Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 70 Mimpi


__ADS_3

Silau cahaya mentari mulai mengusik mimpi indah Bella yang sebelumnya masih terlelap di ranjang empuk yang ada di salah satu kamar yang ada di rumah Lim. Perlahan matanya mulai terbuka.


“Hoam,” Bella menguap sambil merentangkan kedua tangannya.


“Aaah, Dilla, kebiasaan deh, tirainya kenapa dibuka sih??” gerutu Bella saat melihat tirai yang terbuka dengan lebar di kamar yang sedang ditempatinya.


Dengan malas dan mata yang masih separuh terpejam, Bella berjalan menuju jendela yang tirainya terbuka lebar itu. Ia hendak menutup kembali tirai dan berniat merebahkan dirinya di gunung kapuk yang kini terasa lebih nyaman dan empuk daripada biasanya.


“Eh,” mata Bella terbelalak saat menyadari pemandangan asing yang ada di depannya.


“Di mana ini? Woah, besar sekali kamar ini! Apakah aku masih bermimpi?” teriak Bella takjub, saat melihat isi yang ada di sekeliling kamar itu.


“Ah, Bella ternyata kamu belum bangun. Ini masih dalam mimpi. Mimpi yang sangat indah,” ucap Bella yang masih belum sadar bahwa dirinya sedang berad di rumah Lim.


“Kamar mewah dengan kaca jendela besar di sekelilingnya, pemandangan indah saat tirainya terbuka, lalu kasur besar yang empuk,” ucap Bella sambil mengelus kasur yang ada di kamarnya.


“Aaaa, ini mimpi yang sempurna!” teriak Bella kembali terdengar nyaring di kamar itu.


“Karena ini cuma mimpi berarti aku bebas dong melakukan apa pun di kamar ini, hore!!!”


Bella melompat-lompat senang di atas ranjang.


“Dari kecil aku ingin sekali bisa melompat-lompat di atas ranjang seperti ini! Tapi, Neni selalu memarahiku. Neni bilang kalau aku melompat seperti ini terus ranjangnya bisa roboh dan nanti kita cuma bisa tidur di lantai. Tapi sekarang aku bisa melakukannya sepuas hatiku selagi ada dalam mimpi,”


“Yeayy!!!” Bella terus melompat hingga tempat tidur itu kini terlihat sangat berantakan, bahkan busa yang ada dalam kasur itu pun sudah ada yang keluar.


“Ah, capek sekali!! Tapi aku sangat puas! Sekarang aku ingin mencoba kamar mandinya,”


Bella mengambil handuk yang sengaja disediakan Dilla untuknya. Lalu, melepaskan satu per satu pakaian yang dikenakannya, mulai dari kaos, celana jeans, hingga pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Lalu, melemparkannya secara sembarangan. Kemudian, ia melangkah menuju kamar mandi yang berada dalam kamar tersebut.


“Wah, benar-benar mimpi yang hebat! Kamar mandinya pun besar sekali. Peralatan yang ada di dalamnya juga sangat lengkap,”


Bella masih belum sadar kalau itu adalah nyata. Ia masih menganggap semua itu hanyalah mimpi. Itulah sebabnya ia merasa bisa berbuat apa saja sesuka hatinya.


Bella memutar keran air, menunggu hingga air di dalam bath up penuh, lalu menuangkan satu botol sabun cair ke dalam bath up. Setelah bath up dipenuhi busa-busa yang melimpah, ia pun melepas handuk dan masuk ke dalamnya.


“Asyikk.. sekarang aku bisa bermain busa sabun sesukanya,” gumamnya.


Lagi-lagi Bella kembali membuat ulah. Ia tampak asyik bermain busa sabun di kamar mandi dan itu membuat seluruh kamar mandi dipenuhi dengan busa sabun. Bella terus menikmati mandi pagi menjelang siangnya.


“Coba bisa mimpi seperti ini terus tiap hari, rasanya aku ingin tidur sepanjang waktu,” ucap Bella.


Setelah puas bermain busa, kini ia keluar dari dalam bath up dan memutar keran shower. Saat tubuhnya diguyur air shower, Bella menari-nari dengan riang. Kini ia terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain air hujan, dan..


Bugh


“Aw, kenapa terasa sakit ya?” Bella terpeleset di dalam kamar mandi yang masih penuh dengan busa itu. Ia memegangi bagian pinggulnya yang masih terasa sakit.


“Tunggu, kok bisa sakit ya? Bukannya aku hanya ada dalam mimpi. Apa jangan-jangan..?” Bella mulai mengingat semua kejadian yang terjadi tadi malam.


“Aaaa, tidak!! Habislah kamu, Bel.... Si David itu pasti marah besar kalau tahu rumahnya aku buat seperti ini,” gumam Bella.

__ADS_1


“Tidak, tidak, setahuku ini bukan rumah David. Tapi rumah siapa? Ah, sudahlah, yang sudah terjadi biarlah terjadi tak perlu disesalkan. Yang jelas sekarang perutku ini lapar sekali,” ucapnya.


Bella tak lagi mempedulikan semua itu. Yang sekarang ia pedulikan hanyalah perutnya yang sedang lapar. Kebetulan sebelum berangkat, Dilla sudah membawa sarapan Bella ke dalam kamar. Jadi, Bella bisa langsung menikmatinya.


“Oh, Dilla, kamu memang sahabatku yang sangat pengertian,” ucap Bella saat melihat makanan yang tersimpan di atas meja samping tempat tidurnya dan membaca pesan yang ditinggalkan Dilla di atas baki makanannya.


Setelah puas menyantap sarapannya, Bella pun turun dan berjalan-jalan di sekitar rumah Lim.


“Nona Bella ya?” sapa Edo, satpam rumah Lim.


“Edo? Kamu ini siapa?”


“Saya satpam yang menjaga rumah ini, Non. Kebetulan tadi sebelum berangkat Tuan David dan Tuan Lim menitipkan Non kepada saya,”


‘Oh, jadi kamu satpam di sini. Kalau boleh tahu ini rumah milik siapa ya?”


“Ini rumah Keluarga Wijaya Non, rumahnya Tuan Lim,”


“Oh, jadi ini rumahnya sekretaris itu,” sahut Bella sambil memandang ke sekeliling halaman rumah Lim.


“Tapi kok pemandangannya seperti tidak asing ya,” gumam Bella.


Bella kembali mengarahkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah besar itu sambil berusaha mengingat di mana ia pernah melihat pemandangan yang penuh pepohonan rindang dan berbuah. Pandangannya terhenti saat ia mendapati sebuah pohon mangga besar dengan buah yang sangat lebat dan berdiri kokoh di bawah gerbang depan rumah Lim.


“Ah, iya, aku ingat.. ini rumah yang mangganya sering aku curi kan. Wah, kebetulan sekali. Aku lagi ingin buah mangga,” berjalan mendekat ke arah pohon mangga.


“Non, Non mau kemana?” tanya Edo.


“Mau ambil mangga,” jawab Bella menunjuk pohon mangga yang ada di gerbang depan rumah Lim.


“Enggak bakalan jatuh kok, udah biasa,”


“Ah, si Non, kalau Non beneran jatuh saya bisa dipecat Non. Udah, biar nanti saya yang ambilkan saja. Sekarang, saya cari galah dulu,” sahut Edo yang berlari ke halaman belakang rumah Lim untuk mencari galah.


“Ah, lama,” gerutu Bella.


Saking tak sabarnya, ia tak lagi menunggu Edo yang sedang bersusah payah mencari galah. Bahkan, rasa sakit yang tadi dirasakannya sewaktu terjatuh di kamar mandi pun seolah lenyap begitu saja. Perlahan ia mulai memanjat pohon mangga itu.


Edo yang melihat sudah berada di cabang tertinggi buah mangga merasa terkejut sekaligus panik.


“Aduh..aduh si Enon. Kenapa malah naik? Turun atuh Non turun, kalau Non jatuh dan ampe terluka gimana? Bisa-bisa jabatan saya yang diturunkan,” sahut Edo sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Bang Edo, ini manis banget,” teriak Bella dari atas pohon mangga. Ternyata Bella sudah berhasil mengambil satu buah mangga dan menggerogotinya.


Layaknya seekor kera, ia memanjat dan mengambil satu per satu buah mangga yang bergelantung di ranting pohon. Lalu memakannya dengan cara menggerogoti kulit dan membuangnya secara sembarangan.


Edo mondar-mandir ke sana kemari. Ia bingung memikirkan cara agar Bella mau turun.


“Ini cewek keturunan kera sakti kali ya..” gerutu Edo.


Teettttt Tettttt

__ADS_1


Suara klakson mobil mengalihkan perhatian Edo yang sedari tadi mengamati Bella yang sedang berada di atas pohon ke arah suara klakson itu. Ia segera membuka pintu gerbang dan membiarkan mobil majikannya itu untuk lewat.


Mobil itu berhenti tepat di dekat pohon mangga tempat Edo berdiri.


“Mana gadis tengik itu? Apa dia masih belum turun?” bentak David kesal.


“ Be-belum, Tuan. I-itu,” jawab Edo menunjuk ke arah atas.


David mendongak ke atas dan melihat Bella masih bergelayut di atas pohon mangga itu.


“Gadis tengik, kau sudah membuatku khawatir dan sekarang kau terlihat begitu nyaman di atas sana ya,” ucap David geram.


David memang sengaja pulang dan membatalkan pertemuannya dengan salah satu kliennya saat ia melihat foto yang dikirimkan Edo kepada Lim. Ia khawatir Bella terjatuh dan terluka karenanya.


“Edo, cepat cari kapak dan tebang pohon itu sekarang juga!” teriak David.


“Baik, Tuan,” Edo bergegas mencari kapak untuk menebang pohon mangga itu.


Lim yang sedari tadi menyaksikan kemarahan bosnya hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


Apa kubilang? Hilanglah sudah kedamaian dan ketentraman di rumahku karena ulah gadis ini kan. Ah, pohon leluhurku tamat sudah riwayatmu hari ini aku turut berduka cita karenanya (batin Lim).


Edo datang membawa kapak sesuai dengan perintah David. Ia mulai menebang pohon mangga yang kini dipanjat Bella.


“Hey, Edo, apa yang sedang kau lakukan?” teriak Bella saat pohon mangga itu mulai bergoyang akibat tebasan dari kapak Edo.


“Maaf, Nona. Saya disuruh Tuan David,” sahut Edo yang masih menebang pohon mangga itu.


“David, apa kau sudah gila aku bisa jatuh kalau seperti ini,” teriak Bella.


“Kalau begitu cepat turunlah! Sebelum Edo, benar-benar menumbangkan pohon ini,” sahut David.


“Iya, iya,”


Bella mulai turun dengan perlahan, namun sungguh sial, ranting yang jadi pijakannya tiba-tiba patah dan ...


Hup


Tubuhnya berhasil ditangkap oleh David yang kebetulan melihat saat Bella akan jatuh.


“Kamu ini benar-benar ceroboh,” sahut David kesal.


“Edo, teruskan pekerjaanmu! Saya tidak ingin melihat pohon itu masih berdiri kokoh di sini,”


“I-iya, Tuan David,” sahut Edo melanjutkan aksinya menebang pohon mangga itu.


“Nasib-nasib, mana udah bergadang sekarang disuruh nebang pohon lagi,” gerutu Edo saat kedua majikannya itu sudah tidak berada di sampingnya.


****


Bersambung

__ADS_1


Terima kasih yang telah setia membaca kisah perjalanan David dan Bella, serta memberikan like, vote, dan komennya terhadap karya ini serta menjadikannya sebagai karya favorit kalian.


Untuk episode selanjutnya, sudah memasuki ke tahap konflik inti dalam cerita ini. Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya...🥰🥰


__ADS_2