
Semua yang terjadi hari ini seperti mimpi bagi Bella, betapa tidak. Sore ini, David tiba-tiba menyatakan cinta kepadanya dan mengakhiri perjanjian yang pernah mereka sepakati dan malam ini tiba-tiba saja, gara-gara perbuatan David, Neni memaksa mereka untuk segera menikah.
Tentu saja Bella sempat menolak itu mati-matian. Namun, Neni tetap memaksa dan mengancam akan bunuh diri jika Bella tak mau melakukannya.
Hah, ini semua gara-gara David (batin Bella jengkel)
Sejujurnya David memang tak sepenuhnya setuju akan hal ini, mengingat hingga saat ini ia masih belum mengantongi restu dari sang Nenek. Namun, ia juga bahagia karena itu artinya dengan adanya pernikahan ini wanita yang ia cintai, selamanya tidak akan bisa lepas darinya. Selain itu, ia juga dapat dengan bebas melakukan apa saja dengan wanitanya. Seperti saat ini ia terus saja menempel pada Bella, dan diam-diam terus menggerayangi tubuh gadisnya.
“David, diamlah! Kau tidak lihat sekarang kita berada di dalam mobil! Dan di depan kita masih ada Neni dan juga Lim,” ucap Bella lirih. Ia pun terus berusaha menjauhkan tangan David dari tubuhnya.
“Kau tadi panggil aku apa?” bisik David.
“David,” jawab Bella.
“Tidak, kau tidak boleh memanggilku nama. Mulai hari ini kau panggil aku ‘sayang’ dan kalau kau sampai melupakannya aku akan menghukummu,” ancam David yang masih terus saja menggerayangi Bella.
“Sayang, kumohon hentikan! Jika kau masih terus saja melakukannya, jangan salahkan aku jika aku mematahkan tanganmu,” ancam Bella gemas dengan nada lirih.
“Istriku ini masih saja galak dan itu membuatku semakin gemas karenanya,”
Cup
David langsung mencium pipi kanan Bella.
“David!!!” Bella yang gemas langsung mencubit perut David.
“Awww,” pekik David.
“Hey, kalian hentikanlah! Tidak lihat apa masih ada aku, Neni kalian, dan pria jomblo naas ini di depan kalian!” seru Neni yang membuat David dan Bella terdiam.
“David, kau tidak lupakan apa yang aku bilang kepadamu. Sebelum keluargamu benar-benar bisa menerima Bella, kalian harus merahasiakan pernikahan kalian pada keluargamu. Jadi, ingatlah untuk bersikap sewajarnya. Kau tidak boleh memperlihatkan statusmu di depan orang lain,” ucap Neni.
“Baiklah, Neni, tapi di saat kami hanya berdua tidak ada salahnya kan?” tanya David melirik Bella.
“Kalau itu terserah kau saja, toh Bella juga sudah jadi istrimu,” jawab Neni.
“Yes!!”
“Tapi ingat kau tidak boleh membuat Bella hamil dulu sampai misi kalian terselesaikan,” ucap Neni lagi.
David tak menjawab, ia hanya menggaruk kepalanya.
Kalau untuk itu sepertinya aku tidak bisa janji Neni (batin David)
Melihat ekspresi bosnya, dengan raut demikian membuat Lim bertanya-tanya.
Bos, apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak berpikir akan nekat melakukan itu malam ini juga kan (batin Lim).
“David, Neni berbicara denganmu. Kenapa kau tak memberikan respon apa pun?” tanya Bella yang seebnarnya menanti jawaban David.
Sungguh saat ini sebenarnya Bella benar-benar takut jika David diam-diam akan masuk ke dalam kamarnya dan meminta hak itu karena sejujurnya Bella belum benar-benar siap dengan itu.
Apalagi, ia baru saja mendengar kabar dari Dilla, jika malam ini Dilla akan menginap di rumah sakit, menemani Lusia. Karena tidak mungkin bagi Az yang saat ini juga sedang dirawat menemani putrinya. Sedangkan, dia sendiri perlu dirawat. Oleh karena itu, untuk malam ini Dilla menemani Lusia dan Ar menemani Az.
__ADS_1
***
Mobil Lim terus melaju hingga sampai di rumah Neni. Saat akan keluar, Neni kesulitan membuka pintu mobil dan itu membuat David bergegas keluar dan membukakan pintu mobil untuk nenek mertuanya tercinta.
“Terima kasih, David,” ucap Neni saat turun dari mobil.
“Sama-sama,” jawab David.
“David, tolong jagalah istrimu! Aku tahu cucuku itu sangat nakal tapi sebenarnya dia gadis yang baik,”
“Aku tahu itu Neni, tenang saja. Aku pasti akan menjaganya dengan sepenuh hati,”
“Baguslah dan aku harap kau juga masih ingat dengan janjimu untuk mencari keberadaan dari keluarga ayahnya Bella,” ucap Neni.
“Tentu, Neni, setelah aku mendapatkan petunjuk aku akan langsung memberikan kabarnya kepada Neni,”
“Semoga kita bisa menemukan mereka,” sahut Neni sebelum berpamitan dan masuk ke dalam rumahnya.
“Hoam,” Bella menguap saat David masuk kembali ke dalam mobil.
“Tidurlah, jika kau mengantuk!” seru David membelai lembut rambut Bella yang kini matanya telah separuh terpejam.
“Anda dan Nona Bella benar-benar akan kembali ke kediaman Erlangga malam ini, Bos?”
“Tentu saja, bukan kah Nenek hanya memberi waktu 1 x 24 jam?”
“Tapi ini sudah sangat larut, Bos,” ucap Lim.
“Biarkan saja, toh itu lebih baik. Apalagi jika mereka semua sudah tertidur karena itu berarti Bella tidak harus langsung bertemu dengan Nenek ataupun wanita ****** itu,” sahut Lim.
***
Sementara itu di rumah sakit, tampak Ar menghampiri Dilla di ruang rawat Lusia.
Ia melihat gadis itu telah terbaring di samping ranjang Lusia, Ar segera menyelimuti Dilla dengan selimut yang baru saja dibawanya. Membuat Dilla yang tadi tertidur, terusik karenanya.
“Ar, kau kemari?” tanya Dilla saat melihat Ar sudah berada di sampingnya.
“Iya, aku ingat di kamar ini hanya ada satu selimut milik Az yang biasa tidur di sini. Jadi aku mengambil selimut baru dari rumah.
“Terima kasih,” sahut Dilla yang merasa begitu senang dengan perhatian yang diberikan Ar kepadanya.
“Sama-sama. Lalu bagaimana dengan tesnya? Kau belum menceritakannya padaku,” ucap Ar yang teringat dengan kejadian tadi siang.
“Oh ya, aku lupa, sebelumnya terima kasih kau sudah mendaftarkan aku di tempat itu. Kau tahu Immperial Kampus adalah kampus ternama, selain aku bisa lulus lebih cepat. Kampus itu juga memiliki banyak fasilitas, tapi aku tidak yakin dengan kemampuanku ini,”
“Percayalah, kau gadis yang pintar. Aku yakin kau akan diterima di sana dan impianmu untuk menjadi seorang dokter akan segera terwujud,” ucap Ar.
“Terima kasih Ar, kau selalu mendukungku,” sahut Dilla.
Ar, kau benar-benar laki-laki yang baik. Aku sungguh beruntung bisa mengenalmu. Aku akan berusaha agar tak mengecewakan kepercayaanmu. Setidaknya dengan begini, meskipun selamanya ayah tidak akan mengenaliku dan keluarga Erlangga tidak mengakuiku, aku akan tetap merasa layak berada di sisimu (batin Dilla).
“Dilla, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu,” ucap Ar sambil meraih tangan Dilla.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Dilla penasaran.
“Emmm, sebenarnya, aku sudah lama sekali ingin mmebicarakan ini denganmu,”
“Membicarakan apa? Katakanlah,” pinta Dilla.
“Apa kau mendengarnya?” tanya Ar saat meletakkan tangan Dilla di dadanya.
Ada debaran jantung yang berdetak semakin kencang, membuat jantung Dilla juga ikut bermain merasakan debaran itu.
“Apa maksud dari semua ini Ar?” tanya Dilla berpura-pura tak mengerti.
“Kau bukan gadis bodoh Dilla, kau pasti mengerti maksudku ini kan?” tanya balik Ar.
“Tapi aku sungguh tak mengerti Ar,” sahut Dilla masih berpura-pura bodoh.
“Lihat mataku, buka telingamu, dan dengarkan ini baik-baik,” ucap Ar sambil menatap wajah Dilla lekat.
Dilla yang merasakan tatapan mata Ar, merasa saat ini jantungnya seperti melompat keluar dari tubuhnya.
Apa yang ingin Ar katakan? (batin Dilla).
“Dilla, sejak pertama kali bertemu denganmu. Aku merasa ada debaran aneh yang terasa di sini,” ucap Ar menunjuk jantungnya.
“Semakin lama debaran itu semakin kencang setiap kali kita berjumpa, terutama saat melihatmu tersenyum,”
Meskipun, kalimat itu bukan larik puisi romantis yang diungkapkan Ar, melainkan kalimat lugas. Namun, entah mengapa kalimat itu terasa sangat indah didengar Dilla.
“Dan sekarang aku benar-benar yakin, debaran itu ingin berbicara kepadaku bahwa aku mencintaimu,” ucap Ar lembut.
Kalimat itu kini menjadi kalimat teromantis yang pernah didengar Dilla seumur hidupnya. Apalagi, laki-laki yang mengungkapkannya adalah laki-laki yang selama ini memiliki tempat tersendiri dalam hidupnya. Laki-laki sempurna, tampan, baik, dan penuh perhatian.
Tanpa sadar air mata mengalir membasahi wajah manis Dilla.
“Kau kenapa? Kenapa kau menangis?” tanya Ar mengusap air mata yang ada di wajah Dilla.
“Aku menangis karena aku terharu. Aku tidak menyangka bahwa perasaanku padamu tidak bertepuk sebelah tangan,” jawab Dilla yang kini menggenggam tangan Ar.
“Maksudmu apa itu artinya kalau kau...,”
“Iya, aku juga mencintaimu Ar,” jawab Dilla yang langsung memeluk Ar.
Kedua insan itu kini berpelukan, Damar yang sebelumnya hendak masuk ke ruang rawat cucunya mengurungkan niatnya. Ada rasa bahagia melihat putra bungsunya kini telah memiliki kebahagiaannya. Kini dia hanya perlu menantikan kebahagiaan di mata putra tertuanya.
***
Bersambung
Apa yang akan dialami Bella saat Bella tinggal di rumah David?
Akankah Bella dan Dilla bisa meraih kebahagiaan mereka?
Penasaran? Nantikan kisah mereka di episode selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan kepada karya author melalui like, komentar, dan votenya ya.. serta jadikan karya ini favorit kalian. Terima kasih....