Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 113 Pemenang Sesungguhnya


__ADS_3

Clarissa mulai menjalankan rencananya. Ia sampai lebih dulu di Sirkuit Labora untuk menemui Devan, teman lama Clarissa yang bekerja sebagai pengurus di sirkuit tersebut. Sirkuit Labora merupakan arena balap motor yang biasanya dijadikan tempat perlombaan balap motor berskala internasional.


Sirkuit ini didirikan oleh Robert William yang merupakan kakek Clarissa dan juga Steven untuk mengenang almarhum putra bungsunya, Thomas William yang merupakan seorang pembalap.


“Ada apa Clarissa? Tumben kau kemari?” tanya Devan saat melihat kedatangan Clarissa.


“Aku butuh bantuanmu Devan,” jawab Clarissa.


“Bantuan apa?” tanya Devan lagi.


“Sebentar lagi David dan teman-temannya akan datang kemari. Mereka akan mengadakan pertandingan di sirkuit ini. Salah satu di antaranya adalah seorang wanita. Wanita ini pernah mencelakakan Lolita jadi aku ingin memberinya sedikit pelajaran,”


“Pelajaran apa?” tanya Devan bingung.


“Kau carilah cara agar wanita ini bisa mengenakan helm ini saat pertandingan berlangsung,” sahut Clarissa menunjukkan helm yang dibawanya.


Devan mengambil helm tersebut. Ia masih bingung dengan rencana Clarissa yang ingin memberikan seorang wanita pelajaran dengan sebuah helm.


Ada apa dengan helm ini? (pikir Devan)


“Clarissa, kalau boleh aku tahu apa sebenarnya yang kau rencanakan? Kenapa kau ingin wanita itu mengenakan helm ini?”


“Aku telah menyemprotkan helm ini dengan zat kimia hasil racikanku sendiri. Zat itu dapat membuat seseorang berhalusinasi sehingga ia tidak akan fokus saat pertandingan berlangsung,”


“Tidak, Clarissa, itu terlalu berbahaya. Kau bisa mencelakakannya,”


“Biarkan saja, itu balasan yang sepadan untuknya karena dia telah mencelakakan sahabatku, Lolita,”


“Tapi dia bisa mati karenanya,” sahut Devan dengan suara meninggi.


“Memangnya kenapa kalau dia mati? Wanita liar seperti itu memang pantas untuk mati,”


“Clarisaa!!” bentak seseorang yang suaranya begitu dikenal oleh Clarissa.


“O-Opa, ka-kapan Opa datang kemari?” tanya Clarissa gugup. Ia tidak menyangka akan melihat Opanya di sirkuit ini.


“Cukup lama untuk mendengar semua rencana busukmu. Opa tidak menyangka bahwa Opa memiliki cucu sejahat dirimu,” ucap Willi dengan nada penuh kemarahan.


“Ta-tapi Opa, gadis liar itu telah merebut David dariku,”


“Hah, jadi semua ini hanya karena David. Kau gila Clarissa! Kau melakukan kejahatan seperti ini hanya demi laki-laki yang tidak mencintaimu. Di mana harga dirimu sebagai seorang William?” bentak Opa Clarissa.


“Heh, seorang William? Justru karena aku seorang William, aku tidak ingin kalah dari siapa pun. Bukan kah Opa sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa keluarga William adalah keluarga pemenang dan tak bisa dikalahkan oleh siapa pun,”


Plak


Sebuah tamparan keras melayang ke pipi kanan Clarissa.


“Keluarga William memang keluarga pemenang, tetapi kami tidak pernah menang dengan cara-cara yang curang. Renungkan itu baik-baik! Sekarang pulanglah! Oma kamu sekarang sudah berada di Masion keluarga kita. Kau tidak perlu lagi tinggal di Kediaman Erlangga,” memberi isyarat kepada Devan untuk mengajak Clarissa pulang.


Clarissa yang sudah tidak punya lagi keberanian setelah mendapat tamparan keras dari Opanya, kini hanya menuruti perintah sang Opa. Ia tahu kalau Opanya sangat pantang menerima bantahan.


“Menarik, jadi David dan teman-temannya akan bertanding di sini. Aku jadi ingin tahu seberapa besar perkembangan mereka setelah latihan yang pernah aku berikan,” gumam Opa Robert.


***


David, Bella, Dilla, dan Lim sudah bersiap untuk berangkat ke Sirkuit Labora. Meskipun Dilla tidak ikut bertanding, tapi ia ingin sekali menyaksikan jalannya pertandingan. Ia penasaran di antara mereka siapakah yang akan menjadi pemenangnya? Apakah David, Bella, Lim, Az, atau kah Ar ?


“Hey, kalian semua mau ke mana? Kenapa tidak mengajakku?” tanya Steven saat keempat orang itu sudah mulai bersiap.


“Kami ingin ke Sirkuit Labora, Steven,” jawab Bella dengan memperlihatkan senyum manisnya.


Cih, kenapa Bella tersenyum begitu manis pada Steven sih? Jangan-jangan dia suka lagi sama playboy tengik ini dan itulah sebabnya dia begitu marah waktu aku mengatakan akan menjodohkan Dilla dengan Steven (batin David)


“Ke Sirkuit Labora? Kenapa aku tidak diajak? Itukan sirkuit milik kakekku? Sungguh kau ini keterlaluan sekali David,” protes Steven melirik ke arah David.


“Maaf, aku lupa kalau ada manusia tidak penting seperti dirimu di rumah ini,” ucap David ketus yang membuat Lim, Bella dan Dilla tersenyum menyaksikan pertengkaran dua sahabat itu.


“Kau ini benar-benar sahabat yang pilih kasih. Lim, kau berikan motor baru. Sedangkan aku, jangankan dibelikan motor baru, bahkan dilirik pun tidak. TERLALU!” keluh Steven.


“Ah, sudahlah! Kalau kau mau ikut ya, ikut saja. BAWEL!” sahut David yang membuat Steven langsung bersiap untuk mengambil motornya.


David memang sengaja tidak mengajak Steven karena belakangan si playboy tengik itu sering sekali membuatnya kesal. Selain sering bertingkah manja pada Bella, rencananya untuk bermesraan dengan Bella pun berkali-kali gagal gara-gara ulah playboy tengik itu.


***


Sementara di Sirkuit Labora sana, Az dan Ar sudah lebih dahulu sampai.

__ADS_1


“Mereka sudah sampai?” tanya Az.


“Belum, mereka sama sekali belum terlihat,” jawab Ar.


“Hey, kalian ini putra Damara Effendi bukan?” tanya Opa saat menghampiri keduanya.


“Opa Robert? Kapan Opa Robert datang?” tanya Ar yang cukup dekat dengan Robert.


Robert yang tinggal bertetangga dengan Ar dan Az sewaktu tinggal di Negara R banyak menghibur Ar kecil sewaktu Az menjauhinya dan sang ayah yang kurang perhatian kepadanya karena sempat mengalami depresi akibat kehilangan wanita yang dicintainya.


“Baru saja. Kalian tentu tahu, Han besok akan berulang tahun. Maka sebagai sahabat dari ayahnya, aku datang ke negara ini dan sekarang aku ingin berkunjung ke sirkuit yang sudah lama aku tinggalkan,” jawab Opa Robert.


“Bagus Opa, dengan begitu Opa bisa menyaksikan pertandingan kami,” sahut Ar yang dibalas senyum oleh Az dan itu tak luput dari perhatian Robert.


“Aku senang kalian sudah berbaikan. Ternyata kepulangan kalian kembali ke Negara S bisa membuat kalian menjadi saudara seutuhnya,” ucap Opa Robert menepuk bahu keduanya.


“Oh ya, aku ingin ke kamar mandi dulu. Nanti, aku akan kembali untuk melihat pertandingan kalian,” sahut Opa Robert berpamitan kepada keduanya.


***


Rombongan Bella, David, Lim, Dilla, dan juga Steven telah sampai di Sirkuit Labora. Mereka memasukkan motor mereka ke dalam arena sirkuit dan memarkirnya untuk mencari keberadaan Ar dan Az. Selain itu, Bella juga ingin sekali ke kamar mandi.


Brukk


Bella bertabrakan dengan Robert saat Bella hendak menuju kamar mandi.


“Kakek, Kakek tidak apa-apa?” tanya Bella mencoba membangunkan Robert yang terjatuh karena insiden tabrakan itu.


“Aku tidak apa-apa, ternyata kau kuat juga ya. Padahal kau cuma perempuan yang berbadan kecil,” ucap Robert.


“Ha ha ha, kakek bisa saja. Kurasa itu karena badan kakek saja yang loyo,” sahut Bella dengan tawanya yang renyah membuat Robert terpana melihatnya.


Tawa itu, kenapa gadis itu memiliki tawa yang sama dengan Anna ya? Mereka terlihat mirip saat sedang tertawa (batin Robert)


“Ya sudah, Kek. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku permisi dulu, mau ke kamar mandi,” ucap Bella sebelum berlalu meninggalkan Robert di sana.


***


Setelah Bella kembali, mereka semua mulai mempersiapkan diri ke posisi masing-masing. Motor yang mereka bawa sudah bersiap di garis star.


“Eh, kalian ini curang sekali. Aku saja belum bersiap,” sahut Bella sambil berkacak pinggang.


“Lho kok bisa sudah ada di sana?” tanya Bella.


“Iya, tadi David yang memindahkannya,” jawab Dilla.


“David bersemangat sekali, aku jadi penasaran bagaimana kemampuannya di arena balap ini?” gumam Bella bersiap menaiki motornya yang terletak di bagian paling ujung.


“Berapa putaran, Bos?” tanya Lim.


“Tujuh putaran, bagaimana Az?” tanya David ke arah Az.


Az mengangkat jempol tanda setuju.


“Lihatlah! Kalian semua akan melihat kemampuan si penakluk hati ini. Dan kau wanita, kau pasti akan menyesal karena telah menolakku,” ucap Steven melihat ke arah Dilla yang berada tepat di sampingnya.


“Dih, kepedaan sekali Anda,” gumam Dilla.


“Semua bersiap!” teriak Dilla sambil menghadapkan bendera ke arah mereka semua.


“Satu... Dua... Tiga...,” Bendera itu pun ditarik ke atas oleh Dilla seiring dengan laju motor yang melesat semakin cepat.


Brum... brum...


Suara desing suara motor membahana di sekitar arena itu. Di menit awal Steven berhasil menempatkan dirinya posisi pertama. Namun, belum habis satu menit yang lima orang yang lainnya telah menyusul.


Putaran pertama, tanpa diduga Lim menjadi pemenangnya.


“Lim, kau mau kubuang ke kutub utara ya,” gumam David yang sudah berada di belakang Lim.


Pertandingan berlangsung cukup cepat. Dilla tampak terkejut karena ternyata ke enam orang ini memiliki kemampuan yang sangat hebat mengemudikan si roda dua itu.


Putaran kedua, Steven berada di posisi pertama.


Lihatlah, aku ini cucu dan keponakan dari seorang pembalap hebat. Darah pembalap mengalir di tubuhku. Tidak mungkin kalah oleh kalian (batin Steven).


Namun, posisi pemenang pertandingan di setiap putaran terus saja berubah. Seperti kali ini, posisi ketiga malah ditempati oleh Ar. Sementara pemenang putaran keempat ditempati oleh Bella, Az, dan David.

__ADS_1


“Wah, kalau seperti ini caranya aku akan kesulitan menentukan siapa pemenangnya. Lebih baik kurekam dengan ponselku saja agar aku bisa melihat dengan jelas siapa yang lebih dahulu sampai di garis finish,” gumam Dilla mengeluarkan ponsel yang ada di dalam jaketnya.


Keputusan Dilla memang benar adanya, di putaran-putaran selanjutnya David, Bella, dan Az selalu berada di posisi pertama secara bersamaan.


Ternyata David hebat juga. Aku tidak menyangka orang yang biasanya hanya duduk tenang di dalam mobil, bisa menjadi begitu ganas di arena balap ini (batin Bella yang semakin kagum pada David).


Lihatlah sayangku, aku hebat bukan. Kau pasti semakin mengngagumiku (batin David)


David, putaran terakhir kau pasti kalah (batin Az).


Mereka terus bertanding, seiring dengan sang surya yang hendak berlalu meninggalkan semesta.


Kini keenam orang itu sudah memasuki putaran ketujuh, putaran terakhir yang menentukan pemenang pertandingan. Namun, hal yang tak diduga terjadi saat David tiba-tiba saja menabrak pembatas yang terpasang di setiap lintasan.


Bugh


Motor David terguling, sebuah kepulan asap keluar dari motornya.


“David!” teriak Bella penuh kekhawatiran, namun ia tidak bisa mengerem motornya begitu saja karena laju kecepatan dari motor yang dibawanya terbilang sangat cepat.


Beruntung David bisa segera bangkit dan bisa kembali menaiki motornya. Bahkan, bisa segera menyusul yang lainnya.


Untunglah, kau tidak apa-apa. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat kau jatuh (batin Bella).


Kau hebat juga David. Dengan begini seandainya aku kalah pun, aku cukup puas. Setidaknya aku tahu kau layak menjadi pasangan Bella, wonder woman kecilku (batin Az).


Garis finish siap menyambut kedatangan sang pemenang. Ketegangan mulai menyelimuti mereka yang bertanding, bahkan Dilla yang hanya menjadi penonton.


Laju motor yang dikemudikan Bella, David, dan Az berhenti bersamaan saat sampai di garis finish. Entah siapa yang jadi pemenangnya, masih sulit untuk ditentukan.


Brukk


Motor yang dikemudikan David seketika ambruk seiring dengan tubuh David yang terjatuh di atas aspal arena lintasan. Beruntung jaket dan helm yang dikenakan David berkualitas tinggi sehingga cukup baik untuk melindungi tubuh dan kepalanya.


Melihat itu Bella langsung turun dan membuka helm yang dikenakan David.


“Sayang, bangunlah! Kau jangan membuatku khawatir,” ujar Bella saat membuka helm David dan menemukan David terbaring tak sadarkan diri.


Sebenarnya tak ada yang terjadi dengan David. Ia hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapat perhatian Bella dan melihat seberapa jauh kepedulian Bella terhadapnya.


Dilla, Lim, Steven, Az dan Ar mendekat ke arah David dan Bella.


“Apa yang terjadi Bella?” tanya Dilla khawatir.


‘Entahlah aku tak tahu,” jawab Bella.


“Coba kau beri Bos nafas buatan! Mungkin saja dia bisa sadar dengan itu,” saran Lim.


“Saran bodoh macam apa itu? Mana ada yang seperti itu. Sekarang, di sini sudah ada dua dokter. Biarkan saja mereka yang memeriksa. Siapa tahu dia itu hanya berpura-pura pingsan,” sangka Steven.


Sialan, kau Steven. Mulutmu ini benar-benar harus ditambal (batin David)


Ar mendekati tubuh David, lalu memeriksakan keadaannya.


Semuanya normal, tidak ada yang salah. Jangan-jangan apa yang dikatakan Steven benar. CEO sombong ini hanya berpura-pura pingsan (batin Ar saat memeriksa denyut David).


Ar lalu membisikkan sesuatu ke telinga Bella.


“Lakukan sekarang juga Bella!” seru Ar memberi perintah.


David yang masih terpejam mendengar seruan Ar. Ah, tidak kusangka dokter itu bisa terkelabuhi juga. Mendekatlah Bella sayangku.. Akan kulumat habis bibirmu yang indah itu di depan si Az bodoh itu. Dengan begitu dia akan berhenti mengharapkan istri orang lain (batin David)


David mulai menunggu aksi Bella. Batinnya tersenyum senang karena merasa telah menjadi pemenang sesungguhnya.


Namun, hal yang tak disangka David terjadi. Bukannya mulut Bella yang mendekat, melainkan kaos kaki yang selama ini tak pernah dicucinya yang kini berada tepat di dekat hidung David.


“Huweek,” David merasakan mual yang teramat sangat saat mencium aroma yang keluar dari kaos kaki Bella. Membuat semua orang yang melihat semua itu menahan tawanya.


Rasakan itu kawan (batin Steven)


Bos, maaf. Aku tak bisa membantu. Kali ini kau yang mencari masalahmu sendiri (batin Lim)


Bella!! Tidak kusangka kau begitu kejam kepadaku. Bukannya memberiku nafas buatan, kau malah memberiku itu. Hah, sungguh tidak kusangka kepedulianmu kepadaku hanya sebatas itu (batin David sebal bercampur sedih)


****


Bersambung

__ADS_1


Selalu dukung author dengan memberikan like, vote, dan komentar positif ya... serta tetap jadikan karya ini favorit. Terima kasih..


😘😘😘


__ADS_2