
“Akhirnya saya menemukanmu, Bos” sahut Lim yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan Az.
“Oow... apakah lagi-lagi ayam jantan sudah bisa bertelur?” sindir Lim saat melihat David menyuapi Az karena yang Lim tahu dari sejak kecil mereka berdua tidak pernah akur.
“Kau datang juga. Dari mana saja kau? Apakah baru mengurusi orang yang baru melahirkan?” bentak David.
“Nyonya, buburnya sudah habis ya,” ucap David menoleh ke arah Bella dan memperlihatkan bubur kacang yang sudah habis dimakan Az.
Oh, seperti itu. Jadi, Nona Bella yang menyuruh Bos. Tidak disangka si Bos anggota ISTI juga ya.. Jadi, tidak sabar melihat pernikahan mereka (batin Lim).
“Hey, Az apa kabarmu?” sapa Lim.
“Kabarku baik. Kau sendiri? Masih setia mengikuti David?”
“Ya, seperti yang kau lihat,” jawab Lim.
Tok tok tok
“Permisi,” ucap seorang wanita berkaca mata tebal dan berambut gimbal.
“Waduh, makhluk jadi-jadian dari mana ini?” celoteh Lim tanpa sadar.
Bugh
Sebuah lemparan tas mengenai kepala Lim.
“Sembarangan sekali kau bicara,” kata wanita itu menatap tajam ke arah Lim.
Kemudian ia mengedarkan pandanganya pada orang-orang yang berada di ruangan itu.
“Permisi, apakah di sini ruang rawat Dokter.. Dokter..?”
“Azril,” sahut Bella.
“Ya, benar. Dokter Azril maksudku,” kata wanita itu.
“Benar, ini ruangannya dan yang itu Dokter Azril,” jawab Bella dan menunjuk Azril yang masih terbaring di atas brangkarnya.
“Jadi Tuan pahlawan itu ya? Duh, ternyata Tuan sangat tampan ya?” puji wanita itu.
“Kamu siapa? Jika tidak ada kepentingan silakan keluar,” ucap Az dengan nada dinginnya.
“Anu, maaf, jika mengganggu. Saya ini bibi dari bocah yang Anda tolong Tuan. Saya ke sini untuk menjemput anak itu sekaligus berterima kasih pada Tuan karena telah menolong keponakan saya,”
“Kembali kasih, tapi aku baru saja siuman. Jadi, aku tidak tahu di mana keponakanmu berada. Sekarang coba kau tanyakan pada perawat atau dokter lainnya,”
“Oh, tidak perlu. Tadi aku sudah bertemu Dodo keponakanku. Aku ke sini hanya ingin memberikan ini sebagai tanda terima kasihku,” ucap wanita itu lalu memberikan sekotak kue kepada Dokter Azril.
Azril pun menerima pemberiannya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu,” ucapnya sambil memperbaiki letak kaca matanya.
Sebelum keluar wanita itu sekilas menatap Lim, seolah ia sudah mengenal sosok itu.
Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa aku mengenalnya? (pikir Lim).
“Ehem, sepertinya ada yang punya penggemar baru,” Berdehem sambil melihat ke arah Lim yang sedari tadi tanpa sadar matanya mengikuti langkah wanita itu.
Lim mengabaikan ucapan David dan memilih fokus pada berita yang ingin disampaikannya.
“Maaf, Bos, saya ke sini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan," ucap Lim.
“Baiklah, kalau begitu kita bicarakan di luar. Bella, kau juga keluar,” menarik lengan Bella untuk ikut keluar.
“Eh, kenapa aku harus ikut-ikutan keluar sih,” keluh Bella yang tak paham dengan sikap David.
“Bos, sepertinya kita tidak bisa menggunakan jet pribadi untuk ke pantai itu hari ini karena Nyonya Besar sepertinya sudah mengetahui kalau Bos berencana mengajak Nona Bella pergi dengan jet pribadi itu,"
“Kelihatannya Nenek sudah mulai bersiap siaga. Baiklah, tidak masalah. Kalau begitu kita berangkat dengan mobil saja. Bella, bersiaplah kita berangkat sekarang juga!” ucap David melihat ke arah Bella.
“Apa ? Kemana?” Pertanyaan Bella mendapat sentilan dari David.
“Apa kau lupa kalau siang ini Nenimu ingin membawa kita ke kampung halamanmu,” jawab David.
“Jadi kita berangkat sekarang juga. Lalu masalah lamaran pekerjaanku di rumah sakit ini?”
“Lupakan tentang pekerjaanmu itu! Aku bisa memberikanmu pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih besar,”
“Cih, paling juga hanya sebagai tunangan pura-puramu lagi,” cibir Bella yang saat itu juga badannya langsung ditarik oleh David ke dalam pelukannya.
“Bagaimana kalau menjadi istriku?” tawaran David yang diucapkannya dengan sangat dekat membuat jantung Bella seolah tak terkendali. Ada rasa yang sulit untuk diartikan.
Bella langsung mendorong pelukan David yang saat ini membuat tubuhnya terasa terbakar.
“Kau jangan suka bercanda ah,” ucap Bella yang segera memalingkan mukanya dari tatapan David dan segera pergi begitu saja meninggalkan David dengan wajah yang merona.
__ADS_1
Melihat tingkah Bella, David menaikkan sudut bibirnya.
Aku tahu kau juga merasakan perasaan yang sama denganku kan, gadis kecilku (batin David).
***
Bella terus berjalan menjauhi David, mencari keberadaan sahabatnya Dilla. Namun, sepanjang jalan ia tak berhenti memegang dadanya.
“Ya Tuhan, ada apa dengan jantung ini? Kenapa setiap berdekatan dengannya jantung ini seperti mau melompat saja? Apa aku punya penyakit jantung ya? Gara-gara laki-laki mesum itu selalu menggodaku,” gumam Bella.
“Bella, ada apa?” tanya Dilla saat melihat wajah panik sahabatnya.
“Dilla, katakan! Kau kan suka membaca buku-buku tentang berbagai penyakit beserta gejala dan pengobatannya. Sekarang katakan padaku, apa mungkin aku punya penyakit jantung?”
“Penyakit jantung apa maksudmu?? Sini duduk dulu,” mengajak Bella duduk.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Dilla menatap Bella dengan pandangan serius.
“Belakangan ini aku merasa denyut jantungku itu berdetak tak beraturan, kadang cepat kadang lambat,” jawab Bella.
“Kapan kau merasakannya? Apa mungkin kau salah minum obat?” tebak Dilla.
“Obat? Obat apa? Kau kan tahu aku paling tidak suka minum obat,” jawab Bella.
“Lalu kapan kau mulai merasakan perubahan pada jantungmu?” tanya Dilla kembali dengan wajah yang serius.
“Saat... saat..,” Bella merasa ragu sekaligus malu untuk melanjutkan ucapannya.
“Saat apa?” tanya Dilla gemas karena masih belum juga mendapatkan jawaban dari Bella.
“Saat David memelukku,” jawab Bella lirih lalu menggigit bibir bawahnya.
Dilla yang mendengar jawaban Bella hanya bisa melengos, diam-diam tersenyum, dan mulai mengerti penyakit serius apa yang diderita sahabatnya.
Bella, Bella, tidak kusangka kau sepolos itu. Baiklah, aku akan sedikit mengerjaimu (batin Dilla)
“Wah, kupikir itu penyakit yang sangat serius Bella. Dan David sebagai penyebabnya harus bertanggung jawab atas hal itu,”
“Benarkah? Apa itu bisa disembuhkan? Apa aku tidak akan mati karenanya?”
“Bisa asalkan kau segera meminta David mengantarmu berobat ke tempat pengobatan yang khusus menangani penyakit ini,” jawab Dilla yang terus mencoba menahan tawanya.
“Memang tidak bisa berobat di rumah sakit ini ya? Kebetulan si brengsek David juga ada di sini,”
“Tidak bisa Bella, penyakit yang kau derita ini hanya bisa diobati di tempat itu,” sahut Dilla.
“Tidak, mana mungkin aku berani membohongimu,” jawab Dilla.
Aku tidak bohong, Bella. Penyakitmu yang satu ini hanya bisa disembuhkan di tempat itu (batin Dilla)
“Baiklah, katakan padaku di mana tempatnya? Nanti akan kuminta David mengantarku ke sana,” ucap Bella saat tak menemukan kebohongan di mata Dilla.
“Tempat itu ada di sebelah kanan rumah sakit ini, kira-kira dua ratus meter dari sinilah.
Tempatnya tidak terlalu besar, gedungnya berwarna hijau tua. Kau mintalah David mengantarmu ke sana,”
Karena aku yakin dua ribu persen kalau David juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Jadi dia tidak akan marah dengan leluconku ini (batin Dilla).
“Baiklah, sebelum menjemput Neni dan membawanya ke Kampung Pelangi aku akan minta David mengantarku dulu ke sana,”
“Ke Kampung Pelangi? Bukannya hari ini seharusnya kita tinggal di rumahnya David ya?”
“Dilla, bukan rumah David karena rumah itu juga adalah rumahmu dan kau sudah siap untuk tinggal bersama ayahmu kan?” tanya Bella.
“Entahlah, Bella. Sejujurnya aku sangat takut, aku takut setelah ayah mengetahui siapa aku, dia akan menolakku,” ucap Dilla.
“Kau tidak perlu takut Dilla, aku yakin Ayahmu akan senang mengetahui kalau dirinya mempunyai seorang putri. Kau pasti akan diterima di Keluarga Erlangga,"
“Tapi aku tidak menyimpan harapan sebesar itu Bella. Aku tidak terlalu berharap kalau keluarga Erlangga akan menerimaku. Bagiku, cukup Ayah bisa menerimaku sebagai putrinya dan memanggilnya dengan sebutan Ayah, itu sudah sangat membahagiakan,”
Bella merangkul pundak Dilla dan menepuk-nepuk bahunya pelan.
“Tenanglah teman, kau pasti akan mendapatkan itu?”
“Tapi bagaimana caranya Ayah bisa mengenaliku karena kalung pemberian Bunda saja sudah aku hilangkan,” sahut Dilla
bertambah sedih saat mengingat kalung itu.
“Tenanglah Dilla, kalung itu pasti ketemu. Kau belum bertanya pada David kan? Kalau kau tidak berani biarkan aku yang menanyakannya pada David,” hibur Bella.
“Oh ya, tolong sampaikan permohonan maafku pada Dokter Damar ya. Sepertinya aku tidak bisa bekerja di sini karena David melarangku untuk itu,” ucap Bella kemudian.
“Sudah kuduga, kau adalah kesayangan David. Jadi mana mungkin CEO hebat seperti dia akan membiarkan kau bekerja di sini sebagai petugas kebersihan,” sahut Dilla.
“Hey, jangan sembarangan bicara! Aku bukan kesayangannya, aku hanya tunangan pura-puranya saja,” ucap Bella.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Dilla, Bella berjalan menuju parkiran menemui David.
“Akhirnya kau kembali, kupikir kau masih betah berlama-lama di sini dengan si Bakpao Gosong itu,” kata David dengan menahan amarahnya.
Jika dia tidak takut Bella akan menarik telinganya lagi, mungkin dia sudah memaki Bella habis-habisan.
“Kau ini bicara apa? Siapa yang kau katakan Bakpao Gosong?” tanya Bella bingung.
“Siapa lagi kalau bukan Azril?” jawab David.
“Hah, apa kau bercanda? Dokter tampan seperti dia kau sebut bakpao gosong,” ucapan Bella membuat David bertambah geram dan kemudian menarik Bella mendekat ke arahnya.
“Bella, lihat aku!” seru David menatap tajam Bella.
“Apa?” Bukannya menjawab, David malah memberikan Bella sebuah ciuman.
Ya Tuhan, kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan pemandangan seperti ini lagi. Sungguh malang nasib jomblo yang satu ini (batin Lim saat tak sengaja melihat David mencium Bella dari balik kaca spionnya)
Cukup lama David mencium Bella hingga Bella menggigit bibir David, lalu mendorongnya tubuhnya secara paksa.
“David!! Kenapa kau suka sekali menciumku sih?” teriak Bella kesal.
“Itu hukuman untukmu karena kau sudah berani memuji laki-laki lain di depanku,”
Mendengar ucapan David, wajah Bella langsung ditekuk dan ia pun mulai mengeluarkan suara tangisnya.
“Hu hu hu... Pantas saja Dilla mengatakan kalau aku sampai menderita penyakit serius. Itu pasti karena kau sering memperlakukanku dengan semena-mena seperti ini,” teriak Bella.
Hayo loh, Bos. Gadis kesayanganmu mulai menangis. Aku tidak ingin ikut campur loh ya... (batin Lim).
“Kau ini bicara apa? Memangnya apa yang dikatakan Dilla kepadamu? Penyakit apa? Dia pasti telah membohongimu,” tuduh David kesal.
“Diam kau! Temanku itu tidak akan berbohong padaku. Kalau kau tidak percaya, kau antarkan saja aku ke tempat di mana penyakitku bisa diobati dan katanya kaulah orang yang harus bertanggung jawab atas penyakitku ini,” ucap Bella serius dengan nada mengancam.
“Baiklah, katakan di mana tempatnya!” seru David.
“Tempatnya ada di sebelah kanan rumah sakit ini, kira-kira dua ratus meter dari rumah sakit ini. Gedungnya berwarna hijau tua,” jawab Bella mengulang petunjuk yang diberikan Dilla.
“Kalau begitu Lim, segera antar kami ke sana! Aku ingin tahu penyakit apa yang dialami gadis ini,” seru David kesal.
Sebelah kanan, dua ratus meter dari sini, dan gedungnya berwarna hijau tua. Bukan kah itu gedung... Ah, tidak mungkin. Bisa saja itu gedung yang lain dengan warna gedung yang sama di tempat itu (pikir Lim).
Lim terus melajukan mobilnya, sesuai dengan petunjuk arah yang disebutkan Bella sebelumnya. Mobil mereka pun menepi saat sudah berada di dua ratus meter kanan jalan rumah sakit tempat Dilla bekerja.
Mereka turun dari mobil, lalu mengedarkan pandangan mereka ke segala arah untuk mencari sebuah gedung yang berwarna hijau tua. Pandangan ketiganya terhenti, saat menatap satu-satunya gedung berwarna hijau tua yang ada di kawasan itu.
Mata ketiganya melebar saat mereka membaca sebuah plang yang tertulis di depan gedung tersebut.
l
“Kantor Urusan Agama Wilayah Kota B”.
Ketiganya saling berpandangan satu dengan yang lain. Sama sekali tak menyangka bahwa gedung pengobatan yang dimaksud Dilla adalah tempat yang kini ada di hadapan mereka.
“Apa itu tempat pengobatan yang dimaksud temanmu itu Bella? Kau tahu itu gedung untuk apa?” bisik David menggoda.
Dilla, kau benar-benar keterlaluan. Kenapa kau menyuruhku dan David ke tempat seperti ini? Memang apa hubungan penyakitku dengan tempat ini. Dasar kau teman yang tidak baik. Memangnya siapa yang mau menikah dengan David (batin Bella geram)
Bella benar-benar ingin marah kepada Dilla saat ini. Ia sungguh malu pada David yang sedari tadi hanya tersenyum melihat Bella.
“Kau mau masuk kembali ke dalam mobil atau mau masuk ke dalam?” goda David sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Diam kau! Dilla itu pasti sudah salah diagnosis,” gerutu Bella yang kemudian bergegas masuk kembali ke dalam mobil.
“Aku jadi penasaran, memang penyakit apa yang kau keluhkan pada temanmu itu sampai-sampai dia menyuruh kita ke tempat ini,” goda David saat berhasil menyusul Bella ke dalam mobil.
“Sudahlah, kalau kau terus membahas masalah ini aku tidak mau lagi tinggal di rumahmu,” ancam Bella agar David bisa segera menutup mulutnya.
“Baiklah,” sahut David yang kali ini merasa cukup terhibur dengan lelucon Dilla.
Tidak lama lagi aku pasti akan benar-benar membawamu ke tempat ini (batin David).
****
Bersambung
Netizen: Thor, kapan Bella dan David menikah?
Author : Kalau udah daftar ke Pak Penghulu, Net.
Netizen : Ah, author mah...
Authhor: Hi hi hi...🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa ya.. berikan like, vote, dan komentar positifnya terhadap karya ini dan tetap jadikan favorit. Terima kasih.