
“Bagaimana kau sudah menghubungi Nenek?” tanya David yang sekarang tengah bersandar di kursi kebesarannya.
“Sudah, Bos. Saya sudah menghubungi Nenek Anda dan mengatakan bahwa hari ini Bos akan pulang larut karena ada pertemuan dadakan dengan Direktur Andi dari Eve Company,” jawab Sekretaris Lim.
“Baguslah, lalu reaksinya?”
“Seperti yang Anda bisa terka, Nenek Anda terus mengomel tak karuan kepada saya,”
“Ha ha ha,”
Anda memang begitu senang menjadikan saya tameng Anda, Bos (ucap Lim dalam hati).
“Lalu bagaimana dengan Direktur Andi sendiri? Kau sudah memberitahukannya kan?”
“Sudah, Bos. Dia terdengar sangat panik waktu saya mengatakan kepadanya bahwa Bos meminta agar pertemuan besok dengannya dipercepat menjadi malam ini. Bos juga meminta semua dokumen yang dibutuhkan sudah siap pada pukul setengah tujuh nanti, tepat satu jam sebelum waktu pertemuan dimulai,”
"Lalu? "
“Ya, awalnya dia meminta saya untuk membujuk Anda agar pertemuannya tetap berjalan sebagaimana kesepakatan awal kita, tapi saya katakan kepadanya bahwa ini permintaan Bos, jika dia menolak maka seluruh kontrak EG Company dan Eve Compay yang telah berjalan akan dibatalkan,”
“Bagus, berarti semua dokumen yang dibutuhkan untuk pertemuan malam ini sudah siap?” tanya David saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
“Dalam proses pengiriman, Bos,”
“Kalau begitu nanti jika sudah diterima langsung berikan saja kepadaku,”
“Baik, Bos,”
Waktu terus berlalu hingga jarum jam menunjuk angka 7 dan 6, menandakan bahwa sudah waktunya rapat dengan Eve Company akan dimulai. Semua berkas dokumen juga sudah dikirim sesuai kesepakatan dan sudah dipelajari David dengan seksama.
Kini David dan Sekretaris Lim sudah berada dalam satu ruangan dengan direktur muda yang hampir seumuran dengan David, Direktur Andi. Direktur Andi datang ke EG Company bersama dengan sekretaris cantiknya yang bernama Elena.
Elena sedari tadi tampak sibuk mencari perhatian David. Namun, David sama sekali tidak mempedulikannya. Ia dan sekretarisnya terus saja fokus memperhatikan semua penjelasan yang disampaikan Direktur Andi hingga ponsel Lim bergetar berkali-kali dan membuatnya kehilangan konsentrasinya. Dilihatnya nama yang tertera di layar ponselnya.
“Nona Bella,” gumamannya terdengar David.
“Untuk apa gadis tengik itu meneleponmu? Cepat angkatlah!” perintah David.
Setelah mendengar perintah bosnya, Lim pun keluar dari ruangan itu dan segera mengangkat telepon dari Bella.
“Hallo,” sapanya.
“Hallo Lim, ini aku,” sahut si penelepon.
Lim berpikir sejenak karena dia yakin itu bukan suara Bella.
“Dilla?” tanyanya.
“Iya,”
“Untuk apa kau meneleponku di jam seperti ini? Apa Nona Bella yang memintamu?”
“Bisa dibilang seperti itu,”
“Maksudnya?” Lim tak paham dengan perkataan Dilla.
“Iya, kami berdua sekarang sedang berada di pasar malam. Dan aku meneleponmu untuk mengajak kalian menemani kami di sini,” ucap Dilla.
“Jadi kalian sedang berada di Pasar Malam?” tanya Lim.
__ADS_1
“Iya, apakah kau dan David bisa datang kemari ?” pinta Dilla.
“Aku tidak yakin dengan itu karena sekarang kami sedang ada rapat dengan Eve Company, tapi nanti akan kutanyakan dulu pada Bos,”
“Baiklah, kami masih menunggu kalian hingga pukul 10 malam. Aku sangat berharap kalian bisa datang malam ini,”
“Baik, nanti akan segera kusampaikan,”
“Terima kasih, maaf telah mengganggu waktunya,”
“Tidak apa-apa, sama-sama,” jawab Lim sebelum menutup teleponnya.
***
Di Pasar malam
“Ha ha ha, bagaimana dia tidak bisa ke sini kan?” tanya Bella yang sedari tadi menguping pembicaraan Dilla dan Lim.
“Tidak juga, Lim hanya mengatakan kalau dia dan David saat ini sedang ada rapat,”
“Ya, itu artinya dia tidak bisa datang kemari, gadis bodoh!”
“Belum tentu, aku katakan kepadanya kalau kita akan menunggu mereka hingga pukul 10 malam,” sahut Dilla.
“Aih, kau ini tidak terima sekali dengan kekalahanmu,”
“Karena aku memang belum kalah Bella,”
“Ah, sudahlah. Sebaiknya sekarang sambil menunggu mereka yang kemungkinan tidak akan datang, kita pergi bersenang-senang saja dulu,” ajak Bella.
“Oke,” sahut Dilla.
Mereka berdua berkeliling mencari wahana permainan yang ingin mereka naiki di pasar malam tersebut. Wahana permainan pertama yang dipilih Bella adalah kora-kora.
Saat ini mereka sedang berdiri di wahana permainan yang disebut kora-kora. Kora-kora adalah sejenis wahana permainan yang menyerupai kapal pembajak. Wahana ini terdiri dari sebuah gondola berbangku terbuka yang berayun depan belakang. Semakin lama ayunannya akan semakin kencang. Hal inilah yang membuat para pengunjungnya mengeluarkan teriakan histerisnya.
“Kenapa takut?” tanya Bella.
Dilla hanya diam saja, bagaimana pun dia memang belum pernah mencoba wahana ini? Dia hanya sedikit merasa ketakutan saat mendengar teriakan histeris dari beberapa pengunjung yang menaiki wahana tersebut.
Setelah cukup lama mengantri, akhirnya mereka dapat menaiki wahana tersebut.
“Bellla!!!!” Dilla berteriak kuat-kuat saat ayunan kora-kora yang dinaikinya semakin kencang melaju.
"Tenang, Dilla! Lepaskan saja ketakutanmu! Teriaklah sekencangnya agar rasa takutmu bisa menghilang,” teriak Bella menenangkan.
Wajah Dilla saat ini benar-benar pucat, ia memegang pegangan kora-kora itu dengan sangat erat. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya seiring dengan denyut jantung yang terus berpacu semakin kencang. Akhirnya kora-kora itu berhenti dan dengan segera Dilla berlari keluar dari wahana itu.
“Hoek, hoek, hoek,” Dilla memuntahkan seluruh isi perutnya hingga habis tak bersisa.
“Ya ampun, Dilla.. Baru satu permainan sudah seperti ini,” menepuk-nepuk punggung Dilla.
“Kepalaku pusing sekali, Bel,” keluh Dilla.
“Ya sudah, kalau begitu kita istirahat saja dulu di sana,” ajak Bella menunjuk kursi panjang yang ada di pinggiran jalan, di dekat pasar malam tersebut.
“Mau pulang?” tawar Bella.
Dilla menggeleng.
__ADS_1
“Tidak usah, kita tunggu saja dulu sampai jam 10. Mereka pasti akan datang,” jawab.
“Aih, kau yakin mereka akan datang? Jam 10 itu masih lama loh, 2 jam lagi,” sahut Bella menunjuk angka di jam yang sedang dikenakan Dilla.
***
Sementara di kantor David
Setelah Lim mengangkat telepon dari Dilla, ia masuk kembali ke dalam ruang rapat.
“Ada apa?” bisik David.
“Mereka sedang menunggu kita di pasar malam hingga pukul 10 nanti, Bos,” jawab Lim.
“Mereka?”
“Iya, Nona Bella dan temannya Dilla,”
“Untuk apa?”
“Sepertinya Nona Bella ingin mengajak Anda berkencan,” jawab Lim menambah bumbu dalam ceritanya.
“Kencan?” David tersenyum mendengar jawaban itu.
Eits, dia tersenyum. Apa dia percaya dengan yang kuucapkan? Kenapa aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi ya? (ucap Lim dalam hati).
“Baiklah, Direktur Andi, saya rasa pertemuan malam ini kita akhiri sampai di sini saja. Karena ada hal penting yang harus saya dan Lim kerjakan malam ini,” ucap David yang membuat semua orang yang berada di ruangan itu tampak terkejut.
Tuh, kan, si Bos mulai berbuat semena-mena lagi. Sepertinya kali ini aku menabur bumbu terlalu banyak (batin Lim menyesal).
“Tapi, bukannya pertemuannya baru berlangsung 15 menit ya, Pak?” protes Elena.
“Elena, diam!” sahut Direktur Andi yang sudah cukup hafal dengan karakter David.
Walaupun ia sama kesalnya dengan Elena, Andi tetap berusaha menahannya. Karena ia tahu bahwa tidak ada orang yang bisa mengubah keputusan seorang David Erlangga, meski itu neneknya sendiri, Kanaya Erlangga.
Direktur Andi yang juga teman kuliah David saat ini hanya bisa pasrah menerima semua keputusan David tersebut dengan lapang dada.
Sabar, beginilah nasib seorang direktur dari perusahaan kecil (ucap Andi dalam hati menyemangati dirinya sendiri).
“Terima kasih, Direktur Andi, senang bertemu denganmu malam ini,” ucap David mengakhiri pertemuan malam itu dengan jabat tangan.
Senang? Kurasa hanya Anda saja yang senang, Bos. Sepertinya rekan Anda tidak (batin Lim).
Sial, belum apa-apa sudah diusir (batin Elena).
Hah, beginilah kalau berurusan dengan seorang David harus banyak-banyak bersabar (Direktur Andi).
Dengan langkah lemas Direktur Andi dan Sekretaris Elena meninggalkan perusahaan David. Pertemuan yang dirancang dengan susah payah, kini harus berakhir hanya dalam waktu lima belas menit saja. Ini semua terjadi gara-gara bumbu yang dibuat oleh sang sekretaris, Lim. Lim harus bertanggung jawab atas semua ini.
***
Bersambung
Hayo.. gara-gara bumbu dari Sekretaris Lim, rapatnya berakhir begitu saja. Kira-kira Lim akan seperti apa ya mempertanggung jawabkan perbuatannya?
Nantikan terus kelanjutan ceritanya.
Info update
__ADS_1
Halo, reader.. hari ini author kasih bonus up buat kamu, tapi besok author baru bisa update kemungkinan pukul 10 karena masih dalam proses penggarapan dan belum selesai. Tinggalkan terus jejaknya di setiap episodenya dengan memberi like, vote, dan komen terbaikmu..
Terima kasih 🙏🙏