
“Kamu kenapa?” tanya Aria saat melihat Dilla terus saja diam tanpa banyak bicara.
“Tidak apa-apa, Dok,” jawab Dilla.
“Kenapa kamu masih membereskan ruangan ini? Bukannya sekarang sudah jam makan siang ya?” tanyanya lembut.
“Sebentar lagi juga selesai, Dok,” jawab Dilla mempercepat pekerjaannya membereskan ruangan milik Aria.
“Jika ada masalah ceritakan lah kepadaku. Bukan kah kita ini teman?” ucap Aria.
“Sungguh, Dok, tidak apa-apa. Saya hanya...,” ucap Dilla menggantung.
“Hanya apa?”
“Tidak jadi, Dok,”
“Jangan bohong! Dokter Azril memarahi kamu lagi ya?” tebak Aria.
“Dari mana dokter tahu?”
“Tadi aku sempat mendengar percakapan antara Suster Nilam dan Suster Inggit. Mereka bilang kalau Dokter Azril memarahi OB baru di rumah sakit ini,” ucap Aria.
“Iya, itu semua karena kesalahan saya, Dok,” jawab Dilla menghentikan semua pekerjaannya karena ruangan Aria sudah selesai dibersihkan.
“Dia itu memang dokter yang tegas,” ucap Aria.
“Sepertinya Anda sudah sangat mengenalnya, Dok?” Aria tersenyum.
“Sudah mulai kepo nih?” tuduh Aria.
“Bukannya Anda duluan yang kepo?” membalikkan perkataan Aria.
“Kalau gitu bagaimana kalau ngobrolnya kita lanjutkan di kantin saja, aku sudah lapar,” ajak Aria.
“Dokter mengajak saya?” tanya Dilla tak percaya.
“Memangnya masih ada orang lain di sini?” ucapnya sambil melihat ke arah sekitar.
“Kalau begitu saya simpan barang-barang ini dulu, Dok” ucap Dilla.
Hatinya benar-benar merasa senang karena Aria mengajaknya untuk makan siang bersama. Dia begitu bersemangat menyimpan alat tempurnya dan ingin segera kembali ke ruangan Dokter Aria.
Saat ia keluar dari ruang penyimpanan alat-alat kebersihan, tiba-tiba tubuhnya yang kecil menabrak badan kekar dan hampir saja membuatnya terjatuh. Beruntung Aria menangkap berhasil menangkap tubuhnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.
Jantung Dilla saat itu rasanya ingin melompat keluar saat jarak antara dirinya dan Aria begitu dekat.
“Ti-tidak apa-apa, Dok,” jawab Dilla gugup.
Hanya seperti terkena serangan jantung (batinnya).
“Lain kali lihat-lihat dulu kalau sedang berjalan. Bagaimana kalau yang menabrak kamu itu Dokter Azril?”
“Pasti dimarahi lagi, Dok,” jawab Dilla cepat.
“Itu, kamu tahu,” ucap Aria sambil mendengar jawaban polos dari Dilla.
__ADS_1
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju kantin. Banyak mata memandang iri terhadap Dilla karena bisa bersama dengan salah satu dokter tertampan di rumah sakit tersebut.
“Eh, bukankah itu Dokter Aria?” bisik salah satu perawat di rumah sakit tersebut.
“Iya dan gadis yang di sampingnya itu bukannya petugas kebersihan yang baru ya?” tanya perawat yang satunya.
“Iya, kok bisa ya, dia jalan bareng sama Dokter Aria? Memangnya mereka sudah saling mengenal?”
“Entahlah, yang jelas aku sangat iri dengannya. Bisa jalan dan makan bareng sama dokter paling tampan dan paling baik di rumah sakit ini,”
“Iya, aku juga,”
“Tapi mudah-mudahan dia itu hanya temannya saja bukan pacarnya,”
“Aamiin,” semua perawat yang mendengar ucapan itu mengaminkannya.
Dilla yang mendengar bisik-bisik itu tersenyum. Dia tidak menyangka pria yang kini berada dihadapannya itu ternyata memiliki banyak sekali fans di rumah sakit ini. Dikenal sebagai dokter paling tampan dan paling baik membuat Dilla cukup merasa minder berdekatan dengan Ar.
“Kalau di sini kita bicara biasa saja ya. Jangan terlalu formal seperti tadi,” ucap Aria memulai percakapannya.
“Baik, Dok,” sahut Dilla yang mendapat tatapan tidak suka dari Aria.
“Maksudku, Ok, Aria,” memperbaiki ucapannya.
“Kamu sudah berapa lama mengenal, Bella?” Pertanyaan Ar cukup membuat Dilla merasa sedih. Dilla merasa kecewa karena Ar malah menanyakan Bella.
“Belum lama, tapi kami sudah cukup dekat. Aku pun kini tinggal di rumahnya,”
“Oh, pantas saja, sebelumnya aku tidak pernah mengenalmu,”
“Kalian sudah mengenal cukup lama ya?” tanya Dilla.
“Kamu diserang preman. Lalu bagaimana Bella membantumu?”
“Tentunya dengan ini,” mengangkat kedua kepalan tangan seperti sedang bertinju.
“Bella, bisa berkelahi?” Dilla tampak kaget dan itu membuat Aria kembali tersenyum.
“Memang kamu tidak tahu. Dia itu jagonya, Azril saja sempat dikalahkannya,”
“Tunggu, tunggu! Azril? Maksud kamu Dokter Azril?”
Lagi-lagi Aria dibuat tersenyum dengan ekspresi kaget dari Dilla.
“Memang kamu tidak mengenalinya. Dia itu Az, sang Pangeran Kegelapan,” ucap Aria penuh penekanan membuat Dilla membulatkan matanya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Dokter Azril, sang Pangeran Kegelapan?
Dilla memang merasa pernah melihat wajahnya dan merasa pernah bertemu dengan Dokter Azril. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menyangka bahwa pertemuan pertamanya dengan dokter galak dan dingin itu ternyata di arena balapan liar. Entah berapa banyak lagi kejutan yang akan ia dapatkan selama bekerja di rumah sakit ini.
Kurasa Bella juga bisa jantungan kalau mendengar ini semua (ucap Dilla dalam hati).
“Dan kamu masih ingat dengan pertandingan malam itu?” Aria mencoba mengingatkan Dilla kembali akan kejadian beberapa malam yang lalu saat Bella berhasil memenagkan tantangan dari Dokter Azril dan berhasil membawa pulang uang sebesar 50 juta.
“Tentu saja aku sangat mengingatnya. Waktu itu aku sangat ketakutan. Aku takut terjadi hal yang buruk pada Bella,”
“Tapi Bella berhasil menjadi pemenangnya kan?” sahut Aria.
“Iya, dia memang sangat hebat,” puji Dilla.
__ADS_1
“Dan penuh keberuntungan,” sambung Aria.
“Maksud kamu?” tanya Dilla tak paham dengan ucapan Aria. Karena dia tidak melihat sisi keberuntungan Bella malam itu.
“Seharusnya pertandingan malam itu Azril lah pemenangnya,” ucapnya.
“Bagaimana bisa?” tanya Dilla tak mengerti.
“Sebab pada malam kejadian saat pertandingan sedang berlangsung, Azril bertemu dengan pengendara lain yang sedang mengalami kecelakaan. Ia pun membawa pengendara itu sampai ke rumah sakit. Setelah dipastikan ada dokter yang menanganinya, ia baru kembali ke arena balap,” jelas Aria.
“O..., begitu,”
Mendengar cerita Dokter Aria, Dilla kini yakin bahwa Dokter Azril sebenarnya dokter yang sangat baik. Ia rela kehilangan uang dan reputasinya hanya demi menolong orang lain.
“Lalu bagaimana kejadiannya kamu bisa sampai dimarahi lagi sama Dokter Azril?” tanya Aria mengingat kembali hal yang sebelumnya ingin ia tanyakan.
“Itu..,” ucapan Dilla terhenti saat seorang pelayan kantin membawakan mereka makanan yang mereka pesan.
“Ini pesanannya, Dok,” ucap pelayan tersebut ramah.
“Terima kasih,” sahut Aria.
Setelah makanan yang mereka pesan itu diletakkan di atas meja, Dilla kembali melanjutkan ucapannya. Namun, sebelum sempat mengatakan apa-apa, Aria kembali bersuara.
“Ceritanya nanti saja, Dil, kita makan dulu,” ajak Aria.
Mereka pun mulai memakan makanan yang mereka pesan. Setelah selesai, Dilla pun mulai menceritakan hal yang membuat dirinya dimarahi oleh Dokter Azril lagi.
“Itu tadi saat aku sedang membersihkan salah satu koridor yang ada di rumah sakit ini, aku mendapat telepon dari Bella. Namun, entah kenapa teleponnya tiba-tiba terputus. Jadi, aku menghubungi Bella kembali. Kemudian, Dokter Azril lewat dan ia pun melihatku sedang menelepon Bella. Alhasil, dia memarahiku dan ponselku pun disita olehnya,” jawab Dilla.
“Oh, jadi karena itu.. pantas saja. Dokter Azril memang paling tidak suka jika ada salah satu pegawai di sini yang menggunakan ponsel saat jam kerja,” jelas Aria.
“Iya, aku juga baru mengetahuinya,” sesal Dilla.
“Oh ya, bisa kah kamu membantuku mengambil ponsel itu saat kita pulang. Aku janji, aku tidak akan menggunakannya lagi saat jam kerja,” pinta Dilla.
“Memang kau belum mengambilnya?”
“Sudah, tapi kata Bu Wati ponsel itu baru bisa dikembalikan saat gajian nanti,” jawab Dilla sedih.
“Dia memang cukup sadis,” ucap Ar lirih.
“Hah?” Dilla bingung karena tidak mendengar apa yang barusan diucapkan Ar.
“Iya, baik nanti aku bantu kamu ambilkan,” ucap Ar menyanggupi.
“Terima kasih Ar,”
“Sama-sama,”
Dilla merasa sangat senang karena Ar mau membantunya mendapatkan ponselnya kembali.
***
Bersambung
Halo, pembaca setiaku.. jangan lupa dukungannya dengan like, vote, dan komen terbaik kalian ya..
__ADS_1
Terima kasih, salam sayang buat kalian semua, dan semoga sehat selalu...