Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 61 Bocah-bocah Rempong


__ADS_3

“Dilla, kamu kok enggak cerita kalau Az juga kerja di rumah sakit itu,” ucap Bella sambil membawa motornya.


“Aku juga baru tahu tadi, Bel. Waktu Ar cerita tentang pertemuan dia dengan kamu,”


“Memang dia cerita tentang apa?”


“Ya, dia bilang kalau dia ketemu sama kamu tuh waktu dia diserang sama beberapa preman dan kamu menolongnya,”


“Oh,” Bella membentuk mulutnya menjadi huruf “o” .


“Aku enggak nyangka kamu bisa bela diri, Bell,” puji Dilla.


“Ya, begitulah. Aku ini memang hebat di segala bidang,” membanggakan dirinya.


“Makanya si David tuh harusnya bersyukur aku bersedia menjadi tunangannya, walaupun cuma pura-pura,” sambungnya.


“Oh ya, jadi inget, kamu hari ini ke kantor dia kan?” tanya Dilla.


“Iya, tapi jangan bahas dia sekarang. Hari ini dia lagi aneh,” jawab Bella.


“Aneh kenapa?” tanya Dilla lirih.


“Pokoknya aneh. Udah, ah jangan bahas dia lagi! Nanti aku bisa enggak fokus lagi nyetirnya,” serah Bella.


“Tapi janji ya, kalau sudah sampai rumah cerita semuanya sama aku,”


“Iya, BAWEL, "


Bella memilih tidak membahas tentang David karena entah kenapa kalau bicara tentang dia, perasaannya mendadak jadi tidak karuan.


Sesampai di rumah keduanya membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum akhirnya memilih bersantai dengan merebahkan diri di atas ranjang kamar Bella yang sekarang menjadi kamar Dilla juga. Mereka mulai bercerita tentang kejadian yang mereka lewati hari ini.


“Ha ha ha, kamu ini jorok sekali sih Bel! Buang permen karet di atas sofa,”


“Habis, tong sampahnya jauh. Males aku jadinya,”


“Tapi untung David enggak gorok leher kamu ya?”


“Ais, mana berani dia macem-macem sama cewek kece kaya aku,” Ucap Bella mulai menunjukkan kenarsisannya.


“Ha ha ha, terus apalagi yang terjadi? Selain taruhan sama anak buahnya David dan makan nasi goreng berdua?” tanya Dilla semakin antusias.


“Sesudah itu kami mulai membahas isi surat perjanjian yang sudah dibuat oleh David. Karena aku keberatan dengan beberapa hal yang tertulis dalam surat itu, aku minta dia untuk mengubahnya dulu baru aku tanda tangani,”


“Terus dia mau gitu?” tanya Dilla tak percaya.


“Ya mau lah, memang siapa sih yang berani nolak permintaan Bella yang cantik ini,” lagi-lagi dengan gaya narsisnya.


“Nah, sambil nunggu perbaikan, aku kan bosan banget. Makanya aku telpon kamu pakai wifi gratis di ruangannya. Eh.. enggak tahu kenapa tiba-tiba tuh wifi mati dan tingkah David jadi makin aneh,” sambungnya dengan nada sedikit kesal.

__ADS_1


“Aneh gimana?” tanya Dilla penasaran.


“Iya, enggak bisa diajak becanda gitu deh. Mukanya galak banget. Ah, udah ah, jangan bahas dia lagi! Nah, sekarang kamu yang cerita apa saja yang udah kamu lakukan di rumah sakit? Dan bagaimana kamu bisa ketemu sama Ar dan si Az jelek itu,” tanya Bella.


Dilla pun mulai menceritakan pertemuannya dengan Azril dan Aria di rumah sakit itu. Mulai dari dia yang tidak sengaja menabrak Az, berkenalan dengan gadis kecil bernama Lusia yang ternyata putri Az, ponselnya yang disita Az, hingga makan siang bareng Ar di kantin.


Selama di kantin, dia juga banyak mengobrol dengan Ar. Ar menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Bella. Bella yang jago bela diri dan pernah menolongnya, serta kehebatan Bella saat mengalahkan Az.


“Wah, tidak disangka baru sehari hubungan kalian sudah sedekat itu, kayanya ada bau-bau yang akan jadian nih, cie cie,” goda Bella yang membuat pipi Dilla merona.


“Tapi benar kamu enggak punya perasaan apa-apa sama Aria, Bell?” tanya Dilla.


“Bener, nanya mulu! Udah sering dijawab juga,” jawab Bella ketus.


“Terus Aria sendiri?”


“Meneketehe, emangnya aku bisa baca pikirannya dia apa,”


“Kirain, Bella yang hebat ini, selain jago bela diri juga bisa baca pikiran orang,”


“Sayangnya, tidak. Oh ya, malam ini temenin aku pasar malam yuk!” ajak Bella yang tiba-tiba teringat tentang pasar malam yang sebelumnya dibicarakan di grup wa “Bocah-bocah rempong” .


“Pasar malam? Di mana?” tanya Dilla yang langsung bangkit dari tidurnya.


“Di lapangan dekat pasar sana,” ikut bangkit.


“Boleh, boleh,” jawab Dilla antusias.


****


Malam pun tiba, Bella dan Dilla kini tengah bersiap diri untuk pergi ke pasar malam.


“Eits, kalian berdua mau kemana?” cegah Neni saat melihat Bella mulai memanaskan mesin motornya.


“Ke Pasar Malam Neni,” jawab Bella.


“Jangan bohong kamu, Bell!”


“Beneran Neni, enggak percaya amat sih! Tanya aja Dilla!” melihat ke arah Dilla yang kini tengah berdiri di sampingnya.


“Bener Neni, aku dan Bella ingin pergi ke Pasar Malam,”


Mendengar jawaban Dilla, Neni berpikir sebentar.


“Baiklah, kalian boleh pergi asalkan motor itu tidak kalian bawa!” seru Neni menunjuk motor Bella.


“Haa.. jadi aku dan Dilla disuruh jalan kaki gitu?” protes Bella.


“Tidak mau ya sudah, tidak usah pergi,” tegas Neni.

__ADS_1


“ Haaa.. Neniiiii,” rengek Bella.


“Sudahlah, Bella, tempatnya dekat ini. Kita jalan kaki saja ya,” bujuk Dilla.


“Ha, sudahlah! Neni memang jahat! Jahat, jahat, jahat!” Bella menghentak-hentak kakinya layaknya anak kecil. Namun, Neni sama sekali tak mempedulikannya. Ia terus saja berjalan meninggalkan mereka berdua.


“Nanti, kalau keluar tutup pintunya! Neni mau berkelana ke alam mimpi dulu! Dan ingat jangan pulang terlalu malam!” teriak Neni sambil berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.


“Iya, Neni, palingan cuma sampai pagi,” ucap Bella yang langsung mendapat timpukan serbet kotor dari Neninya, membuat Dilla tersenyum melihatnya.


“Kamu ini Bell, suka sekali membantah ucapan Neni,” sahut Dilla.


***


Setelah berjalan cukup jauh, Bella dan Dilla akhirnya sampai juga di pasar malam. Pasar yang baru dibuka saat malam hari ini memiliki banyak sekali arena permainan seperti komedi putar, bianglala, kora-kora mini dan dewasa, lempar bola, pancing ikan, dan terakhir yang paling menarik perhatian adalah keberadaan rumah hantu.


Keberadaan rumah hantu di pasar malam selalu menjadi tempat yang memiliki antrian paling panjang yang kebanyakan pera pengunjungnya adalah para pasangan muda. Hal itu tentu saja membuat mereka yang sedang jomblo merasa iri dibuatnya.


“Cih, enggak tahu malu. Peluk-pelukan di depan banyak orang bikin yang jones ini iri aja,” cibir Bella saat melihat dua pasangan muda saling berpelukan di depannya yang membuat Dilla tersenyum mendengar hal tersebut.


“Kalau kamu iri, kamu minta saja tunanganmu kemari. Kamu kan sudah punya tunangan bukan?” goda Dilla.


“Maksud kamu si David sombong itu. Cih, mana mau dia?” sahut Bella.


“Berani bertaruh?” tantang Dilla.


“Hey, gadis cantik! Jangan main-main denganku ya, kalau kau kalah kau bisa apa?” ucap Bella meremehkan.


“Baik kalau aku kalah aku akan memijatmu setiap hari selama satu bulan. Gimana?” tantang Dilla menyodorkan tangannya.


“Baiklah, sepakat,” menggengam tangan Dilla.


Aku ingin tahu bagaimana caramu membujuk CEO sombong itu kemari. Bisa kutebak, dia pasti akan langsung mencaci makimu saat kau baru saja berniat mengajaknya bicara lewat telepon. Anak orang kaya dan CEO super sibuk seperti dia tidak akan pernah mau ke tempat seperti ini Dilla. Karena itu bersiaplah untuk menjadi tukang pijitku setiap hari, he he.. (ucap Bella tersenyum dalam hati).


Bella, Bella, sepertinya taruhan kali ini kau yang akan kalah karena aku yakin dari ceritamu tadi, sepertinya David sudah memiliki perasaan khusus terhadapmu (batin Dilla).


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, merasa yakin bahwa diri mereka bisa menjadi pemenang dalam pertaruhan kali ini.


****


Bersambung


Kira-kira menurut kalian siapa ya, yang akan menjadi pemenangnya? Dilla atau Bella?


Penasaran dengan jawabannya? Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya.


Jangan lupa like, vote, dan komen terbaiknya, serta jadikan karya ini sebagai karya favoritmu agar kamu tidak ketinggalan ya.🥰🥰🥰


Terima kasih.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam sayang untuk semuanya...


__ADS_2