
Lim bergegas menjauh dari tempat yang telah menodai pandangannya itu, sebelum David dan Bella menyadari keberadaan dirinya. Wajahnya terlihat panik saat dirinya kembali ke meja itu.
“Lim, apa kau sudah selesai ke kamar mandinya? Kenapa cepat sekali?” tanya Dilla yang merasa sedikit aneh dengan tingkah Lim.
“Belum, nanti saja. Kamar mandinya penuh,” jawab Lim.
Penuh dengan aroma-aroma cinta yang gila (lanjutnya dalam hati).
Tak lama setelah itu, terlihat Bella dengan ekspresi wajah yang begitu kontras. Mukanya memerah, namun wajahnya ditekuk dan bibirnya dimajukan ke depan.
“Kau kenapa Bel? Apa Tuan David memarahimu? Maaf ya, kali ini aku benar-benar salah. Dia pasti sangat marah dengan yang tadi,” ucap Dilla penuh penyesalan.
“Apanya yang marah? Ekspresinya itu cuma menipu kita saja. Tadi itu dia...,” ucap Bella namun tak selesai. Dia memililh menggantung ucapannya, tak melanjutkannya lagi karena ia merasa malu kalau harus memberitahukan kejadian yang memalukan tadi pada Dilla, Lim, dan Ar.
“Dia apa?” tanya Dilla.
“Dia hanya sedang kebelet ke kamar mandi. Mau buang hajat katanya,” jawab Bella.
“Oh,” sahut Dilla yang kemudian menoleh ke arah Lim yang tampak menahan tawa mendengar jawaban Bella. Lalu mengalihkan pandangannya kepada Ar yang seolah menaruh kecurigaan yang sama dengannya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Sepertinya dua orang ini menyembunyikan sesuatu. (batin Dilla).
Dilla terus saja berpikir apa yang sedang disembunyikan oleh Bella dan Lim, namun ia masih tak bisa menerka jawabannya hingga tampaklah sosok David yang baru saja selesai dengan tapa semedinya.
Eh, kenapa ada apa dengan wajahnya? Kenapa dia malah senyum-senyum seperti itu? Bukannya waktu pergi tadi dia terlihat sangat kesal dan marah (batin Dilla mengarahkan pandangannya kepada Ar).
“Sepertinya kau berpikiran yang sama denganku. Ada sesuatu yang terjadi di antara mereka,” bisik Ar ke telinga Dilla.
“Kalau gitu aku ke kamar mandi dulu ya,” ucap Lim yang langsung melesat dengan cepat saat mendapati David yang sudah keluar dari kamar mandi karena sesungguhnya sedari tadi dirinya sudah mati-matian menahan mati-matian keinginannya untuk segera melepas apa yang harusnya dilepaskan.
Bella yang melihat kehadiran David, berpura-pura bersikap acuh. Meski sesungguhnya ada getaran rasa yang hampir meledak saat David kembali duduk di dekatnya.
Kenapa dia senyum-senyum seperti itu sih? Menyebalkan sekali. Rasanya ingin sekali kutuangkan sambal ini ke mulutnya (batin Bella).
Lim, benar. Sepertinya aku harus segera mengajak gadis ini menikah. Tidak peduli Nenek bisa menerimanya atau tidak. Yang penting gadis itu harus menerimanya (batin David).
“Tuan David, maaf ya,” pinta Dilla dengan tatapan penuh penyesalan. Sebenarnya David ingin sekali marah kepadanya, namun ia tak ingin merusak suasana bahagia ini.
“Sudah, lupakan saja! Anggap kalian tak pernah melihat kejadian tadi,” ucap David.
“Kau sudah dengar. Tuan David ini hari ini begitu pemurah. Jadi, kau tak perlu khawatir lagi ya,” ucap Ar menenangkan karena sedari tadi ia melihat Dilla terlihat sangat cemas.
“Iya, lupakan saja lah masalah tadi,” sahut Bella ikut menenangkan sahabatnya.
Mendengar ucapan Bella dan Ar, Dilla sedikit tenang. Apalagi saat melihat ekspresi wajah David tak sedingin tadi. Sepertinya kakak sepupunya yang sombong itu memang benar-benar sudah tak lagi mempermasalahkan tentang kejadian yang baru saja dialaminya.
Dilla terus menerus mengusap tubuhnya yang terasa dingin, akibat angin yang dibawa hujan bersamanya. Ar yang melihat itu, segera melepas jaket yang ia kenakan. Lalu memakaikan jaket itu kepada gadis yang kini duduk di sampingnya.
“Pakai ini,” ucapnya tersenyum ramah.
“Terima kasih,” jawab Dilla yang terlihat senang atas perhatian yang ditunjukkan Ar kepadanya.
“Ehem, ehem, sepertinya aku melewatkan hal yang begitu penting,” goda Bella yang melihat pemandangan dua insan yang ada di hadapannya kini.
“Kau juga pakai ini,” ucap David yang langsung memasangkan jas yang dikenakannya pada Bella.
Ah, kenapa lagi dia? Tumben baik sekali. Apa ini sogokan agar aku tidak mempermasalahkan hal tadi? Jangan mimpi! Awas saja, bibirnya akan kubuat jontor, sejontor jontornya (batin Bella gemas).
****
Sementara di ruang rawat Lusia, Dokter Damar masih setia menemani putranya menunggu cucunya yang sedang tertidur pulas. Suasana hening masih tercipta, setelah Damar mencoba meyakinkan putranya untuk bisa memaafkan kesalahan adiknya.
Untuk mengubah keheningan itu, Damar mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan Cia?” tanyanya tiba-tiba.
“Ada apa dengan Cia?” tanya Az yang tidak paham dengan pertanyaan ayahnya.
“Kapan kau akan memberitahukan kepada Cia bahwa kau bukanlah ayah kandungnya?”
“Ayah, kita sudah pernah membahas masalah ini. Kenapa kau masih saja mengungkitnya? Cia masih kecil dan aku tak akan memberitahukan apa pun kepadanya,” ucap Az tegas.
“Tapi aku dengar ayah kandungnya sedang mencari dia,” sahut Damar.
“Dari mana Ayah mengetahui itu semua?” tanya Az yang nampak kesal mendengarnya.
“Karena..” Belum selesai Damar berbicara, Az sudah memberi isyarat pada ayahnya untuk menutup mulutnya dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya, saat ia merasakan gelagat putrinya yang sepertinya sudah mulai terbangun.
“Ugh,” raung Lusia.
Perlahan tampak pergerakan dari Lusia yang sepertinya sudah cukup puas dengan tidur nya yang cukup panjang.
“Ayah, Kakek, kalian ada di sini?” tanya Lusia begitu melihat Damar dan Az berada di sampingnya.
“Benar Cia, sekarang bagaimana keadaanmu?” tanya Damar penuh perhatian.
“Masih sedikit pusing, Kek. Badanku juga rasanya lemas sekali,” jawab Lusia.
“Apa kau lapar?” tanya Az.
“Iya,”
“Kalau begitu makanlah dulu,” ucap Az yang kemudian membantu putrinya untuk bisa duduk di atas brangkar.
Lalu perlahan menyuapi gadis kecil itu dengan makanan yang telah di antarkan ke kamar putrinya oleh pihak rumah sakit sebelumnya.
Baru tiga suap makanan itu masuk ke dalam mulut Lusia, tiba-tiba saja ia meminta Az untuk menghentikannya.
“Tapi kamu baru makan sedikit Lusia,” sahut Az.
“Iya, tapi aku sudah tak menginginkannya lagi, Ayah,” rengek Lusia.
“Kalau begitu apa yang kau inginkan sekarang, hem?” tanya Az.
“Aku ingin jus alpukat Ayah, yang dijual di Kedai Bakmi dekat rumah sakit ini Ayah,” ucapnya penuh semangat.
“Maksudmu kedai bakminya Pak Kumis?” tanya Damar yang masih mengingat wajah pemilik bakmi yang mirip dengan tokoh Pak Raden dalam serial “si Unyil,”
“Iya, kalau tidak salah itu namanya, Kek,” jawab Lusia.
“Baiklah aku akan segera ke sana,” ucap Az bergegas bangkit dan hendak keluar.
“Tunggu! Bagaimana kalau kita meminta bantuan Ar saja. Aku dengar tadi katanya dia ingin makan di tempat itu,” ucap Damar.
Ia ingat kalau putranya sempat meminjam kunci mobil miliknya karena ingin makan bersama dengan teman-temannya. Namun, karena salah satu temannya tidak jadi, maka Ar mengurungkan niatnya meminjam mobil Damar dan berganti dengan membawa motor yang dibawanya.
“Baiklah,” jawab Az mengalah.
“Dan berjanjilah saat Ar kembali, bersikaplah dengan baik kepadanya. Jangan terus menerus bersikap dingin kepada adikmu itu!” pinta Damar.
“Aku akan berusaha melakukannya Ayah. Sekarang kau teleponlah dia dulu,” sahut Az.
“Kenapa bukan kau saja yang meneleponnya? Dia pasti akan senang, jika kakaknya sendiri yang memintanya,” usul Damar yang membuat Az menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya memberikan persetujuannya.
Ia pun menekan nomor ponsel milik adiknya.
Tut...
__ADS_1
***
Ar tampak kaget sekaligus bahagia ketika sebuah nama tertera di layar ponselnya.
Az, tumben dia meneleponku. Ada apa ini? Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan Cia (pikir Ar sebelum mengangkat teleponnya).
“Halo,” sahut Ar.
“Ar, apakah kau masih berada di kedai bakmi Pak Kumis?” tanya Az saat mendengar suara dari Ar.
“Iya, ada apa memangnya?” tanyanya.
“Cia ingin meminum jus alpukat yang dijual di kedai itu. Kau bisa membelikannya untuk kami,”
“Tentu, tentu saja. Akan aku membelikannya. Berapa yang kau inginkan?”
“Tiga saja karena aku juga sedang bersama Ayah di sini,”
“Oh, baiklah,” jawab Ar.
“Kalau begitu terima kasih,” kata Az sebelum mengakhiri teleponnya.
“Sama-sama,” jaw.ab Ar.
Wajah bahagia Ar setelah menerima telepon dari Az dapat terlihat oleh Bella dan Dilla dengan jelas. Mereka berdua saling bertatapan seolah merasakan keheranan yang sama.
Telepon dari Az? Tumben, gunung es itu bisa berkata selembut itu? (batin Bella).
Aku harap ini bisa menjadi pertanda bahwa hubungan mereka bisa segera membaik (batin Dilla).
“Aku mau memesan jus alpukat dulu ya karena Cia menginginkannya. Kalian tidak sedang buru-buru kan?” tanya Ar.
“Pesanlah! Kami akan menunggumu. Lagi pula hujan juga baru saja reda,” jawab Dilla.
Setelah mendapat persetujuan, Ar lalu memanggil seorang pelayan di kedai itu untuk memesan jus alpukat yang dipesan Az.
“Cia ? Siapa dia? Apakah keponakanmu yang sedang sakit?” tanya David.
“Iya,” jawab Ar singkat.
“Apakah dia putrinya Az?” tanyanya menyelidik.
“Iya,” jawab Ar malas.
“Boleh aku menjenguknya?” pinta David.
Sekalian aku juga ingin bertemu dengan teman lamaku. Aku penasaran sejak kapan dia menikah dan memiliki anak. Dan seperti apa rupanya sekarang? Apa benar seperti yang tadi diceritakan Lim? Kini dia sudah berubah menjadi laki-laki yang tampan dan karismatik (batin David)
“Tentu,” jawab Ar meski sebenarnya dia sedikit ragu untuk membawa David ke sana.
Setelah Lim selesai dari kamar mandi dan jus alpukat pesanan Az telah selesai dibuatkan. Mereka berlima pun kembali ke rumah sakit. Sama seperti sebelumnya, Ar membonceng Dilla dengan motornya. Sedangkan Bella ikut bersama David dan Lim menaiki mobilnya.
***
Bersambung
Apakah Az dan David akan segera bertemu? Apa yang akan terjadi dengan mereka?
Penasaran? Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya..😍😍😍
Salam sayang dari author buat semua..
Jangan lupa berikan like, vote, dan komentar positifnya sebagai bentuk dukungan pada karya ini serta menjadikannya favorit agar author lebih bersemangat lagi. Dan mohon maaf belum bisa memberikan crazy up untuk kalian. 🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih 💐💐💐