Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Ekstra Part Kelahiran Bagian 1


__ADS_3

David terus menerus mengumpat dalam hatinya karena tingkah sang istri yang masih saja menyebalkan, meski beberapa hari lagi mereka akan menjadi ibu dan ayah. Tak pernah sedikit pun terbesit dalam pikirannya bahwa suatu hari ia akan berkeliling komplek dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak bakso. Apalagi harus berteriak…


“Bakso, baksooooo.. begitu dong Sayang, kalau tidak teriak mana ada yang tahu kalau ada tukang bakso lewat sini,” ucap Bella dari dalam mobil.


David yang mendengarnya langsung memainkan sendok di atas mangkuk kosong hingga menimbulkan bunyi


Ting, ting, ting


“Bakso, baksooo…,” teriak David dengan menahan rasa jengkelnya, membuat Dilla dan Ar berusaha menahan tawa mereka.


Ar dan Dilla pagi itu kebetulan sedang berkunjung ke rumah David dan Bella. Mereka nampak terkejut mendengar apa yang hendak dilakukan David, terlebih lagi Bella yang sedang dalam keadaan hamil besar juga ingin ikut bersama David.


Akhirnya Ar dan Dilla menawarkan Bella untuk mengantarnya menemani David berjualan bakso dengan menggunakan mobil Ar.


“Hahhh,” David menghela nafas panjang.


“Kenapa berhenti Sayang?” tanya Bella.


Melihat David berhenti mendorong, Ar pun turut memberhentikan mobil yang membawa dirinya, Bella, dan juga Dilla. Setelah itu mereka keluar dari mobil dan menghampiri David yang langsung terduduk lemas.


“Aku capek Sayang,”


“Yah.. padahal baksonya belum ada yang membeli sama sekali,”


“Siapa bilang? Kan tadi sudah ada dua pelayan yang membeli bakso buatanku,”


“Cih, hanya mereka berdua saja. Padahal, dengan modal tampangmu itu harusnya kau bisa menjual satu gerobak bakso,”


“Hah??! Ada-ada saja kau ini Sayang,” ucap David sambil mengacak-acak rambut Bella.


“Aku tahu aku ini tampan, tapi masa kau ingin menjual wajah tampang suamimu ini hanya untuk segerobak bakso,”


“Biarkan saja, yang penting aku dapat uang,”


“Dasar matre,” mencubit gemas pipi sang istri yang kini tampak semakin bulat


“Aww,”


“Kau kenapa Sayang? Yang kucubitkan pipimu? Kenapa kau memegang perutmu?”


“Aww,”


“Sayang, harusnya yang kau pegang sebelah sini, bukan sebelah sini,” David memindahkan tangan Bella dari perut ke pipi.


“Dasar, David boodoh! Yang sakit itu perutku bukan pipiku, Awww” rengek Bella menahan kesal dan sakit bersamaan.


Melihat hal itu Dilla dan Ar saling memandang.


“David, sepertinya Bella akan melahirkan,” ucap Ar.


“Iya, dia memang akan melahirkan. Apa?!!! A-pa tadi kau bilang?”


“David, Bella sudah sangat kesakitan. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit,”


“Rumah sakir? I-iya, tentu. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit,” David yang mulai terlihat panik langsung menggendong Bella.


“David, kau mau ke mana?” teriak Dilla.


“Tentu saja membawa istriku ke rumah sakit,”


“Hah? Kau mau membawa Bella ke rumah sakit dengan berjalan kaki?”


“Dasar David bodoh! Bisa-bisanya kau berpikir untuk menggendong istrimu dengan berjalan kaki,” gerutu David yang baru menyadari kebodohannya.


David segera berbalik dan masuk ke dalam mobil yang pintunya telah dibukakan Dilla.

__ADS_1


“David, sebaiknya kau di depan saja. Biar aku yang bersama Bella di belakang,”


“Ba-baiklah,”


David mengikuti ucapan Dilla. Ia dan Ar kini duduk di bagian depan, sedangkan Bella dan Dilla berada di belakang.


“Aww, Dilla, sakit..,”


“Iya, Bella, tahan. Sekarang rileks ya.. tarik nafas yang panjang..lalu keluarkan perlahan,”


“Hahh,” Bella melakukan intruksi dari Dilla, begitu pun dengan David yang ada di depan mereka juga ikut-ikutan menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan.


“Tarik lagi, keluarkan…,” Berulang kali Dilla memberikan instruksi itu dan sekali lagi bukan hanya Bella yang mengikuti instruksi dari Dilla, melainkan David juga dan itu membuat Ar diam-diam tersenyum memperhatikan tingkah laki-laki di sampingnya.


Dasar David, kau sungguh konyol (batin Ar)


“Aww, Dill, sakiiiiit,” teriak Bella saat cairan bening bercampur darah keluar membasahi dress yang dikenakannya.


“Ya ampun, Bella, ketubannya sudah pecah. Sepertinya bayimu akan segera keluar,”


“Kalau begitu bagaimana? Rumah sakitnya masih jauh,” keluh David.


“Kalau begitu aku akan membantunya melahirkan di sini saja,” tawar Dilla yang sudah bersiap mengambil posisi di bawah.


“Tidak Dilla, jangan! Masa anak seorang CEO melahirkan di dalam mobil,”


“Daviid!!” teriak Dilla dan Ar hampir bersamaan.


“I-iya, kau boleh lahir di sini, Nak,” sahut David yang akhirnya tersadar akan kebodohannya.


Dilla yang kebetulan mengambil jurusan dokter kandungan mulai menunjukkan kemampuannya.


Tak lama kemudian…


“David, bayinya sudah lahir,” ucap Dilla sambil memegang bayi Bella.


David yang sedari tadi menutup matanya untuk merapal doa, kini mulai membuka matanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat bayi yang masih berlumuran darah berada dalam gendongan sepupunya Dilla. Seketika kepalanya terasa pening dan akhirnya..


Bruk


“Daviiid!”


***


David mulai tersadar dari pingsannya, setelah ia tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama. Kini di hadapannya hanyalah sebuah kamar bercat putih yang sekali menerka David tahu bahwa itu adalah salah satu kamar dari rumah sakit yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Ia mulai merangkai kembali ingatannya sebelum ia berada di kamar tersebut.


“Ya Tuhan, Bella, putraku, di mana mereka?” David segera bangkit setelah menyadari apa yang sebelumnya terjadi.


“Suster, apakah tadi ada bayi yang baru saja dilahirkan dan diantar ke rumah sakit ini?” Itulah pertanyaan yang terlintas dalam benak David saat ia berpapasan dengan seorang perawat.


“Benar, tadi baru saja ada yang melahirkan dan bayinya dibawa ke rumah sakit ini,”


“Lalu bagaimana keadaan mereka?”


“Oh, ibu dan bayinya sehat. Sekarang ibunya sedang diperiksa dokter dulu, sedangkan bayinya sedang berada di ruang bayi,”


“Benarkah?”


“Iya,”


“Di mana ruang bayi itu?”


“Di sana,” tunjuk perawat tersebut ke salah satu ruangan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berada.


“Kalau begitu terima kasih, Suster,”

__ADS_1


“Sama-sama, Pak. Permisi,” ucap perawat itu sebelum meninggalkan David.


Dengan semangat bercampur rasa bahagia, David segera melangkah ke ruangan bayi yang dimaksud perawat tadi. Tentunya dengan mengenakan pakaian yang seharusnya.


Dibukanya pintu ruangan itu secara perlahan. Dalam ruangan itu terdapat beberapa ranjang bayi. Namun, dari sekian banyak ranjang, hanya ada satu ranjang bayi yang di dalamnya terdapat seorang bayi mungil yang sekali melihat orang bisa menerka jika bayi itu baru saja dilahirkan.


“Hey, di sini rupanya kau jagoan,” ucap David.


Kemudian, secara perlahan David mengeluarkan bayi tersebut dari ranjangnya.


“Hah, untungnya aku sudah pernah ikut kelas parenting,” gumamnya membanggakan diri karena merasa sudah bisa menggendong bayiku.


“Bayiku, jagoanku, kau benar-benar tampan seperti ayahmu ini,”


Saking asyiknya David mengajak bayi itu bicara, ia sampai tidak sadar bahwa pintu ruangan itu telah dibuka oleh dua sosok pria yang kini masih berdiri di ambang pintu.


“Huss,” sebuah telunjuk menempel di salah satu pria yang tak lain adalah Ar. Ia berusaha menahan langkah kaki kakaknya Az yang hendak masuk ke ruangan tersebut.


“Bayiku yang tampan.. Kau adalah bayi tertampan, terlucu, dan terimut di dunia ini. Tidak akan ada yang bisa menyaingimu Jagoan. Tidak akan ada, termasuk juga bayi si bakpao gosong itu, pasti anaknya kelak juga akan hitam, gendut, sama seperti ayahnya,”


“Ehem,”


Suara deheman Az menyadarkan David dengan kedatangan mereka.


“Eh, kalian rupanya. Ingin melihat jagoanku ini rupanya,”


“Lihatlah, dia sangat tampan bukan seperti ayahnya,” ucap David bangga sambil memamerkan wajah bayi kecil yang ada di gendongannya.


“Tentu, keponakanku ini memang sangat tampan,” ucap Ar yang kini berusaha menggendong bayi itu.


“Cih, keponakan. Kau itu belum menikah dengan adikku. Lagi pula siapa yang mengizinkanmu menggendongnya,”


David tidak melepaskan gendongan bayi itu, ia tidak ingin Ar menggendongnya.


“Siapa yang mengizinkannya?” Ar menatap Az.


“Aku,”


“Cih, siapa kau? Hanya anak pemilik rumah sakit saja bukan?”


“Iya, aku memang anak pemilik rumah sakit ini, tapi sekaligus juga ayah dari bayi itu,”


“Hah??”


“David, kenapa kau ada di sini? Bella dari tadi mencarimu. Kau memang tidak ingin melihat putramu?” ucap Dilla yang baru saja datang dan itu membuat David terkejut.


“Ah, tampannya. Itu bayimu dan Dara, Az? Tidak disangka istri kalian bisa melahirkan secara bersamaan,”


Apa??


Ucapan Dilla membuat David terpaku, lalu menoleh ke arah ranjang tempat bayi itu diambilnya. Di sana tertera dengan jelas nama ayah bayi itu "Tn. Azril Damara Effendi". Melihat ekspresi David membuat Ar dan Az saling berpandangan, lalu tersenyum penuh kemenangan.


Astaga, David.. Apa yang baru saja kau lakukan? Sama saja kau memperolok dirimu sendiri. Sial, benar-benar sial (batin David)


***


Bersambung


Kira-kira apa nama yang akan diberikan David untuk anaknya ya?


Siapa pula anak dari pasangan Az dan Dara?


Ingin tahu jawabannya? Nantikan kelanjutan cerita mereka di update selanjutnya dan jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like, vote, dan hadiahnya, serta jadikan terus cerita ini favorit kalian.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2