Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 98 Tiga Keinginan


__ADS_3

David dan Lim masih saja tersenyum mengingat kejadian yang baru saja mereka alami. Sungguh mereka sama sekali tak menyangka bahwa Bella akan membawa mereka ke gedung itu. Meski sebenarnya, Lim sudah sempat menebak tempat itu hanya saja ia ragu bahwa mereka benar-benar akan diarahkan ke tempat yang ia pikirkan.


Dilla, kau cukup iseng juga ya sampai bisa mengerjai temanmu seperti itu. Aku tak menyangka gadis pendiam sepertimu punya sisi seperti ini dan lebih tidak menyangka jika kemungkinan besar kalau kau adalah putri dari keluarga Erlangga. Itu artinya kamu dan Bos yang ada di belakangku ini masih bersaudara (batin Lim)


“Bella, sudahlah lupakan kejadian tadi. Aku merasa tidak nyaman jika kau hanya diam saja seperti ini,” kata David sambil memegang tangan Bella.


“Apaan sih pegang-pegang! Jangan suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ya Bos,” sahut Bella galak sambil menepis tangan David.


Gak tahu apa kalau kau terus memegang tanganku seperti tadi penyakit jantungku bisa kumat lagi (ucap Bella dalam hatinya)


Mendengar ucapan Bella, David bukannya marah ia malah tersenyum dan mengulang kembali perbuatannya.


“Iiih, ni orang rese ya,” gerutu Bella lalu menggigit tangan David yang memegang tangannya.


“Aww, kau ini kanibal ya? Bisa-bisanya kau mengigit tanganku,” bentak David.


“Salahmu sendiri, wek..,” sahut Bella sambil menjulurkan lidahnya.


“Sudah dibilang jangan pegang-pegang masih juga pegang-pegang,”


“Kau ini, aku memegang tanganmu agar suasana hatimu bisa seperti sedia kala dan tidak terus menerus terdiam seperti tadi,” ucap David.


“Oh ya? Jadi kau mau aku itu seperti apa? Apa aku harus bernyanyi, menjerit, memohon.. David nikahilah aku. Begitu?” sahut Bella dengan mata yang mulai sembab.


Sebenarnya Bella merasa sangat malu dengan kejadian hari ini, ia merutuki kebodohannya sendiri.


David yang melihat mata Bella yang mulai sembab merasa bersalah.


“Apa kau menangis? Sudahlah maafkan aku. Aku tak akan mengulanginya lagi, jadi berhentilah menangis,” pinta David.


“Siapa yang menangis? Aku hanya kelilipan saja,” sahut Bella mengelak. Ia segera menyeka cairan bening yang mulai muncul di kedua pelupuk matanya.


“Cih, pembohong!” ucapnya selirih mungkin agar tak terdengar oleh Bella.


Kali ini David memutuskan untuk mendiamkannya saja, ia tidak ingin suasana hati Bella semakin memburuk. Mungkin memang saat ini, gadis ini sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya yang tampak kacau akibat kejahilan temannya. Namun, David yakin sebentar lagi suasana hatinya akan kembali seperti sedia kala.


Sementara itu, mobil yang dikemudikan Lim terus meluncur membelah jalanan. Tak sampai setengah jam, mereka sudah sampai di rumah Neni.


Neni sudah bersiap menunggu mereka di teras depan rumahnya. Dengan berbagai atribut yang hendak dibawa pergi bersamanya.


“Apa ini Neni kita kan ke sana hanya sebentar?” tanya David saat melihat deretan tas besar yang sudah berjejer menanti untuk diangkat.


“Oh, tas-tas ini isinya oleh-oleh untuk semua tetanggaku di kampung, karena sudah sekitar 19 tahun kami tidak pulang ke sana,” jawab Neni.


David memberikan isyarat agar Lim membantu Neni memasukan barang bawaannya ke bagasi mobil.


“Bella, mana?” tanya Neni yang merasa heran karena sedari tadi tak melihat cucu kesayangannya itu.


“Dia ada di dalam mobil, Neni. Ketiduran,” jawab David.


“Aih, anak itu kebiasaan sekali. Enggak di mana-mana kerjaannya cuma tidur terus,” keluh Neni.


Memang benar apa yang dikatakan Neni, David pun sudah sering melihat Bella yang sering tertidur di mana-mana.


“Hey, kau duduk di depan saja! Biar aku yang di belakang bersama Bella,” protes Neni saat melihat David hendak kembali duduk di belakang.


“Nanti kau macam-macam lagi dengan cucuku di belakang,” gumam Neni saat masuk ke dalam mobil.


David hanya terdiam karena memang yang dikatakan Neni benar adanya. Ia sering kali tergoda saat melihat Bella tidur seperti itu. Andai saja Lim tidak berada di mobil, mungkin kejadian malam itu akan terulang kembali.


Bella yang mendengar suara ribut-ribut mulai mengerjapkan matanya. Dilihatnya Neni tercinta kini sudah duduk di sebelahnya.


“Hoam, Neni, kau sudah di sini rupanya,” sahut Bella dengan mata yang masih separuh terpejam.


“Bella, kapan kau akan mengubah kebiasaanmu? Sudah mau menikah sifat pemalasmu masih juga tidak kau hilangkan,” ucap Neni.


“Menikah? Memang siapa yang mau menikah, Neni?” tanya Bella.

__ADS_1


“Tentu saja kau Bella. Kau kan sekarang sudah bertunangan itu artinya sebentar lagi kalian akan menikah. Apalagi kalian... Ah, iya, Neni jadi ingat,” ucap Neni lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya.


“Bella, kau minumlah ini,” bisik Neni menyerahkan satu kaplet pil kepada Bella.


Bella yang menerima pil itu langsung membuka matanya lebar-lebar saat membaca tulisan yang ada di pil itu.


“Apa ini Neni?” bergidik ngeri lalu spontan melempar pil itu ke sembarang arah.


“Maksud Neni apa memberikan pil semacam ini?” tanya Bella geram karena yang diberikan Neni adalah pil kontrasepsi.


Sedangkan David tersenyum saat membaca kemasan pil yang terjatuh di dekatnya.


“Itu untuk antisipasi karena kalian kan sudah...,” ucap Neni menggantung.


“Neni!!!! Kenapa Neni bisa begitu saja percaya pada ucapan David sih? David, coba kau jelaskan! Kesalahpahaman ini gara-gara kau kan,” teriak Bella kesan.


“Neni sebenarnya kemarin itu aku hanya ingin mengerjai cucu Neni yang sudah begitu berani masuk ke dalam kamarku. Jadi aku berkata seperti itu kepada Neni kemarin, maaf,”


Penjelasan David menimbulkan kelegaan di hati Neni yang sebenarnya sedari pagi tidak tenang memikirkan Bella.


“Jadi kalian tidak melakukan itu?” tanya Neni memastikan.


“Tentu saja, Neni. Aku kan pernah bilang sama Neni, senakal-nakalnya aku, aku tidak akan merusak kehormatan Neni,” jawab Bella.


David tersenyum mendengar jawaban Bella karena semua jawabannya sesuai perkiraan David bahwa gadis itu tidak pernah melakukan perbuatan di luar batas.


“Syukurlah, Neni sangat lega. Tapi, kau tetap saja gadis yang nakal,” menarik telinga Bella.


“Bisa-bisanya kau masuk ke dalam kamar pria lajang. Untungnya calon cucu mantuku pria yang baik. Kalau tidak, bukan tidak mungkin hal yang Neni khawatirkan bisa benar-benar terjadi,” omel Neni.


Cih, baik apanya. Neni tidak tahu saja kalau laki-laki mesum ini sering sekali menindasku (ucap Bella dalam hati).


David yang melihat Neni menegur cucunya hanya tersenyum karena merasa Neni sudah berpihak kepadanya.


***


Bella, David, Lim, dan Neni akhirnya sampai ke tempat tujuan mereka. Disambut semilir angin yang berhembus kencang, menyapa wajah-wajah yang sudah cukup lama merindukan tempat itu. Tempat yang di dalamnya tersimpan sejuta kenangan yang tak akan pernah bisa dilupakan Bella dan Neninya.


“Ternyata tempat kelahiranmu sangat indah,” kata David saat melihat pemandangan yang masih begitu asri di tanah kelahiran Bella.


Kampung Pelangi merupakan kampung yang berada di sepanjang pesisir Pantai Indah Pelangi. Pantai yang belum banyak terjamah oleh para pengunjung sehingga warna air lautnya pun masih alami.


“David, kau tentu tidak lupa dengan maksud kedatanganmu ke tempat ini kan?” tanya Neni melihat ke arah David.


“Tentu Neni aku tidak akan lupa. Tujuanku kemari karena ingin memenuhi syarat yang diminta oleh Neni yaitu mengabulkan tiga keinginan almarhumah ibunya Bella sebelum meninggal,”


“Bagus kalau begitu, sekarang ikut aku,” ajak Neni. Mereka berjalan hingga sampai di sebuah pondok sederhana.


“Neni, akhirnya pulang. Kirain enggak bakal pulang-pulang sampai Teteh Bella menikah,” ucap wanita paruh baya saat berpapasan dengan Neni.


“Eh, ini teh siapa Neni? Calonnya Teteh Bella ya.. MasyaAllah, kasep kacida (tampan sekali). Jika artis, cucok lah sama Teteh Bella mah,” melihat ke arah David yang hanya tersenyum karena tidak terlalu paham dengan bahasa yang mereka ucapkan.


“Muhun Nyai, hatur nuhun tos babantu bersih-bersih di dieu salami kuring cicing di Kota B (Benar, Nyai. Terima kasih sudah bantu-bantu di sini selama saya tinggal di Kota B)”


“Ah, Neni mah jiga ka saha wae (Ah, Neni, seperti sama siapa saja)”


David melirik ke arah Lim, sedangkan Lim yang paham arti isyarat David hanya berkata,”translate di bawah ini.”


Neni terus mengobrol dengan kenalannya itu hingga melupakan tiga orang yang ikut bersamanya. Bahkan, Bella sampai tertidur di losbang yang ada di depan pondok rumahnya.


“Nah, ini oleh-oleh tolong dibagikan sama semua tetangga yang ada di sini ya,” ucap Neni mengakhiri pembicaraannya dengan tetangganya itu sambil menyerahkan beberapa bungkusan yang tersimpan di dalam tas yang dibawanya.


“Hatur nuhun, Neni. Ulah hilapnya undang-undang lamun Teteh Bella nikah (Terima kasih Neni, jangan lupa undang-undang ya, kalau Teteh Bella nikah)” sahut si wanita tadi sebelum meninggalkan mereka.


“Aduh, maaf ya... Neni lupa kalau ada kalian. Eh, Bella mana?”


“Tuh,” menunjuk Bella yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


“Ya ampun, anak ini,” sahut Neni menepuk jidatnya.


Lalu Neni pun mengeluarkan jurus andalannya.


“Bella!!!” teriak Neni yang langsung membangunkan Bella.


“Kau ini. Masih belum cukup kah kau tidur tadi?”


“Belum Neni dan sekarang aku lapar,” jawab Bella polos.


“Aih, kau ini. Untung saja, sebelumnya Neni membawa makanan dari rumah. Kalau begitu cuci tanganmu dulu, kita makan bersama,” ajak Neni.


***


Setelah David dan Lim selesai makan dan beristirahat sebentar, Neni pun akhirnya mengungkapkan tiga keinginan ibunya Bella yang ia jadikan syarat untuk David bisa mengajak Bella tinggal di rumahnya.


“Masyarakat yang tinggal di daerah ini kebanyakan adalah orang miskin. Jadi keinginan pertama yang harus kau penuhi adalah memberikan sembako gratis kepada 100 rumah yang ada di wilayah ini,”


“Oke, itu tak masalah. Lim!” panggil David dan Dewi.


“Baik, Bos, sembako akan segera sampai d


an dibagikan ke 100 rumah yang ada di wilayah ini,”


“Lalu yang kedua?”


“Ibunya Bella pernah berkata jika ia punya uang yang banyak maka ia ingin sekali memberikan saweran sebesar 5 juta rupiah kepada seluruh warga di sini,”


“Lim!”


“Siap Bos, akan saya kumpulkan seluruh warga di lapangan pantai dan memberikan saweran kepada mereka,”


Tidak kusangka ternyata syaratnya akan semudah ini (pikir David)


“Lalu yang ketiga?”


“Ibunya Bella sangat suka menghibur warga di sini. Jadi keinginannya yang ketiga dan belum sempat terkabul di tempat ini adalah mengadakan sebuah pertunjukan untuk warga di sini,”


“Pertunjukan? Pertunjukan apa maksud Neni?” tanya David penasaran, entah mengapa ia merasa syarat ketiga ini akan cukup menyusahkannya.


“Konser dangdut misalnya,”


“Apa???!” sahut David dan Lim bersamaan.


“Dangdut?” Kini mereka berdua saling memandang satu dengan yang lain.


Ya Tuhan, sungguh menggelikan membayangkan si Bos menyanyikan lagu dangdut. Pakai goyang itik atau goyang ngebor ya? He he.. ( pikir Lim)


“Neni, siapa yang akan mengadakan konser dangdut??” tanya Bella yang baru saja selesai mencuci piring-piring kotor bekas makan mereka.


“David,” jawab Neni singkat.


“Tidak, tidak, aku belum menyetujuinya Neni,” sahut David panik.


“Kalau begitu pertunjukan apa yang akan kau mainkan untuk menghibur warga di sini?” tanya Neni.


“Bagaimana kalau aku bernyanyi dan bermain gitar akustik saja? Bagaimana? Bukan kah itu sama saja?” tawar David.


“Baiklah, tak masalah selama kau sendiri yang melakukannya,” jawab Neni.


“Memang kau bisa bernyanyi lagu apa?” tanya Bella menyepelekan.


“Kau lihat saja nanti,” jawab David tersenyum senang karena merasa inilah momen yang pas untuk David menyatakan perasaannya pada Bella.


***


Bersambung

__ADS_1


Spoiler cerita selanjutnya: David akan menyatakan perasaannya pada Bella. Kira-kira diterima atau ditolak ya?


Nantikan terus kelanjutan ceritanya dan tetap berikan author dukungan dengan memberikan like, vote, dan komen positifnya serta menjadikan karya ini favorit kalian. Terima kasih.😍😍😍


__ADS_2