Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 60 Kepala Keamanan


__ADS_3

Pukul 4 sore, para petugas medis beserta para karyawan Rumah Sakit Internasional XX


yang bekerja di shift 1 mulai membubarkan diri, termasuk Dilla dan Aria.


“Apa kau sudah memberi tahu Bella kapan kau pulang?” tanya Aria pada Dilla.


“Sudah, tadi sebelum ponsel ini di sita aku sudah sempat mengatakannya pada Bella kalau hari ini aku pulang jam 4 sore,”


“Baguslah, kalau begitu,”


“Oh ya, terima kasih ya atas bantuannya. Berkat dirimu aku bisa mendapatkan ponselku kembali,”


Mengoyang-goyangkan ponsel dan menunjukkannya pada Ar.


“Sama-sama, ingat lain kali jangan menggunakannya lagi saat jam bekerja,”


“Siap, Bos,” jawab Dilla memberi hormat.


Dilla dan Ar pun berjalan bersama keluar dari rumah sakit. Wajah keduanya tampak berseri-seri.


***


Sementara itu di parkiran rumah sakit.


“Ah, ****”


Azril (Az) nampak kesal melihat ban motor yang dibawanya ke rumah sakit kempes. Ia lalu berjalan menuju kursi panjang yang berada di dekat tempat parkir, tepat di samping pos keamanan. Lalu duduk di sana.


“Hah,” Azril menghela nafas lelah.


“Ada apa, Pak Dokter?” tanya sekuriti bernama Jaka Tarub.


“Tuh,” Azril menunjuk ke arah ban motornya yang kempes.


“Waduh, kok bisa kempes seperti itu?”


Azril tak menjawab. Ia memang terbiasa bersikap seperti itu. Azril tak akan mau menanggapi pertanyaan yang ia anggap kurang penting.


“Kalau begitu saya akan telepon bengkel dulu ya, Pak Dokter, ” tawar Jaka.


Tanpa menunggu jawaban Az, Jaka pun menelepon petugas bengkel terdekat untuk datang ke rumah sakit. Bosan menunggu petugas bengkel yang belum datang, Azril pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan di sekitar area parkir.


Tettttttt tettttt


Suara klakson motor yang akan masuk ke area parkir itu memekakkan gendang telinganya.


“Dasar bodoh! Mau mati ya,” teriakan seorang gadis membuat Azril menatap ke arahnya dan berjalan mendekati gadis pengendara motor itu.


Gadis itu pun lalubmembuka helm yang menutupi wajahnya.


“Eh, kau?” sahut sang gadis yang tak lain adalah Bella. Bella tampak terkejut melihat Azril, sang pangeran kegelapan, ada di rumah sakit tersebut.


“Kenapa kau bisa di sini? Kau masih mau cari gara-gara dengan Ar ya?” tuduh Bella.


“Heh, rupanya gadis bar bar ada di sini,” ucap Az sinis.


“Hey, Nona, ini rumah sakit bukan arena balap liar,” menatap Bella tajam.


“Yang mengatakan ini arena balap liar siapa? Justru aku yang mau tanya buat apa kau ada di sini ? Masih belum terima dengan kekelahanmu,” ejek Bella.

__ADS_1


“Kau merasa dirimu hebat ya?”


“Ya, aku memang sangat hebat,” ucapan Bella membuat Az tampak kesal.


“Jaka!” teriak Azril memanggil sekuriti yang ada di pos tersebut.


“Siap, Pak!”


“Usir orang yang tidak berkepentingan ini dari sini!” tunjuknya pada Bella.


“Siap!” memberi hormat. Jaka pun meminta Bella untuk meninggalkan area rumah sakit.


“Apa-apaan ini? Siapa yang tidak punya kepentingan?” Bella menolak untuk pergi.


“Jangan mentang-mentang kau kepala keamanan di sini ya! Kau bisa bersikap semene-mena,” perkataan Bella membuat Jaka terkejut.


Waduh, bisa-bisanya Pak Dokter dikira kepala keamanan di sini (ucap Jaka dalam hati)


Saat ini Azril memang tidak menggunakan seragam dokternya. Dia hanya mengenakan jaket hitam dengan celana jeans. Dia memang punya kebiasaan mengganti pakaiannya saat keluar dari rumah sakit.


“Setidaknya kepala keamanan rumah sakit lebih baik kan daripada kepala keamana pasar seperti kamu ini,” cibir Az.


“Eh, kau ini memang minta dihajar ya?” Menggulung jaket yang dikenakannya hingga sampai ke siku.


“Sepertinya pelajaran waktu itu belum cukup untukmu ya,” tantang Bella.


“Nona, maaf. Jangan membuat keributan di sini! Sebaiknya Nona segera pergi dari sini,” pinta Jaka yang melihat Bella sudah berancang-ancang ingin memukul Az.


Jika ini buka area rumah sakit Azril, pasti sudah terpancing untuk meladeninya.


“Eh, itu kan Bella?” tampak Dilla dan Aria dari kejauhan. Ia tampak terkejut melihat Bella yang sudah bersiap ingin memukul Azril.


“Sebaiknya kita lekas ke sana!” ajak Aria yang mengajak Dilla sedikit berlari menghampiri Bella dan Azril.


“Bella, cukup! Apa yang ingin kau lakukan?” teriak Dilla.


Bella dan Azril melihat ke arah Dilla dan Aria bersamaan.


“Jadi, gadis bar bar ini temanmu?” tanya Azril sinis.


“Ma-maaf, maafkan teman saya, saya tidak tahu apa yang barusan teman saya lakukan kepada Anda,”


“Hey, untuk apa kau meminta maaf kepadanya. Dia duluan yang mau mengusir aku dari sini,” protes Bella kesal.


“Bella, sudah,” Dilla mencoba meredakan emosi Bella.


“Maaf ya, Dok,” melihat ke arah Azril.


“Apa?! Tadi kau panggil dia apa?” Bella tampak kaget mendengar panggilan Dilla kepada Azril.


“Dokter, Bella,” jawab Aria membuat Bella terkejut.


“Apa? Dokter? Jadi, dia bukan kepala keamanan di sini?” sahut Bella membuat Azril tersenyum penuh ejekan. Lalu meninggalkan mereka bertiga.


“Orang-orang merepotkan,” ucapnya.


“Jaka, kenapa Dokter Azril masih di sini?” tanya Aria saat melihat kepergian Azril.


“Oh, itu karena ban motornya kempes, Dokter,” jawab Jaka.

__ADS_1


Aria lalu memandang ke arah Azril yang kini tengah duduk di kursi panjang dekat pos keamanan. Ia nampak sedang berpikir.


“Kau tak perlu menawarkan bantuan kepadanya Ar,” ucap Bella.


“Orang itu terlalu menjengkelkan,” lanjutnya.


Bella cukup mengenal Aria. Aria adalah pria baik hati yang pertama dijumpainya. Dia selalu bersikap baik kepada siapa pun. Sekali pun pada orang-orang yang telah menindasnya.


Aria terdiam untuk beberapa saat.


“Kalau begitu aku pulang dulu. Kalian hati-hati di jalan ya,” ucap Aria sebelum meninggalkan Bella dan Dilla.


“Eh, dia kenapa? Lemas sekali? Padahal aku baru mau minta penjelasannya,” keluh Bella.


Sebenarnya Bella ke rumah sakit itu, selain untuk menjemput Dilla, Bella juga ingin bertemu dengan Aria. Ia ingin meminta penjelasan kepadanya Ar, kenapa selama ini Aria tidak pernah cerita kalau dirinya adalah seorang dokter.


“Kau tahu dia kenapa?” tanya Bella pada Dilla.


“Entahlah, aku juga sama bingungnya denganmu. Kau tahu entah mengapa aku merasa hubungan antara Dokter Aria dan Dokter Azril itu tidak sesederhana yang kita kira,”


“Hubungan? Maksud kamu mereka berdua itu pasangan ho..,”.


“Bella, jaga bicaramu!” memotong ucapan Bella.


“Baiklah, baiklah, sekarang cepat kita pulang!” ajak Bella.


Dilla pun memakai helm yang dibawa Bella sebelum naik ke atas motor Bella. Setelah semua siap, Bella menyalakan mesin motornya dan mulai melajukan motornya itu dengan kecepatan sedang.


Saat lewat pos keamanan, Bella sempat membunyikan klakson motornya keras-keras untuk mengejutkan Azril yang sekarang tengah duduk di samping pos keamanan. Ia melihat ke arah Azril, lalu menurunkan jempolnya ke bawah sebagai tanda ejekan.


“Sial, kurang ajar sekali gadis itu! Awas saja, kalau kita bertemu lagi aku pasti akan memberi kamu pelajaran yang akan membuatmu menyesal telah berurusan denganku,” gumamnya.


Tak lama setelah motor Bella keluar meninggalkan area parkiran rumah sakit, tampak sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di samping Azril. Pemilik sedan putih itu menurunkan kaca jendela mobilnya.


“Naiklah,” ajak Aria yang ternyata berada dalam mobil sedan putih tersebut.


Azril tak bergeming.


“Aku tahu kau harus kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga Lusia malam ini kan?” ucapnya.


Azril tak menampik bahwa malam ini ia memang harus kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani sang putri yang menginap di sana. Mengingat hal itu, ia akhirnya mau beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam mobil Aria. Setelah Azril memasang sabuk pengamannya, Aria pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


****


Bersambung


Sebenarnya ada hubungan apa ya, antara Dokter Aria dan Dokter Azril??


Mengapa sikap Dokter Azril bisa begitu dingin?


Temukan jawabannya di episode-episode selanjutnya..


Jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada karya ini dengan memberi like, vote, dan komen terbaik kalian, serta menjadikannya favorit!


😍😍😍


Terima kasih


Salam sayang dan sehat selalu untuk semua...

__ADS_1


__ADS_2