
Dilla sedang mengiris beberapa buah apel untuk dimakan oleh Lusia. Gadis kecil itu baru saja siuman setelah beberapa jam lalu menjalani operasi yang cukup serius di bagian kepalanya. Lusia sempat menanyakan keberadaan Az kepada Kakek dan Pamannya. Namun, sejak kepergiannya beberapa jam yang lalu Az belum juga kembali ke rumah sakit. Itulah sebabnya Dokter Damar keluar dari ruangan Lusia untuk mencari keberadaan Az.
Sekarang di kamar itu hanya ada Lusia, Dilla, dan Ar yang sedang menemani gadis itu.
“Paman, Ayah di mana? Kenapa belum juga datang? Apa Ayah udah enggak sayang sama aku,”
“Hus, Cia! Kamu kok ngomongnya gitu. Ayah itu sayang banget sama Cia. Sekarang, Ayah sedang di luar karena ada urusan sebentar. Nanti juga ke sini,” jawab Ar.
“Beneran? Tapi kenapa nomor Ayah enggak bisa dihubungi?” ucapnya sedih.
“Mungkin sinyal di tempat Ayah sedang tidak bagus, makanya sinyalnya nyangkut deh di pohon apel,”
“Ha ha ha, Paman bisa aja,”
“Cia, dimakan dulu ya apelnya?” tawar Dilla menyodorkan apel kepada Cia.
“Terima kasih, Tante Cantik,” Lusia mengambil potongan apel pemberian Dilla, lalu memakannya dengan lahap.
Dilla berada di kamar Lusia selain karena permintaan Ar, juga karena adanya perintah dari Bu Wati. Bu Wati selaku atasan Dilla, diminta Dokter Damar yang merupakan kepala sekaligus pemilik rumah sakit untuk menjadikan Dilla sebagai pengasuh cucunya untuk sementara waktu. Dilla yang memang sangat menyukai Lusia merasa senang dengan tugas itu, walaupun sedikit takut mengingat ia akan lebih sering bertemu dengan Azril, dokter paling galak yang ia kenal.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat ketiganya menoleh ke arah pintu yang perlahan mulai terbuka.
“Ah, ternyata benar. Aku pikir aku salah kamar,” gumam Bella yang baru saja masuk ke kamar Lusia.
“Wah, ada bidadari tomboy dari mana Paman?” tanya Lusia yang membuat Bella celingak-celinguk melihat ke arah sekitar.
Aria yang melihat tingkah Bella tersenyum.
“Maksudnya kamu itu Bella,” ucap Aria.
“Jadi yang kamu maksud itu aku gadis kecil?” tanya Bella menunjuk dirinya dan dijawab anggukan oleh Lusia.
“Wah, senangnya bisa bertemu dengan gadis kecil yang paling jujur. Kamu sangat tahu, kalau aku ini memang cantik secantik bidadari,” sahut Bella senang karena mendapat pujian.
“Dia siapa Paman?” tanya Lusia.
“Dia itu temannya Paman. Namanya..,” ucapan Ar yang belum selesai dipotong oleh Bella.
“Namaku Beladari,”
“Beladari?” ketiganya menyahut ucapan Bella bersamaan.
“Iya, karena aku seorang bidadari, maka namaku Beladari,” jawab Bella narsis.
“Oh, aku pikir namamu belatung,” celetuk Ar yang membuat Dilla dan Lusia tertawa.
“Ar ganteng, kamu ini ya. Sudah berani kamu mengatai isteri pertamamu seperti itu?” ucap Bella yang membuat senyum di wajah Dilla menghilang.
“Bella, kamu ini bicara apa? Di depan anak kecil jangan suka bicara ngawur ah!” sangkal Ar melihat ke arah Dilla.
“Yang kamu khawatirkan anak kecil di depanku ini atau ...” sahut Bella menaik turunkan kedua alisnya, menatap dua insan yang kini nampak salah tingkah di depannya.
“Atau apa Tante? Jadi sebenarnya Tante itu istri pertama Paman atau bukan?”
“Jelas bukanlah, cantik. Mana mau aku dimadu. Oh ya, nama kamu siapa?” tanya Bella yang langsung duduk di samping ranjang Lusia.
“Namaku Lusia, Tante. Tapi, Tante bisa panggil nama kecilku Cia,”
“Oh, nama yang bagus.” membelai lembut pipi Lusia.
Wah, Tante ini sangat cantik dan baik (batin Lusia)
“Tapi Tante benaran bukan istri Paman, kan?”
“Hus! Jangan bicara istri Paman terus! Memang kamu enggak ngerasa kalau setiap kali kamu menyebut kata itu hawa ruangan ini tiba-tiba menjadi panas,” ucap Bella lirih
“Ehem, Bella sebenarnya kamu kemari ada perlu apa?” tanya Ar mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya, hampir lupa. Aku ke sini mencari kamu Dilla karena dari tadi aku telepon ponselmu sama sekali tidak diangkat,” ucap Bella menoleh ke arah Dilla.
“Maaf, ponselku dalam mode hening. Memang ada perlu apa kamu mencariku?”
“Aku ingin minta bantuanmu untuk mengoleskan salep pada luka memarku,”
“Luka memar? Memangnya kamu kenapa bisa sampai memar seperti itu? Sini, aku lihat dulu!” sahut Dilla sambil memeriksa satu per satu bagian tubuh Bella.
“Eit, lukanya bukan di sini, Dilla! Nanti saja aku tunjukan! Sekarang aku ingin mengenal teman baruku dulu,” cegah Bella yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Lusia.
“Iya, tapi kenapa kamu bisa sampai terluka seperti itu?” tanya Dilla lagi.
__ADS_1
“Tenang dulu, nanti pasti aku ceritakan,” jawab Bella yang kemudian menoleh ke arah Ar.
“ Ar, di sini tidak ada minuman dingin kah? Aku haus nih.. Kamu ini bagaimana sih? Masa ada tamu berkunjung tidak dilayani,”
“Dih, beneran enggak tahu malu. Ini itu rumah sakit Bella, bukan rumah makan,” ejek Dilla yang kemudian dibalas senyuman oleh Ar.
“Emang kamu baru tahu kalau Bella itu udah enggak punya urat malu,” timpal Ar yang kini berjalan ke arah lemari pendingin yang ada di ruangan Lusia.
“Astaga Bella, maaf aku lupa. Beberapa hari ini aku belum belanja lagi jadi tidak ada apa pun di sini,” ucap Ar saat membuka lemari pendingin yang kini nampak kosong, tidak apa pun.
‘Tet tot... Anda belum beruntung,” sahut Bella membuat Lusia terkekeh.
“Kalau begitu aku pergi berbelanja dulu ya, Bel. Tolong kamu di sini dulu jaga Lusia,” ucap Ar.
“Oke deh,”
“Ar, aku boleh ikut enggak?” pinta Dilla.
“Yaelah, nempel terus kayak perangko,” ejek Bella.
“Bukan begitu, aku ada sesuatu yang penting yang harus kubeli,” sahut Dilla.
“Memang apa yang ingin kamu beli? Biar aku belikan sekalian,” tanya Ar.
“Masalahnya barang yang akan aku beli belum tentu sesuai jika kamu yang memilihnya karena itu barang perempuan,” jawab Dilla.
“Barang perempuan ya?” menggaruk-garuk kepala tanda mengerti yang dimaksud Dilla.
“Okelah, kamu boleh ikut,” ucap Aria pada Dilla.
“Bel, kamu enggak apa-apa kan jaga Lusia di sini sendiri?” menoleh ke arah Bella.
“Iya, enggak apa-apa. Selama enggak ketemu Suster ngesot. Enggak kan jadi masalah,” jawab Bella asal.
“Mana ada suster ngesot di rumah sakit elit begini,”
“Yaelah, sombong bener. Sudah sana pergi, beli makanan dan minuman yang banyak biar nanti aku yang habiskan!” sahut Bella mengusir Aria dan Dilla dan itu membuat Lusia maupun Dilla tertawa dibuatnya.
Dilla baru kali ini melihat keakraban Ar dan Bella secara langsung. Mungkin memang benar, selama ini dia sudah salah paham tentang perasaan Ar pada Bella. Meskipun mereka dekat, namun dia tidak melihat adanya perasaan suka di antara mereka, baik pada Ar maupun Bella.
“Tante itu lucu sekali ya,” ucap Lusia dengan tawa yang masih menghias di wajahnya.
“Kamu juga. Oh ya, boleh aku minta apelmu?” tanya Bella dengan tak tahu malu.
Teman Paman Ar ini benar-benar lucu. Dia juga sangat cantik dan juga baik. Pasti akan cocok dengan Ayah (ucap Lusia dalam hati).
Bella menyuapi Lusia potongan apel yang telah disimpan di dalam piring yang diletakkan Dilla di atas meja samping ranjang Lusia, sambil sesekali memasukan potongan apel itu ke dalam mulutnya.
Azril yang tampak begitu senang setelah mendapat kabar dari sang ayah bahwa putrinya telah siuman, langsung menerobos kamar Lusia.
“Lusia,” panggilnya seraya langsung mendekat dan memeluk serta mencium kening Lusia.
“Eh, apa-apaan? Kamu ini pedofil ya?” teriak Bella saat melihat perlakuan Az pada putrinya.
Az yang baru menyadari kehadiran Bella, kini menoleh ke arahnya.
“Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Az dengan muka juteknya.
“Hei, harusnya aku yang tanya sedang apa kamu di sini?”
“Aku..,” Az hendak menjawab namun dipotong oleh Bella yang masih nyerocos tak karuan.
“Oh ya? Aku tahu kamu dokter di sini, tapi kamu tidak bisa sembarangan asal masuk kamar pasien, apalagi sampai..” dipotong Lusia.
“Tante dia..” belum selesai Lusia berbicara, Bella kembali melanjutkan ucapannya.
“Lusia meskipun dia dokter ganteng, kamu jangan percaya! Kamu itu masih anak-anak. Dan dia seharusnya tidak asal peluk dan cium kamu,” ucap Bella memberi nasihat.
“Tapi Tante, tolong dengarkan aku dulu..
Dia itu a-yah-ku,” jawab Lusia dengan mengeja kata"ayah" dan itu membuat mata Bella terbelalak tak percaya.
“Apa? Tadi kamu bilang apa? Ucapkan sekali lagi!”
“Dia itu a-yah-ku,” ulang Lusia.
Ya Tuhan, malunya diriku. Tapi kenapa bisa Az yang jadi ayahnya Lusia? Dia kan keponakan Ar? Memang sih Dilla pernah cerita kalau Az itu punya seorang putri. Tapi, Lusia kan keponakan Ar. Bagaimana bisa keponakan Ar jadi anaknya Az? Kecuali kalau mereka.. (pikir Bella yang masih menerka-nerka jawaban dari pertanyaannya).
“Kenapa? Sudah dengar apa yang dikatakan Lusia?” tanya Az dengan nada dingin seperti biasa.
“Lusia, kamu sudah sadar sayang? Tapi kenapa orang bodoh ini bisa ada di sini?” melirik ke arah Bella.
__ADS_1
“Hei, beruang kutub! Siapa yang kamu katakan bodoh, hah?”
“Ayah, jangan berkata seperti itu.. Tante Bella yang menjagaku dan menyuapi apel untukku,”
“Memang ke mana Paman bodohmu itu?”
“Hei, kau ini. Semua orang kau katai bodoh. Merasa diri paling pintar, hah?” ucap Bella sebal.
“Ayah.. jangan berkata seperti itu tentang Paman maupun Tante Bella. Paman selalu sayang dan baik kepadaku. Sekarang pun Paman dan Tante Dilla pergi untuk membeli persediaan makanan untukku. Jadi, selama mereka pergi dan Ayah tidak ada. Tante Bella lah yang telah menjagaku di sini,” jelas Lusia.
“Kau dengar yang dikatakan putrimu itu! Aku heran bagaimana bisa keponakan Ar itu menjadi putrimu,” gerutu Bella.
Bella memang belum mengetahui kalau Ar dan Az bersaudara karena Dilla pun baru mengetahuinya hari ini dan belum sempat menceritakan semua itu kepada Bella.
“Ayah, tanganmu kenapa?” tanya Lusia yang melihat bekas luka yang ada di tangan Az karena perbuatannya tadi siang saat dia marah lalu memecahkan meja kerja yang berlapis kaca itu.
“Ini tidak apa-apa, nanti akan Ayah obati,” ucap Az melepaskan tangan yang dipegang Lusia.
“No, No, aku ingin Ayah mengobatinya sekarang di depanku,” tolak Lusia tegas.
“Tante Bella, bisakah kau membantuku?” pinta Lusia menoleh ke arah Bella.
“Iya, ada apa? Apa yang bisa kubantu?” tanya Bella.
“Tante, di lemari itu Kakek selalu menyiapkan kotak obat-obatan. Bisakah Tante mengambilnya,” menunjuk ke salah satu lemari yang ada di kamarnya.
“Baiklah,” Bella berjalan ke arah lemari yang ditunjuk Lusia, lalu mengambil kotak obat yang dimaksud gadis kecil itu. Kemudian, ia menyerahkan kotak tersebut pada Lusia.
“Tante, bisakah Tante membantuku membalut luka Ayah,”
“Apa?!” sahut Bella dan Az bersamaan.
“Tolong Tante," pintanya sekali lagi dengan wajah memelas.
“Baiklah dan kau duduklah di sana,” menoleh ke arah Az lalu menunjuk sofa yang ada d ruang VVIP kamar Lusia.
Azril yang sebenarnya malas, menuruti saja apa yang diinginkan putrinya karena biar bagaimana pun putrinya itu baru saja selesai dioperasi dan keadaan psikisnya akan sangat mempengaruhi kondisi fisiknya. Sedangkan Bella, dia tak tega menolak permintaan gadis kecil yang meminta dengan wajah memelas.
Meski dengan cemberut, Bella mulai mengobati luka Az dengan hati-hati.
Padahal aku ke sini untuk mengobati lukaku. Eh, kenapa jadi malah aku yang mengobati luka orang lain? Mengobati beruang kutub yang paling menyebalkan pula (batin Bella).
Setelah diobati, Bella lalu membungkus luka Az dengan kain kasa. Akan tetapi, Bella yang memang tidak memiliki keterampilan medis, benar-benar kebingungan saat membalut luka itu dengan kain kasa.
“Ini bagaimana sih?” gumamnya yang bolak-balik membuka dan menutup kain kasa yang membalut luka Az.
“Kamu ini bisa tidak sih melakukannya?” bisik Az saat memperhatikan ketidak becusan Bella.
“Diam! Kau tahu tidak apa yang sedang kupegang?” ucap Bella gemas.
“Gunting,” jawab Az singkat
“Kalau begitu apa kau mau aku sampai salah gunting? Cerewet sekali kayak Nenek-nenek, " umpat Bella, namun tak dihiraukan Azril.
Bella terus berusaha membalut luka Az, meski harus berusaha berkali-kali. Az sendiri memilih diam tanpa banyak bicara. Ia enggan berdebat dengan Bella. Namun, pandangannya kembali teralihkan ke arah Bella saat ia melihat sebuah kalung yang menjutai keluar dari leher Bella.
Sebenarnya bukan kalungnya yang ia lihat. Akan tetapi, sebuah cincin yang melingkar di kalung tersebut. Cincin dengan model dan motif yang sama dengan yang dimiliki seseorang yang Az kenal di masa kecilnya.
Cincin itu? Bukan kah itu itu cincin yang sama dengan yang dimiliki gadis kecil waktu itu? Kenapa ada pada Bella? Siapa Bella sebenarnya? Lalu apa hubungannya dengan gadis kecil itu? Apa mungkin dialah gadis kecil yang selama ini aku cari (ucap Az dalam hati).
Tanpa mereka sadari, seseorang mengintip dari balik pintu, lalu memotret mereka diam-diam.
Senyum merekah di bibirnya saat mengambil gambar yang ia inginkan.
“Foto yang bagus. Aku ingin melihat bagaimana reaksi David saat melihat tunangannya bermesraan dengan pria lain. Dia pasti akan sangat marah, lalu bisa jadi langsung memutuskan pertunangannya. Heh, gadis gembel, lihatlah bagaimana aku membalas perbuatanmu pada sahabatku,” ucap orang itu yang tak lain adalah Clarissa. Dia kebetulan mengikuti Bella diam-diam saat melihatnya berjalan ke arah ruangan tempat Lusia dirawat.
***
Bersambung
Bagaimana reaksi David saat melihat foto Bella dan Azril yang diambil oleh Clarissa?
Lalu siapakah gadis kecil yang Azril maksud?
Apakah gadis kecil itu benar-benar Bella?
Lalu mengapa Azril mencari gadis kecil itu?
Penasaran? Nantikan jawabannya di episode selanjutnya.
Jangan lupa untuk terus memberikan dukungan pada karya ini dengan memberikan like, vote, dan komen terbaiknya, serta menjadikan karya ini favorit kalian.🤗🤗🤗
__ADS_1
Terima kasih 💐💐💐
Salam sayang dan sehat selalu untuk semua.😘😘