
“Sa-saya waktu itu ingin mengantar almarhumah Nenek saya untuk berobat di rumah sakit yang ada di kota ini sekaligus mencari keberadaan keluar....,” jawaban Dilla menggantung saat Bella tiba-tiba datang menghampiri mereka.
“Hey, Bos sombong? Apa yang kau lakukan? Seenaknya saja menginterogasi temanku!” ucap Bella.
“Siapa yang menginterogasi temanmu? Aku hanya bertanya saja. Lagipula apa salahnya jika aku ingin tahu lebih banyak tentang wanita yang jadi tunanganku dan dengan siapa saja dia tinggal,” jawab David.
“Tunanganmu? Siapa tunanganmu? Aku ini kan hanya tunangan pura-pu... hemmm,” Belum selesai Bella berbicara mulutnya langsung dibekap David.
“Hey, gadis tengik! Jangan sembarangan kamu bicara! Ini tempat umum! Kalau sampai ada orang lain yang mendengarnya! Kuhabisi kamu,” ancam David dengan nada rendah.
“Aww,” pekiknya saat perutnya terkena sikutan Bella.
“Kenapa kau memukulku?” tanya David.
“Karena kau layak mendapatkannya. Kau hampir saja membuatku tak bisa bernafas tahu?” sahut Bella kesal.
“Oke, maafkan aku. Tapi aku tidak mau dengar kau berbicara seperti itu lagi di tempat umum,” ancam David.
Ha, maaf, tumben si Bos mau minta maaf (ucap Lim dalam hati saat mendengar kata maaf dari David)
“Eh, cantik! Ternyata kamu ada di sini toh.. Ini coba sekarang kamu kenakan gaun ini,” sahut Niki menyodorkan sebuah gaun merah mencolok yang cukup seksi kepada Bella.
“Apa ini Niki?” sahut David merebut gaun itu.
“Dia tidak akan memakai gaun seperti ini. Ganti!” tegas David.
“Loh, Bos, bukannya gaun ini sangat cantik? Saya yakin Nona Bella akan terlihat semakin cantik mengenakan gaun ini,” ucap Niki.
“Cantik apanya? Kamu tidak lihat gaun ini kekurangan bahan,” sahut David membuat Lim dan Dilla menahan tawanya.
“Lihat! Bahkan panjangnya saja tidak sampai menutupi bagian pahanya?” sahut David kembali sambil merentangkan gaun yang dibawa Niki ke arah Bella, membuat Niki menghela nafasnya panjang.
“Hpfft.. Baiklah, Bos, akan saya ganti. Tapi, kalau boleh tahu kira-kira gaun seperti apa yang cocok untuk Nona Bella?” tanya Niki saat mengambil kembali gaun merah yang ada di tangan David.
“Jangan gaun! Karena ini bukan acara formal. Pakai pakaian biasa saja. Iya, seperti pakaian yang dikenakan temannya itu,” tunjuk David pada Dilla.
“Baiklah, Bos, saya akan coba mencarikan pakaian yang sesuai dengan keinginan Bos,” sahut Niki setelah memandangi pakaian yang dikenakan Dilla. Dilla saat itu mengenakan kemeja putih oranye yang santai, namun terlihat cantik.
Tak berapa lama Niki kembali dengan membawa kaos putih dengan jaket kulit berwarna putih oranye yang warnanya hampir sama dengan warna pakaian yang dikenakan Dilla, serta celana panjang bahan berwarna putih.
“Bagaimana Bos dengan pakaian yang ini?” tanya Nikita memperlihatkan pakaian yang dibawanya
“Oke, yang ini boleh,” jawab David.
Hemm.. aku baru tahu kalau laki-laki ini benar-benar tipe pemilih (ucap Bella dalam hati setelah sedari tadi memilih diam mendengarkan ocehan David)
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan dari David, Niki pun akhirnya mengajak Bella ke ruang ganti untuk mengganti pakaian yang ia bawa sebelumnya. Setelah itu, Niki merapikan rambut Bella dan memoles wajah Bella dengan make-up tipis yang natural.
Setelah selesai, Niki kemudian membawa Bella ke hadapan David, Lim, dan Dilla. Tampilan Bella kali ini terlihat jauh lebih sempurna dari sebelumnya. Niki meluruskan sedikit rambut Bella agar terlihat rapi, kemudian mengikat rambut Bella menjadi dua bagian, serta mencat rambut itu dengan warna coklat agar tidak terlihat kusam.
Untuk bagian wajah, Niki hanya sedikit merapikan bagian alis, memoleskan pelembab dan bedak, serta memoles bibir Bella dengan lipstik yang memiliki warna senada dengan pakaian yang ia kenakan. Melihat tampilan Bella yang sempurna dan lebih cantik dari sebelumnya, membuat David terpana tak percaya.
Ya Tuhan, gadis tengik ini kenapa bisa terlihat begitu cantik? (batin David)
“Ehem, Bos sepertinya sekarang waktunya sudah semakin siang. Saya rasa sebaiknya kita segera berangkat karena pasti Nenek, Paman, dan Tante Diana sudah cukup lama menunggu kalian berdua di rumah” ucap Lim menyadarkan David.
Lim memang kadang menggunakan panggilan Nenek untuk Nyonya Besar, Paman untuk Handika, dan Tante untuk Diana, karena walaupun di kantor ia hanya seorang bawahan, tetapi sebenarnya ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Diana, istri dari Handika Erlangga, paman David.
David yang tersadar dengan ucapan Lim segera mengajak mereka bertiga keluar dari gedung itu setelah sebelumnya membayar Niki dengan bayaran yang pantas ditambah bonus yang cukup besar. . Bayaran dan bonus tersebut membuat Niki bisa kembali tersenyum dengan lebar setelah sempat merasa kesal dengan cemoohan David atas pilihannya itu
***
Setelah keluar dari gedung tersebut, Lim kembali melajukan mobil yang dikendarainya untuk meneruskan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Perjalanan menuju kediaman keluarga Erlangga. Kali ini, David duduk bertukar posisi dengan Dilla. Hal itu karena Bella memaksa ingin duduk di dekat Dilla.
Sebelumnya, tentu saja David sangat tidak setuju dengan keinginan Bella itu sehingga cukup lama juga mereka berdebat sebelum akhirnya David memilih mengalah dan menyetujui permintaan Bella karena Bella mengancam tidak mau ikut dengannya jika David terus menerus memaksanya melakukan hal yang tidak dia suka.
“Dasar gadis keras kepala! Sama sekali tidak mau kalah! Memang sebegitu tidak suka kah dia sama aku? Sampai-sampai ia berani mengancam agar aku tidak duduk dekat dengan dia,” gumam David pelan, namun Lim yang memang memiliki pendengaran yang cukup tajam masih bisa mendengar gumaman David dan tersenyum karenanya.
Bos, Bos, akhirnya kamu mendapat lawan yang sepadan denganmu (batin Lim).
Bella merasa senang karena bisa memaksa David mengalah padanya. Apalagi dari tadi dia memang ingin sekali duduk di dekat Dilla. Bella ingin tahu perasaan sahabatnya saat akan bertemu ayah kandungnya.
“Iya, Bell,” sahut Dilla.
“Tenang saja, jika mereka memberikan reaksi negatif terhadapmu aku akan membantumu melawan mereka,” ucap Bella lagi masih dengan suara pelan.
“Iya, Bella, aku tahu kamu memang sahabat terbaikku. Tapi Bell, bisakah kau berjanji satu hal kepadaku?” pinta Dilla.
“Apa?” tanya Bella.
“Bisakah kau berjanji untuk merahasiakan identitas ku yang sebenarnya kepada David dan keluarganya. Aku ingin memberi tahukan semuanya di saat yang tepat. Aku juga ingin agar Nenek dan Ayah bisa menerimaku dulu sebelum mereka tahu kalau aku adalah cucu dan anak mereka. Selain itu, aku juga ingin tahu apakah Ayah benar-benar mencintai ibuku atau tidak? Dan adakah penyesalan di hatinya setelah meninggalkan ibuku selama bertahun-tahun,” ucap Dilla.
“Baiklah, kalau itu mau kamu aku janji aku tak akan memberi tahu masalah ini kepada keluarga David,” sahut Bella dan langsung memeluk Dilla untuk memberinya ketenangan.
“Terima kasih, Bell,” sahut Dilla.
Tenang Dilla, aku janji, aku akan membuat keluargamu mau menerimamu, termasuk Nenek David yang jahat itu (batin Bella).
Selang beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Erlangga, kediaman keluarga yang super mewah dengan bangunan menyerupai istana yang megah. Di depannya terdapat halaman yang sangat luas yang ditanami berbagai pohon buah-buahan dan aneka jenis bunga. Bila ditaksir harga bangunan itu barang kali bisa mencapai puluhan juta triliun.
Ya Tuhan, ini rumah atau istana besar sekali. Pantas si Brengsek itu sombong sekali. (batin Bella)
__ADS_1
Dilla, ini adalah rumah tempat ayah dan nenekmu tinggal, sekarang kau akan bertemu dengan mereka. Apakah kau sudah siap ? (batin Dilla)
Bella dan Dilla tidak bergegas turun dari mobil, mereka berdua masih sibuk mengamati bangunan yang ada di hadapan mereka hingga akhirnya terdengar suara David yang tampak tidak sabar menunggu keduanya.
“Hey, kalian! Cepatlah turun! Mau sampai kapan kalian berada di dalam mobil?!” bentak David.
Mendengar bentakan David, Bella dan Dilla segera turun dari mobil yang sebelumnya telah dibukakan pintunya oleh seorang pelayan. Betapa terkejutnya pelayan itu saat melihat bukan tuannya yang turun dari mobil itu, melainkan Bella dan Dilla.
Ha, siapa kedua gadis manis ini?(ucap pelayan dalam hatinya)
“Maaf, Tuan, saya tidak tahu Anda ada di depan,” sahut pelayan tadi begitu melihat David keluar dari pintu mobil bagian depan.
“Tak masalah, sekarang katakan di mana Nenek dan Paman? Apa mereka berdua ada?” tanya David.
“Ada, Tuan Muda. Tuan dan Nyonya Besar kebetulan sekarang sedang mengobrol di ruang tengah bersama Nyonya Diana,” jawab pelayan itu.
“Kebetulan sekali mereka bersama. Baiklah aku akan segera ke sana,” sahut David.
“Bos, kalau begitu sekarang aku pamit pulang dulu,” ucap Lim kemudian.
“Jangan dulu! Kau lihat situasi yang terjadi di sini dulu, setidaknya sampai makan siang berakhir,” ucap David.
“Baiklah, Bos,” sahut Lim yang paham dengan maksud David.
“Kalian berdua ikuti kami dan jangan bertindak macam-macam di sini! Terutama kau gadis tengik!” sahut David sambil menunjuk Bella.
Cih, memangnya siapa dia? Berani sekali memerintahku (ucap Bella dalam hati).
Setelah mengucapkan itu, David dan Lim bergegas masuk ke dalam, sedangkan Bella hanya mematung dengan wajah yang cemberut.
“Bella, kita masuk yuk! Setidaknya lakukan itu demi aku,” bisik Dilla sambil menggandeng lengan Bella.
“Baiklah, anggap aku melakukan ini demi kamu, sahabatku," sahut Bella tersenyum ke arah Dilla.
Mereka berdua pun akhirnya memilih masuk mengikuti langkah David dan Lim ke ruang tengah yang merupakan ruang keluarga di kediaman Erlangga. Di ruangan itu sudah terlihat Paman Handika, Nenek David, dan Tante Diana, serta pelayan kepercayaan Nenek David, Bibi Mun. Mereka bertiga kecuali Bibi Mun yang hanya menjadi pendengar, tampak sedang mengobrol dengan serius.
***
Bersambung
Apa yang sedang mereka bicarakan?
Jika penasaran, ikuti terus cerita ini dan jangan lupa dukung terus karya ini dengan memberikan like, vote, dan serta menekan tombol love untuk menjadikan karya ini sebagai karya favorit..
Selain itu, mampir juga ke karya author yang lain ya “Cintaku di Kampus Pelangi” sudah tamat loh...
__ADS_1
Terima kasih 💐💐💐