Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 36 Gadis Berpakaian Hitam


__ADS_3

“Dilla, cepat panggil Bella suruh dia ke bawah! Katakan tunangannya datang!” seru Neni.


“I-iya, Neni,” jawab Dilla.


Mendengar permintaan Neni, Dilla sama sekali tak kuasa untuk menolaknya. Dengan perasaan malas, Dilla pun melangkahkan kakinya ke lantai atas menuju kamar Bella.


“Bella, sepertinya kali ini kau harus menghadapinya,” gumam Dilla saat mulai menapaki satu per satu anak tangga yang menghubungkan kedua lantai yang ada di rumah Bella.


Setelah sampai di depan kamar Bella, Dilla pun menarik nafasnya panjang sebelum mengetuk pintu kamar sahabatnya itu.


Tok, tok, tok


“Kenapa kau kemari?” tanya Bella saat membuka pintu kamarnya dan melihat Dilla tengah berdiri di hadapannya.


“Neni yang menyuruhku memanggilmu ke bawah. Neni bilang kau harus turun karena tunangan kamu sudah jauh-jauh kemari untuk menemuimu," jawab Dilla.


“Aah, pintar sekali sih laki-laki itu. Memanfaatkan Neni untuk situasi seperti ini,” keluh Bella.


“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya Dilla.


Bella memutar otaknya. Kemudian ia mencari sesuatu di dalam lemari pakaiannya.


“Nah, ketemu?” ucap Bella saat menemukan setelan serba hitam di dalam lemarinya.


“Apa itu?” tanya Dilla penasaran.


“Lihat saja,” sahut Bella.

__ADS_1


Bella lalu masuk ke kamar mandi dan mengenakan setelan serba hitam itu. Stelan itu tak lain adalah sebuah gamis hitam yang lengkap dengan khimar dan cadar hitamnya.


“Bagaimana?” tanya Bella saat melihat Dilla membuka matanya dengan begitu lebar.


“Dari mana kamu dapat pakaian seperti itu?” tanya Dilla.


“Si Ganteng Ar yang memberikannya kepadaku, waktu itu dia mengajakku jalan-jalan. Dia bilang wajahku terlalu cantik jadi bisa mengundang banyak perhatian. Makanya dia berikan ini kepadaku, " ucap Bella sambil tersenyum saat membayangkan apa yang dikatakan Ar kepadanya.


Jadi, sepertinya Ar dan Bella saling menyukai ya (ucap Dilla dalam hati)


Wajah Dilla yang tampak sedih saat mendengar ucapan Bella barusan disadari oleh Bella.


“Kamu kenapa? Kok, tiba-tiba mukanya tampak sendu seperti itu,” tanya Bella heran.


“Ah, enggak kok, enggak apa-apa. Aku hanya iri saja karena banyak sekali orang yang begitu perhatian kepadamu,” jawab Dilla.


“Oh ya? Iri karena banyak orang yang perhatian sama aku atau iri karena Si Ganteng Ar perhatian sama aku?” goda Bella yang seketika membuat rona wajah Dilla berubah memerah.


“Alah, jangan bohong kamu! Wajahmu itu sudah menerangkan dengan sangat jelas. Wajah yang sama yang ditampilkan para wanita pencemburu itu kepadaku,” sahut Bella.


“Baiklah, aku enggak akan berbohong sama kamu. Aku emang suka sama dia sejak pertama kali melihatnya. Kamu sendiri gimana Bel? Apa kamu juga punya perasaan sama Ar?” tanya Dilla.


“Enggak, aku hanya menganggap dia seperti kakakku sendiri,” jawab Bella santai.


“Beneran?” tanya Dilla tak percaya.


“Beneran, " jawab Bella sambil mengacungkan kedua jari telunjuknya di hadapan Dilla.

__ADS_1


“Aku enggak punya perasaan seperti itu sama dia karena selama dia di dekatku, walaupun dia memiliki wajah yang gantengnya gak ketulungan, dia sama sekali tidak bisa membuat jantungku berdetak cepat dan darahku berdesir karenanya," lanjut Bella.


“Oh,”


“Sudah, ah! Jangan kelamaan! Nanti Neni bakal teriak-teriak lagi atau bisa jadi dua kampret itu malah disuruh naik ke atas bisa makin berabe jadinya, ” ucap Bella yang langsung dijawab anggukkan oleh Dilla sebagai tanda setuju.


Mereka berdua pun kemudian segera menuruni anak tangga. Betapa terkejutnya orang-orang yang ada di bawah sana saat melihat Dilla turun dengan seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan khimar dan wajah yang tertutup cadar.


“Apalagi ini? Itu kah tunangannya Tuan David?” sahut salah satu wartawan yang pertama kali melihat Bella dan Dilla menuruni anak tangga.


“Iya, kemarin memakai pakaian serba terbuka dan begitu seksi. Sekarang ketutup semua? Benar-benar berbeda 180 derajat membuat orang semakin penasaran saja dengan identitasnya, " gumam salah satu wartawan yang tak bisa berhenti menatap Bella.


“Benar, membuat jiwa pencari berita ku semakin meronta-ronta saja, ” ucap yang lainnya dan disetujui oleh para wartawan di sekitarnya.


Sementara David, di bawah sana memandang Bella dengan tatapan tajam penuh dengan rasa ketidak sukaan.


Apa-apaan gadis tengik ini? Kenapa dia memakai pakaian hitam serba tertutup seperti itu? Seperti tidak ingin dikenali saja? Apa sebegitu memalukan kah jika orang-orang itu tahu identitasnya sebagai tunangan ku (batin David)


Sementara Lim hanya mengulas senyum di bibirnya saat melihat penampilan Bella. Sesekali ia melihat sekilas ekspresi wajah David, sahabat sekaligus bosnya itu sambil berkata dalam hatinya,


Gadis ini memang unik. Dia berbeda dengan kebanyakan gadis-gadis yang berada di sisi Bos David selama ini. Kebanyakan dari mereka begitu ingin dikenal sebagai orang yang istimewa di dekatnya. Bahkan, tidak jarang dari mereka hanya menjadikan Bos David sebagai barang pameran untuk dipamerkan pada semua orang dan aku yakin seratus persen Bos David sebentar lagi pasti akan benar-benar jatuh cinta pada gadis ini. (pikir Lim)


***


Bersambung


🌺 Benarkah dugaan Lim? Apakah kalian juga akan berpikir seperti itu? Akankah David benar-benar jatuh cinta pada Bella?

__ADS_1


🌺 Nantikan jawabannya di episode berikutnya dengan terus membaca kisah ini...


🌺 Terus beri dukungan pada author agar lebih semangat dengan memberi like, vote, dan komentarnya di karya author dan jadikan juga karya ini favoritmu.


__ADS_2