
Apakah ayam jantan hari ini sudah bisa bertelur?
Seperti itulah hal yang pertama kali terlintas dalam benak Dokter Damar begitu masuk ke dalam ruang rawat Lusia dan mendapati putranya Azril sedang menunjukkan rona bahagia sambil sesekali tersenyum menatap balutan perban di tangannya.
Jarang sekali melihat dia tersenyum seperti itu (pikir Damar).
“Sepertinya Ayah baru melihat perban itu,” ucap Damar yang membuat Az tampak terkejut saat menyadari kehadiran ayahnya di ruangan itu.
“Ayah, kapan kau datang?” tanya Az dengan
menyembunyikan perban di tangannya.
“Cukup lama untuk menyaksikan putra Ayah yang senyum-senyum sendiri saat melihat perban di tangannya itu,” jawab Damar menunjuk balutan perban yang menutupi luka Az.
“Oh, ini,” jawab Azril singkat menatap perban di tangannya itu.
Damar mengangkat tangan putranya yang terbalut perban dan memperhatikannya dengan seksama. Sudut bibirnya terangkat saat mendapati bentuk perban yang terlihat aneh, namun cukup menarik perhatiannya.
“Sepertinya itu bukan pekerjaan seorang dokter atau perawat?” tanyanya kepada Az yang tampak menghindari tatapan ayahnya.
“Iya, ini memang bukan pekerjaan seorang dokter atau perawat,” jawab Az tanpa memandang wajah ayahnya.
“Apakah seorang wanita?” tanya Damar dengan senyum yang melayang pada putranya.
“Iya, ini memang pekerjaan seorang wanita. Tapi, Ayah jangan berpikir macam-macam. Dia itu temannya Ar,” jawab Az yang tampak sedikit gugup.
“Temannya Ar? Justru, Ayah malah lebih heran dengan itu. Sejak kapan kau bisa berteman dengan teman adikmu?” pertanyaan Damar lagi-lagi membuat Az terpojok.
“Dia bukan temanku Ayah, kebetulan saja dia tadi menjenguk Lusia,” kata Az.
Menjenguk Lusia? Apa dia itu wanita yang sama dengan yang pernah kulihat bersama Ar tempo hari (pikir Damar).
“Apa dia pekerja di rumah sakit ini yang Ayah minta untuk menjaga Lusia sementara waktu?” tanyanya.
“Menjaga Lusia? Siapa? Aku malah baru mengetahui kalau Ayah meminta orang untuk menjaga Lusia.
“Ya, tadi Lusia sendirian. Sedangkan Ayah dan Ar sedang ada pasien jadi Ayah minta temannya Ar itu untuk sementara waktu menjaga Lusia di sini,”
Mendengar penjelasan sang ayah, Az mulai bisa menerka siapa wanita yang dimaksud oleh ayahnya tersebut.
“Maksud Ayah petugas kebersihan yang baru itu?” tebak Az.
“Iya, wanita itu maksud Ayah. Apa dia yang membalut lukamu?” tanya Damar menimpali ucapan putranya.
“Bukan Ayah, bukan dia, tapi temannya.”
“Oh, baguslah kalau begitu.”
“Maksud Ayah?” tanya Az bingung.
“Ah tidak, lupakan sajalah masalah itu! Ayah ke sini bukan untuk membahas masalah itu, tapi ada masalah lain yang dari dulu ingin ayah bicarakan kepadamu,” ucap Damar.
“Masalah apa itu Ayah? Apa ini ada hubungannya dengan Ar?” tebak Az.
“Kurang lebih memang ada kaitannya dengan adikmu, tapi ini tentang masa lalumu. Tentang kesalah pahaman antara kau, adik, dan Bundamu,” jelas Damar.
“Maksud Ayah?” tanya Az bingung.
“Begini Az, sebenarnya ada satu rahasia yang selama ini aku dan ibumu simpan. Bahkan sebenarnya, Ayah sudah pernah berjanji kepada ibumu untuk tetap merahasiakan ini darimu,”
“Rahasia apa Ayah? Lalu kenapa Ayah ingin bercerita tentang rahasia itu kepadaku hari ini? Apa aku ini bukan anak Ayah?” tebak Az.
“Hey, jangan konyol anak muda! Kau ini bicara apa? Tentu saja kau dan Ar, kalian berdua adalah putra kandung ayah dan ibumu,”
__ADS_1
“Lalu?” tanya Az yang semakin penasaran dengan cerita yang ingin disampaikan ayahnya.
Damar menghela nafasnya panjang, sebelum ia menceritakan sebuah cerita yang ia harapkan dapat mengubah sudut pandang Az terhadap adiknya dan mengakhiri perselisihan yang selama ini terjadi di antara keduanya.
“Waktu kau lahir, aku dan ibumu merasa sangat senang dan bahagia karena dari cinta kami telah terlahir seorang putra seperti dirimu. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena saat kau berumur 1 tahun, kau mulai sakit-sakitan. Saat itu dokter menemukan adanya sebuah penyakit langka dalam dirimu,”
“Untuk bisa menyembuhkanmu diperlukan traplantasi sel punca yang terdapat di darah tali pusat bayi yang baru lahir. Karena alasan itulah, ayah dan ibumu melakukan program kehamilan anak kedua kami agar bisa menolongmu. Dan setelah itu berkat tranplantasi sel punca dari adikmu kau sembuh. Sejak saat itulah ibumu berjanji untuk memberikan perhatian yang lebih kepada adikmu. Apalagi setelah dua tahun kemudian, adikmu menjadi lebih sering sakit-sakitan. Walaupun jelas bukan karena itu penyebabnya,”
Az terdiam mendengar satu persatu penjelasan yang diberikan Damar kepadanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hidupnya dulu diberikan oleh adiknya.
“Dan mengenai masalah kecelakaan yang terjadi pada ibumu, kau tentu tahu bahwa itu bukan sepenuhnya kesalahan Ar. Karena apa yang dilakukan ibumu adalah tindakan wajar yang akan dilakukan orang tua mana pun untuk melindungi putranya. Mungkin, jika Ayah yang berada di posisi ibumu saat itu Ayah pun akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ibumu,”
Lagi-lagi Az terdiam mendengar perkataan ayahnya.
“Ar memang salah karena waktu itu ia begitu keras kepala dan tak mau mendengarkanmu. Ar memang salah karena tak seharusnya ia pergi dari rumah padahal ibumu sudah melarangnya untuk keluar. Tapi adikmu, tidak pernah menginginkan musibah ini terjadi,”
“Percayalah Az, apa yang kau rasakan saat itu juga dirasakan oleh adikmu. Bahkan, hingga saat ini ia masih saja terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang menimpa ibumu,” jelas Damar.
Az teringat kembali dengan tragedi kecelakaan yang menimpa ibunya. Demi menyelamatkan sang adik yang kala itu hampir tertabrak motor. Sang Ibu rela mengorbankan tubuhnya sendiri untuk menjadi tameng bagi putranya dan kejadian itu dilihat sendiri oleh Az kecil. Bahkan hingga saat ini, memori akan detail dari kejadian itu masih terlihat jelas dalam ingatan Az.
“Az, ayah tahu hingga saat ini kau masih mencari pelaku tabrak lari yang menyebabkan kematian ibumu. Ayah, juga tahu kalau selama ini kau sering mengikuti balap liar hanya untuk mencari tahu keberadaan orang itu. Tapi Az, keberadaan Ar di sana bukanlah suatu kebetulan, melainkan karena dia sangat mengkhawatirkanmu, dia sangat peduli padamu, dan dia sangat menyanyangimu Az,” ucap Damar penuh penekanan
“Renungkan itu baik-baik dan belajarlah untuk menyanyangi adikmu!” ucap Damar seraya menepuk pundak putranya yang sedari diam tanpa bantahan.
****
Guyuran air hujan semakin menambah suasana dingin yang telah tercipta di dalam kedai bakmi tersebut. Kediaman dan sikap dingin David membuat semua orang yang ada di sekitarnya tak berani berkata sepatah kata pun.
Demikian juga Bella yang sepertinya telah terbiasa dengan sikap dingin David ini. Sikap yang sama yang sempat David tunjukkan sewaktu Bella berada di kantornya tempo hari. Bedanya, waktu itu Bella sama sekali tak memahami apa yang menjadi penyebab kemarahan David waktu itu, namun kali ini ia cukup bisa menerimanya.
Lim sendiri ikut memilih diam karena ia tahu mengajak David bicara saat ini sama saja seperti membangunkan siang yang sedang tertidur. Ia cukup mengerti, David memiliki harga diri yang sangat tinggi karena itulah David paling tidak suka orang mengetahui kelemahan yang dimilikinya.
David bangkit dari kursi dan menggeser tempat duduknya. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun ia berjalan menjauh dari tempat tersebut.
“David !!” panggil Bella, namun lagi-lagi David tak menyahuti panggilan itu, ia terus saja berjalan menjauh dari Bella yang tanpa sadar mengikutinya dari belakang.
“David,” Bella menarik lengan David dan membalikkan badannya ke arahnya.
Mata mereka saling bertemu, sesaat terasa desiran aneh yang membuat keduanya terpana. David berjalan mendekat ke arah Bella, sementara Bella berjalan mundur untuk menjauh hingga badannya terkunci dinding dan tak bisa menghindar lagi. Sementara tubuh David kian mendekat, saking dekatnya hingga debaran jantung di antara keduanya bisa saling terasa.
“Kenapa kau mengikutiku?” tanya David menatap wajah Bella dengan lembut.
“Si-siapa yang mengikutimu?” matanya tertunduk, Bella berusaha menyangkalnya.
“Katakan saja kalau kau memang mengikutiku karena kau tak mau melepaskanku kan?” goda David.
“Cih, si-siapa yang tak mau melepaskanmu. Kau terlalu percaya diri,” sahut Bella.
“Lalu?” tanya David masih tak berhenti menatap Bella.
“A-aku ke sini hanya ingin meminta maaf atas nama Dilla tentang kejadian tadi. Maaf karena dia membohongimu,”
“Kalau aku tak mau memaafkannya, kau mau apa?”
“Ayolah, jangan seperti itu! Aku tahu kau adalah CEO yang paling tampan dan tunanganku yang paling baik. Kau tak mau kan wajahmu jadi cepat tua gara-gara marah-marah seperti ini terus,” bujuk Bella.
David yang melihat ketulusan Bella, mencoba memanfaatkan kesempatan ini.
“Baiklah, tapi aku ingin mengambil hadiahku yang dulu hari ini,” ucapnya.
“Hadiah apa?” tanya Bella.
“Masa kau lupa. Hadiah yang waktu itu aku minta saat kau memenangkan taruhanmu dengan Amanda,” jawab David.
__ADS_1
“Oh, itu. Memang kau mau minta hadiah apa?” tanya Bella bingung.
“Aku akan mengatakannya, tapi dengan satu syarat.”
“Dih, aneh. Udah minta hadiah masih juga mengajukan syarat,” ledek Bella.
“Itu karena aku malu mengatakannya,” sahut David.
“Hah, yang benar. Bos David punya malu juga,” sindir Bella.
“Ayolah, kau mau memberikannya atau tidak?” tanya David sekali lagi.
“Baiklah, kalau begitu apa syaratnya?” jawab Bella.
“Tutup matamu!” jawab David tegas.
“Apa? Untuk apa pakai tutup mata segala? Kan tinggal bilang saja,” protes Bella.
“Aku bilang tutup matamu dulu,” sahut David sekali lagi.
“Baiklah, merepotkan sekali. Cuma mau minta hadiah saja orang pakai disuruh tutup mata segala. Nih, udah,” Bella mengikut begitu saja yang diperintahkan David tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun.
Bella, Bella, kadang kau terlalu pintar, tapi kadang juga terlalu bodoh. Mau saja kau mengikuti ucapanku. Baiklah, sekarang akan aku tunjukan apa hadiah yang ingin kuminta darimu (batin David).
“Tunanganku yang bodoh, kuharap kau tidak akan lupa hari ini,” ucapnya sebelum menyentuh dan mencium lembut bibir Bella.
Bella yang menyadari sentuhan itu langsung membuka matanya dan mendorong tubuh David agar menjauh darinya.
“David!!" teriaknya dan itu langsung membuat David terkekeh.
“Aduh, pedas sekali bibirmu itu!” sahut David saat merasakan sensasi pedas dari bibir Bella yang saat itu baru saja selesai memakan bakmi janda dengan tingkat kepedasan level 5.
“Rasakan itu! Lagian pintar sekali kau mencuri kesempatan di saat seperti ini,” sahut Bella jengkel.
“Cukup, Bel, cukup! Aku sudah tidak tahan,” ucap David tiba-tiba.
“Tidak tahan apanya?”
“Aku, aku ingin buang air,” jawab David yang langsung melesat menuju kamar mandi.
“Jadi, dari tadi itu kau ke sini hanya untuk buang air?” tanyanya.
“Iya,”
“Haaah, aku sudah tertipu.. sial, sial, sial!” rengek Bella sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Sementara tak jauh dari Bella dan David berada, tampak Lim yang masih saja menutup mata dengan kedua telapak tangannya setelah tadi melihat pemandangan yang membuat jiwa jomblonya meronta.
“Ya Tuhan, lagi-lagi mata suciku ternodai. Kenapa aku malah mengikuti mereka sampai di sini sih?” gumam Lim yang masih saja menutup mata dan telinganya.
***
Bersambung
Sebagian masalah Az dan Ar sudah terungkap. Apakah setelah ini mereka bisa saling berbaikan?
Lalu bisa kah Az merebut Bella dari David ?
Akan kah Lim mengatakan hal yang sebenarnya kepada Dilla mengenai kalungnya?
Penasaran? Nantikan kelanjutan ceritanya di update selanjutnya.
Jangan lupa untuk tidak bosan memberikan dukungannya kepada karya ini baik berupa like, vote, dan komentar positif dari kalian dan tetap jadikan karya ini sebagai favorit ya..
__ADS_1
Terima kasih...