Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Ekstra Part Jelang Kelahiran


__ADS_3

Bella kini tampak tak berhenti memandangi wajahnya yang terlihat di kaca spion mobil milik David. Hal itu membuat para pelayan yang berada di sekita Bella dan turut menyaksikan tingkah Bella berusaha menahan senyum yang mengembang di bibir mereka.


Nyonya Muda ini tingkahnya ada-ada saja. Bisa-bisanya ia bersikap norak seperti itu di depan mobil Tuan (batin Ela, salah satu pelayan di rumah David)


Di usia kandungan yang sudah mulai menginjak bulannya. Kenapa tingkah Nyonya Muda malah semakin aneh saja ya? (batin Mimin pelayan yang lainnya)


Lim yang baru saja datang melihat tingkah Bella. Ia berusaha menyadarkan Bella akan kehadirannya.


“Ehem,”


Suara deheman Lim barusan membuat Bella tersadar dan menghentikan aksinya.


“Nyonya muda Anda sedang apa?”


“Aku sedang bercermin,” jawab Bella cuek.


“Tapi di sini tidak ada cermin, Nyonya.. kalau Nyonya ingin bercermin sebaiknya Nyonya bercermin di kamar saja,”


“Hey, aku ingin melihat bagaimana wajahku jika dilihat dari cermin yang mahal ini. Apa bisa membuatku terlihat lebih cantik,” jawab Bella sambil memandangi kembali wajahnya dari balik kaca spion.


“Tapi itu kaca spionnya, Nyonya. Bukan cermin,”


“Tapi bisa dipakai bercermin, kan?”


“Baiklah, terserah Nyonya saja,”


“Oh ya, Lim. Apa selama bekerja dengan David kau pernah korupsi?” tanya Bella tiba-tiba.


“Apa maksud Anda? Saya adalah karyawan teladan yang paling setia dan jujur,”


“Oh ya? Lalu bagaimana bisa hanya mengganti kaca spion mobil saja hingga 50 juta?” tanya Bella saat teringat kembali awal masalah yang menyebabkannya menjadi tunangan pura-pura David.


Lim tidak langsung menjawab, ia hanya memamerkan senyumnya.


“Cih, malah senyum. Apa kau tidak takut kalau Bosmu itu akan menggantungmu karena sudah berani tersenyum pada istrinya?”


Lim tidak menjawab justru ia kembali tersenyum dan malah balik bertanya.


“Nyonya, apa kau benar-benar ingin tahu kenapa harganya bisa sampai 50 juta?”


“Kenapa?”


“Karena Bos tidak mengganti dengan kaca yang biasa. Ia menggantinya dengan kaca anti peluru, jawab Lim yang membuat Bella ternganga


"Hah,"


Sial, harusnya aku tahu kalau Bos dan Sekretarisnya itu memang licik (batin Bella).


“Sayang, apa yang sedang kau lakukan kenapa kau tidak masuk ke dalam mobil? Bukan kah katanya kau ingin ikut ke kantor?” Tanya David yang baru saja keluar.


“Tidak, aku tidak jadi ke kantor,” ucap Bella ketus.


“Kau kenapa? Kenapa asam sekali?”


“Karena aku baru sadar bahwa suamiku selama ini telah membodohiku,”


“Apa maksudnya?” tanya David tak mengerti.


“Kau membiarkanku mengganti rugi kaca spionmu dengan harga yang tidak wajar,”


“Oh, jadi Lim telah memberi tahumu semuanya. Dasar kaleng rombeng,” umpat David.


“Maaf, Bos, tapi bukan kah kalian akan menjadi seorang Ayah dan Ibu, maka sudah saatnya Nyonya mengetahui semuanya,”


“Iya, Lim benar. Kau tidak boleh menyalahkan dia,” sahut Bella yang membuat David menghela nafasnya pelan.


“Baiklah, aku mengaku salah dan sebagai hukuman..,” ucap David yang kemudian mengangkat tubuh Bella.


“Aku akan menggendong Tuan Putri dan tidak akan ke kantor hari ini,” bisik David dengan seringai liciknya.


“Cih, hukuman macam apa itu? Itu sih keinginan kamu David,” jawab Bella.

__ADS_1


“Pasti kamu juga menginginkannya kan,” goda David.


“Cih, PD sekali!!” sahut Bella yang tak lagi dihiraukan David.


Lim yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bos, Bos… Anda benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya Anda tidak ke kantor begitu saja. Huh, kalau begitu untuk apa aku datang capek-capek ke sini. Sudahlah (batin Lim).


***


“David, turunkan aku. Kalau kau masih belum menurunkan aku, maka aku tidak ingin bicara lagi kepadamu,” ancam Bella.


“Baiklah, Sayangku, Tuan Putriku, kalau begitu kau ingin menghukum suamimu dengan cara apa?” tanya David sambil menurunkan Bella secara perlahan.


Bella berpikir sejenak hingga seulas senyum terukir di wajahnya.


Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? (batin David)


“David Sayang, sini aku bisikin?” pinta Bella.


“Untuk apa berbisik? Di sini kan hanya ada kita berdua saja,”


“Siapa bilang? Kau tidak lihat para pelayanmu juga ada di sini?” ucap Bella sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.


“Kalau mereka abaikan saja. Tidak akan ada yang berani macam-macam di sini,”


“Yakin?”


“Iya, yakin. Memang apa yang kau inginkan dariku sebagai hukuman?”


“Aku.. ingin… ingin..,”


“Ingin apa Sayang? Katakan saja, aku David pasti akan mengabulkannya untukmu,”


“Janji ya Sayang?”


“Iya, aku janji Bella Sayang,”


“Iya, Suwer,”


“Suwer tak kewer, kewer?” tanya Bella lagi.


“What? Suwer tak kewer, kewer?” tanya David tak mengerti.


“Iya, suwer tak kewer, kewer,” jawab Bella.


“Iya, janji, suwer tak kewer kewer,”


Ngomong-ngomong apa itu suwer tak kewer kewer?Aneh, aneh saja peristilahan istriku ini (batin David)


“Kalau begitu akan aku katakan. Begini Sayang, sebagai hukuman … aku… ingin kamu membantu Neni,”


“Siap! Aku pasti akan melaksanakan perintah Nyona untuk membantu Nenek Mertuaku,”


“Hey.. Dengarkan dulu Sayang, bicaraku belum selesai. Maksudku itu aku ingin KAU membantu Neni untuk berjualan BAKSO KELILING,”


“What? Bakso keliling?”


“Iya, bakso keliling. Teng, teng, teng, bakso, baksooooo,” ucap Bella memperagakan suara khas penjual bakso keliling.


“Tidak,”


“Ayolah Sayang. Kau kan sudah janji?” rengek Bella.


“Hah,” David menarik nafasnya pelan sebelum akhirnya menyanggupi permintaan Bella.


***


Tak berapa lama, David sudah bersiap. Kini ia hanya memakai kaos santai dan celana training.


“David Sayang, kau masih terlalu tampan. Sekarang ganti!” seru Bella sambil menyerahkan sebuah kaos dan celana lusuh.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya David.


“Itu celana dan kaos milik Mas Joko, salah satu pegawai Neni yang kemarin pulang kampung karena menikah,”


“Apa? Jadi kau ingin akau memakai kaos dan baju milik orang lain?”


“He eh,”


“Dan orang itu adalah MAS JOKO, pegawai Neni yang katanya memiliki masalah bau badan itu?”


“He eh,”


“Kalau begitu TIDAK. Aku pakai ini saja atau katakan good bye untuk profesi baruku,” sahut David yang langsung meninggalkan Bella.


“Eh, David tunggu! Baiklah baiklah, kau pakai itu saja,” teriak Bella sambil mengikuti langkah kaki David.


Di halaman depan rumahnya telah tampak gerobak bakso yang telah diambil anak buah David dari kediaman Nenek mertuanya.


“Ting, ting, bakso, baksoooo,”


Seluruh pelayan langsung melongo, saat Tuan Muda mereka mulai meneriaki makanan bulat kenyal yang terbuat dari daging sapi asli tersebut.


“Wah, kelihatannya bakal seru. Aku penasaran bagaimana hasil bakso racikan yang dibuat Tuan David itu Kak Mimin,” ucap Ela sang pelayan.


“Aku juga, kira-kira bisa enggak ya, kalau kita beli baksonya duluan,” sahut Mimin.


“Enggak tahu, coba saja,” sahut Ela


“Tuan David tunggu!!” teriak Ela dan Mimin hamper bersamaan, membuat David dan Bella menoleh ke arah keduanya.


“Apa ini? Berani sekali kalian teriak-teriak di rumahku,” bentak David.


“Ma-maaf Tuan, kami hanya ingin membeli bakso yang Tuan jual,” jawab Mimin menundukkan kepalanya.


“Baiklah, kalian adalah pelanggan pertamaku maka duduklah dulu, akan aku buatkan,”


Mendengar jawaban David kedua saling bertatapan dan tersenyum bahagia.


“Ini, bakso untuk kalian. Bagaimana rasanya? Enak kan?” tanya David saat menyerahkan dua mangkok bakso kepada pelayannya.


“Enak, tentu saja enak,” jawab Ela yang diangguki oleh Mimin.


“Cih, bagaimana bisa enak? Kalian memakannya saja belum,”


“Iya, enak yang kami maksud wajah Tuan David, enak dipandang,”


“Cih, dasar pelayan-pelayan tukang gombal,” sahut Bella yang langsung merangkul erat lengan David. Sementara itu, Ela dan Mimin mulai memasukkan bakso buatan David ke dalam mulut mereka.


Astaga, berapa banyak garam yang Tuan David masukkan? Rasanya aku benar-benar tidak ingin menguyahnya lagi (batin Mimin)


Ya Tuhan, seperti ini kah rasanya makan bakso dengan kuah air laut. Asin sekali (batin Ela)


Mimin memandang Ela, mata mereka saling berbicara.


“El, sepertinya kita masih banyak pekerjaan di dapur?”


“Benar, Kak Mimin,”


“Tuan, izinkan kami makan di dapur ya. Karena kami masih banyak pekerjaan di dapur,”


“Iya, Tuan,”


“Baiklah, silakan saja bawa bakso itu ke dapur,”


“Baik, terima kasih Tuan,” jawab Ela dan Mimin hampir bersamaan. Mereka pun setengah berlari meninggalkan David dan Bella.


Eh, kenapa mereka terburu-buru sekali? Pasti ada yang tidak beres dengan bakso buatan David (batin Bella).


***


Bersambung

__ADS_1


Terima kasih bagi yang masih setia membaca hingga episode hari ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote, dan tetap jadikan karya ini sebagai karya favoritmu.


__ADS_2