Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 16 Hilang


__ADS_3

Di halaman rumah besar itu tampak David yang terlihat tidak sabar dengan kedatangan Lim ke rumahnya. Berulang kali, ia menanyakan kepada pelayan di rumahnya itu tentang keberadaan Sekretarisnya yang telah berjanji akan mendatangi rumahnya dengan segera setelah ia mendapatkan info yang diinginkannya tentang gadis itu. Namun hingga hari menjelang sore, Sekretaris Lim masih tak jua menampakkan batang hidungnya.


“Kemana sekretaris bodoh itu,” gumamnya.


Sambil menyeruput kopi hitam dan membaca surat kabar yang disajikan oleh pelayan di rumahnya David terus menunggu kedatangan Lim.


“Tuan, Sekretaris Lim sudah datang,” ujar Bi Sari.


“Cepat suruh dia ke sini,” perintah David.


“Baik, Tuan,” sahut pelayan.


Bi Sari dengan segera memanggil Lim untuk menghadap pada majikannya.


Dari kejauhan Lim tampak tersenyum melihat tingkah David.


Ru**panya si Bos benar-benar tidak sabar menunggu informasi tentang gadis ini, (ucapnya dalam hati)


“Bagaimana? Kau sudah dapat info tentang gadis itu?” tanya David begitu melihat sosok Lim yang kini berada di sampingnya.


“Namanya Arabella, biasa dipanggil Bella. Ia adalah cucu dari seorang Nenek pemilik kedai bakso yang berada di dekat terminal. Neneknya terlibat hutang dengan salah seorang rentenir keji. Itulah sebabnya, Bella diam-diam sering keluar malam untuk membayar hutang neneknya dengan..”


“Maksudmu dia seorang wanita penghibur?” ucap David dengan nada tinggi memotong perkataan Lim.

__ADS_1


“Bukan Bos.. maksud saya dia membayar hutang Neneknya dengan mengikuti balapan liar setiap malam,” ucap Sekretaris Lim.


“Balapan liar? Menarik sekali,” gumam David menyunggingkan senyum. Entah kenapa ada perasaan lega saat David mengetahui kalau Bella bukanlah wanita penghibur.


“Lalu apa kau juga mendapat informasi tentang laki-laki yang menghubungi Bella barusan?” lanjut David.


“Maksud Bos, Si Ganteng Ar?” tanya Lim yang mendapat tatapan tajam dari David.


“Sandi tidak tahu banyak tentang laki-laki yang dipanggil Bella dengan sebutan itu karena selama ini Sandi tidak pernah ikut balapan liar, dia hanya tahu dari sepupunya Doni yang kebetulan tetangga Bella sekaligus teman Bella yang juga sering ikut menonton balapan liar itu,” jawab Lim.


“Di mana?” tanya David.


"Jalan Merdeka Jaya,” jawab Lim.


***


“Bel, kau ini kenapa? Apa yang sedang kau cari? Wajahmu kelihatan cemas sekali?” tanya Dilla saat melihat ekspresi wajah Bella yang terlihat cemas seraya mengacak-acak isi lemari pakaiannya.


“Aduh.. Dila, celaka!! Sepertinya aku kehilangan ponselku,” rengek Bella yang masih terus mencari namun tetap tak menemukan ponselnya.


“Sial.. sial..sial.. hari ini sungguh sial sekali! Bertemu dengan bajingan itu, kehilangan uang bakso, dan sekarang ponsel kesayanganku lenyap sudah..., Aarrgh.. Hemph,” teriak Bella yang langsung dibekap Dilla.


“Bella, berhenti berteriak! Kau mau seluruh orang di sini naik ke kamarmu dan Neni akan tahu betapa cerobohnya cucunya ini?” ucap Dilla.

__ADS_1


“Sekarang kau ingat-ingat saja dulu, kapan terakhir kau memakai ponsel itu,” lanjutnya.


Bella pun mengikuti perkataan Dilla. Ia berjalan mondar-mandir ke sana kemari, mencoba mengingat-ingat waktu terakhir ia menggunakan ponselnya.


“Ah, iya, aku ingat, terakhir kali aku menggunakan ponsel itu.. waktu menghubungi Mba Maya dan memberi tahu dia bahwa kita sudah sampai,” ucap Bella.


“Berarti besar kemungkinan ponselmu hilang di sana, Bel,” sahut Dila.


“Apa?!! Tidak!!!” teriak Bella lagi.


“Huss, kau tuh hobi sekali teriak-teriak,” sahut Dilla sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


“Gimana gak teriak? Kalau ponselku benar-benar hilang di sana berarti aku harus kembali ke tempat sialan itu untuk menemukannya. Dan harus kembali ke tempat pria mesum itu,” jawab Bella.


“Ah.., sudahlah, lupakan saja! Aku sudah ikhlas,” lanjut Bella memelas.


“Yakin, sudah ikhlas?” goda Dilla menaik turunkan alisnya.


“Ah... Dilla kau benar-benar menyebalkan!” ucap Bella sambil melempar bantal ke arah Dilla, dan Dilla hanya bisa terkekeh melihat kelakukan teman yang sekarang sudah seperti saudaranya itu.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak dengan memberi like, vote dan jadikan favorit ya...


__ADS_2