Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 7 Calon Adik Ipar


__ADS_3

Dilla dan Bella memakan bakso buatan Neni dengan sangat lahap.


“Enak kan baksonya?” tanya Bella penuh semangat.


“Benar, enak sekali. Nenekmu ini memang sangat pintar membuat bakso,” jawab Dilla dengan wajah yang lebih ceria dari sebelumnya sambil terus menikmati kuah bakso yang ada di hadapannya.


“Kau ini kenapa kelihatan seperti tidak makan beberapa hari saja sih,” celetuk Bella yang seketika membuat rona wajah Dilla kembali berubah menjadi sedih.


“Eeem, aku...aku memang belum makan selama beberapa hari ini,” ucap Dilla lirih tapi masih bisa didengar.


“Apa? Jadi itu benar? Ya ampun, kasihan sekali kau ini. Sungguh sulit dipercaya. Bisa-bisanya calon adik iparku ini kelaparan,” tutur Bella.


“Bagaimana nantinya aku mempertanggung jawabkan hal ini pada calon suamiku,” lanjutnya yang membuat Dilla kembali terkekeh.


“Kau itu benar-benar lucu ya, Bella.. Bicaramu itu seolah-olah kau itu benar-benar calon istri dari David Erlangga, CEO ternama, pewaris Erlangga grup," ujar Dilla.


“Memangnya kenapa? Aku percaya dengan ungkapan yang mengatakan jika setiap ucapan itu bisa menjadi doa. Anggap saja aku sedang berdoa," tutur Bella.


“Yup, benar sekali! Aku doakan agar kau benar-benar bisa menjadi istrinya David Erlangga,” ucap Dilla yang langsung diamini oleh Bella.


“Oh ya Dil, gimana kalau kau tinggal di sini saja bersamaku? Bolehkan Neni?” teriak Bella pada sang nenek yang sedari tadi sibuk meracik bakso yang dipesan dan harus diantarkannya segera kepada pelanggannya.

__ADS_1


“Tentu saja boleh. Dengan begitu ada yang bisa membantu nenek merapikan kamarmu yang sudah seperti kapal pecah,” jawab Neni semangat.


“Ah... Neni selalu saja menceritakan hal-hal baik tentangku seperti itu,” sahut Bella yang lagi-lagi membuat Dilla terkekeh.


“Cih, lidahmu itu sekarang sudah terlalu pandai bersilat rupanya,” ucap Neni.


“Iya, dong, siapa dulu yang mengajari,” sahut Bella.


“Ya sudah, kalau kau udah selesai makan baksonya, sekarang juga kau antar bakso-bakso ini ke ABC Company menemui Mbak Maya Talita,” ujar Neni.


“Siap, Kanjeng Neni!” menjawab dengan memberi hormat.


“Bolehkah aku ikut Bella? Siapa tahu aku bisa mendapatkan pekerjaan di sana?” pinta Dilla.


Kenapa aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi ya? (ucap Dilla dalam hati)


Bella bergegas mengambil motor yang baru saja digadaikan oleh temannya. Motor dengan postur besar yang biasa dipakai untuk orang-orang balapan.


“Astaga, ini motornya Bella?” tanya Dilla terperangah tak percaya saat melihat motor besar itu di hadapannya.


“Kan tadi sudah kubilang, kau jangan menyesal ya..,” jawab Bella.

__ADS_1


Tadinya Dilla membayangkan kalau motor yang akan dibawa Bella adalah sejenis motor matic yang biasa dipakai oleh para wanita. Ia sungguh tidak menyangka gadis yang berperawakan mungil ini justru akan membawa motor sebesar itu.


Kini, Dilla mulai ragu untuk ikut dengan Bella, namun dorongan untuk mencari pekerjaan membuatnya nekat untuk ikut bersama Bella.


“Baiklah, aku akan tetap ikut denganmu,” ucap Dilla.


“Yakin? Kalau begitu cepat pakai celana ini!” sahut Bella menyodorkan celana training miliknya.


“Buat apa?” tanya Dilla bingung.


“Hey.. Memang kau mau naik motor dengan rok seperti itu? Apa kau ingin kaki jenjang mu menjadi tontonan orang-orang di jalan?" ucap Bella.


“Tentu saja tidak. Aku bisa memiringkan dudukku,” jawab Dilla.


“Jangan konyol! Kau bisa mati jika kau duduk dengan cara seperti itu,” sahut Bella.


Mendengar ucapan Bella, Dilla akhirnya memilih mengalah dan menuruti semua keinginan temannya itu. Ia pun segera memakai celana training yang tadi diberikan Bella kepadanya.


Setelah mengganti rok yang dipakainya dengan celana training, Dilla bersama Bella menaiki motor besar itu. Motor tersebut dikemudikan oleh Bella menuju gedung ABC Company yang merupakan salah satu perusahaan anak cabang dari Erlangga Grup.


***

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa beri dukungannya dengan like, vote, dan favoritkan karya ini 😍😍😍


__ADS_2