
Selama di meja makan tidak ada yang bersuara, mereka semua tampak menikmati sarapan pagi yang tersaji di depan mereka. Sesekali David menunjukkan perhatiannya pada Bella, mulai dari menyuapinya, mengupaskan jeruk untuknya, hingga mengelap sisa makanan yang ada di mulutnya.
Cih, menjengkelkan sekali melihat mereka berdua (batin Clarissa)
David ini sepertinya dia telah tersihir oleh wanita itu, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi lebih lama lagi. Aku harus segera bertindak (batin Nenek Kanaya)
David, kelihatannya benar-benar menyukai gadis itu. Apa rumor yang aku dengar tentang dia itu keliru? (batin Handika)
Eh, mereka memakai cincin yang sama. Apa itu artinya David benar-benar serius dengan gadis ini? Jika itu benar, aku berharap Mama tidak akan melakukan kebodohan yang sama dengan memaksa mereka berpisah dan kalau sampai hal itu terjadi, maka aku lah orang pertama yang akan menentangnya (batin Diana)
“Sayang, aku sudah selesai. Aku berangkat dulu ya,” ucap David lembut.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke depan,” sahut Bella yang hendak bangkit dari kursinya.
“Tidak, perlu. Kalian belum menikah, mengapa harus bersikap berlebihan seperti itu seolah-olah kalian sudah menikah saja? Memuakkan,”
“Nenek!!" suara David meninggi saat mendengarkan ucapan ketus dari neneknya, sepertinya ia ingin memberikan serangan pada sang Nenek, namun Diana memegang tangannnya dan memberikan isyarat agar David diam, tak melanjutkan ucapannya.
David menghela nafas panjang untuk meredam kemarahannya.
“Untuk hari ini kau turutilah ucapan Nenek. Nanti kalau kita sudah benar-benar menikah kau boleh melakukan apa saja denganku begitu pun sebaliknya? Iya, kan sayang,” ucap David mengedipkan sebelah matanya.
Cih, apa maksudnya dengan ucapannya tadi? Dia pikir aku benar-benar ingin mengantarnya ke depan, hah? Padahal, aku merasa tidak nyaman saja berada di sini lebih lama. Lagipula aku ingin membicarakan masalah Dilla dan kalungnya. (batin Bella)
“Nanti aku telepon ya?” bisik David seolah tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya.
Saat David hendak keluar, tampak Lim yang sedari tadi gelisah karena bosnya tak kunjung keluar.
“Saya pikir Anda ingin mengambil cuti Bos, makanya Anda tidak keluar,” ucapnya lirih.
“Heh, andai saja itu berguna untuk sekarang, aku pasti sudah melakukannya,”
“Lalu semalam apakah Bos sudah...” ucapan Lim terhenti saat David memelotinya.
Sepertinya tadi malam ada yang gagal nih, he he he (batin Lim menahan tawa).
Lim tak bisa berhenti menahan tawanya, membayangkan betapa sulitnya Bosnya nanti akan menjalani hari-harinya. Dekat dengan wanita yang dicintai, sudah halal, tapi tak bisa disentuh, KASIAN!
Plak
Sebuah pukulan majalah mengenai kepala Lim, “Singkirkan, otak ngeresmu itu!”
“Heh, kebiasaan Anda masih juga belum berubah, Bos,” gumam Lim.
Lalu Lim mengikuti David masuk ke dalam mobil.
“Hei, tunggu sebentar!”
David menoleh ke arah jendela, di mana saat ini Bella tengah berdiri menatap kepergiannya.
Ia tersenyum senang melihat gadis yang dicintainya memberikan perhatiannya. Lalu terbesit pikiran nakal untuk menggoda gadis yang berstatus sebagai istrinya itu.
Tanpa peduli kehadiran Limatau dua orang sekuriti yang ada di sekitarnya, David mengerucutkan bibir seksinya seolah hendak mencium gadisnya, Bella yang melihat tingkah David langsung bergidik ngeri.
“Dih, Dasar Mesum,” gumam Bella.
Namun, meskipun begitu Bella bertingkah sama gilanya dengan David. Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan David, mengerucutkan bibirnya seolah sedang membalas ciuman David.
“Ya Tuhan, benar-benar pasangan tak tahu malu,” gumam Lim yang kemudian melirik ke arah dua orang sekuriti yang ikut memperhatikan tingkah gila majikan mereka dan dibuat mesem-mesem karenanya.
“Ya ampun, Bella... Kenapa kau begitu menggemaskan? Rasanya ingin kumakan kau sekarang juga,” gumam David yang dibalas deheman Lim.
“Ehem,”
David yang tersadar karena deheman Lim, menoleh ke arah Lim dan dua orang sekuriti yang sedari tadi ikut mesem-mesem memperhatikannya.
“Kenapa kalian berdua tertawa? Sudah bosan hidup ya,” ujar David dengan suara garang.
“Ti-tidak, Bos,” sahut kedua sekuriti itu hampir bersamaan.
__ADS_1
“Lim, jalan!” perintah David.
Bella memperhatikan kepergian David, entah mengapa ada perasaan hampa saat David pergi meninggalkannya sendiri.
“Sedang apa kau di situ?” suara menggelegar Nenek Kanaya mengalihkan perhatian Bella.
Cih, dasar Nenek Tua mengagetkanku saja (batin Bella)
“Hey, aku bertanya padamu!” bentak Nenek Kanaya saat tak mendapat jawaban dari Bella.
“Maaf, Nenek, aku tadi sedang melihat kepergian David dari balik jendela ini karena Nenek kan melarangku untuk mengantarnya,” jawab Bella dengan wajah memelas.
Entah mengapa melihat perhatian Bella, Nenek Kanaya merasa sedikit tersentuh. Namun, perasaan itu segera ditepisnya jauh-jauh saat ia mengingat status Bella yang tak layak untuk cucunya.
Kanaya, kau tak perlu merasa tersentuh atau pun simpati padanya. Wanita ini tidak layak bersama cucumu. Sekarang sebaiknya kau jalankan segera rencanamu. Buatlah agar Bella bisa segera tersingkir dari rumah ini (batin Nenek Kanaya)
“Bella, kau ikutlah bersamaku dan Bibi Mun!” ajak Nenek Kanaya.
“Ke mana Nenek? Bukannya Nenek lebih menyukai Clarissa, mengapa Nenek tidak mengajaknya saja?” sahut Bella asal.
“Kau berani menentangku? Kau tahu di rumah ini belum pernah ada yang berani menentang keputusanku?” ucap Nenek Kanaya kesal saat mendengar ucapan Bella yang begitu berani.
“Maaf, Nenek, aku hanya bertanya saja, tapi kalau Nenek sangat ingin aku ikut, maka aku akan menemanimu,” jawab Bella.
“Kalau begitu ikut aku sekarang juga!” perintah Nenek Kanaya, lalu berjalan diikuti Bella di belakangnya.
Cih, apa sih maunya Nenek tua itu aku yakin nenek tua ini pasti ingin mengerjaiku (batin Bella)
Bagus, kali ini aku berhasil membuatnya masuk ke dalam perangkapku. Lihatlah, setelah ini kau akan sadar kalau statusmu dan David itu berbeda (batin Nenek Kanaya)
Di belakang mereka tampak Diana yang sedang memperhatikan tingkah keduanya.
Apa yang ingin Mama lakukan pada Bella? Aku harap Mama tidak membuat David menjadi marah karenanya. (batin Diana)
***
“Nek, sebentar. Ada barang yang ingin kuambil dulu di kamar,” ucap Bella yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Baiklah, kalau begitu ambillah barangmu dengan cepat!”seru Nenek Kanaya.
Iya, aku akan mengambil barangnya dengan cepat. Secepatnya jalannya siput (batin Bella).
Bella lalu naik ke dalam kamarnya dan mengambil barang yang tertinggal itu. Sebuah pena listrik yang diberikan Ar sebagai hadiah ulang tahunnya. Yang entah kenapa Bella merasa saat ini ingin sekali membawanya. Namun, sebelum ia turun, ia kembali teringat apa yang belum sempat ia katakan pada David.
“Untung aku ingat, kalau tidak Dilla bisa marah kepadaku karena terus menerus lupa menanyakan hal ini,” gerutu Bella.
Bella mencoba menghubungi David.
Tut..
Tanpa menunggu lama, ponsel itu langsung diangkat oleh David.
“Eh, cepat sekali dia mengangkatnya. Apa sedari tadi dia menunggui telepon dariku?” gumam Bella.
“Halo, sayang. Apa kau saat ini sangat merindukanku? Seingatku belum lama kita berpisah,” goda David.
“Cih, siapa yang rindu. Jangan mimpi!”
Gadis ini masih saja jual mahal (batin David)
“Kalau begitu kau meneleponku untuk apa sayang?” tanya David lembut.
“David,”
“Ehem,” David berdehem pertanda jika ada sesuatu yang salah yang diucapkan Bella.
Bella yang tersadar akan kesalahan ucapannya, segera memperbaikinya.
“Sayang, bisa kah kau meminta Lim untuk menemui Dilla di rumah sakit dan mengajaknya sore ini untuk tinggal di sini. Karena aku yakin dia tidak akan berani sendiri kemari,”
__ADS_1
“Untuk apa? Kenapa aku harus mengajaknya? Apa alasan yang harus aku katakan agar keluargaku mengizinkannya tinggal di rumah itu?”
“Tapi kau dulu kan mengatakan itu kepadaku bahwa Dilla akan tinggal bersamaku di sini,” rengek Bella.
Cih, gadis ini masih ingat saja dengan kata-kataku waktu itu. Apa gadis ini tidak berpikir, kalau Dilla tinggal di kamarnya, kapan aku bisa meminta hakku sebagai suaminya? (batin David gusar)
“Sayaaang,” rengek Bella.
“Iya, aku akan meminta Lim membawanya ke rumah. Apa sekarang kau puas?” tanya David dengan nada sedikit kesal.
“Tentu Sayang, terima kasih. Kau memang suamiku yang terbaik,” ucap Bella senang.
Ada rasa bahagia di hati David saat Bella sudah mengakuinya sebagai suaminya. Meski ia tahu Bella agak terpaksa menerima pernikahan mereka, tapi ia yakin lambat laun Bella pasti akan menerimanya dengan sepenuh hati.
“Sayang, aku masih ada satu pertanyaan untukmu,” ucap Bella kemudian.
“Seribu pertanyaaan juga boleh,” sahut David.
“Apa kau ataupun Lim tidak melihat kalung dengan liontin berbentuk hati?”.
“Oh, kalung itu. Iya, kami sempat menemukannya. Memangnya ada apa dengan kalung itu Sayang?” tanya David mencoba memancing kebenaran dari Bella.
Jadi benar mereka yang menemukan kalung itu? Lalu apa mereka sudah melihat isi di dalamnya? Apakah David sudah tahu kalau Dilla itu saudaranya (batin Bella)
“Sayang,” panggil David sekali lagi saat Bella tak menyahutinya.
“Eh, itu kalung itu miliknya Dilla. Dia sangat khawatir dan mencarinya ke mana-mana,”
“Begitu ya,” berpura-pura tidak tahu “Baiklah, kalau begitu nanti aku akan meminta Lim untuk mengembalikannya.
“Terima kasih sayang..,”
“Sayang, bisakah kau berterima kasih dengan cara yang lain?”
“Cara yang lain maksudnya?”
“Bisa kah, kau mengizinkanku untuk...,” Belum selesai David mengatakannya. Pintu kamar Bella sudah diketuk.
Tok tok tok
“Bella, kau ini tidur ya? Lama sekali kau mengambil barangmu. Aku sudah menunggumu dari tadi,” teriak Nenek Kanaya kesal.
“Sayang, kau dengar itu? Nenek sudah memanggilku. Sekarang, aku harus menutup teleponmu dan pergi bersamanya, dah... sayang.. mmuach,” ucap Bella mengakhiri panggilannya.
“Bella, tunggu!” ucap David yang mencoba menahannya, namun Bella sudah terlanjur menutupnya.
“Gadis ini kebiasaan sekali! Lalu tadi apa dia bilang? Dia akan pergi bersama Nenek? Untuk apa ? Ke mana? Membuatku cemas saja,” gumam David.
“Lim, segera suruh anak buahmu mengawasi Bella dan Nenek? Aku dengar mereka kan keluar hari ini?”
“Baik, Bos,” jawab Lim.
“Aku harap Nenek tidak melakukan apa-apa pada Bella. Karena jika sampai itu terjadi aku tidak akan memaafkannya,” gumam David.
***
Bersambung
Rencana apa yang akan dibuat Nenek David untuk Bella?
Dapatkah Bella mengatasinya?
Nantinya kelanjutan cerita ini di episode selanjutnya.
Jangan lupa berikan like di setiap episodenya, jika berkenan tambahkan vote, dan komentar yang membangun, serta tetap jadikan karya ini favorit kalian dengan menekan tanda love.
Terima kasih..
Salma sayang dan sehat selalu
__ADS_1