Mengaku Tunangan CEO

Mengaku Tunangan CEO
Bab 73 Kemarahan Azril


__ADS_3

Operasi Lusia kini telah selesai. Ia sudah dibawa keluar dari ruang operasi. Tampak wajah-wajah pucat dari para dokter dan perawat yang keluar dari ruangan itu. Begitu pula dengan wajah Aria saat ini.


“Bagaimana operasinya, Ar?” tanya Damar saat melihat putra keduanya sudah keluar dari ruang operasinya.


Aria terdiam dan terduduk di kursi yang berada di samping ruangan operasi.


“Tidak terlalu baik, Ayah. Kami sedikit mengalami kesulitan saat operasi sedang berjalan,” jawab Aria dengan suara parau.


“Tenanglah, Nak. Semua akan baik-baik saja,” sahut Damar sambil menepuk pelan bahu putranya.


***


Sementara itu di ruangan Dokter Azril


Prang


Wajah dokter Azril tampak terlihat kesal. Ia membanting beberapa barang yang ada di ruangannya.


“Dasar Bodoh! Kenapa dia bisa sebodoh itu?!”


Meninju meja kaca yang ada di hadapannya hingga membuat lengannya berdarah. Ia terduduk lemas, nafasnya memburu bersama rasa sesak yang muncul karena kemarahan dan kesedihan yang sedari tadi ditahannya.


Dokter Damar yang merasa ada sesuatu yang tidak beres, segera masuk ke ruangan Dokter Azril.


Benar saja, ia melihat wajah putra sulungnya yang biasanya selalu terlihat tegar kini tampak berurai air mata. Wajah yang sama, ekspresi yang sama dengan yang ditunjukkan putra keduanya.


“Sebenarnya ada masalah apa? Apa yang terjadi hingga membuatmu marah seperti ini?” tanya Damar.


“Putramu ayah, putra kesayanganmu itu, Ayah. Dia benar-benar bertindak bodoh hari ini,” jawab Azril dengan nada penuh emosi.


“Memang apa yang dilakukan adikmu, Az?”


“Hah, adik? Dia bukan adikku. Dia itu cuma seorang pembunuh,”


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Azril.


“Jaga bicaramu, Az! Kau tidak boleh berkata seperti itu tentang adikmu,” ucap Damar yang tidak kalah emosinya saat mendengar ucapan Azril.


“Lalu apa? Pertama dia yang membuat Bundaku meninggal. Dan sekarang dia juga yang telah membahayakan nyawa putriku,”


“Cukup, Az! Ayah memang tidak tahu apa yang terjadi di dalam, tetapi Ayah yakin adikmu tidak ada maksud seperti itu,”


“Ya, ayah selalu berkata seperti itu. Tapi ayah tahu apa yang terjadi di dalam? Gara-gara kebodohannya dalam memberikan takaran obat bius, Lusia hampir saja terbangun dan itu membuat kami yang berada di sana panik. Meskipun, hanya sesaat tapi itu memiliki dampak yang sangat besar. Ayah tahu itu kan?”

__ADS_1


“Iya, tapi hal semacam itu kadang memang bisa terjadi karena kondisi tubuh pasien yang berbeda- beda,”


“Aku tidak peduli itu Ayah. Yang jelas aku tidak akan memaafkannya kalau sampai terjadi sesuatu pada Lusia,” ancam Azril.


Setelah mengatakan itu Azril membuka seragam hijau bekas operasi yang menempel di badannya. Lalu mengambil dan mengenakan jaket hitam yang ia simpan di dalam lemari yang ada di ruangannya. Setelah itu, ia mengambil kunci motornya.


“Kau mau ke mana Az?” tanya Damar saat melihat kepergian Azril, namun Azril sama sekali tak menghiraukan ucapan Ayahnya. Ia terus berjalan menjauh dari ruangannya, meninggalkan rumah sakit tersebut.


Damar hanya menghela nafas panjang saat melihat sikap putra sulungnya dan terduduk sesaat untuk menenangkan dirinya.


Sementara tanpa mereka sadari, Dilla tanpa sengaja mendengar percakapan ayah dan anak itu. Namun, ia segera bersembunyi saat Azril hendak keluar dari ruangannya.


Ya Tuhan, ternyata Dokter Aria dan Dokter Azril itu bersaudara. Tapi mengapa Dokter Azril bisa begitu membenci adiknya sendiri. Memangnya apa yang terjadi dengan ibu mereka? Kasihan sekali Ar, dia pasti sangat menderita selama ini. Bagaimana pun dibenci oleh orang sangat disayangi itu pasti sangat menyakitkan? (batin Dilla)


Setelah Dokter Damar keluar dari ruangan Azril. Dilla masuk ke ruangan tersebut karena sebelumnya ia mendapat perintah dari Bu Wati untuk mengambil seragam hijau bekas operasi, lalu mencucinya.


Saat pintu itu terbuka Dilla begitu terkejut karena ruangan dokter Azril terlihat sangat berantakan. Ada banyak barang pecah belah yang tergeletak di lantai dengan bentuk yang sudah tak beraturan, termasuk bingkai foto yang sebelumnya ia lihat.


“Maaf, kali ini aku terpaksa mengotak-atik barangmu lagi,” gumamnya.


Dilla membersihkan terlebih dahulu semua bekas pecahan barang yang berhamburan di lantai, lalu menyapu dan mengepelnya. Setelah itu, ia mengelap meja yang kacanya telah retak. Di daerah retakan itu terlihat noda darah menempel di sekitarnya.


“Sepertinya dia benar-benar marah saat ini, sampai- sampai ia sama sekali tak mempedulikan tangannya yang terluka,” gumam Dilla.


Setelah selesai, Dilla mengambil seragam hijau itu dan keluar dari ruangan Dokter Azril.


Di benaknya saat ini hanya terlintas rasa kasih dan simpati pada laki-laki yang sejak pertama kali bertemu telah berhasil mencuri perhatiannya. Ia mengelus lembut punggung dokter tampan itu sambil berkata,


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Lusia pasti akan segera sembuh. Dia gadis yang sangat kuat. Dia pasti bisa melewati ini.”


“Tapi aku telah membuat kesalahan kepadanya, Dilla. Aku takut. Aku sangat takut akan kehilangan dia,” ucapnya lirih dengan air mata yang masih belum berhenti mengalir.


Dilla yang tak tahan melihat itu meraih kepala Ar dan membenamkan kepala laki-laki itu di dadanya. Ia membelai lembut rambut Aria untuk memberikan ketenangan kepadanya, membiarkan Aria bisa merasakan debaran jantungnya.


“Tenanglah, percayakan semuanya pada yang Kuasa. Dia tidak akan mengambil sesuatu yang belum waktunya diambil. Lusia pasti sembuh, dia akan segera sembuh karena dia tahu banyak orang yang menantikan kesembuhannya percayalah, Ar,” ucap Dilla.


Di balik pintu, percakapan dua insan ini bisa terdengar jelas oleh Dokter Damar.


Siapa wanita itu? Apakah dia itu kekasih Ar? Sebelumnya aku tidak pernah melihat Ar sedekat itu dengan seorang wanita. Bila itu benar, maka itu akan sangat baik. Setidaknya aku tidak akan melihat Ar merasa kesepian lagi (batin Damar).


Setelah cukup lama mengamati keduanya, Dokter Damar melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar perawatan Lusia dan mendekati dua insan yang kini tampak semakin dekat.


“Ehem,” Damar berdehem membuat wajah Dilla merona karena merasa tidak enak dengan pemandangan yang harus disaksikan Damar. Ia segera melepaskan pelukannya dari Aria. Lalu bangkit dari duduknya.


“Ah, maaf, Dok. Saya tidak tahu ada Anda di sini. Saya permisi dulu,” pamitnya meninggalkan ruangan Lusia.

__ADS_1


“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Damar memandang Lusia.


“Iya, masih belum sadar, Ayah,” jawab Aria.


“Tenanglah, ini belum ada 24 jam. Cia pasti akan segera bangun. Ayah, yakin itu,” menepuk pundak putranya.


“Lalu di mana Az sekarang?” tanya Ar.


“Dia sedang pergi keluar,” jawab Damar.


“Iya, dia pasti sangat marah kepadaku. Dia pasti semakin membenciku. Aku ini memang bodoh Ayah, terlalu bodoh,”


“Tidak, kau tidak bodoh, Nak. Dalam kasus tertentu terkadang perkiraan kita bisa saja meleset,” sahut Damar.


“Sekarang daripada kau sibuk menyalahkan dirimu sendiri. Lebih baik kau banyak-banyak berdoa agar Lusia bisa segera sadar. Ayah yakin, begitu Lusia sadar, kakakmu pasti bisa segera memaafkanmu,”


“Semoga saja Ayah, meskipun aku sudah terbiasa melihat kebencian di matanya,” jawab Ar.


“Maafkan Ayah, Nak. Ayah tak bisa menasihati kakakmu,” ucap Damar penuh penyesalan.


“Sudahlah Ayah. Apa yang terjadi waktu itu memang kesalahanku. Demikian pula dengan apa yang terjadi saat ini. Dan aku bisa memaklumi sikap Az kepadaku,”


Meskipun itu sangat menyakitkan (batin Aria)


“Nak, ayah yakin suatu hari Az pasti akan menyadari kesalahannya dan akan mengizinkanmu kembali memanggilnya ‘kakak’,”


“Mudah-mudahan itu bisa secepatnya terjadi Ayah, aku sangat menantikannya,” sahut Aria dipelukan ayahnya.


Dilla yang mendengar percakapan ayah dan anak itu kembali menitikkan air matanya.


Aku harus tahu apa yang terjadi dengan mereka. Aku harus bisa membuat hubungan mereka kembali membaik. Harus (batin Dilla meyakinkan hatinya)


***


Bersambung


Apakah hubungan Aria dan Azril bisa segera membaik?


Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu mereka?


Mengapa Az bisa menyalahkan Ar?


Temukan jawabannya di episode, selanjutnya terima kasih.


Jangan lupa untuk tetap terus memberikan dukungannya pada karya ini dengan like, vote, dan komen terbaiknya serta menjadikan karya ini favorit kalian.

__ADS_1


Terima kasih 😍😍


Salam sayang dan sehat selalu untuk semua.


__ADS_2