Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 71 Apa yang Kau Lakukan?


__ADS_3

Bella yang masih dalam gendongan David terus saja bicara sepanjang jalan. Ia tidak terima pohon mangga itu ditebang hingga tak bersisa oleh Edo.


“David, aku kan sudah turun. Kenapa kau masih saja menebang pohon mangga itu?” rengek Bella. Namun, David yang masih kesal hanya diam saja. Ia tak lagi mempedulikan apa yang dikatakan Bella kepadanya.


“David !!!” Bella berteriak dengan sangat kencang hingga membuat gendang telinga David hampir pecah.


“Kau ini. Kau mau membuatku tuli ya,” sahut David seraya menurunkan Bella dari gendongannya.


“Bukannya kau memang sudah tuli ya? Dari tadi aku ajak bicara kau hanya diam saja,”


“Memangnya aku harus bicara apa dengan gadis keras kepala sepertimu ini?” menyentil kening Bella.


“Sekarang kau bersihkanlah mulutmu itu!” memberikan sapu tangan kepada Bella.


Bella yang masih marah tak segera mengambil sapu tangan David. Ia malah mengerucutkan bibirnya ke depan dan itu membuat David semakin gemas melihatnya. Senyum menyeringai di wajah David, saat ide gila melintas di kepalanya.


“Jadi kau tidak mau membersihkan mulutmu dengan ini. Kalau begitu biarkan aku yang membersihkannya dengan mulutku saja ya?” memajukan bibirnya.


“Iiih, David! Bajingan kau! Dasar MESUM!” Bella berteriak sambil mendorong tubuh David agar menjauh darinya. Setelah itu ia pun berlari menghindari David. Hal itu membuat David terkekeh karena tingkahnya yang semakin menggemaskan.


Lim yang tak tahan melihat tingkah bosnya saat berduaan dengan Bella memilih untuk menjauh dari mereka. Kini, ia mulai menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai atas rumahnya.


Lim bermaksud mengambil sebuah berkas yang tertinggal di dalam kamar miliknya. Namun, langkahnya terhenti saat melewati kamar yang semalam ia berikan kepada Bella dan Dilla untuk mereka tidur.


Pintu kamar itu sekarang dalam keadaan terbuka. Membuat langkah Lim tergerak untuk menutupnya kembali. Namun, apa yang dilihatnya. Matanya kini terbelalak tak percaya.


“Astaga, benar dugaanku sebelumnya. Gadis kesayangan bos ini benar-benar berbahaya kalau terlalu lama tinggal di sini. Lihat saja ulahnya sekarang pada kamar ini. Bos-bos, cepatlah bawa dia pergi dari rumahku," ucap Lim sambil menggaruk-menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat ia melihat keadaan kamar yang jauh lebih buruk dari kapal pecah.


“Mana Bi Lastri masih pulang kampung lagi, hah,” menghela nafasnya panjang.


“Kalau bukan si Bos yang mengajak dia kemari sudah kuusir dia,” ucap Lim jengkel.


Ia benar-benar tak percaya bahwa kamar yang sebelumnya tertata rapih kini terlihat seperti kapal pecah. Ada bekas piring dan gelas kotor bekas makan Bella disertai beberapa remeh di sampingnya, serta selimut, seprai, dan pakaian kotor yang berserakan di lantai.


“Kamar mandiku,” Lim berlari kecil menuju kamar mandi yang ada dalam kamar itu.


Kepalanya menggeleng berkali-kali saat melihat banyaknya busa sabun yang masih tersisa di kamar mandi itu.


“Sabar Lim, sabar,” ucapnya mengelus dada.


Setelah memeriksa keadaan kamar Bella, ia pun turun menghampiri Bella dan David.


“Aw, aw, aw..,” teriak Bella menyentuh pinggangnya.


“Kau kenapa?” tanya David panik saat melihat Bella meringis kesakitan.

__ADS_1


“Pinggangku, pinggangku sakit lagi,” rengek Bella.


“Pinggangmu? Seingatku waktu di atas pohon tadi kau baik-baik saja. Kau malah asyik bergelantungan seperti kera. Kenapa tiba-tiba sekarang kau bilang pinggangmu sakit?” tanya David heran.


“Iya, tadi kan belum benar-benar terasa. Tapi sekarang ini benar-benar sakit,” jawab Bella.


“Memangnya pinggangmu itu kenapa bisa sampai sakit seperti itu?”


“Nih,” menyingkap sebagian kaos yang dikenakannya, lalu menunjukkan memar biru di bagian pinggang belakangnya.


“Haa, kok bisa seperti itu," ucap David yang terkejut melihat luka memar di bagian pinggang belakang Bella.


“Lim !!” teriak David.


“Ada apa, Bos?” sahut Lim.


“Panggil satpam kamu itu kemari!!”


"Maksud Bos, Edo?"


"Memang siapa lagi?" tanya David geram.


“Maaf, Bos, dia sedang tidak ada di tempat.


Dia bilang kapak yang tadi itu tidak cukup kuat untuk menebang pohon mangga. Jadi, sesudah Jamal, sekuriti yang menggantikannya berjaga datang. Dia minta izin untuk memanggil tukang yang biasa menebang pohon karena mereka punya alatnya jadi bisa lebih mudah dan cepat, "


“Kok dipecat, Bos? Memangnya dia salah apa? Memang memanggil penebang pohon itu salah?" tanya Lim.


“Aku memecatnya bukan karena itu, tapi kau lihat ini!” David memperlihatkan luka di bagian pinggang belakang Bella, lalu segera menutupnya kembali.


Aduh, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bagian pinggang Nona Bella bisa membiru seperti itu? Astaga, Edo kenapa nasibmu sial begitu? Kali ini sepertinya aku tak bisa menolongmu (batin Lim)


“Sudahlah, David. Ini bukan salah Edo, jangan pecat dia. Ini salahku sendiri yang kurang berhati-hati saat di kamar mandi tadi hingga bisa jatuh terpeleset di sana,” sahut Bella membela Edo.


"Oh, kalau jatuh di kamar mandi Edo tidak bisa disalahkan Bos, karena tidak mungkin kan dia mengikuti Nona Bella yang sedang mandi,"


“Benar juga. Baiklah, kalau begitu kau tidak perlu memecat dia. Tapi berikan dia peringatan keras agar dia bisa lebih memperhatikan gadis ini dan segera melapor bila terjadi hal seperti ini lagi,"


“Baik, Bos.” jawab Lim.


Tapi kuharap Nona Bella bisa segera pindah dari sini agar hal seperti ini tidak sampai terjadi lagi. (ucap Lim dalam hati)


“Kalau begitu sekarang kau siapkan mobil! Kita akan membawa Bella ke rumah sakit,”


“Baik, Bos.”

__ADS_1


“Haa... ke rumah sakit? Tidak salah?” sahut Bella tak percaya.


“Untuk apa? Ini kan cuma luka memar, Tuan David. Dioleskan salep saja juga sudah sembuh,” lanjutnya.


“Kalau begitu siapa yang akan mengoleskan salepnya?”


“Ya tentu kamu lah! Memangnya siapa lagi? Masa mengoleskan salep saja tidak bisa," ucap Bella dengan nada merendahkan.


David yang mendengar gaya bicara Bella tersenyum penuh makna.


Diam-diam tangannya mulai menyusup ke kaos yang dikenakan Bella dan mulai mengelus lembut bagian pinggang Bella yang tidak terkena memar hingga ke bagian perutnya.


“Yakin, kau mau aku yang mengolesnya?” tersenyum menggoda.


Sesaat Bella merasakan sensasi aneh saat tangan David mengelus bagian pinggangnya.


“Da-Dav, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Bella berusaha menjauhkan tangan David dari pinggangnya. Namun, David tetap saja tak menghentikan aksinya. Ia terlihat begitu menikmati reaksi Bella saat ini.


“Kau sendiri kan yang memintaku mengoleskan salep untukmu,” berbisik pelan di telinga Bella.


“Jadi sebelum aku mengoleskan ke bagian yang luka. Ada baiknya kau membiasakan sentuhan tanganku dulu agar kau tak menjerit saat aku menyentuh lukanya,” ucap David mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak David, tidak. Hentikan! Kau tidak perlu mengoleskan salep itu lagi! Biarkan nanti Dilla saja yang melakukannya," ucap Bella seraya menjauh dari David.


"Tapi temanmu itu sekarang tidak ada di rumah, jadi biarkan aku membantumu,"


"Tidak, tidak, tidak perlu. Kau tidak perlu melakukannya. Antarkan saja aku ke rumah sakit sekarang,"


"Sayangnya sekarang aku sudah berubah pikiran,"


"Tidak, David!! Kumohon bawa saja aku ke rumah sakit,"


"Biarkan aku sedikit saja mengoleskannya. Kau kan sedang kesakitan,"


"Tidak,"


David terus saja memaksa Bella untuk mengoleskan salep itu. Sementara Bella terus saja menolaknya. Hingga perdebatan itu terus terjadi di antara keduanya.


Lim yang menyaksikan tingkah bos dan tunangan pura-puranya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bos, bos, cukup, hentikan aksi konyolmu itu. Ingat ada aku di sini. Jangan kau nodai pikiranku yang suci ini dengan kelakuanmu itu Bos. Dia itu hanya tunangan pura-puramu (ucap Lim dalam hati).


***


Bersambung

__ADS_1


Terima kasih bagi yang telah memberikan dukungan kepada karya ini lewat like, vote, dan komen terbaiknya. 😍😍😍


Nantikan kelanjutan ceritanya, dan jangan lupa jadikan karya ini favoritmu ya.


__ADS_2