
Bella dengan antusias menarik lengan David agar mau mengikuti keinginannya. Keinginan untuk menyantap bakmi janda yang selalu membuat air liurnya menetes setiap kali melewati kedai bakmi tersebut.
Dengan segera Bella membuka pintu mobil dan duduk manis di dalamnya saat sudah melihat mobil David yang ada di parkiran.
“Teman Anda sudah berangkat duluan kah, Nona?” tanya Lim saat mulai memutar kemudinya.
“Dilla maksudmu? Iya, dia sudah berangkat duluan sama Ar,” jawab Bella yang membuat ekspresi Lim nampak tidak senang.
“Bella, duduk dan pakai sabuk pengamannya dengan benar! Memang kau mau menimpaku lagi. Atau kau memang senang menimpaku,” sahut David kembali menggoda Bella.
“Cih, siapa yang senang menimpamu? Kalau menginjakmu.." benar-benar menginjak kaki David “Aku baru senang,” ucapnya melanjutkan perkataan yang sebelumnya dengan tawa renyah mengiringi rasa sakit David.
"Aww,"
“Kau ini benar-benar gadis tidak waras!” umpat David sambil memegangi bagian kakinya yang terasa sakit, beruntung dia mengenakan sepatu kalau tidak dengan injakan Bella yang cukup keras tadi habislah sudah.
Lim yang melihat kesakitan Bosnya hanya bisa memalingkan wajah, menahan tawa.
“Aduduh, Bos, Bos, kasihan sekali kamu... cup.. cup cup..,” ucap Lim sangat lirih hingga nyaris tak terdengar.
“Hey, Lim. Kau mentertawakanku, hah?" bentak David saat gurat tawa di wajah sekretarisnya itu samar-samar terlihat olehnya.
“Tidak, Bos. Bos sepertinya sudah salah lihat, ” ucap Lim kembali memasang wajah datarnya.
“Ah, sudahlah! Jangan diam saja! Lim, cepatlah kemudikan mobilnya! Aku takut nanti porsinya kehabisan dan kalau beneran habis kau yang akan kuhabisi!” ancam Bella membuat Lim hanya bisa menelan salivanya.
Kena lagi kan? Nasib.. nasib... Kalau bukan Romeo nya pasti Julietnya yang bertindak (batin Lim).
Setelah mendengarkan ancaman itu, Lim sedikit melajukan kecepatannya sesuai arahan sang Nona besar Bella. Bella yang tak sabar terus mendesak Lim agar menambah terus kecepatannya. Saking, tak sabarnya Bella meremas lengan Lim.
“Bella, hentikan! Kenapa kau suka sekali meremas lengan Lim?” ucap David tak terima.
“Karena aku gregetan sama dia. Dia itu mengemudi atau sedang menggembala kerbau sih, ”
“Lim, jalankan mobilnya dengan benar! Atau jangan-jangan kau memang begitu senang dengan kecepatan secepat kilat. Hingga tidak sampai lima menit, mobil mereka sudah sampai di kedai bakmi yang diceritakan Bella.
“Lim, kau ingin mati ya!” seru David saat keluar dari mobil.
“Setidaknya saya kan tidak harus mati sendiri Bos,” jawab Lim dengan tawa kecilnya.
Kini mereka bertiga berada di depan sebuah kedai sederhana yang terlihat cukup ramai dengan pengunjung. Kedai sederhana tersebut bertuliskan “Bakmi Janda Pak Kumis”.
“Kenapa kau tidak minta dibungkus saja sih?” protes David yang nampak enggan untuk masuk ke dalamnya.
“Di sini tidak boleh dibungkus, bakminya harus makan ditempatnya,” jawab Bella.
“Merepotkan sekali!” gerutu David, namun tetap mengikuti Bella yang kini sudah berjalan mendahuluinya masuk ke dalam kedai tersebut.
Belum jauh melangkah, seseorang memanggil Bella seraya melambaikan tangannya.
“Bella, sini!” sahut orang itu yang tak lain adalah Dilla.
__ADS_1
Dilla dan Ar sudah datang lebih dahulu dari Bella. Kini mereka duduk di barisan paling pojok kedai tersebut.
“Lim, panggilkan pemiliknya!” seru David.
“Baik, Bos,” sahut Lim yang langsung meminta salah satu pelayan di kedai itu untuk memanggil pemilik kedai tersebut.
Tak lama, sang pria berkumis tebal datang menghampiri David.
“Kamu?” David menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan heran.
“Iya, Tuan, saya pemilik kedai ini,” jawab laki-laki berkumis tebal itu.
“Bukannya yang punya seharusnya janda?” tanya David tak percaya dan itu membuat sang pemilik tersenyum.
“Tuan sudah salah paham, maksudnya bakmi janda itu bukan berarti bakmi buatan janda. Tapi itu bakmi jawa yang rasanya sudah disesuaikan dengan selera orang sunda,”
“Oh, kupikir yang punya benar-benar seorang janda,” gumam David.
“Kenapa Bos? Anda kecewa Bos?” bisik Lim.
“Diam atau kuberi lakban mulutmu!” ancam David yang tak lagi berani bersuara.
“Kalau begitu aku akan memberimu dana kompensasi sebesar 10 juta. Dengan catatan kau minta semua pengunjung di kedai ini untuk meninggalkan tempat ini. Terserah kau mau menggunakan alasan apa kecuali yang berada di meja pojok sana,” ucap David sambil menunjuk meja yang kini ditempati Bella, Dilla, dan Ar.
“Baik, Bos. Pasti semuanya beres. Kan ada pepatah yang mengatakan 'ada uang hidup tenang',” sahut sang pemilik begitu melihat Lim memberikan cek senilai 10 juta kepadanya.
Sesuai permintaan David, dalam sekejap kedai yang tadinya terlihat cukup ramai kini menjadi kosong melompong.
“Eh, aneh sekali. Kenapa tiba-tiba mereka semua pergi?” ucap Bella yang merasa heran melihat para pengunjung mulai keluar dari tempat itu.
Kali ini untuk pertama kalinya David dan Ar saling berhadap-hadapan secara langsung. Sebelumnya, Ar sudah cukup mendengar tentang David dari sang ayah. Namun, meskipun hubungan ayahnya dengan keluarga Erlangga cukup dekat, ia selalu menolak untuk bertemu dengan keluarga itu sehingga mereka hampir tidak pernah bertemu.
Hal itu terjadi bukan tanpa alasan. Rasa tidak suka Ar pada David muncul saat dirinya dari kejauhan melihat bagaimana kakak satu-satunya diejek oleh David. Meskipun saat itu mungkin hanya candaan, namun bagi anak seusia mereka itu sangat menyakitkan.
“Jadi kau putra bungsu dari Paman Damar?” tanya David yang memandang Ar dari atas hingga ke bawah.
Sial, wajah aslinya lebih tampan dari fotonya (batin David).
“Iya, Anda benar sekali. Senang bertemu dengan Anda, Tuan David,” ucap Ar seraya mengulurkan tangan pada David.
“Aku juga senang bertemu denganmu. Dan karena kau putra Paman Damar, maka panggil saja kau David,” membalas uluran tangan Ar.
David menggenggam tangan Ar itu dengan sangat kuat.
Lihat kekuatanku apa kau bisa menahannya? Berani sekali kau dekat-dekat dengan gadisku (batin David).
Orang ini sebenarnya ngajak berkenalan atau berkelahi? Kuat sekali dia menggenggam (batin Ar)
“Ehem,” Deheman Lim membuat semuanya menoleh ke arahnya.
“Maaf, Bos. Pesanan bakminya sudah datang,” ucap Lim mencairkan suasana yang mulai terasa panas.
__ADS_1
Genggaman tangan David dan Ar pun langsung terlepas saat pelayan membawa bakmi pesanan mereka.
“Silakan simpan di sini,” kata Dilla mempersilakan.
“Wah, apa bakmiku sudah dipesan juga?” tanya Bella senang saat melihat beberapa mangkok bakmi ada di hadapannya. Dua tersaji di depannya, sedangkan tiga lagi tersaji di depan Dilla dan Ar.
“Sudah, Nona. Tadi sudah saya pesankan,” jawab Lim yang masih berdiri di dekat Bella.
“Kalau begitu cepatlah duduk, Lim! Jangan berdiri saja!” ajak Bella.
“Bella, kau ini! Bukannya tunanganmu dulu yang disuruh duduk malah orang lain,” umpat David kesal dan dengan sengaja menekan kata ‘tunangan’.
“Maaf, sayang.. kalau begitu cepatlah duduk! Aku sangat lapar jangan mengajakku bertengkar terus,” bujuk Bella.
Jadi benar apa yang diceritakan Dilla. Kalau David itu sekarang benar-benar sudah menjadi tunangannya. Bukan bualannya saja (batin Ar).
Ar, kenapa sih menatap David dengan tatapan tidak suka seperti itu? Jabatan mereka juga tadi begitu lama. Apa sebenarnya dia memang suka dengan Bella? Tapi kalau dia memang suka kepada Bella. Kenapa dia begitu manis dan perhatian terhadapku? (batin Dilla sedih).
“Lim, kenapa masih berdiri saja? Kau tidak punya penyakit wasir kan?” sahut Bella yang melihat Lim masih berdiri mematung.
Sebenarnya Lim bingung harus duduk di mana karena kini di hadapannya ada sebuah meja panjang dengan tiga kursi di depan dan di belakang yang masing-masing satu kursinya masih kosong.
Sebaiknya aku duduk di mana? Mungkin duduk di dekat Dilla lebih baik. Selain lebih mudah dijangkau. Aku juga tidak perlu menghadapi sikap posesif si Bos. Baru tanganku diremas saja sudah menatapku dengan tatapan membunuh seperti tadi. Apalagi jika aku harus duduk bersama mereka (ucap Lim dalam hati).
Lim kini melihat Dilla yang duduk di samping kanan Ar. Seperti biasa Dilla menyapa Lim dengan senyumannya yang manis.
Berhenti tersenyum seperti itu kepadaku gadis. Aku takut menaruh harapan yang terlalu berlebihan kepadamu (batin Lim).
“Bella, jangan menuangkan saus terlalu banyak seperti itu tidak baik bagi tubuhmu!” seru David.
“David, kenapa kau belakangan ini cerewet sekali? Aku sudah terbiasa memakan bakmi dengan banyak saus dan sambal seperti ini,” sahut Bella yang nampak kesal dengan tingkah David.
“Bella, itu artinya dia sangat perhatian terhadapmu,” goda Dilla dan itu membuat David sedikit salah tingkah.
Sekilas pandangan David tertuju pada Dilla.
Jika aku perhatikan, wajahnya sedikit mirip dengan Paman Han. Apa jangan-jangan dia itu putrinya Paman? (batin David).
Dilla yang merasa diperhatikan oleh David sedikit salah tingkah dan merasa kurang nyaman.
Kenapa David memandangku seperti itu? Biasanya jika ada Bella perhatiannya hanya tertuju pada Bella seorang. Apa dia sudah mengetahui identitasku? Tidak, kalau dia sudah mengetahuinya dia pasti tidak akan diam saja seperti ini (batin Dilla).
Dilla mulai merasa cemas dengan apa yang ada dalam pikirannya. Ia memegang dada, merasakan jantungnya yang berdebar lebih kencang karena kekhawatirannya dan di saat itulah ia baru menyadari bahwa ia telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting dalam dirinya. Sesuatu yang menjadi peninggalan terakhir ibunya telah hilang tanpa disadarinya.
Gawat ke mana kalung itu? Kenapa aku baru menyadari kalau kalung itu telang hilang? Bagaimana ini? Itukan satu-satunya peninggalan terakhir almarhumah Bunda yang menjadi penghubung ikatan antara aku dan Ayah. Ya ampun Dilla, bodoh sekali kamu ini (batin Dilla).
***
Bersambung
Jangan lupa dukungannya dengan memberikan like, vote, dan komen terbaiknya untuk karya ini, serta tetap menjadikannya sebagai karya favorit kalian. Terima kasih...
__ADS_1
💐💐💐
Salam sayang untuk semuanya, sehat selalu, dan semoga harimu menyenangkan. 🥰🥰