menyangka kalau tunangannya Bos David secantik itu, meskipun wajahnya polos tanpa make-up dan pakaiannya begitu kumuh. Tapi, aku akui dia memang lebih cantik dariku,” sahut Alin.


“Hmm, gak pakai make up dan dandan asal-asalan saja bisa secantik itu. Gimana kalau dia pakai make up,” ucap Vina menyetujui ucapan Alin.


“Yah.. sepertinya kita akan patah hati bersama, ha..,” sahut Alin menghela nafas bersama.


***


Ini baru pertama kali Bella menaiki lift. Meski sudah beberapa kali ke gedung perkantoran, namun biasanya ia hanya melewati anak tangga saja. Hanya kali ini Bella terpaksa memilih naik lift, mengingat keberadaan David ada di lantai 101.


“Whoaa, ternyata seperti ini rasanya naik lift. Cukup menegangkan,” Bella memegang dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang berdebar selama dalam lift, sesaat setelah pintu lift terbuka dengan sendirinya, menandakan kalau Bella sudah sampai ke tempat tujuan.


Dia mulai menyusuri jalan, mencari ruangan milik David berada.

__ADS_1


“Hei, sedang apa kamu di sini?” suara ketus seorang wanita mendekati Bella.


“Kalau mau mengantarkan makanan cukup di bagian resepsionis saja, tidak perlu dibawa sampai ke sini. Apalagi hanya makanan dalam keresek seperti ini. Sepertinya kamu juga sudah salah lantai,” ucap wanita berbadan tinggi ramping menghadang Bella.


“Maaf, Nona, saya bukan petugas pengantar makanan. Saya ke sini untuk menemui tunangan saya,” jawab Bella.


“Tunangan??” sahut wanita itu memperhatikan Bella dari atas sampai bawah.


“Hei, kamu tahu tidak? Orang-orang yang ada di lantai ini adalah para petinggi perusahaan. Jadi tidak mungkin mereka punya tunangan gembel macam kamu,” ucap wanita itu dengan nada penuh penghinaan.


“Oh ya? Kamu berani bertaruh?” tantang Bella.


“Ha ha ha, gembel seperti kamu berani bertaruh? Mau taruhan apa?” ejek wanita itu dengan nada semakin meninggi membuat para staf direksi yang berada di lantai tersebut mengalihkan pandangannya ke arah Bella dan wanita itu berada.


Bella memperhatikan lawannya dengan seksama. Cantik. Sayangnya begitu sombong. Itu kesan pertama dalam pikiran Bella. Kemudian, pandangannya ia alihkan pada name tag yang terpasang di pakaian wanita itu.


“Oh, jadi nama kamu Amanda, direktur bagian pemasaran di perusahaan ini. Kalau begitu dengarkan baik-baik Nona Amanda. Sepertinya kali ini posisi kamu tidak akan aman seperti nama kamu Aman-Da,” ucap Bella dengan nada yang sama meremehkannya.


“Oh ya? Kalau begitu kamu mau bertaruh apa denganku gadis gembel?” tantang Amanda.


“Sebaiknya sebelum aku mengatakan taruhannya, kamu sebutkan dulu apa hukuman dan hadiahnya?” tanya Bella.


Amanda melihat ke sekeliling. Sebuah senyum mengembang dari sudut bibirnya.


“Baiklah, kalau kau menang aku akan memberikan satu permintaanmu. Apa pun itu. Tapi, jika kau kalah, kau pun harus memberikan apa pun permintaanku,” jawab Amanda.


“Baiklah, sepakat,” sahut Bella.


“Sekarang katakan apa yang ingin kau lakukan?” tanya Amanda.


Bella kemudian berpikir sejenak, ia benar-benar ingin memberikan pelajaran pada wanita sombong yang ada di hadapannya itu. Senyumnya terangkat saat sebuah ide muncul dalam benaknya.


***


Bersambung


Kira-kira apakah ide yang muncul dalam benak Bella?


Mampukah ia memenangkan pertaruhan kali ini?


Nantikan kelanjutan ceritanya ya...


Jangan lupa selalu beri dukungan kepada author dengan memberikan like dan votenya serta tetap menjadikan karya ini favoritmu ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih semuanya 🙏🙏🙏


__ADS_2