Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 102 Istri David


__ADS_3

Ruangan itu tampak gelap gulita karena cahaya utama yang menerangi ruangan tersebut telah dipadamkan. Kini yang tersisa hanyalah seberkas cahaya yang keluar dari sebuah lampu tidur yang berdiri kokoh di atas meja di samping sofa tempat wanita tua itu kini berada.


“Nyonya, apakah Anda belum ingin tidur?” tanya Bibi Mun yang masih setia menunggui majikannya yang sekarang sedang terduduk di atas sofa.


Bukannya menjawab sang majikan malah balik bertanya, “Apakah David masih belum pulang?”


“Belum, Nyonya. Tuan Muda belum pulang,” jawab Bibi Mun.


“Aih, anak ini, apa dia tidak akan pulang lagi malam ini,” gumam Nenek Kanaya.


“Mungkin, besok Tuan Muda baru pulang, Nyonya,”


“Heh, anak ini benar-benar sudah berubah. Sejak kapan dia tak menghargai waktu yang diberikan kepadanya. Ini sudah lewat dua jam dari batas waktu yang aku berikan kepadanya,” ucap Nenek Kanaya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


Tett tettt....


Suara klakson mobil terdengar dari bawah, membawa langkah Bibi Mun mendekati jendela luar yang ada di ruangan itu. Menyibak sebagian tirai yang menutupinya.


“Sepertinya Tuan Muda sudah pulang, Nyonya,”


“Bagus, kalau begitu. Apa sekarang dia bersama gadis itu?” tanya Nenek Kanaya.


“Benar, Nyonya. Tuan Muda bersamanya, bahkan sekarang dia sedang menggendongnya masuk ke dalam,”


“Apa?” Nenek Kanaya tersentak kaget.


“Apa gadis itu tidak punya kaki? Berani sekali dia minta digendong oleh cucuku,” sahut Nenek Kanaya geram.


“Maaf, Nyonya. Tapi sepertinya gadis itu sedang tertidur,” jawab Bibi Mun.


***


Sementara di lantai bawah, David sedang menggendong Bella yang sebelumnya tertidur di dalam mobil ini.


“Istriku ini suka sekali tidur ya?” gumam David sambil mencium kening Bella.


Lalu melanjutkan langkahnya menggendong Bella naik ke lantai atas dengan gaya bridal stlye. David sengaja meminta kamar yang ada di lantai atas agar dekat dengan kamarnya. Setidaknya, itu akan memudahkan dirinya untuk sering-sering berkunjung ke dalam kamar Bella.


Apalagi malam ini cuaca terasa sangat dingin, sementara baik dia maupun Bella malam ini sama-sama tidur sendirian. Lalu apa yang salah jika ia memanfaatkan momen ini untuk memadu kasih dengan istri tercintanya itu. Begitulah hal yang terlintas dalam pikiran David saat ini.


Dengan perlahan, ia merebahkan tubuh Bella di atas ranjang kamar tersebut. Menyibak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Membelai lembut wajah Bella yang belakangan selalu terbayang dalam pikirannya.


Bibir merah Bella yang tipis seolah sedang memanggilnya untuk lebih dekat dengannya. Kali ini David ikut merebahkan dirinya di samping Bella. Mengelus bibir merah yang belakangan menjadi candu baginya. Meski, Bella selama ini tak pernah membalasnya, namun Bella juga tak pernah langsung menolaknya.


Hasrat yang kuat itu semakin mendorong bibirnya untuk menyentuh bibir wanitanya. Tak peduli ia akan mendapat respon atau tidak yang jelas malam ini ia sangat menginginkannya. Dadanya terasa meledak saat itu juga, ini pertama kali ia merasakan balasan atas perlakuannya, rasanya begitu nikmat ketika keinginannya terbalaskan.


Meski, David tak tahu saat melakukan itu Bella dalam keadaan sadar atau tidak karena mata wanita itu masih terus saja terpejam. Namun, ia tak peduli toh wanita yang kini terbaring bersamanya itu kini telah menjadi istrinya.


Kini perasaan itu kian memuncak, menuntutnya untuk bertindak lebih dan lebih. Namun rupanya, Tuhan belum berpihak kepadanya. Ia terpaksa menahan keinginannya itu, saat suara derap langkah kaki semakin mendekat ke arah kamar yang sedang mereka tempati.

__ADS_1


Tok tok tok


Suara ketukan yang begitu nyaring terdengar dari luar kamar itu.


“Siapa sih malam-malam mengetuk pintu seperti ini berisik sekali?” gumam David yang terlihat sangat kesal.


“Sedang apa kau berada di dalam kamar ini?” suara menggelegar Nenek Kanaya langsung membahana begitu David membuka pintu kamar itu.


Sial, kenapa sudah larut seperti ini Nenek belum juga tidur sih (batin David)


“Katakan David! Apa kau memang sudah sering tidur dengan wanitu itu, hah?” bentak Nenek Kanaya.


“Tidak, kok Nek. Tadi, Bella ketiduran di mobil jadi aku mengantarnya ke atas dan merebahkan tubuhnya di kamar ini,”


“Lalu kenapa kau masih di kamar ini? Bukan kah kau bilang hanya mengantarnya saja ke dalam kamar ini? Lalu apa perlu waktu yang begitu lama untuk kau melakukan itu, hah?”


“Maksud Nenek? "


“Kau pikir aku tidak tahu sudah berapa lama kau berada di dalam kamar ini bersama dengan gadis itu, "


“Ah, itu. Itu karena aku masih merindukannya, Nek. Makanya aku masih ingin lebih lama lagi memandanginya,”


“Cih, memuakkan! Sejak kapan kau jadi pandai berbicara gombal seperti itu David! Sekarang cepat pergi tidur !” usir sang Nenek.


David yang sudah sangat lelah tak ingin lagi berdebat dengan sang Nenek karenanya ia pun memilih keluar dari kamar Bella.


“Mun, awasi kamar ini! Jangan sampai cucu tengik itu masuk kembali ke dalam kamar ini!” ucap Nenek Kanaya yang sengaja mengeraskan suaranya agar David bisa mendengarnya.


Setelah melihat kepergian David, Nenek Kanaya tidak langsung keluar dari kamar Bella. Ia masih berdiam diri sebentar memandangi wajah Bella yang masih tertidur pulas.


“Gadis tengik, kau sendirilah yang memilih masuk ke dalam rumah ini. Maka jangan salahkan aku yang tak akan sungkan lagi kepadamu karena aku tidak akan membiarkan hubungan kalian terjalin lebih lama lagi,” gumam Nenek Kanaya sebelum meninggalkan kamar Bella.


***


Tepat di pagi hari, cahaya matahari tampak sangat terang. David tidak ingin kehilangan sedetik pun kesempatan untuk bersama dengan istrinya.


Pagi-pagi sekali ia sudah terlihat begitu rapi. Ia ingin masuk ke kamar Bella dan memberikan kejutan untuknya.


“Bella, pasti terkejut saat melihatku berada di dalam kamarnya. Lalu aku akan memintanya memberikan morning kiss sebelum berangkat ke kantor,” ucapnya bermonolog.


Di dalam pikiran David penuh dengan angan-angan, apalagi semalam ia hampir tidak bisa tidur karena memikirkan Bella yang secara tiba-tiba sudah menjadi istrinya.


Apa? Tidak salah, Nenek benar-benar menyuruh Bibi Mun untuk mengawasi kamar Bella (ucap David dalam hati)


Ia tampak begitu kesal saat melihat Bibi Mun berdiri persis di depan kamar Bella. Seolah pekerjaan asisten Neneknya itu sekarang di rumah ini hanya untuk mengawasi Bella seorang.


Sementara, dari kamar yang lain tampak Diana yang baru saja terbangun dan keluar dari kamarnya. Ia pun melihat David yang sedang mengawasi kamar Bella.


“David, kau sudah pulang? Sedang apa kau di sini?” tanya Diana yang heran melihat tingkah David yang sudah seperti pencuri.

__ADS_1


“Ah, Tante kebetulan. Aku ingin minta tolong padamu Tante,” memohon.


‘Minta tolong? Minta tolong apa?” tanya Diana.


“Bisakah Tante menyuruh Bibi Mun pergi sebentar dari kamar itu,” pinta David menunjuk kamar yang saat ini sedang dijaga oleh Bibi Mun.


“Kamar siapa itu? Apakah itu kamar Bella, tunanganmu?”


“Benar, Tante. Aku ingin menemuinya, sebentar saja,”


“Baiklah,” sahut Diana.


Diana pun berbicara dengan Bibi Mun, ia meminta Bibi Mun untuk mengajarinya membuat masakan kesukaan Nenek David. Awalnya Bibi Mun menolak, tapi Diana terus saja memaksanya hingga akhirnya Bibi Mun tak bisa menolak lagi.


“Yes, akhirnya dia pergi juga! Terima kasih, Tante Diana kau memang paling bisa diandalkan,” ucap David sambil mengangkat kedua tangan yang terkepal.


Ia kemudian melangkah masuk menuju kamar Bella.


“Eh, gadis ini! Ternyata kamarnya dari semalam masih belum di kunci. Ha ha ha, David sepertinya kali ini Tuhan berpihak kepadamu,” ucapnya menyeringai.


Perlahan David membuka pintu kamar Bella dan baru saja ia masuk ke dalam kamar itu tiba-tiba..


Byurrr


Seember air yang diletakkan tepat di atas pintu kamar Bella, mengguyur David yang berada di bawahnya.


“Bella!!” teriaknya geram, namun dengan nada yang tak terlalu tinggi karena khawatir orang-orang akan menghampirinya di kamar Bella.


Bella yang saat itu sedang berada di dalam kamar mandi, langsung keluar begitu mendengar teriakan David.


Ia pun terkekeh saat melihat pakaian dan rambut David yang basah akibat ulah jahilnya.


“Ha ha ha, David kau ini mau ke kantor atau mau berenang? Basah semua sih, ha ha ha.”


David yang semula ingin marah pada Bella, justru terpana melihat penampilan istrinya saat ini. Betapa tidak, rambut Bella diikat ke atas dengan tubuh yang hanya terbalut handuk putih hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang dengan kulit putih mulus di bagian dada, paha, dan lengannya.


Bella yang tersadar akan tatapan lapar suaminya itu langsung menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu.


David menyeringai tak ingin sedetik pun ia melewati kesempatan ini. Di dekapnya tubuh Bella yang saat itu hendak melarikan diri darinya.


“Kau suka sekali mengerjai suamimu, hah? Kalau begitu kau harus dihukum?” bisik David di telinga Bella hingga membuat bulu kuduk Bella merinding.


Namun, Bella tak kehabisan akal, dengan cepat ia mendorong tubuh David sekuat tenaga, lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Hah, kali ini kau bisa lolos, Bella sayangku... Tapi lain kali, aku sama sekali tak bisa janji (batin David).


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komentarmu terhadap karya ini dan jadikan pula karya ini favoritmu.


Terima kasih 😍😍😍


__ADS_2