Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 114 Keberhasilan David


__ADS_3

Dari kursi penonton Robert tampak menikmati pertandingan balap yang dilakukan David dan teman-temannya. Pandangannya kini terfokus pada Bella yang sedari awal bertemu telah menarik perhatiannya. Ada kesan familiar saat bertemu dengannya. Padahal Robert sangat yakin bahwa ini adalah pertemuan pertama baginya berjumpa dengan Bella.


“Gadis yang hebat. Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa wajahnya nampak tidak asing bagiku? Padahal aku yakin, aku baru kali ini bertemu dengannya,” gumam Opa Robert.


Untuk mengusir rasa penasarannya, Opa Robert berniat menghampiri mereka. Namun kedatangan Devan, yang ingin membahas lebih lanjut masalah yang selama ini terjadi di Sirkuit Labora, membuat Opa Robert mengurungkan niatnya untuk menemui Bella.


***


Sementara di sana, David masih tampak kesal dengan apa yang baru saja dilakukan Bella kepadanya. Ia bangkit, lalu berjalan menjauh dari arena itu dengan wajah dingin.


Bella yang merasa bahwa perbuatannya kali ini agak keterlaluan bergegas mengejar David.


“David, kau marah?” David terdiam tak menjawab.


“Sayang, kau marah?” tanya Bella lagi, namun David masih saja diam dan terus melangkah menjauh dari Bella.


“Sayang....,” panggil Bella yang juga tak mendapat respon dari David. Lalu Bella memeluk David dari belakang. Ia mencoba menahan David agar tak melangkah lebih jauh lagi dan mau mendengarkan penjelasannya.


“Sayang, maafkan aku. Aku melakukan itu karena kau duluan yang menipuku,” ucap Bella menyandarkan kepalanya di punggung David saat David menghentikan langkahnya.


“Kau tahu aku tadi sangat khawatir. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayang lagi. Tapi kau malah menipuku,” ucap Bella sebal saat mengingat kalau dugaan Ar tentang kebohongan David itu benar.


“Eh, kenapa jadi aku yang minta maaf?” ucap Bella saat tersadar ada yang salah dengan ini. Ia pun melepaskan pelukannya dari David.


“Kau kan memang pantas mendapatkan itu,” gerutu Bella yang kemudian berbalik menjauh dari David.


Namun, belum jauh Bella melangkah, David langsung menarik tubuh Bella hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Hey," seru David saat menarik tubuh Bella.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, David langsung mencium bibir merah istrinya yang tadi tak berhasil didapatkannya.


“David, kau curang!” sahut Bella mendorong tubuh David.


David tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Itu hukuman atas ulahmu barusan.”


“Mana bisa begitu. Siapa suruh kau tadi berpura-pura?”


“Kalau aku tidak berpura-pura. Aku tidak akan pernah tahu perasaanmu yang sesungguhnya kepadaku,” jawab David menatap Bella lembut.


***


Dari jauh Az yang melihat itu merasa kesal dengan apa yang dilakukan David kepada Bella hingga membuat tangannya terkepal.

__ADS_1


“O-ow, hebat sekali si David itu. Bisa-bisanya dia bermesraan dengan tunangannya di depan kita,” ucap Steven.


Bos, kau benar-benar hebat. Rencana satu gagal, sekarang kau membuat rencana yang lainnya. Aku yakin setelah ini Az akan benar-benar mundur dari hubungan kalian (batin Lim sambil melihat ke arah Az)


Ar menepuk pundak Az, mencoba menenangkan kakaknya.


Aku tak tahu hubungan mereka ternyata sudah sedekat itu dan sepertinya kali ini Az benar-benar harus menyerah karena terlihat sekali Bella juga menyukai David (batin Ar)


Sebenarnya sejak Bella pulang dari kampung halamannya, aku berpikir jika ada yang berbeda dengan hubungan mereka. Tapi setiap kali aku menanyakan hal itu kepada Bella, ia selalu menghindarinya (batin Dilla).


“Aku mau pulang dulu,” ucap Az kembali menaiki motornya.


“Hey, secepat itu? Dilla kan belum menyampaikan siapa pemenangnya?” protes Steven, namun Az tak menjawab. Ia terus melajukan motornya meninggalkan tempat itu.


“Kenapa dia? Apa dia juga menyukai bidadari sendal jepitku?” tanya Steven pada yang lain.


“Cih, dasar playboy tengik apa hal semacam itu masih perlu kau tanyakan,” umpat Lim yang membuat Steven kesal, lalu merangsek tubuh Lim dan mendekatkan ketiaknya yang bau keringat ke kepala Lim.


“Dasar playboy tengik! Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku? Ketiakmu bau sekali,” teriak Lim sambil berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Steven.


Dilla dan Ar yang melihat tingkah kekanak-kanankan Steven dan Lim hanya bisa tersenyum.


“Dasar mereka berdua ini, dari dulu selalu seperti itu,” gumam Ar.


***


“Yah, memangnya apa yang salah? Wajarkan kalau seorang istri menyayangi suaminya,” ucap Bella yang masih berusaha berkilah, membuat David gemas dan kembali menariknya agar bisa melihat wajah istrinya lebih dekat.


“Kalau begitu bagaimana kalau malam ini? Kita habiskan waktu kita bersama,” ucap David lirih dan itu membuat debaran jantung Bella semakin kencang.


“David, aww,” pekik Bella.


“Kenapa?” tanya David bingung karena sepertinya ia tak melakukan apa pun pada Bella.


“Aspalnya sudah mulai terasa,” jawab Bella sambil menjinjit salah satu kakinya yang tak mengenakan apa pun.


“Hah, kau ini kebiasaan,” keluh David saat melihat salah satu kaki Bella yang kepanasan karena tak mengenakan apa-apa.


Kemudian ia mencoba menggendong Bella dengan gaya bridal style, namun kali ini Bella menolaknya.


“Jangan seperti itu! Gendong aku di belakang saja!” pinta Bella.


David menuruti keinginan istrinya. Ia menggendong Bella di belakang punggungnya.

__ADS_1


Dengan antusias Bella naik ke punggung David, memeluk laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya. Ia menyandarkan kepalanya, merasakan kehangatan dan kasih sayang suaminya.


“Kau tahu waktu kecil ayah sering sekali menggendongku seperti ini dan aku sangat merasa senang karenanya,” ucap Bella saat teringat masa kecilnya.


“Ia juga sangat pandai mengemudikan motornya. Aku sempat berpikir jangan-jangan ia seorang pembalap,” lanjutnya.


“Oh ya?” tanya David. Namun setelah itu tak ada jawaban atau suara apa pun dari Bella. Gadis itu kini telah tertidur dalam gendongan David.


“Bella, Bella, kau ini kebiasaan. Tertidur di mana saja. Dan maaf, hingga detik ini aku belum bisa mendapatkan informasi apa pun tentang ayah keluargamu,” gumam David.


Neni memang pernah meminta David untuk menyelidiki keluarga Bella. Namun, informasi yang didapatkan David dari Neni hanyalah sedikit.


Hal itu karena yang menemukan ayah Bella dalam keadaan hilang ingatan adalah almarhum kakeknya Bella. Tapi di mana dan kapan, Neni juga lupa. Ia hanya ingat kalau suaminya itu menemukan ayah Bella di sebuah pulau terpencil saat melakukan pencarian harta karun dengan dua orang temannya. Selain itu, Neni juga lupa di mana ia menyimpan foto ayah dan ibunya Bella serta barang-barang peninggalan lainnya.


Melihat motornya yang rusak, David meminta Lim untuk menghubungi teknisi dan memperbaiki motornya. Lalu ia sendiri, membonceng Bella yang sempat terbangun namun dalam kondisi mengantuk, dengan menggunakan motor yang sebelumnya dikendarai Bella.


Sedangkan Dilla yang awalnya datang bersama Bella, kini diantar oleh Ar dengan motornya. Steven sendiri yang mendengar kalau kakeknya ada di sini, memilih menemui kakeknya terlebih dahulu sebelum pulang.


***


“Opa, kapan kau datang?” tanya Steven menghampiri Opanya yang kini tengah berada di ruang pribadi yang sengaja dibangun di salah satu area sirkuit itu.


“Jauh sebelum adikmu melakukan rencana jahatnya,” jawab Opa.


“Apa?! Apa yang Clarissa lakukan? Apa dia sempat kemari?” tanya Steven yang terkejut mendengar apa yang dikatakan Opanya.


Opa Robert menghela nafas panjang.


“Steven, Opa pernah katakan awasi adikmu! Jangan sampai ia melakukan tindakan di luar batasannya!” ucap Opa Robert tegas.


“Memang apalagi yang dilakukan Clarissa Opa? Dan kapan dia kemari?” tanya Steven cemas.


“Dia kemari sebelum kalian datang dan dia hampir saja mencelakakan gadis yang datang bersama David jika Opa tidak memergoki dan memarahinya,” ucap Opa Robert penuh penekanan.


“Apa? Clarissa ini kenapa dia selalu seperti itu? Dia benar-benar sudah gila. Ini semua salahku karena selalu melindungi kesalahannya,” ucap Steven dengan nada kesal bercampur kecewa.


“Sudahlah! Jangan salahkan dirimu! Sekarang sebaiknya kau harus lebih ekstra mengawasi adikmu. Apalagi besok adalah ulang tahun Han dan perusahaannya. Jangan sampai ia membuat kekacauan lagi dan membuat Keluarga William harus menanggung malu karenanya!” ucap Opa Robert tegas.


“Baik, Opa. Aku janji. Aku akan lebih ekstra mengawasi Clarissa. Aku tak akan membiarkan Clarissa membuat masalah di acara ulang tahun Paman Han dan perusahaannya,” jawab Steven dengan penuh keyakinan.


Selama ini Steven memang selalu memanjakan Clarissa. Ia selalu memberikan apa pun yang Clarissa inginkan. Ia tak ingin adiknya sedih karena tak mendapat kasih sayang ayah, serta ibunya yang sakit-sakitan setelah kecelakaan yang ikut merenggut nyawa ayahnya.


***

__ADS_1


Bersambung


Sebelum baca kelanjutan ceritanya, kasih like dan komen dulu ya...


__ADS_2