Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 20 Liontin


__ADS_3

“Buktikan ucapanmu! Besok aku ingin melihat kau mengatakan kepada semua media bahwa kau adalah tunangan dari DAVID ERLANGGA!” ucap David tegas dan itu membuat ketiga orang yang ada di depannya itu ternganga tak percaya.


“Dan satu lagi, ini!” ucapnya sambil melempar ponsel Bella yang disimpannya di balik jas. Bella yang melihat benda persegi yang dikenalnya itu hampir terjatuh, refleks mengambil ponsel itu dan membuang amplop yang dipegangnya.


“Huh, hampir saja. Dasar pria brengsek!” makinya.


“Aku bisa lebih brengsek dari ini kalau kau tak bisa memegang ucapanmu,” sahut David sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu meninggalkan Bella dan Dilla.


“Aaa...” teriak Bella sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Rasanya aku ingin sekali mencincang tubuh pria itu,” geram Bella.


“Sudahlah, Bell. Sebaiknya kita segera pulang sekarang sebelum Neni mengetahui kalau kita tidak ada di kamar,”


“Kau benar Dilla, kalau begitu, ayo kita pulang sekarang!” ajak Bella.


Bella dan Dilla pun segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Tak lupa ia mengambil kembali amplop coklat yang tadi sempat dilemparkannya.


***


“Huh, ternyata pria brengsek itu yang mengaku sebagai tunanganku pada Ar ditelepon sebelumnya," maki Bella.


“Sudahlah, Bel, aku pikir bukan waktunya kau mempermasalahkan hal itu,” sahut Dilla.


“Kau benar, sekarang yang terpenting bagi kita bagaimana caranya aku membuat pengakuan pada semua media bahwa aku adalah tunangan dari seorang DAVID ERLANGGA,” menghela nafas kasar.


“Sementara aku bahkan tak tahu bagaimana rupanya sekarang,” ucap Bella lirih namun masih bisa didengar.


“Ha, kau bahkan tak tahu bagaimana wajah David?! Astaga... lantas bagaimana mungkin kau berani memproklamirkan dirimu sebagai tunangan David, Bella!!” ucap Dilla tak percaya.


“He he he... Sebenarnya aku jatuh cinta padanya saat pertama kali melihat wajahnya di sebuah majalah. Waktu itu usianya sekitar sepuluh tahun.. Dia terlihat saaaaangat tampan dan sejak saat itu juga aku memproklamirkan dirinya sebagai TUNANGANKU,” cerita Bella penuh semangat.


“Ya ampun.. aku baru tahu ternyata sahabatku ini benar-benar gadis yang sangat aneh. Mengakui laki-laki yang bahkan dia sendiri tidak tahu wajah yang diakuinya sebagai tunangannya," gumam Dilla namun masih bisa didengar Bella.


“Terima kasih atas pujiannya, Dilla, "

__ADS_1


"Bel, apa kamu tidak takut kalau penampilan David yang sekarang sangat buruk?" tanya Dilla.


"Aish, tidak mungkin. Dari informasi di beberapa berita yang aku dengar, David itu sekarang malah menjadi salah satu laki-laki yang paling diidamkan di dunia. Selain tampan, dia juga pengusaha yang sukses dan telah menjabat sebagai salah satu CEO di salah satu perusahaan milik Erlangga Grup, " jawab Bella.


"Dari mana kau tahu tentang itu? " tanya Dilla.


"Karena aku selalu mendengar berita tentang dia. Hampir setiap hari, setiap gadis di setiap tikungan yang ada di pasar, bahkan sampai para gadis yang sering berkunjung ke kedai bakso ini selalu membicarakan dan memuji ketampanannya. Mereka bahkan sempat meninggalkan sebuah majalah yang berisi tentang David dan keluarga besarnya di kedai ini," jawab Bella.


"Lalu apa kau sama sekali tak pernah melihat isi dari majalah itu?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku belum tertarik untuk membacanya. Karena aku paling malas membaca, " jawab Bella.


"Huh, dasar! " umpat Dilla.


"Tapi aku masih menyimpan majalahnya, hanya saja menurutku masalah wajahnya itu sudah tidak penting sekarang. Karena tidak ada bedanya aku tahu atau tidak wajah David yang sebenarnya tetap saja aku hanya berbohong dan mengaku-ngaku sebagai tunangannya. Yah.. mengaku tunangan CEO yang tampan dan mungkin setelah membuat pengakuan ini aku akan dihujat oleh gadis di seluruh negeri bahkan oleh David sendiri karena kebohongan ku, " ucap Bella sedih, lalu membuang nafasnya pelan.


"Sudahlah, sekarang kita pikirkan solusinya bersama, " ucap Dilla.


Bella dan Dilla terus mondar-mandir ke sana kemari, memikirkan cara untuk mengatasi masalah kali ini. Namun, tiba-tiba langkah Bella terhenti, pandangannya terpaku pada sebuah liontin berbentuk hati berwarna merah muda yang dikenakan Dilla.


“Sudah lama kali, Bel. Hanya saja aku selalu menyembunyikannya di balik baju,” jawab Dilla dengan wajah murung.


“Kenapa wajahmu berubah jadi seperti itu? Memang ada apa dengan liontin itu?” tanya Bella.


Dilla tidak segera menjawab.


Sepertinya sekarang sudah saatnya bagiku memberi tahu kepada Bella tentang identitas ku yang sebenarnya pada Bella (batin Dilla)


“Kalung ini adalah kalung peninggalan almarhumah ibuku. Di dalam liontinnya ada foto ayah dan ibuku,” ucap Dilla seraya melepaskan kalung yang dikenakannya dan memegang liontin merah muda yang ada pada kalung itu.


“Oh ya? Aku jadi penasaran ingin melihat wajah ayah brengsekmu itu,” ucap Bella karena ia ingat kalau Dilla pernah cerita bahwa ayahnya meninggalkan ibunya.


Setelah yakin dengan Bella, Dilla pun akhirnya memutuskan membuka segala rahasia nya kepada Bella. Ia pun membuka liontin yang selama ini ia kenakan. Liontin yang menunjukkan identitas Dilla yang sebenarnya.


“What!!” pekik Bella dan Dilla bersamaan begitu melihat foto pemuda yang ada dalam liontin Dilla.

__ADS_1


“Kenapa foto pria brengsek itu ada dalam liontinmu? Apa mungkin dia itu ayahmu?” tanya Bella.


“Jelas tidak mungkinlah! Ayahku mana mungkin semuda itu mereka hanya terlihat mirip,” jawab Dilla.


“Iya, juga ya, lalu siapa pria itu? Apa mungkin pria itu masih saudaramu?” tanya Bella.


Dilla mulai berpikir.


Jelas-jelas ayahku adalah Handika Erlangga. Tapi kenapa Ayah memiliki wajah yang mirip dengan pria itu? Apa hubungan Ayah dengan pria itu? (pikir Dilla sambil mengigit ujung jarinya)


Apa mungkin pria itu benar-benar saudaraku? Kalau dia memang saudaraku berarti dia... ( Pikiran Dilla menggantung, matanya terbelalak tajam, saat pikiran tak terduga melintas dalam benaknya)


“Bel, bolehkah aku melihat majalah tentang keluarga Erlangga itu?” pinta Dilla.


“Boleh, silakan saja..Tapi kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang majalah itu?" tanya Bella heran.


“Kau akan tahu alasannya setelah aku melihat melihat majalah itu. Sekarang boleh aku pinjam majalah itu sebentar?” pinta Dilla.


“Baiklah akan ku ambilkan. Nih!" Bella menyodorkan majalah yang disimpannya di dalam laci kepada Dilla.


“Kau ini kenapa sih tiba-tiba malah ingin melihat majalah itu,” gumam Bella tak mengerti dengan sikap Dilla.


Namun, Dilla tak menghiraukannya. Ia masih saja sibuk membolak-balikkan lembar demi lembar halaman majalah yang ingin dicarinya. Selang beberapa menit, ia menemukan apa yang dicarinya dari majalah itu.


Matanya terbuka lebar. Dugaannya selama ini ternyata benar.


“Bella, lihatlah!” Ucap Dilla memperlihatkan foto keluarga besar Erlangga pada Bella. Bella yang menatap foto itu terpaku tak percaya.


****


Bersambung


Terima kasih yang masih setia membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, komentar, dan votenya ya.. serta masukkan juga karya ini ke rak favoritmu 😍😍😍😍🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2