Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Ekstra Part Kehamilan Bella Bagian 8


__ADS_3

Suara guyuran air shower terdengar dari dalam kamar mandi. Lelaki tampan berotot dengan perut six pack yang menambah kesan seksi pada dirinya, kini mulai mematikan keran shower itu dan menyudahi mandi sorenya hari ini.


David keluar dari dalam kamar mandi. Ditatapnya wajah sang istri, Bella, yang kini masih terlelap dengan selimut yang menutupi bagian hampir seluruh bagian tubuhnya.


Senyum mengembang dari wajahnya.


“Bella, kau hampir saja membuatku lupa diri. Jika tidak ingat kejadian waktu itu dan mengingat kondisimu yang sedang hamil, mungkin sekarang kau benar-benar sudah tidak bisa bangkit lagi dan bisa-bisa kau akan kembali dilarikan ke rumah sakit, lalu centong nasi Nenimu itu akan kembali mendarat di kepalaku,” gumamnya saat teringat kejadian di malam pertama mereka.


"Sayang, kau sudah bangun?" ucap Bella saat membuka matanya.


“Tentu saja sudah, lihatlah suamimu ini sangat tampan sekali bukan, "


"Cih, jiwa narsismu masih juga belum hilang, " sahut Bella yang membuat David terkekeh.


"Tapi kau suka kan?"


"Cih, "


"Sudahlah, sekarang kau cepatlah mandi! Setelah itu kita makan bersama karena tadi kau kan belum sempat makan. Atau kau mau aku makan lagi, hah?" bisik David kembali di telinga Bella.


“Ih, David! Kenapa kau ini semakin mesum saja sih?”


“Mesum sama istri sendiri enggak jadi masalah, kan?”


“Cih,” Bella tak mampu menjawab pertanyaan David.


Dengan memilit selimut miliknya, Bella berjalan menuju kamar mandi. Namun, sebelum pintu kamar mandinya ditutup, setengah badannya keluar untuk menyampaikan sesuatu kepada suaminya.


“David Sayang, siapkan mangganya ya...,” pinta Bella.


“Baik, nanti aku akan minta pelayan untuk menyiapkannya, tapi kau harus makan terlebih dahulu karena tadi siang kau belum makan,”


“Baik, Sayang, aku akan makan dulu, tapi untuk mangganya aku tidak ingin pelayan yang mengupasnya karena aku ingin kau sendiri yang mengupaskannya untukku,” ucap Bella sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


Waduh, apa-apaan dia? Aku yang mengupas mangganya? Seumur hidup kan aku belum pernah menggunakan pisau buah. Selama ini kan aku hanya tinggal makan buah yang sudah disiapkan saja (batin David)


“Bagaimana ini? Ah, David hanya mengupas mangga saja. Apa susahnya? Kau kan begitu hebat,” gumamnya meyakinkan diri sendiri.


“David,” rengek Bella lagi dari dalam kamar.


“Hemmm,” sahut David.


Mau apa lagi dia? (batinnya)


“Nanti siapkan juga buah salaknya, ya..,”


“Hemmm,”


“Minta mangga, salak... Huh, untung saja dia tidak minta jengkol lagi,” gumam David.


David lalu menghubungi pelayan melalui sambungan telpon yang ada dalam kamarnya.


“Bi Mimin, tolong siapkan makan siang untuk Nyonya Muda kalian. Siapkan juga mangga dan salak yang tadi dikirim supir angkut dari pasar kemari,”


“Baik, Tuan Muda,”


“Oh ya, siapkan juga pisau buahnya. Mangganya tidak perlu dikupas,”


“Baik, Tuan Muda,” jawab Bibi Mimin.


Bi Mimin merupakan putri kandung Bibi Mun yang baru datang dari kampungnya setelah suaminya tiada. Ia belum lama ini menggantikan Bibi Mun sebagai kepala pelayan di rumah tersebut.


Pesanan yang diminta David telah dibawakan oleh Bi Mimin bersama dengan para pelayan lainnya. Beberapa menu kesukaan Bella sengaja dibuatkan seperti nasi putih, ayam goreng, tempe bacam, tumis kangkung, dan sambal terasi. Tidak lupa pula tersedia mangga dan salak yang dipesan Bella.


“Hemmm,” gumam Bella saat mencium aroma masakan kesukaannya.


Cup


“Terima kasih, Sayang,” ucap Bella sambil mengecup pipi kanan suaminya.

__ADS_1


“Yang ini enggak?” David menunjuk pipi kirinya.


Cup


Bella kembali mengecup pipi kiri David.


“Yang ini?” David menunjuk bibirnya


“Ih.. kalau yang itu nanti bukannya aku yang makan, tapi malah aku yang dimakan,” tolak Bella yang dijawab senyum oleh David.


David benar-benar merasa bersyukur dengan kehadiran Bella di sisinya. Kehadiran istrinya itu benar-benar memberikan warna dalam hidupnya. David menjadi lebih banyak tersenyum.


Sebenarnya David pernah meminta Bella untuk tidak hamil, lantaran desas desus yang sempat didengar bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan. Bahkan, ada yang sampai kehilangan nyawanya. Namun, keluarga besarnya meyakinkannya bahwa hal itu adalah kodrat alami seorang wanita. Bella pasti akan bersedih jika David melarangnya.


Selain itu, teman kecilnya Az sudah lebih dahulu mengabarkan berita kehamilan istrinya Dara. Tentu saja, David yang memang tidak pernah mau kalah dari Az semakin bersemangat mengetahui kehamilan istrinya tersebut.


“Sayang, kenapa bengong? Suapi aku,” rengek Bella di depan makanan yang tersaji untuknya seusai ia memakai pakaiannya.


Saat hamil, Bella memang banyak berubah. Ia bisa menjadi sangat manja, lebih keras kepala dari biasanya, dan juga posesif.


David menyuapi Bella dengan tangannya karena Bella memang lebih suka disuapi langsung dengan tangan David. Sepertinya yang berubah dalam kehamilan Bella bukan hanya Bella, tapi David juga. David kini menjadi lebih pengertian, tidak seperti David yang biasanya.


“David, kenapa kau hanya makan ayamnya saja?” tanya Bella karena ia juga meminta David untuk makan bersamanya.


“Karena aku tidak terlalu suka dengan menu yang lainnya,”


“Cih, dasar orang kaya selalu saja pilih-pilih makanan,”


“Cih, dasar orang miskin ini selalu saja menghina orang kaya,”.


“Hey, aku ini juga orang kaya kau lupa aku ini seorang William,”


“Tentu saja, aku ingat. Aku juga ingat kalau kau itu sangat mendambakanku bahkan hanya karena melihat penampilanku yang begitu tampan saat masih usia 10 tahun saja. Kau bisa-bisanya terus mengakuiku sebagai tunanganmu hingga sebesar ini,”


“Ah, David.. Aku menyesal memberikan tahukanmu semua itu,”


“Aww,” Bella menggigit tangan David yang hendak menyuapinya karena kesal David terus saja mengoloknya.


“Apa?” tanya Bella.


“Bidadari, Sayang... Sudahlah, sekarang habiskan makananmu. Jangan banyak bicara lagi atau mau aku tutup mulutmu dengan ini” sahut David menunjuk bibirnya.


“Ih,”


Bella sudah tak banyak bicara lagi. Ia makan dengan tertib layaknya anak kecil yang penurut.


“Baiklah, sekarang aku mau makan mangganya,” pinta Bella sambil mengambil mangga yang dibawa pelayan.


“Sayang, bisakah kau mengupasnya sendiri saja,” pinta David.


“Hah, apa maksudmu?” tanya Bella menantap David tajam.


“Aku tak pernah mengupas mangga sebelumnya,” jawabnya pelan.


“Apa? Ya, Tuhan.. Jangan bilang kau juga tak bisa mengupas buah salak ini?” tanya Bella yang kini mengambil salak.


“Harus pakai pisau buah juga kah?” tanya David saat mengambil salak dari tangan Bella, membuat Bella menepuk jidatnya.


“Astaga.. aku pikir hanya artis NR saja yang tidak bisa mengupas buah salak,” sahut Bella gemas dan kini meraih salak yang ada di tangan David.


“Seperti ini loh, Sayang,” ucap Bella sambil memperlihatkan cara mengupas buah salak kepada David.


“Oh, kalau itu mudah. Aku pasti bisa melakukannya,” ucap David dan kini mengambil buah salak yang baru. Kali ini David berusaha mengupasnya sendiri.


“Aww, kenapa kulitnya tajam sekali?’ gerutu David saat bagian kulit salak yang tajam melukai lengannya.


Bella yang memperhatikan cara David mengupas mangga, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Nah.. Berhasilkan!” seru David bangga memperlihatkan salak yang telah dikupas olehnya.

__ADS_1


“Terima kasih, suamiku Sayang,” Bella mengambil salak itu lalu memakannya.


“Sekarang, kupas mangganya,” pinta Bella.


“Sayang, untuk yang satu ini serahkan saja pada pelayan ya?” pinta David.


“Tidak bisa, aku baru memintamu mengupas buah mangga. Belum memintamu mengupas nangka atau durian,”


“Aduh, maksudmu kau akan memintaku mengupas kedua jenis buah itu juga? Sayang, aku ini CEO, bukan tukang buah. Kalau kau memintaku menggunakan pena atau pensil aku bisa, tapi menggunakan pisau buah atau golok. Aku menyerah,” ucap David dengan nada meninggi.


Hal itu membuat raut wajah Bella tampak sedih.


“Iya, iya.. aku akan mencobanya,”


Dengan cemberut, David mengambil pisau buah itu lalu mengupas mangga itu dengan asal. Ia menyediakan sebuah piring bersih untuk kupasan kulit mangga itu agar tak berserakan ke lantai.


“Sayang, mengupas kulitnya lebih tipis lagi karena sayang kalau daging buahnya banyak yang terbuang,”


“Kau ini, cerewet sekali! Sekarang perhatikan saja, nanti kau tinggal memakan daging buahnya,”


“Cih, susah sekali kalau diberi tahu,” gerutu Bella.


Bella yang merasa sayang melihat daging buah yang terbuang bersama kulitnya, mengambil kulit itu lalu menggerogotinya.


“Sayang, kau jorok sekali. Kenapa kau memakan kulit mangga itu?” ujar David jijik saat melihat tingkah istrinya..


“Aku kan sudah bilang, kau mengupasnya terlalu tebal. Sayangkan kalau daging buahnya terbuang,” ucapnya sambil menggerogoti daging buah yang masih menempel di kulitnya.


“Besok, besok aku akan meminta Chef Juna mengajariku cara mengupas buah mangga, apel, nangka, dan apa tadi.. durian,”


“Sekalian juga minta dia mengajarimu memasak,”


“Cih, kau yang perempuan saja belum bisa memasak, sekarang malah menyuruhku untuk belajar memasak,” sahut David.


Diiringi suara kicauan sang istri, David terus berjuang mengupas buah mangga yang disiapkan pelayan satu per satu. Hingga akhirnya tiga buah buah mangga berhasil dikupasnya, lalu dipotong-potong dan disajikannya ke dalam piring.


“Tadaaa, buah mangganya selesai,” ucap David bangga memperlihatkan hasil kerjanya.


“Sekarang, kau tinggal memakannya Sayang,”


David menyodorkan buah mangga yang dikupasnya ke depan mulut sang istri.


“Sayang, kau makanlah sendiri. Aku sudah kenyang karena sudah terlalu banyak memakan daging buah mangga yang masih menempel di kulitnya itu,”


“Hah??? Kau ini kebiasaan sekali. Untung saja mangga, bukan jengkol,” gumam David yang langsung memasukan buah mangga itu ke dalam mulutnya dengan perasaan jengkel.


Bella memperhatikan David yang sedang mengunyah buah mangga yang baru dikupasnya tadi. Membuat David ingin mengerjainya. Setelah mengambil potongan mangga ke dalam mulutnya, David kemudian memasukan potongan mangga itu ke mulut sang istri melalui mulutnya.


“Ih, David jorok!” Bella mendorong tubuh David, membuat David terkekeh karena berhasil mengerjai istrinya.


“Makanya hargai hasil jerih payah suamimu ini, ha ha ha,”


Bella masih cemberut dengan apa yang dilakukan David barusan.


“Gimana masih mau lagi Sayang?” tanyanya menaik turunkan alisnya.


“David!!!”


Teriakan Bella sukses membuat seluruh penghuni di kediaman itu mampu mendegarnya. Namun, saking sudah terbiasanya dengan tingkah kedua majikan mereka yang sudah seperti anjing dan kucing, tak ada satu pun yang menghampiri keduanya. Mereka hanya senyum-senyum sendiri sambil berkata dalam hati.


Apalagi yang kini sedang dilakukan Nyonya Bella dan Tuan David di dalam kamar mereka ya. Seperti biasa selalu ramai.


***


Bersambung


Akankah Bella dan David bersikap seperti ini terus?


Nantikan terus kelanjutan ceritanya ya...

__ADS_1


Jangan lupa berikan like dan votenya pada karya ini, serta simpan karya ini di rak buku sebagai karya favoritmu.


Terima kasih...


__ADS_2