Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 47 Kemalangan Lim


__ADS_3

“Bagaimana? Sudah jadi suratnya?” tanya David.


“Sudah, Bos. Surat perjanjian dengan Nona Bella yang Anda minta sudah selesai dibuat,” jawab Lim menyodorkan surat perjanjian yang baru saja diterimanya.


“Bagus, tidak sia-sia aku membayar mahal pengacara itu, cepat juga kerjanya,” puji David menyunggingkan senyumnya.


“Sekarang antar kan berkas ini kepada gadis itu,” seru David setelah ia membaca seluruh isi berkas dengan seksama dan kemudian menanda tanganinya.


“Bos, apa Anda yakin dengan semua isi yang ada dalam pasal-pasal tersebut?” tanya Lim ragu.


David yang mendapat pertanyaan itu, bukannya memberikan jawaban terhadap pertanyaan Lim, namun malah memberikan tatapan tajam sebagai jawaban.


“Maaf, Bos, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi. Saya akan segera mengantarkan surat ini ke kediaman Nona Bella,” ucap Lim yang paham akan arti tatapan bosnya itu. Ia pun kemudian keluar dari ruangan David.


“Bos, Bos.. ditanya malah melotot seperti itu dan sekarang malah memintaku untuk segera mengantar surat ini ke kediaman Nona Bella, hah...”


“Tidak lihat apa sekarang sudah jam berapa? Mungkin gadis itu sekarang sudah tertidur pulas,” gumam Lim sambil menggelengkan kepalanya saat melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangan kirinya sudah menunjuk ke angka sebelas.


***


Bersama hembusan angin malam dan gelapnya langit, Lim masih mengendarai mobilnya menuju arah terminal, tempat kedai bakso dan rumah Bella berada.


Lim menghembuskan nafasnya pelan, saat mobil itu sudah tiba di depan kedai bakso rumah Bella.


“Mudah-mudahan gadis itu belum tidur,” gumamnya.


Lim mengeluarkan ponsel di saku celananya, lalu menekan nomor Bella.


Cukup lama Lim menunggu, namun ponsel itu tidak ada yang mengangkat.


“Bagaimana ini? Apa gadis itu benar-benar sudah tidur? Haruskah aku mengetuk pintu rumahnya?” Lim bermonolog dengan dirinya sendiri.


Bingung dengan apa yang harus dilakukannya.


Ia pun melangkahkan kaki ke depan pintu rumah Bella. Diketuknya pintu itu beberapa kali.


Tok tok tok

__ADS_1


Beberapa kali ia mengetuk, namun pintu itu tetap saja tidak dibuka, membuat Lim sedikit kehilangan kesabarannya dan beralih mengetuk garasi yang menutupi kedai bakso itu.


Drung drung drung


Suara garasi yang terbuat dari alumunium berat itu menimbulkan suara yang cukup gaduh.


“Ya Tuhan, apa aku sudah berlebihan ya,” gumamnya.


Byurr


Seember air disiramkan oleh seseorang dari lantai atas ke arah Lim hingga membuat seluruh bajunya basah. Beruntung amplop coklat yang dipegangnya tidak terkena siraman air itu.


“Berisik sekali! Benar-benar kurang kerjaan setiap hari mengganggu orang tidur saja,” teriak wanita tua yang menyiram air kepada Lim.


“Sial,” gumam Lim saat melihat seluruh pakaiannya basah dan yang paling menyedihkan amplop coklat yang menjadi tujuan kedatangannya ke rumah itu juga ikut basah.


Dengan mencoba menahan kegeramannya Lim mulai membuka suaranya.


“Maaf, Nek, saya Lim, sekretaris pribadi Tuan David Erlangga, tunangannya Nona Bella, cucu Nenek,” teriak Lim.


“Ha??” teriak Neni lagi karena dirinya masih belum bisa mendengar dengan jelas apa yang Lim katakan. Ia pun kemudian mengucek-ngucek matanya, berusaha mengenali sosok yang kini berdiri di bawahnya. Namun, karena terlalu gelap dan usia yang sudah senja, Neni masih tidak bisa mengenali sosok dari sekretaris David itu.


“Astaga, saya sudah berteriak dengan sangat keras, tapi Nenek itu masih belum bisa mendengarnya. Padahal, volume suaraku tadi sudah sampai batas maksimal” gumam Lim sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah berpikir sejenak, Lim kembali berteriak dengan suara yang lebih lantang.


“SAYA LIM, SEKRETARIS DAVID, TUNANGAN BELLA,”


Byurr


Setelah teriakannya yang lantang itu guyuran air kembali mengenai Lim. Hanya saja air itu kini berasal dari bangunan yang ada di sebelah kanan kedai bakso Neni.


“Ya Tuhan, kenapa orang-orang di sekitar tempat ini senang sekali menyiram orang dengan air” ucap Lim geram.


Tangannya mengepal, habis sudah kesabarannya, terlebih saat melihat amplop coklat yang dibawanya itu kini telah basah tersiram air.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Lim pun masuk kembali ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


“Eh, kenapa pergi?” gumam Neni.


Dilla yang terbangun saat mendengar suara-suara berisik langsung menghampiri Neni.


“Ada apa, Neni?” tanyanya.


“Oh, itu tadi ada orang teriak-teriak tengah malam di bawah sana, lalu Neni dan tetangga sebelah menyiramnya dengan air,” jawab Neni.


“Siapa?” tanya Dilla penasaran.


“Entahlah. Tadi Neni tanya, tapi suaranya tidak begitu jelas dan sekarang orang itu baru saja pergi dengan mobil itu,” ucap Neni menunjuk pada sebuah mobil sedan hitam yang baru saja berlalu pergi.


Bukan kah itu mobil David? Tapi mana mungkin? Bagaimana bisa dia tengah malam seperti ini datang kemari? Ada urusan apa? (batin Dilla saat memperhatikan mobil itu dengan seksama).


***


Sementara itu di dalam mobil Lim masih terlihat tampak begitu kesal.


“Semua ini gara-gara bos kurang waras itu, ngapain juga tengah malam seperti ini menyuruh orang mengantarkan surat perjanjian ke rumah itu, seperti tidak ada hari esok saja,” gerutu Lim.


Ia pun segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya, kemudian menekan salah satu nomor yang ada di ponselnya.


“Buat ulang surat perjanjian yang diminta Tuan David sebelumnya. Saya harap besok pagi surat itu sudah bisa diantar ke kantor kami,” ucap Lim tanpa basa-basi begitu teleponnya tersambung.


“Baik Tuan, hoam,” suara menguap penerima telepon terdengar oleh Lim.


“Ya ampun, sepertinya sekarang aku juga jadi sama tidak warasnya dengan dia” gumam Lim saat melihat jarum jam sudah menunjuk ke angka dua belas.


Setelah menutup teleponnya, Lim kembali melajukan mobilnya ke apartemen pribadi miliknya. Karena ia yakin, David sudah lebih dahulu pulang dengan diantar oleh supir pribadi yang bekerja di kediaman Erlangga.


“Aku harap, pengacara itu bisa mengantarkan surat tersebut tepat waktu karena kalau tidak bos setengah waras itu pasti akan kembali mengomel,” gumam Lim.


***


Bersambung


Terima kasih yang telah memberikan like, vote, dan menjadikan karya ini favorit.

__ADS_1


Salam hangat dan sehat selalu untuk semua 😍😍😍


__ADS_2