
Wajah Lim terlihat cukup letih karena perintah dari sang Bos untuk segera terbang ke Negara K hari ini juga. David memberikan perintah kepada Lim untuk mengambil pesanan sepasang cincin dari “Laudy Jewelry” yang dipesan David beberapa hari yang lalu pada Laudya. Ia ingin memberikan cincin itu saat berada di Kampung Halaman Bella.
“Huh, Bos ini ada-ada saja. Ini baru pertunangan dan itu pun hanya sekedar pura-pura saja, aku sudah dibuat repot seperti ini. Bagaimana nanti kalau dia menikah? Lim, Lim.. sepertinya menjelang pernikahannya, kau harus mengambil cuti panjang,” gumam Lim sesaat setelah ia sampai ke Negara S.
Kini ia mulai melangkah menuju ruangan David, sambil mengingat hal apa saja yang perlu disampaikannya kepada sang Bos. Ia ingat bahwa tadi pagi, sebelum ia terbang ke Negara K, anak buahnya sempat mengirimkan foto kepadanya.
Lim kembali membuka foto itu dan memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Lagi-lagi, ia hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat foto itu.
“Aduh, bagaimana ini? Haruskah aku menyampaikan masalah foto ini kepada Bos?” gumam Lim.
Darah seolah berkumpul di kepalanya, rasa letih yang membaur bersama beban pikiran yang masuk dalam benaknya, menimbulkan rasa senat senut yang tak terkira.
Kalau aku menyampaikan foto ini, bisa-bisa semuanya akan lebih kacau. Lagi pula apa yang terlihat belum tentu sama dengan apa yang terjadi. Jadi, sebaiknya ini kusimpan saja dulu (pikirnya).
Tok tok tok
“Masuk,” suara David terdengar dari luar ruangannya.
Lim melangkah masuk ke dalam ruangan David yang sedari tadi tampak sedang menunggunya.
“Terlambat 30 menit,” ucap David saat melihat jam di pergelangan tangannya.
“Iya, Bos, maaf, itu semua karena Bunda mengajakku mengobrol terlebih dahulu. Anda tahu kan selama ini saya dan Bunda jarang bertemu dan ia bahkan membawakan bekal yang mau tidak mau harus kubawa ke sini karena tak sempat memakannya di sana,” jelas Lim.
Semenjak kematian Kakek Wijaya, orang tua Lim memang tinggal di Negara K untuk mengurus bisnis keluarga Wijaya di negara itu.
“Oh ya, kalau begitu bagaimana kabar Tante Rani dan Paman Angga di sana?” tanya David.
“Mereka dalam keadaan baik, Bos. Lalu mereka juga bilang minggu depan mereka akan datang kemari karena Nenek Anda mengundang mereka untuk acara ulang tahun perusahaan sekaligus ulang tahun Paman Han,” jawab Lim.
“Baiklah, sepertinya ulang tahun kali ini Nenek merencanakannya dengan cukup meriah. Lalu bagaimana pesananku?” tanya David dengan wajah berbinar.
“Tentu saja, pesanan Anda yang saya perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga ini tidak mungkin saya lupakan,” ucap Lim menyodorkan sebuah kotak beludru merah ke tangan David.
David membuka kotak itu, lalu melihat sepasang cincin yang indah di dalam kotak tersebut. Ia memberikan senyum yang menandakan bahwa dirinya merasa puas dengan rancangan Laudya kali ini.
Bella, ini bukti kesungguhan hatiku. Aku harap kau dapat menyukainya (batin David).
David memang bertekad untuk mengungkapkan semua perasaannya kepada Bella hari ini.
Bos, aku benar-benar berharap mudah-mudahan suasana hatimu tidak segera berubah setelah kau mendengar tentang foto itu (batin Lim).
“Lalu bagaimana dengan penyelidikan yang aku minta kepadamu? Apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang Dilla dan liontin yang ada pada kalungnya?” tanya David.
“Sesuai yang kita duga Bos,” jawab Lim.
“Maksudmu?”
“Dilla adalah putri kandung Arini, mantan istri Paman Han sebelumnya. Dan kalung itu ia dapatkan dari almarhumah ibunya,” jelas Lim.
“Jadi maksud kamu mantan istri Paman Han itu sudah meninggal?” tanya David yang nampak terkejut dengan berita yang didapatkan oleh Lim.
“Benar, Bos. Mantan istri Paman Han itu sudah meninggal sekitar dua tahun yang lalu,”
“Ha, sungguh ironis. Di sini Paman terus memikirkannya hingga tak bisa sedetik saja melihat keberadaan Tante Diana hanya karena wanita itu. Tapi ternyata wanita itu sekarang malah sudah tiada. Lalu siapa ayah dari Dilla?”
“Menurut penyelidikan, Arini tidak pernah menikah lagi setelah berpisah dengan Paman Anda, Bos,”
“Apa?! Jadi, maksud kamu ada kemungkinan bahwa Dilla adalah putri kandung Paman?”
“Benar, Bos, dan hal itu baru bisa kita buktikan melalui tes DNA,” jawab Lim.
__ADS_1
“Kalau begitu segeralah lakukan tes DNA kepada mereka. Aku ingin tahu apakah Dilla itu benar-benar putri Paman atau bukan,” kata David memberi perintah.
“Baik, Bos, akan segera saya laksanakan”
“Tapi Bos, apa yang akan Anda lakukan jika Dilla memang ternyata putri dari Paman Han. Bukankah itu berarti kalau dia saudara sepupu Anda?”
“Hey, kau ini kenapa Lim? Sepertinya kau cukup perhatian kepada gadis itu? Jangan-jangan kau memiliki perasaan padanya ya?” tanya David menyelidik.
“Tidak Bos, saya hanya sedikit penasaran saja,” jawab Lim mencoba mengelak.
“Kau yakin? Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi untuk menjalankan rencana selanjutnya,”
“Rencana apa, Bos?”
“Aku akan menyatukan Dilla dengan Steven. Dengan begitu Nenek tidak akan lagi memaksaku menikah dengan Clarissa,"
“Apa? Kau ingin menjodohkan Dilla dengan si Playboy itu?"
“Kau ini kenapa Lim? Mengapa nada bicaramu berubah seperti itu?”
“Maaf, maksud saya, Anda benar-benar akan menikahkan Dilla dengan play boy seperti Steven itu?” tanya Lim terlihat panik dan itu membuat David tersenyum saat melihat tingkahnya.
“Memang apa salahnya? Steven itu laki-laki yang baik, tampan, mapan, dan dermawan. Jadi, menurutku tidak salah jika dia kujadikan saudara iparku. Meskipun dia sering bergonta-ganti pasangan, tapi yang aku tahu dia tidak pernah tidur dengan mereka,” jelas David.
Mendengar penjelasan David, Lim hanya bisa diam karena biar bagaimana pun yang disampaikan David itu benar adanya.
“Baiklah, sekarang kau cepatlah cari cara agar bisa memeriksakan DNA gadis itu dan Paman Han,” perintah David.
“Tenang saja, Bos. Itu bisa diatur,” sahut Lim.
“Lalu bagaimana dengan Bella? Apa kau sudah mendapat kabar dari anak buahmu?” tanya David yang membuat Lim menelan salivanya.
Ternyata dia menanyakannya juga (batin Lim).
“Sebenarnya tadi pagi saya mendapat kiriman foto dari anak buah saya, tapi karena saya harus terbang ke Negara K jadi..,” Lim tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat David menatapnya dengan tatapan membunuh. Lim mengerti maksud dari tatapannya itu.
“Baiklah, akan segera kukirimkan foto itu,” sahut Lim yang langsung membuka ponselnya. Lalu mengirimkan foto itu ke nomor David.
Dengan segera David membuka ponselnya dan melihat foto yang dikirimkan Lim kepadanya.
“Ck, si Bakpao gosong itu lagi. Sepertinya dia senang sekali mencari masalah denganku,” ucapnya geram.
“Kalau begitu segera minta Mario untuk memimpin pertemuan rapat hari ini dan katakan padanya semua jadwalku hari ini kuserahkan kepadanya. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga,”
“Lalu apakah kita tetap akan berangkat ke kampung halaman Nona Bella siang ini?”
“Tentu saja, aku tidak akan membatalkan rencana itu hanya karena si bakpao gosong itu,” bentak David.
“Baiklah, Bos. Kalau begitu saya juga akan segera menyiapkan jet pribadi sesuai pesanan Anda,” ucap Lim. Namun, tidak begitu dihiraukan oleh David karena pikiran dan hatinya saat ini kacau, benar-benar kacau.
***
Dokter Aria segera datang bersama dengan mobil ambulans dari rumah sakit tempatnya bekerja, sesaat setelah mendapat telepon dari Bella. Ia benar-benar panik dan khawatir akan kondisi kakaknya.
“Bella, kenapa bisa jadi seperti ini?” tanya Ar saat melihat tubuh Az penuh luka.
“Aku tidak begitu tahu persis ceritanya, anak itulah yang mengetahuinya,” ucap Bella menunjuk anak kecil yang sebelumnya ikut dibawa lari oleh Az.
“Saat aku datang, dia sedang berkelahi dengan beberapa preman dan saat itu juga badannya sudah penuh luka seperti itu,” jelas Bella.
Sesampainya di rumah sakit, Az segera mendapatkan pertolongan. Luka di bagian lengan kanan dan kiri dibalut dengan perban. Tak lama setelah itu, Az pun mulai sadar setelah pingsan beberapa saat.
__ADS_1
Bella yang sedari tadi menungguinya, merasa senang karena Az sudah siuman.
“Superman, kau sudah sadar?” tanya Bella yang membuat Ar dan Dokter Damar yang juga berada di ruangan itu mengerutkan dahi mereka.
“Superman?” gumam Damar yang tidak paham mengapa Bella memanggil putranya itu ‘superman’.
“Iya, Paman Dokter, putra Paman itu seorang superman. Karena dia telah berhasil menyelamatkan nyawa anak kecil yang tak berdosa,” puji Bella yang membuat Az tersenyum.
Az bisa tersenyum? Tidak biasanya (batin Ar)
“Kau terlalu memujiku wonder woman,” sahut Az.
Wonder woman? Apa itu berarti Bella benar-benar gadis kecil yang selama ini dicari Az ? (batin Ar)
Ar terus memperhatikan gerak-gerik saudaranya itu, mulai dari cara dia menatap Bella, tersenyum ke arahnya dan itu membuat Ar yakin jika Az memang memiliki perasaan khusus kepada Bella.
Sepertinya Az memang menyukai Bella (batin Ar kembali bersuara)
“Apa kau juga melihatnya?” bisik Damar.
“Maksud Ayah? Apa Ayah berpikiran yang sama denganku?” tanya Ar lirih.
“Tentu saja, kalau begitu sekarang kita tinggalkan mereka berdua. Kita lihat kali ini bagaimana kakakmu bisa mengejar cinta pertamanya,” ajak Damar.
“Tapi Yah, Bella itu kan.. ,” Belum selesai berbicara, Damar sudah memotong.
“Ayah tahu apa yang ingin kau bicarakan, tapi sebaiknya untuk masalah itu kita bahas nanti saja. Sekarang, sebaiknya kau ikuti perintah ayahmu ini. Berikan mereka ruang agar bisa berdua,” perintah Damar yang tak bisa lagi dibantah Ar.
“Bella, kami pamit keluar dulu. Karena kami masih memiliki beberapa pasien yang belum kami periksa. Jadi, Paman minta tolong titip putra Paman ini. Dan tolong suapi dia karena sepertinya lengannya untuk sementara tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu,” pinta Damar sebelum meninggalkan Az bersama Bella.
“Baiklah, Paman,” jawab Bella.
Bella duduk di dekat brangkar, tempat Az terbaring.
“Kau mau makan?” tanya Bella saat melihat makanan yang sudah tersaji untuk Az di samping brangkarnya.
“Boleh, tapi apa kau benar-benar mau membantuku?”
“Tentu, kau kan tadi telah melindungiku. Jadi, tidak ada salahnya jika aku membantumu kali ini. Lagi pula bukan kah superman dan wonder woman memang harus saling membantu?” sahut Bella.
“Kalau begitu terima kasih sebelumnya,” ucap Az tulus.
Dia benar-benar aneh, sudah berapa kali aku melihatnya tersenyum hari ini. Tapi bodoh amatlah yang penting itu membuatnya menjadi lebih baik (pikir Bella).
***
Sementara itu, David berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit. Ia mulai mencari keberadaan Bella ke sana kemari hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Dilla yang memberitahukan bahwa Bella dan Dokter Azril baru saja mengalami kecelakaan. Namun, kondisi Bella baik-baik saja dan sekarang Bella sedang berada di ruang rawat Dokter Azril.
Mendengar kalau Bella dan Az sekarang sedang berada di ruangan yang sama, membuat kemarahan David semakin memuncak. Darahnya mulai mendidih, memikirkan apa saja yang dilakukan dua orang berbeda jenis itu di dalam ruangan yang sama. Ia berjalan semakin dekat dan semakin dekat menuju ruangan yang di maksud.
Gadis, kau sudah berani berduaan dengan laki-laki lain, hem. Awas saja kau (batin David)
***
Bersambung
Bagaimana reaksi David saat melihat Az dan Bella berdua saja di ruangan itu?
Penasaran? Tunggu saja kelanjutan cerita..
Jangan lupa untuk memberikan like, vote, dan komentar sebagai bentuk dukungan terhadap karya ini dan tetap jadikan karya ini favorit kalian.
__ADS_1
Terima kasih..😎😎