
Dengan langkah lemas Direktur Andi dan Sekretaris Elena meninggalkan perusahaan David. Pertemuan yang dirancang dengan susah payah, kini harus berakhir hanya dalam waktu lima belas menit saja. Ini semua gara-gara bumbu yang dibuat oleh sang sekretaris, Lim. Lim harus bertanggung jawab atas semua ini.
“Lim, segera siapkan mobil!” perintah David tegas.
“Baik, Bos,” Lim sudah bisa menerka apa yang akan dilakukan bosnya, tentu saja itu yang menjadi alasan kenapa David bisa mempercepat pertemuannya dengan rekan bisnisnya malam ini. Padahal, sebelumnya David tidak pernah bersikap seperti itu, selama ini ia selalu bersikap profesional.
Tak jarang David bisa mengadakan pertemuan hingga ber jam-jam hanya untuk membahas sebuah proyek karena dirinya begitu menutut hasil yang sempurna. Selama ini, ia juga tak pernah suka menunda-nunda pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Handika, pamannya, mengangkat David menggantikan dirinya sebagai CEO di EG Company, meskipun usianya saat itu masih sangat muda.
Akan tetapi kali ini, dengan tidak sabarnya David mengakhiri sebuah pertemuan yang bahkan tidak berlangsung hingga 1 jam, hanya 15 menit saja. Kemudian menundanya hingga esok hari, hal itu sungguh di luar kebiasaannya. Sepertinya tanpa David sadari, kali ini ia sudah benar-benar jatuh cinta pada Bella, tunangan pura-puranya.
“Silakan Bos,” Lim mempersilakan David masuk saat dirasa mobil yang akan dikendarainya telah siap digunakan.
David masuk ke dalam mobil dan duduk di belakangnya. Dengan kecepatan sedang, Lim mulai melajukan mobilnya. Ia tak lagi bertanya ke mana David akan pergi karena ia yakin seratus persen bahwa tempat yang dituju David saat ini adalah pasar malam.
Gawat, aku lupa menanyakan di mana letak pasar malamnya (ucap Lim dalam hati).
***
"Bagaimana? Apa sekarang sudah lebih baik?” tanya Bella saat melihat wajah Dilla sudah tidak sepucat sebelumnya.
“Terima kasih, Bel,” ucap Dilla sambil menutup botol air mineral yang baru saja ia habiskan. Kemudian, ia membuang botol bekas tersebut ke tong sampah yang berada di dekatnya.
“Sekarang kita ke mana lagi?” tanya Dilla.
Bella tampak berpikir sejenak, lalu menarik tangan Dilla.
“Ikut aku,” ajaknya.
Bella membawa Dilla ke pinggiran jalan yang letaknya tak jauh dari pasar malam. Di pinggir jalan tersebut terdapat danau yang dikeliling lampu-lampu yang membuat pemandangan di sekitar tempat tersebut terlihat sangat indah.
Bella pun mulai melakukan aksinya. Dengan berbagai macam gaya, ia memulai foto selfinya.
Dilla tampak tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
“Diilla, ayo!” mengajak Dilla berfoto.
“Enggak, ah, kamu saja,” tolak Dilla.
Dilla memang gadis yang pemalu, ia tidak terlalu suka difoto. Apalagi di tempat umum.
“Kalau begitu kamu foto aku,” memberikan ponselnya kepada Dilla.
Dilla mengambil gambar Bella yang terlihat cantik dengan jaket coklat dan tangan yang menopang dagu sambil tersenyum ke arahnya.
Dari dalam mobil, tampak David yang sedari tadi diam-diam melihat tingkah Bella.
Untung aku sempat melacak GPSnya ( batin Lim) .
“Bos, kapan kita akan turun?” tanyanya.
“Sekarang saja,” jawab David.
__ADS_1
David dan Lim keluar dari mobil secara bersamaan dan berjalan mendekat ke arah Bella dan Dilla.
“Ehem,” David berdehem, membuat keduanya menoleh ke arahnya.
“Kau,” Bella tampak terkejut saat melihat David dan Lim sudah berada di dekatnya.
“Kalian sudah sampai?” sapa Dilla tersenyum ramah.
Yes, aku menang Bel (ucap Dilla dalam hati).
Sial, ngapain juga mereka kemari. Bikin aku kalah taruhan aja (batin Bella kesal).
Bella mencoba memasang senyumnya karena ia teringat akan isi pasal yang ada dalam surat perjanjiannya.
“Kalau begitu kita langsung ke wahana permainan saja, yuk!” ajak Bella yang tanpa sadar menarik lengan David.
David merasa senang dengan tingkah gadis yang berada di depannya. Senyum pun menghias wajah tampannya.
“Memang kau mau bermain apa?” tanya David lembut.
“Eh?” Bella tersadar kalau tangan hangat yang sedari ia tarik adalah tangan David. Perlahan ia pun melepaskan tangan itu.
Ya ampun, apa yang sedang aku lakukan? Bisa-bisanya menarik dan menggandeng tangan pria itu (batin Bella).
“Kenapa kau diam?” tanya David menatap Bella yang masih tak percaya bahwa dirinya sempat memegang tangan David.
Sebal dengan sifat Bella yang langsung berubah, kini David lah yang menarik tangan Bella dengan kasar.
“Ayo, Cepat!” sahut David.
“Kita ke sini untuk bermain kan? Bukan diam saja,” berjalan cepat sambil menarik tangan Bella, meninggalkan Dilla dan Lim yang tampak terpaku melihat tingkah keduanya.
“Tunggu, tunggu, tunggu, memang siapa yang mau bermain dengan kamu?” teriak Bella yang berusaha melepaskan diri dari David.
David menghentikan langkahnya, lalu mendekatkan wajahnya ke hadapan Bella.
“Kau sendiri kan yang mengajakku kemari. Lalu, kalau bukan untuk bermain, memangnya kau mau apa lagi?” “Dasar bodoh!” menyentil kening Bella.
“Aw, kau ini suka sekali menyentil orang!” pekik Bella kesal.
“Karena kau bodoh,” sahut David.
“Dengar ya, aku sama sekali tidak pernah mengajakmu kemari,” ucapan Bella membuat David kembali menatapnya dengan tajam.
“Lalu yang tadi menelepon siapa?” bentak David.
“I-Itu Dilla,” menunjuk Dilla yang kini menyembunyikan dirinya di balik punggung Lim.
“Lim!” teriak David menatap Lim dengan tatapan tajam.
“Maaf, Bos, saya tidak pernah mengatakan kalau Nona Bella yang tadi menelepon Anda,” jawab Lim membela diri.
“Oh ya? Lalu yang tadi mengatakan kalau Bella mengajakku berkencan siapa?”
__ADS_1
Ucapan David, membuat ketiganya menatap Lim secara bersamaan. Lim mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Anu, Bos, tadi saya hanya asal bicara saja,” jawab Lim penuh penyesalan.
“Kau!” David berteriak dan melotot ke arah Lim.
“Kubunuh kau!” hendak mencekik Lim, namun dicegah oleh Bella dan Dilla.
“Hey, David.. Kau sudah gila ya? Jangan sembarangan menyiksa anak buahmu!”
“Diam, kau. Kau juga sama saja!” membentak Bella dan menghentikan aksinya.
David benar-benar kesal pada Lim karena akibat ulahnya ia merasa telah kehilangan harga dirinya.
“Maafkan, aku Bos,” ucap Lim penuh penyesalan.
Dilla juga merasakan penyesalan yang sama. Akibat taruhannya dengan Bella, ia membuat Lim jadi seperti ini.
“Aku juga minta maaf karena telah meminta kalian datang kemari,” ucap Dilla sedih menundukkan kepalanya.
“Seharusanya aku dan Bella tidak mengadakan ta..” Bella yang tahu kalimat yang akan diucapkan Dilla berusaha memotongnya.
“Sayang, sudahlah. Aku juga minta maaf. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu kepadamu karena mau aku atau pun Dilla yang mengajakmu kemari itu kan sama saja. Tadi, aku hanya kesal saja karena kau datang begitu lama,” ucap Bella merangkul lengan David.
Entah perasaan seperti apa yang dimiliki David pada Bella, kenyataannya ucapan Bella dapat membuat kekesalannya menghilang seketika.
“Kalau begitu hari ini kau ingin mengajakku bermain di mana?” tanyanya lembut.
Bella mulai berpikir permainan seperti apa yang cocok untuk bos yang angkuh, sombong, dan galak seperti David.
Sepertinya bermain di rumah hantu sangat cocok dengannya. Dengan begitu aku bisa melihat bagaimana ekspresi bos sombong itu saat bertemu dengan para hantu. Pasti ekspresinya lucu sekali dan aku akan mengabadikan momen itu dengan ponsel ini (pikir Bella).
“Kenapa kau senyum-senyum? Jangan macam-macam denganku ya!” ancam David.
“Tidak, aku hanya sedang senang saja karena bisa jalan bareng dengan bos hebat yang kaya dan tampan sepertimu,” ucap Bella berbohong.
“Tentu saja. Ini memang kesempatan yang sangat langka untukmu,” sahut David narsis.
“Jadi kita akan bermain apa dulu, Bell?” tanya Dilla bersemangat.
“Bagaimana kalau kita bermain di rumah hantu?” ajak Bella.
“Rumah hantu???” sahut Dilla, David, dan Lim bersamaan.
***
Bersambung
Bagaimana ya? Keseruan mereka di rumah hantu?
Nantikan aksi mereka di episode selanjutnya.
Jangan lupa berikan like, vote, dan komen terbaik kalian untuk karya ini dan jadikan karya ini favorit kalian. Terima kasih. 💐💐💐
__ADS_1
Info update
Sebagai rasa terima kasih atas antusias para pembaca setia “Mengaku Tunangan CEO”, author akan update di hari Sabtu dan Minggu pekan ini. Update, insyaAllah pukul 10. Ditunggu ya..