
“Bella, lihatlah!” ucap Dilla memperlihatkan foto keluarga besar Erlangga pada Bella. Bella yang menatap foto itu terpaku tak percaya.
“Kenapa foto laki-laki brengsek itu ada di sini Dilla?” tanya Bella tak percaya.
“Lihatlah keterangan di bawahnya,” tunjuk Dilla pada foto keluarga Erlangga yang terpampang di majalah itu.
“Sebelah kanan, Da- da- da- vid.. Erlangga,” ucap Bella terbata.
“Iya, David Erlangga,” ulang Dilla.
“Aaa...,” Teriak Bella hingga memenuhi seluruh ruangan.
“Bella, berisik!” teriak Neni dari bawah.
“Laki-laki brengsek itu David Erlangga, hah..” Menghela nafas tak percaya.
“Hiks..hiks...hiks.. bodoh, bodoh, bodoh, kenapa aku bisa sebodoh itu? Mau ditaruh di mana mukaku yang cantik ini? Huhu...” rengek Bella seperti anak kecil, membuat Dilla yang sebelumnya merasa khawatir, kini malah tertawa geli dan berusaha menahan tawanya saat melihat tingkah Bella.
“Brengsek kau David! Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau itu David??” ucap Bella pada foto David yang ada di majalah itu.
“Karena aku ingin melihat bagaimana reaksi gadis pembual sepertimu itu setelah tahu kalau aku itu David, orang kau akui sebagai tunanganmu, ” jawab Dilla menirukan suara David.
"Ha.. Dilla, sepertinya kau ini memang benar-benar saudaranya si David brengsek itu ya,” tuduh Bella kesal. Dilla yang dituduh seperti itu hanya diam tak menjawab apa-apa.
__ADS_1
“Eh, tapi tunggu! Apa jangan-jangan kau benar-benar...?” ucap Bella menggantung.
Dilla yang memahami maksud pembicaraan Bella menganggukkan kepalanya.
“Ja- ja- ja- di, ayahmu itu benar-benar Handika Er...erlangga?” lanjut Bella yang dijawab anggukan oleh Dilla.
“Astaga, aku tidak sedang bermimpi kan?" gumam Bella. Saking tak percayanya, ia bahkan menampar pipinya sendiri berkali-kali untuk memastikan bahwa dia benar-benar tidak sedang bermimpi.
“Bella, kau benar-benar sedang tidak bermimpi,” ucap Dilla menghentikan tamparan Bella.
“Jadi, selama ini aku berteman dan tidur dengan anak dari seorang pengusaha nomor satu di Kota B. Eh, bukan bukan.. bukan hanya nomor satu Kota B, bahkan di Negara S,” sahut Bella terbelalak tak percaya.
“Iya, tapi anak yang kurang beruntung yang bahkan tidak diketahui keberadaannya,” jawab Dilla lesu.
“Apa maksud perkataanmu Dilla?” tanya Bella.
“Maksudmu apa? Aku jadi semakin bingung deh. Bagaimana bisa seorang Ayah tidak tahu keberadaan anaknya? " tanya Bella.
“Dulu Ayah bertemu dengan Ibu dan jatuh cinta kepadanya. Namun, perbedaan status mereka terlalu tinggi. Ibu hanya seorang anak pelayan biasa, sedangkan Ayah adalah putra dari Tomi Erlangga, pengusaha nomor satu di kota B. Karena perbedaan itulah, cinta mereka tak mendapat restu. Namun, Ayah bersih keras untuk menikahi Ibu. Ia memilih meninggalkan segalanya dan menikahi Ibu.”
“Bertahun-tahun lamanya Ayah dan Ibu tinggal di desa bersama Kakek dan Nenek. Mereka hidup bahagia hingga satu ketika penyakit jantung menggerogoti Kakek. Untuk operasi dibutuhkan uang yang sangat besar. Oleh karena itu, Ayah pergi ke Kota B berharap keluarganya mau berubah pikiran dan memberikan bantuan untuk pengobatan Kakek. Namun, Ayah datang di waktu yang tidak tepat. Saat itu keluarga Ayah sedang berduka karena Haris Erlangga, putra pertama keluarga Erlangga yang merupakan kakak kembar Ayah bersama istrinya dikabarkan meninggal karena mengalami kecelakaan pesawat terbang. Hal itu membuat Kakek Erlangga syok dan jatuh koma,”
“Dalam keadaan seperti itu Ayah menjadi tidak tega melihat keadaan ibundanya yang tampak begitu lemah dan sakit-sakitan. Kabarnya Nenek Erlangga jadi tidak mau makan selama berhari-hari dan tidak mau menemui siapa pun. Ia mengurung dirinya di dalam kamarnya. Bahkan, ketika Ayah ingin menemuinya, Nenek menolak dan mengatakan Ayah sebagai anak durhaka,”
__ADS_1
“Ayah berlutut, bersimpuh, dan memohon agar Nenek mau memaafkannya. Namun, Nenek tak bergeming hingga akhirnya Ayah berjanji untuk meninggalkan Ibu. Saat itulah, Nenek baru mau keluar kamar dan menemui Ayah, hiks..hiks..” ucap Dilla dengan air mata berurai.
Melihat itu Bella pun memeluk Dilla erat, berusaha memberi sahabatnya kekuatan.
“Sudah Dilla, kamu tidak usah melanjutkannya kalau kamu tidak kuat,” ucap Bella.
“Ayah tidak tahu kalau saat Ayah memilih untuk meninggalkan Ibu. Ibu sedang mengandungku, hiks hiks...,” sahut Dilla disela tangisnya.
“Lalu kenapa ibumu tidak memberi tahu semuanya kepada ayahmu?” tanya Bella.
“Ibu tidak ingin membebani Ayah, apalagi ibu juga mendengar kabar bahwa Ayah akan segera menikah dengan wanita yang menjadi pilihan keluarganya,” jawab Dilla sedih.
“Ayahmu jahat sekali! Bukan hanya memilih keluarganya dan meninggalkan kalian, tapi juga mengkhianati ibumu dengan menikahi wanita lain!" maki Bella.
“Tidak, Bella, dia tidak jahat. Dia hanyalah seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Dan sebelum Ayah pergi, Ayah memberikan sejumlah uang untuk pengobatan Kakek. Lalu, ia memberikan kalung liontin hati ini sebagai tanda cintanya untuk ibu bahkan Ayah juga memberikan Ibu black card untuk segala kebutuhannya. Namun, Ibu menolak, ia tak membawa pergi black card itu dan Ibu sudah memutuskan untuk menjauh dari ayah dan tak akan lagi menemui dia selama-lamanya. Dan saat itulah, Ibu menghilang dari kehidupan ayah untuk selama-lamanya. Jadi, bisa dibilang ibulah yang mengorbankan dirinya meninggalkan ayah bukan ayah," ucap Dilla dengan air mata yang terus mengalir.
Bella tak kuasa melihat kesedihan Dilla. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya, ia tak menyangka bahwa sahabatnya Dilla memiliki kehidupan yang seperti itu. Selama ini, Bella memang terlahir miskin. Namun, setidaknya meski hanya sebentar ia masih sempat merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
***
Bersambung
Nantikan kelanjutan episode selanjutnya..🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan jadikan favorit ya..
Terima kasih 😍😍😍